NovelToon NovelToon
DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masakanku ke Dua

Pagi ini aku bangun lebih awal, jam di dinding baru menunjukkan jam 05.10. Kamar apartemen lantai 12 ini masih gelap, hanya cahaya tipis dari celah gorden.

Kulihat wajah suamiku masih tertidur pulas. Mas Brayen. Wajahnya yang biasanya tegas kalau lagi meeting, yang kalau di kantor semua orang segan, pagi ini damai sekali. Rambutnya berantakan, nafasnya teratur, satu tangannya masih melingkar di pinggangku semalam, sekarang kosong karena aku sudah bangun duluan.

Ku bangun perlahan seakan tidak ingin mengganggu tidurnya. Aku angkat selimutnya pelan, aku turun dari ranjang tanpa suara.

Aku ingat selama aku jadi istrinya terakhir kali aku ke dapur pas hari pertama jadi istri Mas Brayen. Hari itu aku masak Tahu Telor dan sambel tomat . Mas Brayen makan dan bilang enak. Setelah itu kami sama-sama sibuk. Aku sibuk dengan kerjaan, Mas Brayen sibuk dengan perusahaannya. Dapur kami lebih sering dingin. Kami lebih sering pesan makanan online, makan sendiri-sendiri sambil lihat laptop.

Dan pagi ini aku ingin buatkan sarapan khusus untuk suamiku.

Aku masuk dapur, aku ikat rambutku, aku pakai celemek apron putih yang sudah lama tergantung. Aku buka kulkas.

Sop ayam dan tempe mendoan dan sambel goreng. Itu menu yang selalu Mas Brayen minta kalau kami pulang ke rumah Ibu dulu.

Aku potong ayam, wortel, kentang, seledri. Air aku rebus, aku tumis bawang putih dan bawang merah sampai wangi. Wangi itu yang dulu bikin Mas Brayen selalu bilang "wangi istriku masak". Aku bahagia sekali di dapur pagi ini, senyum-senyum sendiri, kadang cegukan karena bawang.

Tempe aku iris tipis, aku buat adonan mendoan dengan tepung, daun bawang, ketumbar. Aku goreng setengah matang, yang luarnya garing tapi dalamnya masih lembek lembut, yang Mas Brayen paling suka.

Sambel goreng aku ulek sendiri. Cabai, bawang, terasi sedikit, gula jawa. Aku ulek pakai cobek batu, bukan blender. Biar rasanya masih nendang.

Di dapur aku bahagia, menyiapkan semuanya. Sampai aku tidak sadar air mataku jatuh karena haru, bukan karena bawang.

Hingga tak ku sadari ada tangan kekar melingkar di pinggangku dan memelukku dari belakang.

Aku kaget, centong di tanganku hampir jatuh.

"Isyana... istriku ngapain masak pagi-pagi... kamu gak kecapean sayang..."

Suara Mas Brayen masih serak baru bangun tidur. Hangat di telingaku. Dia memelukku dari belakang, erat sekali. Aku bisa merasakan dia baru saja bangun, kaos tidurnya masih kusut, rambutnya masih berantakan, tapi pelukannya itu yang paling aku rindukan.

"Mas... Mas Brayen... sudah bangun? Maaf Isyana berisik ya..."

"Enggak... Mas kebangun karena kasur kosong. Mas cariin kamu gak ada. Ternyata istri Mas yang cantik lagi jadi koki cantik pagi-pagi."

Aku malu. "Ga Mas aku malah kangen masak Mas... kangen masakin Mas kayak dulu... duduklah tunggu sebentar setelah selesai kita makan bersama."

Mas Brayen tidak mau duduk. Dia malah menarik kursi dapur dan duduk di situ sambil tetap memeluk pinggangku.

"Mas di sini aja. Mas temenin."

"Mas, gimana Isyana mau ngaduk sop kalau dipeluk terus..."

"Ya ngaduk aja. Mas pegangin pinggangnya, kamu aduk sopnya. Kita kerjasama."

Aku ngakak. Sop ayam di depanku mendidih, tempe mendoan di wajan berdesis, tapi Mas Brayen tetap meluk. Sesekali dia mencium puncak kepalaku.

"Sayang..."

"Hmm?"

"Kamu tau gak... sudah berapa lama kita gak sarapan bareng kayak gini?"

Aku diam. Lama.

"Sudah 4 bulan, Mas..."

"Maafin Mas ya... Mas yang terlalu sibuk... sampai lupa kalau punya istri yang pinter masak sop ayam seenak ini..."

Aku balik badan, sekarang kami berhadapan. Jaraknya dekat sekali. Aku bisa lihat mata Mas Brayen yang sayu.

"Isyana juga minta maaf Mas... Isyana juga sibuk..."

Mas Brayen usap pipiku yang masih ada tepung.

"Jangan minta maaf. Hari ini kita baikan sama dapur, ya?"

Aku mengangguk.

Akhirnya semua matang. Sop ayam bening dengan wortel dan kentang dan ayam yang empuk, tempe mendoan anget yang masih ngebul, sambel goreng merah di cobek, dan nasi putih pulen.

Kami bawa ke meja makan kecil di dekat jendela apartemen. Pemandangan Jakarta pagi dari lantai 12.

Kami duduk berhadapan. Mas Brayen makan dengan lahap sekali. Sendok pertama, dia langsung merem.

"Ya Allah... ini... ini sop ayam terenak di dunia..."

"Mas bisa aja."

"Beneran, sayang. Ini bukan sop ayam. Ini rasa rumah. Rasa Isyana."

Aku tersipu. Aku ambil sendok.

"Mas... sini... Isyana suapin..."

Mas Brayen kaget, lalu senyum nakalnya keluar, senyum yang sudah lama tidak aku lihat.

"Mau disuapin istri? Boleh... tapi gantian ya..."

Aku menyendok nasi, sedikit sop ayam, sedikit ayam suwir, aku tiup pelan, lalu aku suapkan ke mulut Mas Brayen.

"A..."

Mas Brayen membuka mulutnya, makan dari tanganku.

"Enak?"

"Enak banget... karena yang nyuapin kamu..."

Sekarang giliran Mas Brayen. Dia menyendok nasi, mengambil tempe mendoan, dicocol sambel goreng sedikit.

"Gantian, istriku... A..."

Aku malu-malu membuka mulut. Mas Brayen menyuapiku.

"Enak gak masakan kamu sendiri?"

Aku mengunyah, "Enak... enak Mas..."

"Enak karena kita masak pakai kangen, ya?"

Dan kami suap-suapan seperti itu. Seperti pengantin baru lagi. Tidak ada laptop di meja. Tidak ada HP. Hanya ada kami berdua, sop ayam yang tinggal setengah, tempe mendoan yang sudah dingin karena kelamaan suap-suapan tapi tetap enak, dan tawa kecil kami.

Mas Brayen menyeka sambel yang blepotan di bibirku dengan ibu jarinya.

"Blepotan, sayang."

Aku malah sengaja blepotan lagi biar dihapus lagi.

"Mas..."

"Iya sayang?"

"Besok Isyana masak lagi ya? Tiap pagi? Biar Mas gak sarapan sendirian lagi."

Mas Brayen menggenggam tanganku di atas meja, menggenggam erat.

"Mas yang harusnya bilang itu. Besok, lusa, seterusnya, Mas janji bakal bangun lebih pagi, biar bisa bantuin kamu di dapur. Biar kita sarapan bareng terus kayak gini. Mas kangen jadi suami yang disuapin istrinya."

Aku menangis lagi, tapi nangis bahagia. Mas Brayen bangun, pindah duduk ke sampingku, memelukku dari samping.

"Sudah, jangan nangis... nanti sop ayamnya asin lagi..."

Aku memukul pelan dada Mas Brayen, "Mas!"

Kami tertawa berdua di meja makan itu. Di luar, matahari Jakarta sudah naik penuh. Di dalam, sop ayam, tempe mendoan, sambel goreng, dan sepasang suami istri yang akhirnya pulang ke rumah yang sebenarnya, yaitu satu sama lain.

Pagi itu aku tahu, aku tidak hanya memasak sarapan. Aku memasak kembali cinta kami yang sempat hilang karena sibuk.

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!