NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Ikatan Tak Kasatmata dan Sumpah Seorang Kakek

​Dua jam.

​Bagi orang dewasa, waktu seratus dua puluh menit mungkin hanyalah jeda singkat untuk menikmati secangkir kopi sore atau menyelesaikan satu laporan pekerjaan. Namun bagi Maya, dua jam di penghujung siang itu adalah dimensi lain yang menyelamatkannya dari realitas yang kejam.

​Sore itu, seperti hari-hari sebelumnya, rutinitas rahasia itu kembali terulang. Begitu bel sekolah berbunyi dan ibunya pergi menghilang untuk entah urusan apa, Maya berlari kecil menuju gerbang belakang. Mobil sedan hitam milik keluarga Danendra sudah menunggunya.

​Begitu ban mobil itu memasuki pekarangan mansion yang megah, pintu utama rumah sudah terbuka lebar. Elena berdiri di sana, melompat-lompat kecil dengan senyum yang bisa menerangi seluruh kota.

​"Maya!"

​Maya tersenyum, langkahnya yang awalnya ragu kini mulai terbiasa menapaki lantai marmer yang dingin. "Kamu selalu berlari ke pintu. Nanti kamu jatuh, Elena."

​"Karena kamu selalu datang terlambat!" rajuk Elena, melipat tangannya di dada dengan gaya sok dewasa.

​"Aku tidak terlambat," bela Maya halus. "Pak Sopir yang menjemputku tepat waktu."

​"Bagiku terlambat! Aku sudah menunggumu sejak jam istirahat sekolah tadi!"

​Maya tertawa pelan, tawanya terdengar renyah dan murni. "Memangnya kamu menungguku sejak pagi? Berarti kamu yang aneh, Elena."

​"Kamu juga aneh!" balas Elena sambil tertawa. Tanpa ragu, anak perempuan dari keluarga konglomerat itu meraih tangan Maya yang kasar dan kapalan, lalu menggenggamnya erat-erat seolah tangan itu adalah harta karun. Mereka berjalan berdampingan memasuki ruang tengah, membelah kemewahan rumah itu dengan kepolosan yang tak tertembus oleh status sosial.

​Dari balik pilar teras samping, Kakek Suryo berdiri dalam diam. Tangannya memegang secangkir teh kamomil yang uapnya perlahan menghilang tertiup angin sore. Mata tuanya menatap pemandangan di ruang tengah itu dengan perasaan yang sulit dijabarkan.

​Entah sejak kapan, melihat dua anak kecil itu bergandengan tangan mulai menjadi sesuatu yang sangat ia nantikan setiap hari. Pemandangan itu bagaikan lukisan kontras yang paling indah. Elena dengan gaun sutranya yang wangi dan bersih, berdampingan dengan Maya yang mengenakan kaus pudar dan celana berserat kasar. Namun, ketika mereka tertawa bersama, Kakek Suryo tidak melihat adanya perbedaan. Tidak ada sekat kaya dan miskin di mata mereka. Mereka hanyalah dua jiwa murni yang saling menemukan.

​Dan entah mengapa, setiap kali melihat wajah Maya, ada desir aneh di dada Kakek Suryo. Sebuah perasaan familier yang ngilu, seolah anak itu adalah bagian dari dirinya yang telah lama hilang.

​Di ruang bermain yang dipenuhi karpet tebal, Elena sedang mengeluarkan seluruh isi kotak mainannya.

​"Maya, lihat! Ini koleksi boneka terbaruku. Papa baru pulang dari luar negeri dan membelikannya untukku!" Elena menyodorkan sebuah boneka porselen berambut pirang dengan gaun beludru merah.

​Maya duduk bersila di atas karpet. Matanya berbinar kagum, namun tangannya tetap berada di pangkuannya. Ia hanya mencondongkan tubuhnya ke depan, meniup pelan poni boneka itu. "Bagus sekali, Elena. Matanya bisa tertutup kalau dia ditidurkan."

​"Kalau kamu suka, pegang saja! Mainkan bersamaku!" paksa Elena.

​Maya menggeleng pelan. "Nanti kotor. Tanganku bau debu."

​"Boneka ini tidak bisa mati karena debu, Maya," Elena memutar bola matanya, lalu memaksa meletakkan boneka itu ke pangkuan Maya. "Kalau rusak, aku tinggal minta Papa membelikannya lagi. Aku punya banyak."

​Maya menatap Elena dengan raut wajah berpikir. "Kamu benar-benar kaya, ya, Elena."

​Elena memiringkan kepalanya. "Kaya itu apa?"

​"Kaya itu..." Maya mencari perumpamaan yang pas di kepala kecilnya. "Kalau barangmu rusak, kamu tidak perlu menangis. Kamu bisa membelinya lagi. Kalau bajuku sobek, ibuku harus menjahitnya berkali-kali sampai tangannya berdarah tertusuk jarum, karena kami tidak bisa membeli yang baru."

​Elena terdiam mendengar penjelasan itu. Untuk ukuran anak kelas satu SD, pemahaman Elena tentang dunia tiba-tiba terbuka sedikit demi sedikit karena Maya. Elena menatap sahabatnya itu, lalu tersenyum lebar.

​"Kamu ternyata sangat pintar, Maya!" puji Elena tulus. "Karena kamu pintar, bagaimana kalau mulai hari ini kita bermain peran? Aku bosan jadi anak tunggal. Di rumah sepi sekali kalau Papa dan Mama sibuk."

​"Bermain peran apa?"

​"Kita jadi saudara!" seru Elena antusias, matanya berbinar-binar. "Kamu mau tidak jadi saudaraku?"

​Jantung Maya berdegup lebih cepat. "Saudara? Saudara itu seperti apa?"

​"Saudara itu artinya kita keluarga! Kita saling menjaga, kita berbagi makanan, dan kita tidak akan pernah berpisah," jelas Elena dengan keyakinan absolut. Elena menepuk dadanya bangga. "Karena aku lahir lebih dulu—kata Mama aku lahir saat malam badai besar—dan tubuhku lebih tinggi darimu, aku akan jadi kakak! Mulai sekarang, kamu adalah adikku. Kamu harus memanggilku Kak Elena!"

​Maya tertegun. Kata 'keluarga' dan 'saudara' terasa begitu asing sekaligus hangat di telinganya. Selama ini ia hanya memiliki ibu yang selalu marah dan kelelahan. Tidak pernah ada seorang pun yang memintanya untuk menjadi bagian dari hidup mereka. Air mata kebahagiaan tiba-tiba menggenang di pelupuk mata Maya.

​"Kak... Kak Elena," panggil Maya ragu-ragu, mencoba mengeja kata itu.

​"Iya, Adik Maya!" Elena tertawa terbahak-bahak, lalu memeluk Maya hingga mereka berdua berguling ke atas karpet.

​Ruang bermain itu dipenuhi oleh tawa dua gadis kecil yang tidak pernah menyadari betapa ironisnya permainan mereka hari ini. Mereka bersandiwara menjadi saudara, tanpa mengetahui bahwa benang merah takdir memang telah mengikat darah mereka dalam satu garis keturunan yang sama.

​Menjelang sore, saat Elena sedang berlari ke dapur untuk mengambilkan kue, Kakek Suryo melangkah masuk ke ruang bermain.

​"Maya," panggil Kakek Suryo dengan suara beratnya yang lembut.

​Maya, yang sedang merapikan boneka-boneka Elena ke dalam kotaknya, langsung melompat berdiri. Ia menundukkan badannya dalam-dalam. "Iya, Kakek." Panggilan 'Kakek' itu kini mengalir natural dari bibir Maya, sesuai permintaan pria tua itu tempo hari.

​"Duduklah di sini bersamaku sebentar," Kakek Suryo duduk di sofa, menepuk ruang kosong di sebelahnya.

​Maya ragu-ragu sejenak, namun akhirnya ia duduk di ujung sofa, memberi jarak yang sopan.

​Kakek Suryo menatap anak itu. Semakin ia melihat Maya, semakin kuat dorongan batinnya untuk melindungi gadis kecil ini. "Kamu suka datang ke sini, Maya?"

​Maya mengangguk cepat. "Sangat suka, Kakek."

​"Suka bermain dengan Elena?"

​"Suka. Elena sekarang adalah kakakku," jawab Maya dengan wajah berseri-seri. "Tadi kami baru saja berjanji untuk menjadi saudara."

​Kakek Suryo tersenyum getir, merasakan pedih di dadanya melihat betapa anak miskin ini begitu mendambakan sebuah keluarga. "Lalu... apakah kamu suka pada Kakek?"

​Maya terdiam sejenak. Matanya yang jernih dan polos menatap langsung ke dalam mata pria tua yang penuh wibawa itu. Kemudian, senyum tulus merekah di bibirnya. "Suka."

​"Kenapa?"

​Maya menjawab dengan sangat jujur, tanpa dibuat-buat. "Karena Kakek tidak pernah melihat Maya seperti melihat kotoran. Kakek orang pertama yang berbicara lembut pada Maya, selain Elena. Karena Kakek orang yang sangat baik."

​Jawaban itu seolah membekukan waktu di sekitar Kakek Suryo. Dada pria tua itu sesak oleh emosi yang tiba-tiba meluap. Ia, seorang patriark keluarga Danendra yang ditakuti di dunia bisnis, merasa hatinya luluh lantak hanya oleh kepolosan seorang anak berusia tujuh tahun.

​Kakek Suryo menarik napas panjang, menstabilkan getaran di suaranya. "Maya... Kakek sudah memikirkan hal ini dengan matang. Kakek tahu kamu tidak bersekolah karena harus membantu ibumu bekerja."

​Maya menundukkan kepalanya, menyembunyikan tangannya yang kasar. "Iya, Kek."

​"Kakek tidak ingin kamu terus-terusan memegang gagang pel," ucap Kakek Suryo tegas, namun matanya memancarkan kehangatan seorang ayah. "Kamu anak yang cerdas. Kamu punya hati yang luar biasa. Anak sepertimu pantas mendapatkan masa depan yang cerah. Karena itu... Kakek ingin membiayai seluruh sekolahmu."

​Maya tersentak. Ia mendongak dengan cepat, matanya membelalak tak percaya. "M-membiayai?"

​"Ya. Kakek akan mendaftarkanmu ke sekolah yang bagus. Membelikanmu seragam, buku, dan alat tulis. Kamu tidak perlu mengepel lagi. Kamu hanya perlu duduk di kelas, belajar membaca, dan bermain bersama teman-temanmu," Kakek Suryo tersenyum. "Anggap ini sebagai hadiah dari Kakek, karena kamu sudah menjadi teman yang sangat baik untuk cucu Kakek."

​Air mata Maya jatuh seketika. Tubuh kecilnya bergetar hebat. Sekolah? Belajar membaca? Ia akan memiliki buku ceritanya sendiri tanpa takut dirobek? Itu adalah mimpi terbesarnya yang bahkan tidak berani ia panjatkan dalam doa.

​"Kakek... Kakek benar-benar mau menyekolahkan Maya?" isak Maya, suaranya pecah.

​Kakek Suryo mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, lalu mengusap rambut Maya dengan penuh kasih sayang. "Kakek janji. Besok, Kakek akan menemui ibumu di sekolah. Kakek akan meminta izinnya secara langsung. Kakek yakin, jika demi masa depanmu, ibumu pasti akan setuju."

​Mendengar kata 'Ibu', ada kilat ketakutan yang melintas sesaat di mata Maya, namun rasa syukurnya jauh lebih besar. Ia bergeser maju, lalu dengan kepolosan yang memilukan, Maya meraih tangan Kakek Suryo dan mencium punggung tangan pria tua itu sambil menangis terisak-isak.

​"Terima kasih, Kakek... terima kasih... Maya janji akan belajar yang rajin. Maya akan menjadi anak yang pintar supaya Kakek tidak menyesal," tangis Maya tersedu-sedu.

​Kakek Suryo merasakan matanya ikut memanas. Ia tidak mengangkat Maya sebagai cucu secara resmi—itu terlalu berlebihan dan tak masuk akal di mata dunia—namun di dalam hatinya, pria tua itu telah bersumpah untuk melindungi anak ini bagaikan darah dagingnya sendiri.

​Namun, di luar dinding istana keluarga Danendra, roda takdir yang jauh lebih kelam sedang berputar dengan kecepatan mematikan.

​Di luar gerbang besi yang menjulang tinggi, berdiri sosok wanita dengan wajah sepucat mayat.

​Clara.

​Hari ini, entah karena firasat atau karena pekerjaannya selesai lebih awal, Clara memutuskan mencari Maya karena anak itu tidak ada di sudut gudang. Ia bertanya pada penjaga gerbang sekolah, yang dengan santai menjawab bahwa Maya sering dijemput oleh mobil keluarga Danendra setiap siang.

​Dunia Clara terasa runtuh saat itu juga.

​Dengan napas memburu dan jantung yang nyaris meledak, Clara berlari menyusuri jalanan hingga tiba di depan gerbang mansion keluarga Danendra. Ia menyembunyikan tubuhnya di balik tembok pilar luar yang tebal. Melalui celah jeruji besi gerbang, Clara menatap ke arah ruang tengah yang dibatasi kaca besar.

​Matanya melebar penuh horor.

​Di sana, ia melihat Maya. Anak yang ia curi. Anak yang ia tukar. Dan di samping Maya, duduk Kakek Suryo—ayah dari Daniel. Pria yang sangat Clara kenali sebagai kakek kandung Maya.

​Clara melihat bagaimana Kakek Suryo mengusap kepala Maya dengan penuh kasih sayang. Ia melihat Maya mencium tangan pria tua itu.

​Keringat dingin membasahi punggung Clara. Kakinya lemas hingga ia nyaris jatuh berlutut di atas aspal. Kepanikan absolut menerjang otak dan kewarasannya. Trauma masa lalunya meledak seperti bom waktu.

​Dia tahu... batin Clara menjerit histeris. Pria tua itu pasti akan segera tahu! Kalau dia mulai mengurus Maya, dia akan menyelidiki latar belakangku! Dia akan meminta surat lahir! Dia akan melihat kemiripan Maya dengan Daniel!

​Napas Clara tersengal-sengal. Jika keluarga Danendra mengetahui bahwa Maya adalah anak kandung Vera yang ia tukar, mereka tidak hanya akan mengambil Maya darinya. Mereka akan memenjarakannya. Mereka akan menghancurkannya. Dan yang paling menakutkan bagi Clara: ia akan kehilangan Maya, satu-satunya nyawa dan alasan ia bertahan hidup di dunia ini, meski ia membungkus rasa cintanya dengan siksaan.

​Clara mundur perlahan menjauhi gerbang besi itu. Wajahnya mengeras, matanya berkilat oleh keputusasaan dan kegilaan seorang buronan yang terpojok.

​Cahaya sore yang keemasan perlahan memudar, tergantikan oleh awan mendung yang bergelung di ufuk barat. Di dalam rumah megah itu, Maya sedang mengusap air matanya, membayangkan hari esok di mana ia akan memakai seragam sekolah dan dijemput oleh Kakek Suryo. Ia tidak tahu bahwa impian indahnya itu baru saja mati sebelum sempat bernapas.

​"Kita tidak punya pilihan..." desis Clara sendirian di tengah jalan yang sepi, kukunya menancap kuat ke telapak tangannya sendiri hingga berdarah. "Kita harus pergi. Malam ini juga. Sejauh mungkin."

​Clara berbalik dan berlari menembus senja yang mulai menggelap, bersiap untuk menghancurkan hidup anaknya sekali lagi, demi menutupi sebuah dosa yang tak akan pernah bisa ditebus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!