NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:176.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dituduh berdusta : 10

Guntur menoleh ke belakang saat mendengar suara deru mesin motor melaju menanjak bukit. Ekspresi putus asa berganti sumringah. Tangan kotornya mengelap keringat di wajah meninggalkan noda kecoklatan debu jalanan.

“Ayah!” suaranya sarat kelegaan sekaligus harapan. Ia tak sabar menunggu, berlari menuruni bukit mendekati laju motor.

Sesampainya jarak menyempit, Guntur berteriak. Melaporkan apa saja baru dialaminya. “Tolong Ibu, Yah! Ibu guling-guling di lantai!”

Galih langsung panik, meski kalimat putranya sulit dimengerti, namun kata tolong, membuatnya mencengkram kuat sambil memutar gas tangan.

Guntur berlari membuntuti motor ayahnya. Ditahannya rasa perih pada telapak kaki, terpenting ibu dan adiknya harus mendapatkan pertolongan sesegera mungkin.

Standar motor baru saja diturunkan, Galih berlari kencang menuju teras, lalu masuk ke dalam rumah.

Pria memiliki tinggi 176 centimeter tersebut berhenti di batas pintu kamar utama, tangannya bertumpu pada sisi pinggang.

Badannya berputar menyamping, wajahnya memerah memandangi tajam sang putra. “Selain mengarang cerita, sekarang kamu sudah pintar berbohong, ya?”

Badan Guntur menegang, pupil matanya membesar. Keterkejutan barusan belum juga sirna ketika tak mendapati ibunya di lantai, kini dituduh berbohong. Ia maju, menyelinap masuk dari sela badan ayahnya.

Mulutnya terbuka separuh dengan netra membulat sempurna. “Tadi, tadi itu Ibu kejang-kejang. Matanya mendelik lihat plafon, jari kaki dan tangan menekuk.”

“Sekarang kamu jelaskan apa yang terlihat di depan sana!” kesabaran Galih terkikis habis. Ia lelah, baru saja pulang sudah dikejutkan berita menegangkan, begitu diperiksa malah mendapati putra kebanggaannya berbohong.

Hamima berbaring miring, tangannya memeluk Pujiara. Mereka terlelap dengan raut wajah damai.

“Aku gak boho —”

Kalimat putranya dipotong, lalu ia membentak keras. “Sudahi sifat suka berdusta itu, Guntur! Ayah muak.”

Pujiara tersentak, Hamima juga terkejut. Bersamaan mereka terjaga, memandang dua pria beda usia saling bersitatap dan bersitegang.

“Mas, Guntur, ada apa?” tanya suara serak wanita yang seolah benar-benar terbangun dari tidurnya.

“Bu, Ibu inget gak sebelum tidur tadi ngapain?” Guntur berbicara cepat, takut dicegah ayahnya.

Hamima mengedarkan pandangan ke sudut kamar, keningnya berkerut, mencoba mengingat-ingat.

“Kita kan sedang membongkar kardus barang bawaan dari kota kabupaten, terus dek Ara rewel, jadinya Ibu bawa ke kamar,” katanya tidak meyakinkan.

‘Apa benar seperti itu? Kenapa rasanya janggal, tapi apa?’ batinnya bertanya, memaksa otak untuk mengingat, namun tidak ada kenangan tertinggal selain yang dikatakannya barusan.

Badan anak laki-laki tersebut langsung lemas. ‘Kenapa selalu berujung seperti ini?’

“Kamu dengar? Ibu dan adikmu hanya istirahat siang, bukan kesurupan!” amarahnya menggelegak tersalurkan lewat suara menggelegar.

“Mas, semua bisa dibicarakan baik-baik, kenapa harus sampai membentak?” Hamima tidak diterima putranya digertak sampai badannya tersentak.

Pujiara merengek, takut akan suara ayahnya, serta raut marah sang ibu.

Guntur menunduk memandangi kakinya yang kotor, berbicara dengan nada sangat pelan. “Maaf.”

“Hanya maaf yang bisa kamu ucapkan, tetapi setelahnya gitu terus! Kalau gak juga berubah, lain kali Ayah hukum kamu!” ancam Galih, amarahnya masih belum reda.

Galih mengusap rambutnya, lalu keluar dari dalam kamar.

“Guntur, memangnya tadi kamu ngomong apa ke Ayah?” hatinya terasa perih menyaksikan buah hatinya menunduk dalam.

“Gak usah dipikirin, Bu. Aku saja yang mengada-ada,” ia kecewa, tidak ingin lebih lama lagi di sana.

Dada Hamima terasa sesak memandang punggung putranya yang berjalan keluar kamar.

“Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa rasanya ketenangan keluargaku perlahan pergi?” monolognya seorang diri.

“Mas Galih pun tak biasanya berbicara ketus, sebelumnya dia sangat penyabar menghadapi buah hati kami?” Hamima memangku Pujiara, lalu membuka kancing depan bajunya agar sang putri bisa menyusu.

***

Pria yang tadi membentak putranya, kini sedang duduk seorang diri di batu besar tepi sungai berair jernih.

Galih mengambil sebatang rokok, menyulut ujungnya, dan mulai menghisap dalam. Kebiasaan jika pikiran tak tenang, maka dia akan merokok.

“Belum juga seminggu, suasana rumah semenjak Hamima datang, tak lagi tenang. Ada saja yang dikeluhkan Guntur,” gerutunya kesal.

Sebenarnya dia juga heran, mengapa putranya bisa berbicara demikian, meyakini sesuatu yang jelas-jelas tidak terjadi.

Semakin dipikirkan, kepalanya bertambah nyeri, dan pikiran jadi buntu.

Galih menghisap dalam nikotin supaya cepat jadi abu. “Ada hantu, cerita karangan apa itu?”

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, menganggap perkataan Guntur hal yang konyol.

“Dua minggu aku tinggal seorang diri di sani, tak pernah sekalipun lihat hal aneh, semua terasa normal, damai. Sekali-kali Guntur memang harus ditegasi, biar gak suka berdusta lagi.” Galih beranjak, membuang puntung rokok ke dalam air.

Dia menyudahi aksi merenung, berniat kembali ke hunian mewah yang dibeli dengan harga sangat murah.

Di dalam rumah, sesudah ketegangan tadi. Hamima memutuskan memasak di dapur hampir seluas huniannya di kota yang sudah dijual.

Pujiara dibiarkan bermain di lantai bersih, merangkak kesana- kemari.

Guntur sedari tadi mengurung diri di kamar, biasanya dia sangat bersemangat membantu ibunya memasak, atau paling tidak mengajak Ara bermain.

Aroma rempah-rempah menguar dari panci yang sedang merebus sup, dan segarnya daun seledri menambah wangi bercampur bawang goreng.

Hamima memindahkan sup ayam kampung ke mangkuk besar, lalu menghidangkan di atas meja. Ia berseru memanggil sang putra.

“Guntur, sup nya sudah bisa disantap, ayo makan siang dulu, Nak!”

“Dek Ara, udah dulu mainnya ya, kita makan bareng mas Guntur dan Ayah,” katanya lembut.

Pujiara mengerti perkataan sang ibu, mangkuk plastik yang sedang dimainkan, ditinggalkan begitu saja.

Bayi cantik tersebut merangkak mendekati kaki ibunya, lalu mencoba berdiri.

“Putri Ibu pintar sekali.” Mima mengangkat Pujiara, menggendong samping.

“Sudah matang sup nya, Sayang?” Galih masuk dari pintu belakang bersebelahan dengan meja dapur.

“Udah ni, Yah. Ayo makan bareng-bareng kita,” sahut Hamima.

Guntur pun memasuki area dapur, dia mencuci tangan lalu duduk tenang, tidak berniat memuji masakan sang ibu atau menyapa ayahnya, maupun mengajak bercanda Pujiara.

Hal aneh, meski Guntur pribadi pendiam, namun apabila bersama keluarganya, dia suka sekali diajak ngobrol.

Galih bukannya tidak menyadari sikap lain putranya. Dia sengaja mendiamkan, sebagai bentuk hukuman atas kebohongan Guntur.

Sambil menyantap makanan masih hangat, Hamima menyuapi Ara yang digendong menggunakan kain jarik.

‘Keluargaku perlahan berubah. Tak ada lagi obrolan ringan dimeja makan, anak dan ayah saling mendiami, dan suasana ini terkesan dingin, tak hidup,’ hatinya sedih, usaha mengajak putranya berbincang, hanya ditanggapi anggukan dan gelengan kepala saja.

Hamima menghela napas berat, memperhatikan setiap gerak gerik Guntur yang baru saja selesai makan, lalu membawa piringnya ke bak cuci.

“Mas, tolong ceritakan tentang bu Desita, juragan Sarkam, dan istri pertamanya. Aku penasaran sekaligus berjaga-jaga, antisipasi, biar nanti kalau ada perkumpulan warga gak asal ngomong,” pinta Hamima sopan.

Brak!

Meja makan dipukul oleh Galih.

.

.

Bersambung.

1
neni nuraeni
aseeekkk aksi bls dendam akhirnya dimulai,,, lnjutt kak
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔✰͜͡v᭄
wah2 akhirnya rahasia terkuak ya Mima ..kamu manusia terpilih yang bisa membalas para arwah keluarga Arum ...ayoo binasakan para pemuja iblis
FiaNasa
jgn langsung dibunuh y pak Yadi keenakan soalnya,,bikin Bagyo menderita dulu hingga dia yg meminta kematiannya sendiri padamu
FiaNasa
dengan begini Mima kan bisa ada pelindung ini..ayo ndoro Arum balaskan dendammu segera
FiaNasa
ayo cepat temukan tengkorak kepala ayu jgn sampai kalian ketangkap si sarkam n Mbah Geneng..bahaya
Aprisya
bagyoooo kejutan demi kejutan telah menanti kamu
Betri Betmawati
hari pembalasan baru mau dimulai bersiap lh kalian manusia durja untuk menerima hukuman dan balasan dari orang yg kalian bunuh
mmh nengmuti
ayo Yadi cincang aja tuh s Bagyo jadikan makanan binatang
Mumtaz Zaky
mampus luh....
Bunda'Nya Reihan Kusnadi
ngeri² sedap 😱
mamaqe
mulai lg ni deg deg an nya ...ditunggu ditungguuuu
Fera Susanti
vote senen nya buat Mima dech bukan buat niya😁
Fera Susanti
serrruuu
Bulan-³ M⃟3💋
duhhh cepetan itu tengkorak ayu ditemukan sebelum sarkam dan Geneng detang, jangan sampai ketahuan dan usaha dokter sia2
ismi
akhirnya bisa kasih vote buat mima,,biar semngat buat menghajar galih mokodobitu😄😄😄
Engkar Sukarsih
makasih kak cublik.... updatenya dah banyak hari ini 🥰🥰🥰tapi aku sedih ibu tilinya bang Ardan yang ganteng libur hari ini 🥺🥺🥺🥺
Engkar Sukarsih
aduh pusing kang duh aduh pusing... pusing tujuh keliling.rumah tangga tiada bahagia,karena si galih suka sama daun muda😤😤😤😤
Engkar Sukarsih
aduh pusing kang duh aduh pusing... pusing tujuh keliling.rumah tangga tiada bahagia,karena si galih suka sama daun muda😤😤😤😤
Engkar Sukarsih
di pikirin...pusing kepala 🤣🤣🤣gak di pikirin...nambah gede kepala lakimu mima.dasar galih kampret... preeet sepanjang jalan 🤪🤪🤪🤪
Engkar Sukarsih
bangun... bangunlah Mima....hajar suami laknatmu mima🤔🤔🤔 pastinya si galih lagi ajojing terus sama istri muda kampretnya si Sintia 🙄🙄🙄🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!