DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Putusnya Vino dan Caren
Keputusan Vino sudah bulat. Setelah mengetahui kebenaran di balik sifat asli Caren serta kepura-puraannya selama ini, Vino tidak lagi memberi ruang sedikit pun untuk kompromi.
Di koridor depan ruang kepala sekolah—di mana beberapa siswa dan teman-teman geng Caren sedang berkumpul pascakejadian kecelakaan Caren—Vino melangkah menghampiri dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
"Vino..." panggil salah satu teman dekat Caren ragu-ragu. "Caren sekarang lagi dibawa ke rumah sakit, kamu gak mau ikut nyusul?"
Vino menghentikan langkahnya, menatap mereka datar. Suaranya terdengar jernih, tegas, dan cukup keras untuk didengar oleh siapapun di koridor itu.
"Enggak," jawab Vino singkat dan dingin. "Sampaikan ke Caren, mulai hari ini hubungan gue dan dia resmi putus secara permanen. Gak ada urusan lagi di antara gue dan dia, atau keluarga gue sama keluarganya."
Pernyataan resmi itu membuat teman-teman Caren tertegun membisu. Tanpa menunggu balasan, Vino membalikkan badan dan berlalu pergi. Ikatan yang selama ini membelenggunya demi status dan gengsi telah diputusnya secara total.
Dengan berakhirnya hubungan itu, ada satu hal lagi yang mengganjal di dada Vino: Aira.
.ore harinya di rumah Pradipta, suasana terasa sepi. Ibu Vino sedang pergi ke luar kota, sementara Darel belum pulang dari kegiatan kan OSIS. Vino berjalan perlahan menuju lorong dapur belakang tempat Aira biasanya merapikan peralatan makan.
Vino melepaskan jaketnya, menghela napas panjang untuk meredakan rasa canggung dan gengsi yang masih tersisa. Ia ingin mencoba bicara baik-baik, meminta maaf atas segala perlakuan kasarnya selama ini, dan memastikan kondisi Aira pasca-insiden dengan Caren.
Saat berada di ambang pintu dapur, Vino melihat Aira sedang berdiri di dekat wastafel, mencuci beberapa cangkir.
"Aira," panggil Vino pelan. Suaranya tidak lagi membentak atau berteriak seperti biasanya, melainkan terdengar lembut dan agak ragu.
Namun, reaksi Aira justru di luar dugaan Vino.
Aira tersentak kaget hingga cangkir di tangannya hampir terlepas. Mendengar suara Vino, ingatan Aira seketika dipenuhi oleh bisikan Darel waktu ia sakit: Vino itu cuma kasihan sama kamu... Bagi dia kamu cuma beban yang ngerusak nama baik keluarganya.
Aira berbalik dengan wajah pucat dan mata bergetar dipenuhi ketakutan mendalam.
"V—Vino..." bisik Aira menahan napas, refleks melangkah mundur hingga punggungnya menempel pada lemari dapur.
melihat Aira yang ketakutan setengah mati, Vino menghentikan langkahnya. Ia mengulurkan tangannya sedikit, mencoba mendekat. "Aira, gue cuma mau bicara—"
"Maaf, Vin! Aku... aku ada pekerjaan lain di kamar belakang!" potong Aira panik, memotong kalimat Vino begitu saja.
Aira menundukkan kepalanya dalam-dalam, menolak menatap mata Vino, lalu berlari terburu-buru melewati samping Vino menuju kamarnya. Brak! Pintu kamar belakang dikunci dari dalam dengan cepat.
Vino berdiri terpaku di tengah dapur yang sepi. Tangannya yang terulur menggantung di udara.
Rasa sesak dan kepahitan merayapi dada Vino. Ia baru saja bermaksud baik dan menurunkan seluruh gengsinya untuk pertama kali, namun Aira justru menatapnya seolah ia adalah ancaman paling menakutkan di rumah ini.
Vino mengepalkan tangannya rapat-rapat, menatap pintu kamar Aira yang tertutup rapat dari kejauhan.
Kenapa lu sampai setakut itu sama gue, Aira? batin Vino miris, sama sekali belum menyadari betapa kuatnya manipulasi dan racun pemikiran yang telah ditanamkan Darel di dalam kepala Aira.