Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.
Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Julius von Ravensburg terhimpit di antara bongkahan batu andesit yang retak, merasakan darah hangat merembes membasahi bagian dalam baju perangnya.
Bahu kirinya patah, tulangnya remuk saat gelombang kejut plasma darah menyapu barisan belakang beberapa menit lalu. Jubah sutra biru yang biasanya disulam dengan benang emas kebanggaan keluarganya kini hangus, terkoyak menjadi kain perca kotor yang menempel pada luka bakar di kulitnya. Di sekeliling tempatnya terbaring, sepuluh ksatria pengawal terbaik yang dikirim ayahnya dari ibukota Valenthia telah musnah tanpa meninggalkan sepotong tulang pun. Namun, rasa nyeri yang menusuk di persendian bahunya tidak sebanding dengan rasa terhina yang mengoyak isi kepalanya.
Di tengah amfiteater yang bersimbah cairan merah, puluhan prajurit jelata yang selama ini ia anggap sebagai umpan murah justru bergerak dalam barisan teratur. Mereka menahan amukan raksasa sepuluh meter itu dengan disiplin ketat, bergerak serempak mengikuti setiap hitungan yang diteriakkan oleh Ren.
Julius mencengkeram gagang pedang rapier kristalnya dengan tangan kanan yang basah oleh keringat dingin. Ujung bilah tipis itu masih memancarkan pendar petir biru tua yang berdengung pelan, dialiri sisa-sisa sirkuit sihir terlarang yang dipersiapkan untuk tembakan penetrasi cepat.
Dalam tatanan politik kekaisaran Benua Valenthia, kegagalan ekspedisi sebesar ini berarti aib yang akan menghancurkan kedudukan Wangsa Ravensburg di hadapan kaisar. Ayahnya, sang adipati agung yang berkuasa di dewan militer, tidak akan pernah memaafkan seorang putra yang pulang dengan divisi elit musnah sementara pasukan budak keluar hidup-hidup sebagai pahlawan penakluk. Nama keluarganya akan diolok-olok di ruang-ruang perjamuan para bangsawan, dan posisinya sebagai pewaris utama akan dicabut dalam semalam.
Julius menggeser tubuhnya di antara puing batu, menatap ke atas dengan mata yang menyipit menahan rasa perih debu mesiu.
Di ketinggian delapan meter, siluet tubuh kurus Ren tampak melayang di udara setelah melompat dari puncak pilar marmer yang runtuh. Pemuda jelata itu sedang meluncur turun dengan kecepatan penuh menuju kepala Agares, menggenggam belati taring bayangan yang siap menghantam celah topeng perunggu sang monster.
Bagi Julius, keberadaan pemuda itu di titik tersebut adalah bencana yang jauh lebih mematikan dibanding amukan monster lantai lima belas. Jika Ren berhasil menancapkan senjatanya dan menumbangkan Agares, seluruh laporan penaklukan kekaisaran akan mencatat bahwa ksatria bangsawan diselamatkan oleh seorang budak berutang.
Satu-satunya jalan keluar yang tersisa di kepala Julius adalah melenyapkan sang pelopor sebelum serangannya menyentuh inti monster. Jika Ren tewas di udara, Julius bisa mengklaim bahwa tembakan petirnyalah yang menembus kristal dan membalikkan keadaan di detik terakhir. Sejarah di ibukota selalu ditulis oleh mereka yang memiliki kuasa dan gelar.
Dalam ingatan maut yang baru saja dialami Ren beberapa detik lalu di garis waktu yang terhapus, rencana pengkhianatan itu hampir berhasil sempurna.
Julius telah melepaskan tombak petir sihirnya tepat saat Ren berada satu jengkal dari topeng Agares. Kilatan listrik berkecepatan tinggi menghantam punggung Ren dari belakang, menembus tulang belikat dan meremukkan rongga dadanya seketika. Tubuh Ren jatuh terkulai ke genangan darah tanpa daya, serangannya gagal, dan Agares yang masih bertahan langsung memuntahkan gelombang plasma kedua yang membakar seluruh isi koloseum menjadi lautan abu.
Dengungan tajam menyengat pangkal leher Ren saat kesadarannya ditarik mundur tiga puluh detik ke belakang.
Dunia tersentak kembali ke porosnya. Ren mendapati dirinya sedang melayang di udara pada ketinggian delapan meter, meluncur menukik ke arah rahang perunggu Agares yang mulai bergeser membuka celah pembuangan uap panas.
Rasa terbakar dari sambaran petir di garis waktu sebelumnya masih terasa menusuk di punggungnya, meninggalkan sensasi ngilu semu yang membuat napasnya tercekat sejenak. Sarafnya yang telah puluhan kali merasakan maut segera menerjemahkan rasa sakit itu sebagai peringatan taktis mengenai arah bahaya yang sedang mengincar dari bawah.
Ren tidak menoleh ke belakang. Pandangannya tetap terkunci rapat pada celah selebar sejengkal di antara lempeng topeng perunggu Agares yang memperlihatkan pendar kristal merah keemasan.
Di bawah, dari balik bayang-bayang pilar runtuh di sektor barat daya, Julius mengangkat rapier kristalnya. Kilat biru menyambar liar di ujung bilah logam itu saat sang perwira bangsawan memusatkan seluruh sisa cadangan mananya. Garis wajah Julius tampak kaku, bibirnya merapalkan mantra percepatan tembakan dengan napas memburu.
“Mati kau di sana!” desis Julius dengan gigi terkatup rapat saat menarik pelatuk sihirnya.
Ujung pedang rapier melepaskan tombak petir biru yang melesat lurus ke udara. Suara letupannya membelah gemuruh amfiteater bagaikan cambuk raksasa, meluncur dengan kecepatan tinggi yang mustahil dihindari oleh prajurit biasa yang sedang jatuh bebas tanpa pijakan kaki.
Di dasar arena, Lady Elise melihat kilatan biru itu dari samping barikade tameng. Matanya membelalak ngeri saat menyadari arah lintasan petir tersebut mengarah lurus ke punggung sang pelopor. Ia mengangkat tongkat peraknya dengan panik, berniat membentangkan perisai cahaya pelindung, namun jarak delapan meter di udara terlalu jauh bagi barier sucinya untuk merambat naik dalam pecahan detik.
Vargas mengumpat keras dari balik perisai bajanya, suaranya tenggelam oleh desingan listrik yang memekakkan telinga. Shizuka dan Riku hanya sempat menahan napas saat kilatan mematikan itu mendekati punggung Ren.
Ren telah memperhitungkan sudut elevasi tembakan itu sejak detik pertama kesadarannya kembali.
Tepat saat tombak petir berada tiga langkah di belakang tubuhnya, Ren menarik tuas katup darurat pada pelindung pergelangan tangan kirinya. Semburan sisa uap panas dari tabung dorong mini meledak keluar dengan suara desis tajam.
Tekanan udara panas itu memiringkan poros tubuh Ren di udara sebesar sembilan puluh derajat dalam sekejap mata.
Ujung tombak petir Julius melesat melewati rusuk kiri Ren, hanya terpaut beberapa sentimeter dari kain bajunya yang telah sobek. Hawa panas listrik menyengat kulit samping tubuhnya hingga serat pakaiannya hangus kehitaman, namun jalur lintasan serangan itu tidak melukai dagingnya.
Ren tidak membiarkan momentum sihir berkekuatan tinggi itu terbuang sia-sia membentur dinding kubah koloseum.
Di tengah putaran badannya yang miring di udara, Ren menggerakkan tangan kanannya dengan sudut perhitungan yang sangat rapat. Ia menempelkan sisi datar dari bilah taring bayangan—senjata kitin berlapis serbuk logam konduktif yang ia rawat sejak lantai bawah—tepat pada ekor tombak petir yang sedang meluncur di sampingnya.
Muatan listrik tegangan tinggi langsung merambat melalui bilah belati, menyengat telapak tangan Ren hingga sarung kulitnya mengepulkan asap tipis. Rasa kebas menjalar cepat ke pergelangan tangannya, mengancam meremukkan kendali otot jemarinya di tengah gravitasi yang menariknya jatuh.
Ren menahan sentakan itu dengan mengeraskan otot bahu dan rahangnya, memanfaatkan gaya sentrifugal tubuhnya untuk mengungkit sudut lintasan petir tersebut.
Kilatan petir biru yang mematikan itu berbelok tajam di udara, menukik lurus ke dalam celah topeng perunggu Agares yang sedang menganga membuang uap panas.
Manuver di udara itu terjadi begitu cepat hingga para ksatria Althea dan prajurit garis depan di bawah hanya melihat seberkas cahaya biru yang mendadak patah arah dan menghantam tepat ke dasar tengkorak sang monster.
Julius terbelalak di bawah tumpukan reruntuhan batu. Napasnya tercekat saat menyaksikan mantra pembunuh terbaiknya justru dibelokkan ke sasaran yang tak terduga. “T-tidak… bagaimana mungkin…”
Tombak petir milik Julius menghantam permukaan kristal merah keemasan di dalam kepala Agares dengan ledakan percikan listrik yang membutakan mata.
Barier pelindung internal monster itu, yang biasanya membutuhkan tembakan sihir gabungan berulang kali untuk ditembus, retak seketika oleh serangan sihir kelas tinggi milik perwira Ravensburg. Suara denting kaca pecah bergema keras dari dalam rongga kepala Agares, disusul semburan asap hitam pekat dari sela-sela lempeng perunggunya.
Agares melolong tertahan saat sirkulasi energi abadinya mendadak terganggu oleh sengatan listrik di dalam jaringan kepalanya. Keseimbangan tubuh raksasa itu goyah, membuatnya terpaku kaku selama dua tarikan napas pendek.
Ren memanfaatkan detik kelumpuhan itu sepenuhnya. Gravitasi menarik tubuhnya turun tepat di atas dahi sang raksasa.
Menggunakan kedua tangannya yang terluka, Ren menghujamkan bilah belati taring bayangan lurus ke pusat retakan kristal yang kini menganga lebar tanpa perlindungan.
Ujung kitin hitam menembus lapisan luar kristal yang telah rapuh, membenamkan bilah senjata itu hingga menyentuh pangkal gagangnya.
Sentuhan logam dan batu intisari kuno itu memicu resonansi magis yang dahsyat. Cahaya merah di celah mata Agares berkedip liar sebelum akhirnya meredup menjadi abu-abu mati. Mahkota tanduk di kepalanya merekah, memuntahkan lidah api keemasan yang membubung tinggi ke arah langit-langit kubah.
Tubuh raksasa sepuluh meter itu membeku seketika di tempat. Delapan lengan berotot di punggungnya kehilangan ketegangan uratnya, terkulai lemas ke bawah bersamaan dengan suara gemerincing rantai besi yang berjatuhan menghantam lantai batu.
Sebuah gelombang kejut energi murni meledak dari titik tusukan, melemparkan tubuh Ren ke udara sejauh beberapa meter.
Ren berputar di udara dan mendarat di atas genangan air darah di dekat kaki pilar, berguling dua kali untuk menyerap daya hantam sebelum berhenti dalam posisi bertumpu pada satu lutut. Dadanya kembang kempis dengan cepat, menyedot udara berbau belerang yang kini mulai mendingin. Di tangan kanannya, belati taring bayangan telah retak menjadi serpihan kecil yang berhamburan ke genangan air, habis terkikis oleh pelepasan energi intisari monster.
Amfiteater Lantai 15 mendadak sunyi senyap.
Tidak ada lagi desingan rantai berduri yang memburu mangsa. Tidak ada lagi letupan geyser darah mendidih yang mengancam barisan.
Di tengah arena, tubuh raksasa Agares mulai memancarkan garis-garis retakan cahaya emas dari dalam dagingnya. Dari rongga topeng perunggunya, ribuan partikel cahaya keemasan meluncur naik ke arah kubah batu yang retak, menyerupai kepulan kunang-kunang di tengah kegelapan malam.
Tiga puluh prajurit pelopor yang selamat menurunkan senjata mereka perlahan-lahan dengan napas tersengal. Mata mereka terpaku pada sosok monster yang selama bertahun-tahun menjadi momok kuburan massal di lantai lima belas, kini perlahan luruh menjadi tumpukan debu kristal yang terbang ditiup angin sejuk.
Di sudut barat daya arena, Julius terbaring di lumpur darah dengan mata hampa dan bibir bergetar hebat. Sisa rapier kristalnya patah menjadi dua bagian tak berguna di samping jemarinya yang lumpuh. Wajah sang komandan bangsawan memucat pasi saat menyadari para prajurit jelata yang selamat mulai menoleh ke arahnya dengan pandangan dingin yang menuntut pertanggungjawaban atas setiap pengkhianatan yang telah ia lakukan.