NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Takhta Sang Pangeran

Ponsel pintar di genggamanku mendadak terasa begitu dingin dan berat, seolah-olah menjadi gumpalan es yang membekukan aliran darah di jemariku. Barisan kalimat di layar digital itu terus menari-nari menembus pupil mataku, menghadirkan rasa sesak yang merayap cepat memenuhi rongga dada.

Siapa orang ini? Rahasia kelam apa yang dimaksud dengan keluarga Wijaya?

"Gisel?"

Suara bariton Varro yang berat dan parau mendadak memecah keheningan kamar VIP. Irama detak jantungnya di layar monitor pemantau sempat berfluktuasi tipis.

Aku terkejut setengah mati, dengan cepat mematikan layar ponsel dan menyembunyikan benda itu ke dalam saku jaket denimku. Aku berusaha mengatur napas, menyapu raut cemas di wajahku sebelum memutar badan menghadapnya.

"I-iya, Varro?" sahutku dengan senyum tipis yang kupaksakan.

Varro menyipitkan mata cokelat gelapnya. Meski tubuhnya masih lemah dan bersandar di atas ranjang rumah sakit, ketajaman insting seorang ketua Starlit sama sekali tidak berkurang. Ia memperhatikan setiap pergerakanku dengan raut curiga yang halus.

"Muka lo mendadak pucat banget," kata Varro pelan, alis tebalnya bertaut. "Pesan dari siapa tadi?"

Aku melangkah mendekati sisi ranjangnya, menatap mata indahnya seraya menggelengkan kepala pelan. "Bukan siapa-siapa kok... Cuma SMS promo dari operator. Biasa, spam chat."

Varro diam sejenak, menatapku lurus selama beberapa detik. Ada keraguan di matanya, namun melihatku yang mencoba bersikap tenang, ia menghembuskan napas panjang dan tidak memperpanjang pertanyaan tersebut.

"Sini..." kata Varro lembut, mengulurkan tangan kanannya yang terbebas dari infus.

Aku menurut, menjatuhkan tubuhku di kursi samping ranjang lalu menyambut uluran tangannya. Jemari kekar Varro menggenggam telapak tanganku hangat, membawa punggung tanganku ke bibirnya untuk dikecup pelan.

"Gue gak suka kalau lo sembunyiin sesuatu dari gue, Gisel cantik," bisik Varro dengan nada suara yang begitu dalam dan hangat. "Gue cuma mau lo tahu, apapun yang terjadi nanti... lo gak perlu takut. Gue bakal selalu ada di depan lo."

Dadaku perih mendengar ketulusan kalimatnya. Pria ini baru saja melewati masa kritis pasca operasi, bertaruh nyawa demi menyematkan rasa aman di hidupku, namun pikirannya tak pernah sedikit pun lepas dari keselamatan diriku. Aku membalas genggaman jemarinya dengan erat, menatap wajah tampannya yang masih dipenuhi luka memar.

"Gue tau, Varro... Gue percaya sama lo," jawabku tulus, mengusap pelan pipinya yang hangat.

Siang harinya, aroma bubur ayam dan sup hangat memenuhi ruangan VIP. Seorang perawat baru saja meletakkan nampan makanan khusus pasien di atas meja dorong di samping tempat tidur Varro.

Aku mengambil mangkuk sup bening itu, mengambil sendok, lalu meniup uap panasnya perlahan di depan bibir Varro.

"Ayo makan dulu. Katanya mau cepet sembuh biar bisa jalan-jalan lagi," ucapku menyodorkan sendok.

Varro menggelengkan kepalanya sedikit, menyunggingkan senyum usil yang amat memikat. "Gak mau. Gue mau makan kalau disuapin sambil lo senyum manis."

Aku memutar bola mata geli, namun tak mampu menahan tona merah yang kembali membakar kedua pipiku. "Manja banget sih lo! Inget ya, lo itu ketua geng motor paling ditakuti se-kampus, bukan anak TK!"

"Di depan anak-anak Starlit gue memang bos besar," sahut Varro santai seraya menerima suapan sup dari tanganku. "Tapi di depan calon cewek gue... gue cuma pria biasa yang butuh perhatian penuh."

Aku tertawa kecil, menyuapkan sendok kedua ke mulutnya. Momen-momen manis dan sederhana seperti ini terasa sangat mahal dan berharga di tengah badai ancaman yang terus mengintai kami. Melihat Varro mengunyah makanannya dengan tenang dan warna kulitnya yang perlahan membaik membuat seulas senyum lega terbit secara alami di bibirku.

Namun, bayangan pesan misterius itu tetap menari-nari liar di dasar benakku. Rahasia kelam apa yang disembunyikan keluarga konglomerat Wijaya hingga ada orang yang berniat menghancurkan Varro lewat rahasia tersebut?

Dua jam kemudian, Varro tertidur lelap akibat pengaruh obat pereda nyeri yang disuntikkan perawat. Suara napasnya teratur dan tenang di atas peraduan.

Aku melangkah keluar dari kamar VIP dengan amat perlahan, menutup pintu jati tersebut tanpa menimbulkan suara. Koridor lantai empat rumah sakit terasa sepi, hanya ada beberapa perawat yang melintas di kejauhan.

Di dekat jendela besar ujung lorong, aku melihat Brandon sedang berdiri tegap seraya mengobrol pelan lewat telepon genggamnya. Pria berkacamata itu mematikan sambungan teleponnya begitu menyadari kehadiranku.

"Gisel?" panggil Brandon heran seraya melangkah mendekat. "Kenapa keluar? Varro udah bangun?"

"Varro baru aja tidur habis minum obat, Kak Brandon," jawabku pelan.

Aku mengamati raut wajah Brandon yang tenang dan selalu penuh perhitungan. Ada pergolakan batin di dadaku sebelum akhirnya aku merogoh ponsel pintar baru dari saku jaket denimku.

"Kak Brandon... gue boleh tanya sesuatu secara pribadi?" tanyaku ragu.

Brandon menaikkan sebelah alisnya, mengangguk mantap. "Boleh. Soal apa?"

Aku menyodorkan layar ponselku yang menampilkan pesan teks dari nomor asing itu tepat ke hadapan Brandon.

Mata di balik kacamata tipis Brandon menyipit tajam. Saat membaca barisan kata tentang 'rahasia kelam keluarga Wijaya', raut tenang di wajah Brandon seketika meluntur. Rahangnya mengencang kaku, dan ada kilat kecemasan langka yang menyapu matanya.

"Pesan ini masuk kapan, Gisel?" tanya Brandon dengan suara bariton yang mendadak berubah sangat dingin dan serius.

"Tadi pagi, tepat sebelum Varro sadar," jawabku jujur, menatap matanya lekat-lekat. "Kak Brandon... apa maksud dari pesan ini? Rahasia apa yang dimiliki keluarga Varro sampai ada orang yang berniat menghancurkan dia lewat hal itu?"

Brandon menghembuskan napas panjang yang amat berat. Pria itu memutar badannya, menatap ke luar jendela kaca yang menampilkan pemandangan gedung-gedung menjulang kota Jakarta.

"Gisel..." tutur Brandon pelan, suaranya sarat akan beban masa lalu yang pekat. "Keluarga Wijaya bukan sekadar keluarga pengusaha kaya biasa. Ayah Varro, Tuan Wijaya, adalah sosok pimpinan konglomerat yang membangun kerajaannya dengan tangan besi."

Aku terpaku mendengarkan penjelasannya.

"Beliau sangat dingin, dominan, dan tak segan menyingkirkan siapa saja yang menghalangi bisnisnya," lanjut Brandon menatapku kembali. "Dulu... belasan tahun lalu sebelum Varro memimpin Starlit, Ayah Varro pernah terlibat perselisihan bisnis besar yang menghancurkan beberapa keluarga pengusaha lain. Dan bisnis itu... memiliki ikatan kelam dengan dunia hitam jalanan."

"Maksud Kak Brandon... Ayah Varro punya musuh besar di masa lalu?" tanyaku menahan napas.

"Bukan cuma musuh biasa, Gisel," bisik Brandon dengan nada mengintimidasi. "Raka dan geng Viper itu sebenarnya cuma pion kecil. Ada sosok di balik layar yang memanfaatkan dendam masa lalu keluarga Wijaya buat menghancurkan Varro dari dalam."

Jantungku serasa berhenti berdetak. Kenyataan ini jauh lebih rumit dan berbahaya dari sekadar perseteruan geng motor anak muda di kampus. Varro... pria yang selalu tampak sempurna dan bergelimang harta itu ternyata tumbuh di bawah bayang-bayang dosa dan kekejaman bisnis ayahnya sendiri.

SRET!

Tiba-tiba, seorang pria berjaket kurir dengan topi tertutup rapat melangkah cepat menghampiri kami di ujung lorong.

"Permisi, apakah ini dengan Nona Gisella Vanessa Setiawan?" tanya kurir itu dengan suara serak.

Aku tersentak kaget, menoleh padanya. "Iya, saya sendiri. Ada apa?"

Kurir itu tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi. Ia hanya menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal berukuran sedang yang tersegel rapat, lalu berbalik membalikkan badan dan berjalan pergi dengan terburu-buru menembus tangga darurat.

"Tunggu! Dari siapa ini?!" teriak Brandon berusaha mengejar, namun kurir itu sudah menghilang di balik pintu besi tangga darurat.

Aku menatap amplop cokelat tebal di tanganku dengan jemari yang gemetar hebat. Di bagian depan amplop tersebut, tertulis sebuah kalimat sederhana yang ditulis dengan tinta merah menyala.

'Untuk Gisella Vanessa Setiawan. Bacalah ini sebelum kamu menyerahkan seluruh hatimu pada putra tunggal keluarga Wijaya.'

Dengan tangan bergetar dan napas yang tersengal, aku membocorkan segel amplop cokelat tersebut di bawah tatapan cemas Brandon.

Aku menarik keluar selembar foto dokumen tua yang sudah agak menguning dan sebuah dokumen laporan kepolisian bertanggal sepuluh tahun lalu.

Begitu mataku membaca nama yang tertera di lembar laporan kepolisian tersebut...

DEG!

Lututku lemas seketika, dan amplop di tanganku hampir saja terlepas jatuh ke lantai.

Nama korban kecelakaan tabrak lari dan kebangkrutan tragis yang tertera di dokumen resmi kepolisian sepuluh tahun lalu itu... adalah nama almarhum Ayah kandungku sendiri! Dan nama pihak tersangka utama yang memegang hak kepemilikan aset dan menutup kasus tersebut tanpa jejak... adalah milik Wijaya Corp.

Perusahaan milik Ayah kandung Varro Aldrian Wijaya.

Duniaku serasa runtuh dan hancur berkeping-keping di dalam kegelapan. Pria yang baru saja kuserahkan seluruh hatiku... ternyata adalah putra dari keluarga yang bertanggung jawab atas kehancuran dan penderitaan hidup keluargaku selama ini.

Bersambung……

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!