Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The dark plan behind grandma’s smile
Ternyata, ketenangan yang ditunjukkan Oma sepanjang malam itu hanyalah topeng sempurna dari sebuah badai yang sedang ia siapkan. Saat Aera sudah terlelap di kamarnya, Oma kembali ke ruang kerjanya yang bernuansa kayu mahoni tua. Di sana, di balik tumpukan dokumen yang tampak seperti arsip keluarga biasa, tersimpan senjata yang jauh lebih mematikan daripada amarah Aera yang meledak-ledak.
Oma bukanlah wanita tua biasa yang hanya menghabiskan waktu dengan merajut. Ia adalah pemegang kunci dari jaringan informasi yang selama ini ia bangun secara senyap sejak Belva mulai berani menggantikan kehidupan putri semata wayangnya.
Ia menarik laci meja kerjanya, mengeluarkan sebuah berkas tebal yang diberi label sandi "Proyek Pembersihan". Di dalamnya, terdapat deretan laporan transaksi mencurigakan, bukti penggelapan dana perusahaan, hingga foto-foto pertemuan rahasia Belva dengan kolega bisnis yang bermasalah. Semua data ini adalah hasil kerja keras detektif swasta yang disewa Oma selama berbulan-bulan, beroperasi di bawah radar tanpa diketahui siapa pun, bahkan oleh Aera sendiri.
Oma duduk di kursi kerjanya dengan punggung tegak, sama sekali tidak menyiratkan kelelahan seorang wanita lanjut usia. Sorot matanya yang tajam menatap lurus pada sebuah foto berbingkai perak di atas meja—foto putri sulungnya, ibu kandung Aera, yang tersenyum manis semasa hidupnya. Senyuman itu kini justru menjadi bahan bakar utama bagi api kemarahan yang sudah lama ia simpan dan pendam rapat-rapat.
Di balik kelembutan dan senyuman hangat yang selalu ia tunjukkan di hadapan Aera, Oma menyimpan sebuah sisi lain yang jauh lebih berbahaya. Wanita paruh baya itu bukanlah sosok nenek biasa yang hanya bisa pasrah menelan takdir. Selama ini, secara diam-diam dan sistematis, Oma telah bergerak di balik bayang-bayang untuk menghancurkan Belva, ibu tiri Aera, dari segala lini.
Mulanya, Oma mengira kematian putri sulungnya adalah sebuah kecelakaan tunggal biasa di jalan tol lima tahun lalu. Namun, penyelidikan pribadi yang ia sewa secara rahasia membongkar fakta yang jauh lebih mengerikan dan membuat darahnya mendidih. Berdasarkan informasi valid yang berhasil ia kumpulkan, kematian ibu kandung Aera ternyata bukanlah kecelakaan murni, melainkan sebuah pembunuhan berencana yang dirancang sangat rapi oleh Belva demi bisa merebut posisi di keluarga besar mereka serta menguasai seluruh aset perusahaan.
Sejak hari itu, rasa sakit hati dan dendam kesumat menggerogoti jiwa Oma. Ia bersumpah tidak akan membiarkan Belva hidup tenang di atas penderitaan darah dagingnya sendiri.
"Tunggu pembalasanku, Belva," gumam Oma dengan suara parau namun penuh penekanan yang mengerikan. Jari-jarinya yang berkerut meraba permukaan foto sang putri dengan lembut.
"Kamu sudah merenggut nyawa anakku, dan sekarang kamu mencoba menghancurkan masa depan cucuku. Aku akan pastikan kamu jatuh tersungkur tanpa tersisa apa pun."
Oma tahu betul bahwa Aera memiliki rencana dan rasa amarahnya sendiri. Namun, sebagai seorang nenek, ia memilih berjalan mendahului di garis depan untuk membersihkan duri-duri tajam yang membahayakan cucunya. Biarlah Aera fokus pada masa mudanya dan dunianya bersama teman-teman remajanya seperti Leo dan anak-anak Alaxtar, sementara urusan membumihanguskan Belva menjadi tanggung jawab mutlak yang akan diselesaikan oleh tangan dingin Oma sendiri.
Di luar jendela, angin malam berembus kencang, menggoyang dahan-dahan pohon besar di halaman rumah. Di dalam ruang kerja yang sunyi itu, sebuah badai kehancuran tengah dipersiapkan dengan cermat, siap meluluhlantakkan istana megah palsu yang selama ini dibanggakan oleh Belva.
...----------------...
Mentari pagi menyapa ibu kota dengan sinarnya yang hangat, menembus celah-celah jendela kamar Aera di rumah megah sang oma. Suara alarm dari ponsel pintar di atas nakas berdering nyaring, membangunkan Aera dari tidur lelapnya.
Setelah semalam merajut kembali tekad dan rencana di dalam kepalanya, hari ini Aera menyambut pagi dengan energi baru yang jauh lebih kuat. Tidak ada lagi sisa-sisa keraguan atau kesedihan yang ada di dalam dada gadis itu adalah bara api semangat untuk melangkah maju, baik dalam dunia perkuliahannya maupun dalam misinya membongkar topeng kebusukan sang ibu tiri.
Dengan gerakan sigap, Aera beranjak dari tempat tidur dan langsung membersihkan diri. Hari ini ia memiliki jadwal kuliah pagi di kampus impiannya, Universitas Nusantara Bangsa (UNB)—sebuah perguruan tinggi swasta bergengsi dan terkenal elite yang mahasiswanya didominasi oleh anak-anak dari kalangan papan atas.
Setelah selesai mengenakan pakaian kuliah yang tampak modis, rapi, dan kasual namun tetap memancarkan aura elegan khas dirinya, Aera menuruni anak tangga menuju ruang makan. Aroma kopi hangat dan sarapan yang disiapkan pelayan rumah menyambut penciumannya. Di sana, Oma sudah duduk menanti dengan senyuman anggunnya.
"Pagi, Cucu Kesayangan Oma," sapa Oma hangat begitu melihat Aera mendekat.
"Pagi juga, Oma," balas Aera sambil mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan takzim, lalu mengambil tempat duduk di seberang sang oma.
Sambil menikmati sarapan ringan berupa roti panggang dan segelas susu putih, Aera teringat sesuatu. Ia menatap omanya sejenak sebelum berucap.
"Oma, nanti pagi ini aku ke kampus naik ojek online atau Grab saja ya? Biar nggak merepotkan supir pribadi Oma terus. Lagian biar lebih cepat sampai kalau jalanan sedang macet."
Mendengar usulan itu, Oma langsung meletakkan garpunya di atas piring dengan ekspresi tegas. Wanita tua itu menggeleng pelan, menatap Aera dengan sorot mata penuh kekhawatiran yang teramat sangat.
"Tidak, Aera. Oma tidak mengizinkan kamu naik kendaraan umum atau ojek online sembarangan di luar sana. Kamu adalah cucu satu-satunya yang Oma miliki. Dunia di luar sana tidak seaman yang kamu kira, terlebih setelah apa yang dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab di masa lalu terhadap keluarga kita. Kamu tetap harus berangkat diantar oleh supir pribadi oma menggunakan mobil."
Aera menghela napas pelan, tahu persis bahwa membujuk Oma dalam hal keselamatan adalah sebuah hal yang hampir mustahil. Di balik sosok Oma yang lembut dan penyayang, tersembunyi sikap protektif yang luar biasa besar, terutama setelah tragedi yang merenggut nyawa putri sulungnya—ibu kandung Aera.
Mengingat hal itu, Aera akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah, Oma. Aku akan menurut."
Oma tersenyum puas, kembali melanjutkan sarapannya dengan tenang. "Bagus. Pintar sekali cucu Oma. Ingat, keselamatan dan keamananmu adalah nomor satu. Biar urusan luar yang lain, serahkan pada Oma."
Tidak lama kemudian, setelah sarapan selesai dan berpamitan kepada sang oma, Aera melangkah keluar rumah. Di halaman depan, mobil sedan mewah milik keluarga sudah siap dengan supir setia kepercayaan Oma, yang membukakan pintu untuknya.
Perjalanan menuju kampus UNB berlangsung lancar tanpa hambatan berarti. Meskipun sempat terjebak sedikit kemacetan khas jam berangkat kantor di ibu kota, mobil yang ditumpangi Aera akhirnya memasuki kawasan kampus yang luas dan asri.
Begitu mobil berhenti tepat di depan gedung utama fakultas, Aera turun dengan anggun. Ia merapikan selempang tas kuliah di bahunya, mengucapkan terima kasih kepada supir pribadi oma, lalu melangkah masuk melewati gerbang kampus UNB yang megah.
Namun, takdir sepertinya sengaja mempertemukan hal-hal yang tidak diinginkan di tempat yang tidak disangka-sangka.
Di waktu yang hampir bersamaan, dari arah seberang gerbang utama, sebuah mobil SUV mewah berwana hitam terparkir. Dari dalam mobil tersebut, keluarlah seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat modis dengan perhiasan emas berkilauan di pergelangan tangannya, mengenakan dress bermerek mahal yang mencolok. Dialah Belva, ibu tiri Aera. Belva tidak datang sendirian, ia tampak menggandeng seorang anak remaja seusia kuliah—anak kandung dari hasil pernikahannya bersama mantan suami terdahulunya.
Belva sengaja membawa anak kandungnya itu datang ke kampus UNB hari ini dengan satu tujuan besar, mendaftarkan dan memasukkan sang anak agar bisa kuliah di universitas paling bergengsi di kota tersebut, sejajar dengan anak-anak orang kaya lainnya, menggunakan fasilitas dan kekayaan yang selama ini berhasil ia kuasai dari keluarga Aera.
Langkah kaki Belva seketika terhenti di tengah pelataran parkir luas ketika netranya menangkap sosok familiar yang berjalan tidak jauh dari depannya. Jantung Belva seolah berhenti berdetak sepersekian detik. Mata wanita itu membelalak lebar, menatap tak percaya ke arah gadis berambut panjang yang baru saja keluar dari mobil mewah lain di area kampus.
Itu... itu kan Aera?! batin Belva menjerit histeris, nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sendiri.
Belva tertegun di tempatnya berdiri. Otaknya mendadak berputar keras, dipenuhi dengan ribuan tanda tanya yang menyesakkan dada.
Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa Aera—gadis yang dulu diusir dan diperlakukan seadanya setelah kematian ibu kandungnya, gadis yang sempat hidup dalam bayang-bayang tekanan—bisa menginjakan kaki, bahkan kuliah di Universitas Nusantara Bangsa? Tempat ini adalah salah satu kampus paling mahal, paling eksklusif, dan paling terkenal di negeri ini.
Biaya masuk dan uang semester di UNB memerlukan dana yang fantastis, sesuatu yang seharusnya mustahil dijangkau oleh Aera seorang diri jika mengandalkan sisa-sisa hidupnya yang malang.
"Ma, kenapa berhenti? Katanya kita harus cepet-cepet urus berkas pendaftaran di ruang rektorat biar kebagian slot kelas eksklusif?" tegur alfino anak kandung Belva dari hasil pernikahannya dengan ayah kandung Alfino Jenar Jirawavega, membuyarkan lamunan sang ibu sambil menarik-narik lengan baju Belva dengan tidak sabar.
Belva tidak memedulikan ucapan anaknya. Matanya terus terpaku menatap punggung Aera yang berjalan semakin jauh memasuki koridor fakultas dengan begitu percaya diri. Ada aura yang sama sekali berbeda dari diri Aera hari ini.
Aera yang ia lihat sekarang sama sekali tidak terlihat seperti gadis miskin yang terpuruk. Penampilannya bersih, berkelas, memancarkan ketenangan, dan mengenakan barang-barang bermerek yang menunjukkan bahwa ia hidup dalam kemakmuran yang bahkan bisa menyaingi gaya hidup keluarga Belva saat ini.
Siapa sebenarnya yang menopang hidup Aera sekarang? pikir Belva, gelombang rasa cemas seketika merayapi relung hatinya. Siapa di belakang anak sialan itu? Mana bisa dia kuliah di tempat semahal ini? Dari mana dia dapat uang sebanyak itu untuk membayar seluruh biaya di UNB?
Kecurigaan dan rasa takut mulai bergemuruh di dalam dada Belva. Selama ini ia merasa di atas angin, menguasai seluruh harta kekayaan dan istana tempat ia tinggal bersama suaminya (ayah kandung Aera) tanpa ada hambatan berarti.
Namun, melihat perubahan drastis pada diri Aera hari ini, Belva menyadari bahwa ada kekuatan besar yang melindungi anak tirinya tersebut. Seseorang telah membuat Aera menjadi jauh lebih baik, jauh lebih kuat, dan jauh lebih berbahaya dari apa yang ia kenal dulu.
"Ma! Kok malah melamun sih? Ayo jalan!" protes Alfino lagi, membuat Belva terpaksa mengalihkan pandangannya dengan perasaan campur aduk antara kaget, penasaran, dan rasa terancam yang mendadak mencengkeram lehernya.
Di sisi lain, Aera sama sekali tidak menyadari kehadiran wanita yang paling ia benci di dunia itu di sudut gerbang kampus. Langkah kakinya terus berayun mantap menuju ruang kelas pertama. Hari ini adalah lembaran baru, dan ia tahu, benturan antara dirinya dan Belva di dunia luar hanya tinggal menunggu waktu saja. Dan ketika waktu itu tiba, Aera sudah siap menghadapinya tanpa rasa takut sedikit pun.