Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Jurang Ketiadaan
Xioutian terus membuntuti ikan hitam besar itu dari ketinggian rendah, sementara malam semakin pekat menelan cahaya di dasar jurang. Dinding-dinding batu raksasa menjulang gelap di kedua sisi, menciptakan lorong panjang yang nyaris tanpa arah.
"Bagaimana caranya aku mengangkat makhluk sebesar itu dengan tenagaku yang belum pulih?" gumamnya sambil mengepakkan sayap dengan malas.
Air di bawahnya bergerak tenang, sesekali memantulkan kilau sisik hitam kebiruan dari tubuh ikan yang terus hanyut terbawa arus. Xioutian memiringkan kepalanya, menimbang beberapa cara yang mungkin, lalu menggelengkan kepala kecilnya berkali-kali.
"Sial, semuanya berakhir dengan gagal."
*****
Sementara itu, jauh di hilir, keempat tetua yang tiba lebih dulu berdiri di tepian sungai dengan wajah muram. Kabut tipis turun dari dinding jurang, menambah dingin yang semakin menggigit.
"Ini terlalu berisiko jika kita terus berada di sini," ujar Tetua Pertama seraya menatap kegelapan yang mulai menyelimuti dasar jurang. "Persepsi kita sudah diblokir sungai ini. Kalau ada binatang buas muncul, kita hanya akan bertarung dalam kegelapan."
Ketiga tetua lainnya saling berpandangan, lalu mengangguk hampir bersamaan.
Tetua Kedua menghela napas berat. "Besok pagi kita turun lagi. Bocah itu pasti sudah mati, tubuhnya paling-paling tersangkut di antara bebatuan."
"Setuju."
Setelah bertukar pandangan singkat, mereka melesat ke atas dengan pedang terbang masing-masing, meninggalkan dasar jurang yang kembali senyap.
*****
Sementara itu, Xioutian masih setia mengikuti ikan hitam dari udara. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia melipat kedua sayapnya ke samping tubuh dan menukik menuju permukaan air.
BYURR!
Tubuhnya menembus air dengan susah payah. Namun belum sampai sedalam satu kaki, dorongan kuat dari dalam sungai menghantam tubuhnya dari bawah.
SPLASH!
Xioutian terlempar kembali ke udara dalam keadaan terhuyung, bulu-bulunya basah kuyup, sementara matanya membelalak sebesar mungkin.
"Ahyoyoyo... ikan sialan itu ternyata menyimpan kekuatan yang jauh melampaui dugaanku!" serunya dengan napas terengah.
Ia mengepakkan sayap beberapa kali untuk menstabilkan tubuh, lalu menggelengkan kepala dengan cepat agar air yang menempel di bulu-bulunya terlempar ke samping.
"Tapi kenapa aura yang keluar dari tubuhnya justru mirip dengan aura burung?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa ada jawaban yang datang. Xioutian menggaruk kepalanya dengan sayap kanan, lalu melirik ke bawah ke arah sungai yang gelap.
"Apa jangan-jangan di benua fana ini banyak terjadi kawin silang antara burung dan ikan? Sampai-sampai makhluk seaneh itu bisa lahir?"
Dia terdiam lagi, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Belum sempat pikirannya berkenalan lebih jauh, suara samar yang amat dikenalnya menyentuh kesadarannya.
"Xioutian... kau di sana...?"
Burung itu langsung menoleh liar ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, lalu mendongak ke atas dan menunduk ke bawah.
"Tuan! Aku di sini! Itu suaramu, bukan?" serunya sambil mengepakkan sayapnya dengan gelisah.
Tidak ada balasan apa pun.
Hening.
Namun di tengah sungai, air yang tadinya mengalir tenang mulai bergerak liar. Pusaran besar terbentuk dari titik tempat ikan hitam itu tadi berada. Arus berubah ganas dalam sekejap, menyedot segala sesuatu di sekitarnya ke dalam pusaran yang semakin melebar.
Xioutian langsung melesat ke sisi kiri jurang, menjauh dari pusaran mengerikan yang berputar semakin cepat.
"Pusaran? Tapi di mana tuan? Suaranya barusan jelas terdengar dari sana!" serunya sambil menatap pusaran itu dengan tajam, penuh kewaspadaan.
Tiba-tiba...
DUAR!
Air meledak ke segala arah, menyembur tinggi seperti hujan deras yang turun ke arah terbalik. Di tengah guyuran itu, sesosok tubuh melompat dari dalam sungai menuju tepian, lalu mendarat dengan kedua kaki tepat di hadapan Xioutian.
Burung kecil itu membelalakkan matanya.
Su Yu berdiri tegak dengan mata terpejam, air mengucur dari seluruh tubuhnya, sementara sisa ledakan air masih berjatuhan di sekeliling mereka.
"Tuan... kau masih hidup!" Suara Xioutian bergetar, bulu-bulu di wajahnya basah oleh campuran air dan air matanya sendiri. "Sukurlah... aku kira kau sudah mati..."
Su Yu membuka matanya perlahan, lalu menatap burung kecil yang bertengger tidak jauh darinya.
"Sudahlah, kita harus segera pergi. Para tetua mungkin masih berada di sekitar tempat ini."
Xioutian mengangguk cepat, lalu terbang dan mendarat di bahu Su Yu.
Keduanya segera berlari ke arah hulu, menjauh dari pusaran yang perlahan mengecil dan kembali menyatu dengan arus sungai. Langkah Su Yu terdengar ringan di atas bebatuan, meskipun tubuhnya basah kuyup dan tanpa pakaian sama sekali.
"Tuan," panggil Xioutian dari bahunya, "tadi aku melihat ikan besar di dalam sungai. Lalu pusaran itu muncul, dan setelah pusaran itu meledak, tuan justru muncul dari dalam air. Apa ini ada hubungannya?"
Su Yu menyipitkan matanya. Ingatannya tentang kejadian di dalam air terasa kabur, seperti mimpi yang ditinggalkan saat terbangun. Ia hanya mengingat satu hal: ia merasakan kehadiran Xioutian di dekatnya, lalu kesadarannya kembali, dan tubuhnya sudah berdiri di tepian.
"Aku tidak ingat apa yang terjadi di dalam sana. Kita pikirkan itu lain kali saja. Sekarang yang terpenting adalah menjauh dari tempat ini."
"Baiklah kalau begitu."
Su Yu terus berlari menyusuri tepian sungai yang gelap, hingga akhirnya langkahnya melambat di hadapan pohon besar yang tumbuh menjorok dari dinding jurang. Batangnya kokoh, sementara akar-akarnya mencengkeram bebatuan dengan kuat.
"Bagaimana mungkin pohon sebesar ini bisa tumbuh di kedalaman jurang seperti ini?"
Xioutian menoleh dari bahu Su Yu, memperhatikan pohon itu dengan tatapan kosong.
"Tuan saja tidak tahu, apalagi aku. Tapi setidaknya ini tempat yang baik untuk beristirahat."
Su Yu mengangguk sembari melangkah mendekati pohon, lalu berhenti di bawah naungan rimbunnya yang menutupi sebagian dinding jurang. Pandangannya menyapu sekeliling, mencari tempat yang cukup aman untuk memulihkan tenaga.
Xioutian terbang dari bahu Su Yu dan berputar mengelilingi tubuh pemuda itu sekali. Begitu kembali ke depan, matanya membelalak lagi.
"Tuan, lihat tubuhmu!"
Su Yu segera menunduk dan memeriksa tubuhnya. Wajahnya berubah tegang begitu menyadari bahwa tidak ada sehelai pun kain yang menutupi tubuhnya.
"Bagaimana bisa..." gumamnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik. "Huh, aman. Setidaknya tidak ada manusia lain di tempat ini."
Ia segera bergerak menuju pohon dan meraih beberapa helai daun terbesar yang bisa ia temukan. Dengan cekatan, ia merangkai dedaunan itu menjadi celana sederhana dan penutup badan seadanya. Setelah selesai mengenakan pakaian darurat itu, ia menarik napas lega.
"Ini lebih nyaman."
"Tuan," panggil Xioutian lagi sambil bertengger di atas batu kecil, "tolong jawab pertanyaanku. Kenapa kau bisa pulih secepat itu? Luka tusukan di dadamu hilang begitu saja, padahal baru saja aku melihatnya menganga. Ini tidak normal, bahkan untuk ukuran kultivator."
Su Yu mengernyitkan dahinya. Kecurigaan memang sudah muncul di benaknya sejak tadi. Ikan hitam yang disebut Xioutian mungkin ada hubungannya dengan wujud Kun. Tetapi karena ia tidak sadar saat perubahan itu terjadi, tidak ada kepastian yang bisa ia pegang.
"Jujur saja, aku juga tidak tahu."
Su Yu menegakkan punggungnya, lalu menatap Xioutian dengan pandangan lelah.
"Aku baru saja bisa berkultivasi beberapa waktu lalu. Jadi semua keanehan di tubuhku masih terlalu asing untuk dipahami. Kalau kau terus memaksaku menjawabnya, itu hanya membuang waktu kita. Bukan berarti aku tidak peduli, tapi aku tidak mau tenggelam dalam kebingungan sementara musuh masih memburu kita."
Xioutian terdiam sesaat, lalu menundukkan kepalanya kecil.
"Jawaban yang masuk akal. Aku tidak bisa membantahnya."
Su Yu tidak melanjutkan perbincangan itu. Ia berjalan ke sisi pohon, lalu duduk bersandar pada akar besar yang menonjol dari tanah. Kedua matanya menatap sungai gelap yang mengalir tidak jauh dari tempatnya beristirahat.
"Besok pagi kita tinggalkan tempat ini. Kau harus memulihkan tenagamu sebisa mungkin malam ini."
Xioutian mengangguk dari atas batu, lalu menarik kedua sayapnya rapat ke tubuh dan menutup matanya. Suara arus sungai memenuhi keheningan di antara mereka, sementara kabut malam semakin tebal menyelimuti dasar jurang.
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔