Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Kamu gila ya meminta bukti sepenting ini hanya sebagai uang muka?" tolak Bayu sambil menarik kembali map merah itu dari jangkauan tangan Clara.
"Dokumen ini adalah satu-satunya caraku untuk menjebloskan para pejabat korup dan bos geng Cobra itu ke penjara."
Clara menghela napas panjang dan memutar bola matanya merasa bosan dengan kenaifan pemuda di depannya.
"Dokumen itu tidak akan ada gunanya kalau kepalamu sudah terpisah dari badan malam ini, cowok udik," balas Clara dengan nada dingin yang menusuk.
"Sang Penghapus Jejak tidak akan berhenti memburumu sampai dia memastikan targetnya benar-benar mati." Bayu terdiam kaku meresapi ucapan menyakitkan yang diucapkan oleh sang informan berambut merah tersebut.
Logikanya membenarkan setiap kata yang keluar dari mulut Clara barusan.
"Bayu, dia benar, kita tidak punya pilihan lain selain mengikuti permainannya untuk saat ini," bujuk Anya menepuk pelan pundak Bayu.
Bayu akhirnya mengalah dan menggeser dokumen-dokumen itu ke hadapan Clara dengan berat hati.
"Baiklah, dokumen ini milikmu sekarang, jadi cepat katakan bagaimana caranya aku bisa meningkatkan energi relikku," tuntut Bayu menatap tajam.
Clara tersenyum puas sambil memasukkan barang sitaannya ke dalam tas jinjing mahalnya.
"Kita tidak bisa membahasnya di sini, ikuti aku ke stasiun kereta bawah tanah lama di sektor selatan sekarang juga," perintah Clara seraya berdiri dari kursinya.
Srak.
Kursi kayu bergeser saat mereka bertiga berdiri dan bergegas keluar meninggalkan kafe yang sepi itu.
Udara malam mulai terasa menusuk tulang saat mereka berjalan menyusuri gang-gang sempit di pinggiran kota.
Tap tap tap.
Langkah kaki mereka menggema pelan di dinding beton yang penuh dengan coretan grafiti usang.
"Tempat apa sebenarnya yang akan kita tuju ini?" tanya Anya sambil merapatkan jaketnya karena kedinginan.
"Kita akan pergi ke Pasar Malam Hitam, satu-satunya tempat netral di mana para pengguna relik berkumpul untuk berdagang," jawab Clara tanpa menoleh ke belakang.
"Kalian berdua harus tutup mulut rapat-rapat saat kita sudah masuk ke dalam sana nanti."
Bayu mengerutkan keningnya merasa heran dengan keberadaan pasar tersembunyi semacam itu di kotanya.
"Kenapa polisi tidak pernah menggerebek tempat perkumpulan kriminal seperti itu?" tanya Bayu tidak habis pikir.
Clara tertawa meremehkan mendengar pertanyaan polos tersebut.
"Karena orang-orang yang membuat hukum di kota ini adalah pelanggan tetap di pasar itu," sindir Clara tersenyum sinis.
Kriet.
Clara mendorong sebuah pintu besi berkarat yang tersembunyi di balik tumpukan tempat sampah besar.
Bau apak dan lembab langsung menyengat hidung saat mereka menuruni tangga beton yang gelap gulita.
Di ujung tangga, pemandangan luar biasa langsung menyambut pandangan Bayu dan Anya.
Puluhan tenda kecil dan lapak dadakan berjejer rapi di sepanjang peron stasiun kereta yang sudah lama terbengkalai.
Berbagai macam barang aneh dan bersinar dipajang di atas meja kain, mulai dari kalung batu kuno hingga senjata tajam berukir.
Bisingnya suara tawar-menawar terdengar berdengung memenuhi rongga udara stasiun bawah tanah tersebut.
"Jangan menatap mata siapa pun lebih dari tiga detik kalau kalian masih sayang nyawa," bisik Clara memberi peringatan keras.
Bayu mengangguk paham dan berjalan menunduk mengikuti langkah Clara dari belakang.
Ia bisa merasakan beberapa tatapan tajam dan aura membunuh yang menguar dari beberapa pedagang bertubuh besar di sudut peron.
"Sistem, apakah kamu bisa memindai benda-benda di sekitar sini?" batin Bayu mencoba berinteraksi dengan layar birunya.
[Peringatan: Terlalu banyak radiasi relik tingkat rendah, pemindaian area dinonaktifkan untuk menghemat energi.]
"Sial, aku harus mengandalkan insting wanita cerewet ini sepenuhnya," keluh Bayu di dalam hati.
Clara berhenti di depan sebuah lapak kecil yang dijaga oleh seorang kakek tua berpakaian compang-camping.
"Aku butuh Kristal Resonansi tingkat tiga, berapa harga yang kau minta hari ini, Kek?"
tanya Clara langsung pada intinya. Kakek tua itu membuka sebelah matanya yang buta dan terkekeh pelan memamerkan giginya yang ompong.
"Gadis merah kecil selalu mencari barang bagus, harganya seratus juta tunai atau tukar dengan informasi setara," jawab kakek itu dengan suara serak.
Bayu membelalakkan matanya kaget mendengar nominal uang yang disebutkan oleh pedagang tua tersebut.
"Seratus juta? Uang darimana kita bisa membayar harga segila itu?" bisik Bayu panik menarik lengan baju Clara.
Clara menepis tangan Bayu dan mengeluarkan buku hitam milik geng Cobra dari dalam tasnya.
Brak.
Buku itu dilemparkan ke atas meja kayu sang kakek hingga menimbulkan suara debum yang lumayan keras.
"Ini adalah buku catatan suap milik PT Kobra Mandiri, aku yakin nilainya jauh melebihi harga batu kerikilmu itu," tawar Clara dengan penuh percaya diri.
Mata kakek itu berbinar serakah saat membaca halaman pertama buku dosa tersebut.
"Kesepakatan yang sangat menguntungkan, ambil kristal ini dan pergilah dari pandanganku," ucap kakek itu menyodorkan sebuah kotak kayu kecil.
Clara mengambil kotak itu dan langsung menarik tangan Bayu menjauh dari kerumunan pasar gelap.
Mereka berhenti di sudut peron yang sepi dan gelap, jauh dari pantauan mata para pengunjung lainnya.
"Buka tanganmu dan genggam batu ini erat-erat," perintah Clara menyodorkan sebuah kristal bening seukuran kelereng.
Bayu menerima kristal itu dan langsung merasakan hawa dingin merambat naik dari telapak tangannya.
Wusss.
Layar biru sistem seketika muncul berkedip terang menutupi seluruh jarak pandang Bayu.
[Anomali Energi: Kristal Resonansi Eksternal terdeteksi.]
[Apakah Anda ingin menyerap energi kristal ini untuk memperluas kapasitas wadah sistem?]
"Ya, serap sekarang juga," perintah Bayu dalam hati tanpa ragu sedikit pun.
Krak.
Kristal bening di tangan Bayu hancur berkeping-keping menjadi debu putih yang langsung terserap masuk ke pori-pori kulitnya.
Bayu merasakan aliran listrik statis menyengat seluruh otot tubuhnya hingga ia nyaris jatuh berlutut menahan sakit.