NovelToon NovelToon
Gulungan Dewa Naga

Gulungan Dewa Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:20.1k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.

Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Suasana arena utama Akademi Bela Diri Awan Merah masih sunyi senyap seperti kuburan tak berpenghuni. Ribuan pasang mata menatap kosong ke arah genangan darah di luar batas arena batu granit tersebut.

Wasit pertandingan bahkan belum menurunkan tangannya yang gemetar setelah mengumumkan kemenangan yang terasa sangat tidak masuk akal itu.

Di tengah keheningan yang mencekam itu, Yang Zhen berjalan santai menuruni anak tangga arena. Ia meregangkan kedua tangannya tinggi-tinggi seolah baru saja bangun dari tidur siang yang panjang.

"Hoam, memukul wajah orang arogan ternyata cukup menguras tenaga juga ya." ucap Yang Zhen dengan suara yang sengaja dikeraskan.

Ia berjalan mendekati Wang Hao yang masih berdiri kaku seperti patung batu di pinggir arena. Sahabat gemuknya itu menatapnya dengan mulut terbuka lebar dan mata nyaris melompat keluar.

"Hao, berhentilah menganga lebar seperti itu." tegur Yang Zhen sambil menjentikkan jarinya ke dahi Wang Hao. "Nanti ada lalat yang bersarang di tenggorokanmu."

Wang Hao tersentak kaget dan buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat. Ia menatap Yang Zhen dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk memastikan sahabatnya itu tidak terluka sedikit pun.

"Zhen, kau... kau baru saja menampar Tuan Muda Zhao Wei sampai pingsan?" bisik Wang Hao dengan suara bergetar ketakutan. "Kita benar-benar sudah mati sekarang, nyawa kita tidak akan selamat sampai besok pagi!"

"Kenapa kau selalu pesimis begitu, Hao?" balas Yang Zhen sambil terkekeh pelan. "Lihatlah sisi positifnya, setidaknya sekarang kau punya teman yang bisa mengalahkan genius akademi."

"Sisi positif apanya?!" jerit Wang Hao tertahan sambil menjambak rambutnya sendiri. "Keluarga Zhao punya puluhan pembunuh bayaran tingkat tinggi yang bisa menculik kita malam ini juga!"

Yang Zhen hanya tersenyum tipis mendengar kepanikan sahabatnya itu. Ia tahu betul sifat penakut Wang Hao, namun ia juga tahu bahwa pemuda gemuk ini tidak akan pernah mengkhianatinya.

"Tenang saja, aku sudah memikirkan semuanya dengan matang." ucap Yang Zhen sambil menepuk pundak Wang Hao dengan lembut. "Selama kau tetap berada di dekatku, tidak akan ada satu pun nyamuk yang berani menggigitmu."

Tepat pada saat itu, sebuah aroma harum bunga teratai es tercium samar di udara. Su Lin berjalan menghampiri mereka berdua dengan langkah anggun namun raut wajahnya terlihat sangat rumit.

Gadis jenius berambut hitam panjang itu menatap Yang Zhen dengan sorot mata yang penuh selidik. Ia merasa pemuda di depannya ini memiliki terlalu banyak rahasia yang tidak masuk akal.

"Kau benar-benar tidak tahu batasan sama sekali, Yang Zhen." tegur Su Lin dengan nada dingin yang berusaha menutupi keterkejutannya. "Kau sengaja mempermalukannya di depan seluruh petinggi akademi."

Yang Zhen menoleh dan menyandarkan tubuhnya di tembok pembatas arena dengan gaya yang sangat santai. Ia melipat kedua tangannya di dada sambil menatap lurus ke dalam mata jernih Su Lin.

"Oh? Nona Su yang dingin ternyata mengkhawatirkanku?" goda Yang Zhen sambil tersenyum menyebalkan. "Atau kau diam-diam takut kehilangan guru tampanmu ini?"

"Jangan bermimpi di siang bolong." dengus Su Lin cepat sambil memalingkan wajahnya yang tiba-tiba terasa sedikit memanas. "Aku hanya takut tidak ada lagi yang mengajariku Teknik Napas Angin Musim Dingin jika kau mati dibunuh."

"Hahaha, alasan yang sangat logis dan masuk akal." Yang Zhen tertawa renyah melihat reaksi salah tingkah gadis itu. "Tapi tenang saja, aku tidak akan mati semudah itu sebelum melihatmu menjadi penguasa elemen es."

Su Lin mendecakkan lidahnya kesal karena selalu gagal mempertahankan wajah dinginnya saat berhadapan dengan Yang Zhen. Pemuda ini benar-benar memiliki cara bicara yang menyebalkan namun anehnya sangat memikat.

"Kau terlalu percaya diri." balas Su Lin tajam. "Keluarga Zhao bukanlah musuh yang bisa kau kalahkan hanya dengan kekuatan fisik semata."

"Aku tahu." jawab Yang Zhen santai sambil mengangkat bahunya. "Justru karena aku tahu kekuatan mereka, aku sengaja melakukan semua ini untuk memancing rubah tua itu keluar dari sarangnya."

Su Lin mengerutkan keningnya tidak paham dengan jalan pikiran pemuda yang penuh perhitungan ini. Ia mulai menyadari bahwa di balik sikap usil dan santainya, Yang Zhen selalu berpikir sepuluh langkah lebih maju.

"Jika kau butuh bantuan atau tempat bersembunyi, keluarga Su bisa melindungimu untuk sementara waktu." tawar Su Lin dengan suara pelan.

"Tawaran yang sangat menggiurkan, Nona Su." goda Yang Zhen lagi sambil mendekatkan wajahnya. "Apakah ini ajakan untuk tinggal satu atap bersama calon istri masa depanku?"

"Kau benar-benar tidak tertolong!" bentak Su Lin yang kini wajahnya memerah sempurna karena malu dan kesal.

Gadis itu langsung berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan Yang Zhen yang masih tertawa puas. Wang Hao hanya bisa menelan ludahnya melihat sahabatnya berani menggoda dewi akademi secara terang-terangan.

"Kau benar-benar punya nyali sebesar gunung, Zhen." gumam Wang Hao tidak percaya.

"Ayo kita pulang sekarang, Hao." ajak Yang Zhen sambil mulai berjalan keluar dari area akademi. "Kita harus bersiap-siap karena pertunjukan sesungguhnya baru saja dimulai."

Sementara itu, di kediaman utama Keluarga Zhao yang mewah dan megah. Suasana di dalam ruang pertemuan rahasia terasa sedingin bongkahan es di kutub utara.

Zhao Tian, Patriark Keluarga Zhao sekaligus ayah dari Zhao Wei, duduk di kursi kebesarannya dengan wajah tanpa ekspresi. Di hadapannya, Han Sen berlutut gemetar di atas karpet mahal sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Jadi maksudmu, putra kebanggaanku dikalahkan hanya dengan satu tamparan tangan kosong?" tanya Zhao Tian dengan nada suara yang sangat datar dan tenang.

Ketenangan Patriark Zhao justru membuat bulu kuduk Han Sen berdiri tegak. Semua orang tahu bahwa saat Zhao Tian tidak berteriak, itu berarti niat membunuhnya sudah mencapai puncaknya.

"B-benar, Patriark." jawab Han Sen dengan bibir pucat. "Yang Zhen tiba-tiba menunjukkan kecepatan dan kekuatan fisik yang setara dengan Tahap Pengumpulan Qi Tingkat Delapan puncak."

Zhao Tian mengetukkan jari telunjuknya ke sandaran kursi kayu jati itu dengan irama yang lambat. Otaknya yang licik sedang berputar cepat menganalisis informasi yang tidak masuk akal ini.

"Seorang murid Tingkat Satu tidak mungkin melompat ke Tingkat Delapan dalam waktu satu malam tanpa bantuan." gumam Zhao Tian memecah keheningan.

"Apakah mungkin dia menemukan relik kuno atau ditolong oleh seorang ahli kultivasi yang menyamar?" tebak Zhao Tian dengan tatapan mata yang menyipit tajam.

"T-Tuan Muda Zhao Wei juga berpikiran sama, Patriark." sahut Han Sen memberanikan diri. "Tuan Muda curiga bahwa Yang Zhen menyembunyikan sebuah pusaka yang bisa meningkatkan kultivasi secara drastis."

Zhao Tian menghentikan ketukan jarinya dan tersenyum tipis yang sangat menyeramkan. Keserakahan mulai mengalahkan amarah di dalam hati rubah tua yang licik tersebut.

"Jika pusaka seperti itu benar-benar ada, maka itu adalah milik keluarga Zhao." ucap Zhao Tian penuh ketamakan. "Pusaka itu bisa membantuku menembus Tahap Inti Emas tahun ini."

"Apa perintah Anda selanjutnya, Patriark?" tanya Han Sen yang mulai merasa sedikit lega karena nyawanya tidak langsung melayang. "Apakah kita harus mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisinya malam ini?"

"Bodoh." desis Zhao Tian dengan tatapan merendahkan. "Jika kita membunuhnya malam ini, seluruh kota akan tahu bahwa keluarga Zhao adalah dalangnya."

Zhao Tian berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan menuju jendela besar ruangannya. Ia adalah seorang ahli strategi kejam yang lebih suka menyiksa musuhnya secara perlahan.

"Kita akan menghancurkan pondasi hidupnya terlebih dahulu." perintah Zhao Tian. "Putuskan semua akses Yang Zhen ke pasar obat dan sumber daya kultivasi di kota ini."

"Saya mengerti, Patriark." Han Sen menganggukkan kepalanya dengan patuh.

"Beri tekanan pada semua pedagang herbal agar tidak menjual satu daun pun kepada bocah itu." lanjut Zhao Tian. "Tanpa asupan sumber daya, pusaka apa pun di dalam tubuhnya perlahan akan merusak meridiannya sendiri."

"Bagaimana dengan Asosiasi Alkemis, Patriark?" tanya Han Sen ragu. "Mereka biasanya bersikap netral dan tidak mau tunduk pada perintah kita."

Zhao Tian kembali tersenyum licik mendengar pertanyaan asistennya tersebut. Ia berjalan kembali ke mejanya dan mengambil sebuah surat berstempel lilin merah dari laci.

"Asosiasi Alkemis memang netral, tapi manusia di dalamnya memiliki keserakahan masing-masing." ucap Zhao Tian. "Panggil Lu Feng, murid kesayangan Presiden Gu, untuk menemuiku malam ini juga."

1
Sansalina
Mulai 👍👍👍
Sansalina
Gas Thorrr👍👍👍
Sansalina
Takutnya muridku mati konyol sebelum menguasai es dengan sempurna💪💪💪
alexander
bagus ceritanya
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Buktikan 👍👍👍
Sansalina
Bantai nih keluarganya👍👍👍
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Belum tahu dia👍👍👍
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Lanjuttt💪💪💪
Sansalina
Lanjuttt 👍👍👍
Sansalina
Gas Thprrr💪💪💪
Dianrp
💪💪💪💪💪
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!