Dewasa
Follow My Instagram @Mae_jer
Dami tidak menyangka dia akan menghadapi Jeremy yang menggila padahal statusnya sudah menjadi istri dokter Bima. Walau status itu hanya sebatas pernikahan kontrak, tetap saja tidak dapat dibenarkan. Namun, siapa yang akan menyangka Dami akan terlibat dengan permainan panas Jeremy, serta Bima yang ikut-ikutan menggila, yang membuatnya berada di situasi yang membingungkan.
Terjebak di antara dua pria yang sama-sama menginginkannya, situasi semakin rumit saat Dami hamil. Karena ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Jeremy atau Bima? Lebih gilanya lagi, baik Bima maupun Jeremy, sama-sama tidak mau melepaskannya.
Ketiganya harus merahasiakan hubungan gila mereka sampai akhirnya salah satu dari kedua pria itu mengalah, dan merelakan Dami dengan laki-laki yang dia cintai.
Apakah masih Jeremy cinta pertamanya yang menjadi pemenang? Atau Bima, dokter tampan yang juga mencintai Dami dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenggelam
Dami melangkah perlahan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batu kerikil halus, dikelilingi semak-semak hijau dan pohon pinus yang tinggi menjulang. Udara di sini terasa semakin segar, beda sekali dengan udara kota yang penuh debu dan kebisingan. Ia melangkah dengan santai, sesekali berhenti sejenak untuk memandang sekeliling, menikmati keindahan alam yang jarang sekali ia temui sehari-hari.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, ia tiba di tepian danau yang airnya terlihat sangat jernih hingga bisa memantulkan bayangan pepohonan dan langit biru yang mulai bersih dari kabut. Suara air yang berdesir pelan terkena angin terdengar menenangkan, membuat seluruh ketegangan dan rasa canggung yang masih tersisa di hatinya perlahan hilang berganti dengan kedamaian. Dami berjalan mendekat, duduk sebentar di atas batu besar yang kering, lalu merentangkan pandangan matanya sejauh mata memandang.
Namun ketenangan itu hanya berlangsung sebentar. Tiba-tiba, dari arah semak-semak di sisi kanan danau, terdengar suara tangisan keras diikuti suara benda yang terjatuh ke dalam air. Dami langsung menegakkan tubuh, matanya memandang ke arah sumber suara dengan waspada. Tanpa berpikir dua kali, ia segera berdiri dan berlari mendekat.
Di sana, ia melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar enam atau tujuh tahun terjatuh ke danau, tubuhnya terhuyung-huyung karena air yang dalam. Tidak ada siapa-siapa di sana. Tempat ini sepi sekali. Tanpa ragu Dami berlari kencang dan segera melompat ke danau untuk menyelamatkan anak kecil itu.
Namun siapa yang menyangka kakinya akan tiba-tiba kesemutan hingga seluruh tenaganya seolah tersedot habis dalam sekejap. Saat tubuhnya menyentuh permukaan air yang dingin menusuk tulang, rasa kaku itu menjalar naik ke betis dan pahanya, membuat ia tidak bisa mengayuh kaki sekuat yang diinginkan.
Air danau yang tampak tenang dari tepian ternyata memiliki arus halus yang cukup kuat, menarik tubuhnya perlahan menjauhi pinggiran. Dami merentangkan tangan berusaha meraih anak laki-laki itu yang sudah mulai terbenam setinggi bahu, namun jarak mereka justru semakin melebar.
"Tolong… tolong …" suara lirih anak itu terdengar terputus-putus, mulutnya terbuka lebar sambil meneguk air tanpa sadar.
Matanya membelalak ketakutan, tangannya melambai-lambai mencari pegangan yang tidak ada. Dami berusaha berteriak memberi semangat, tapi hanya suara parau yang keluar, dan dalam sekejap mulutnya pun terisi air dingin. Rasa sesak segera menyergap dadanya, pandangannya mulai kabur, dan kekuatan di sekujur tubuhnya benar-benar hilang.
Kedua tubuh itu perlahan tenggelam ke dalam kedalaman air yang tenang namun mematikan, ditarik ke bawah oleh gravitasi dan arus yang tak terlihat. Di permukaan hanya tersisa lingkaran riak air yang perlahan menghilang, seolah tidak ada apa pun yang baru saja terjadi.
Namun ketenangan yang kembali menyelimuti danau itu tidak berlangsung lama. Dari arah jalan setapak yang baru saja dilalui Dami, terdengar derap langkah cepat yang disertai suara perintah tegas. Beberapa sosok laki-laki berpakaian rapi namun tampak sigap bergerak mendekat, diikuti oleh seorang pria berpostur tinggi dengan penampilan yang memancarkan wibawa namun kini terlihat sangat cemas.
Sebelum sempat mereka berteriak, pria itu sudah melepaskan jasnya, melompat dengan lincah melintasi bebatuan, lalu terjun langsung membelah permukaan air danau dengan percikan yang cukup besar.
Ia berenang dengan gerakan terlatih dan cepat, menembus kedalaman air yang mulai gelap. Dalam waktu singkat ia menemukan dua tubuh yang sudah tergolek lemas di dasar dangkal danau. Dengan satu gerakan terampil, ia mengangkat tubuh anak laki-laki itu terlebih dahulu ke permukaan, lalu segera meraih pinggang Dami dan membawanya naik ke udara terbuka.
Sesampainya di tepian, ia segera berteriak kepada anak buahnya dengan nada tinggi penuh perintah.
"Bawa anak itu ke atas, periksa pernapasannya, keluarkan air dari paru-parunya dan jaga suhu tubuhnya! Segera!"
Dua orang anak buahnya segera mengangkat tubuh anak itu dengan hati-hati, membawanya menjauh sedikit dan mulai memberikan pertolongan pertama sesuai instruksi. Sementara itu, pria itu sendiri tetap tinggal di samping Dami.
Jantungnya berdegup kencang, dahinya sudah basah oleh campuran air danau dan keringat dingin. Ia membaringkan tubuh Dami di atas permukaan tanah yang agak kering, memiringkan sedikit kepalanya agar saluran napas terbuka, lalu mengecek denyut nadi dan pernapasannya yang terasa sangat lemah.
Tanpa membuang waktu lebih lama, ia menekan bagian dada Dami secara teratur dengan tenaga yang pas, lalu mendekatkan mulutnya, menutup hidung wanita itu, dan memberikan nafas buatan secara bergantian.
Wajahnya yang biasanya terlihat tenang dan tegas kini dipenuhi kepanikan yang sulit disembunyikan. Matanya terpaku pada wajah pucat Dami, berharap agar wanita itu segera sadar.
"Ayo, bangunlah … kau harus bangun..." bisiknya pelan namun penuh harap, terputus di antara setiap gerakan pertolongan yang ia berikan.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam. Saat ia baru saja selesai memberikan satu kali hembusan nafas, tiba-tiba tubuh Dami bergerak tersentak keras. Ia terbatuk-batuk hebat, mengeluarkan air danau yang tertelan, matanya terbuka lebar seolah terkejut dan bingung, sambil menarik nafas panjang yang terasa berat namun menyelamatkan.
Begitu pandangannya mulai jernih dan terbiasa dengan cahaya, ia menatap wajah orang yang sedang menopang bahunya dan memastikan ia tetap bernapas dengan baik. Jantung Dami seakan berhenti berdetak sejenak, ia kaget luar biasa. Orang yang menyelamatkannya, orang yang baru saja memberinya pertolongan dengan wajah penuh kekhawatiran itu bukan Bima atau orang lain, tapi ... Jeremy.
Pria itu menghela nafas panjang, rasa cemas yang menghimpit dadanya perlahan terlepas, diganti rasa lega yang luar biasa. Ia mengusap lembut rambut basah Dami dengan tangan yang sedikit gemetar, suaranya terdengar parau namun lembut.
"Syukurlah, kau bangun Asli."
Jeremy memeluk Dami erat, namun Dami segera mendorong tubuhnya kuat sekali.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" Sentaknya ketus. Tidak mungkin kebetulan. Laki-laki ini gila, pasti dia sengaja ke sini.
"Tenang sayang, tenang. Aku tidak akan menculikmu seperti waktu itu. Tenang saja. Aku merindukanmu. Itu sebabnya aku ada di sini.
Nafas Dami naik turun. Saat Jeremy mengulurkan tangannya ke depan hendak meraih wajah Dami, wanita ia mendorongnya lagi kuat sekali, lalu berdiri, berlari dari tempat itu.
Namun karena kondisinya masih lemah, ia tidak bisa berlari kencang. Jeremy juga tidak membiarkannya pergi begitu saja. Lelaki itu berhasil menarik tangannya, membawanya ke tempat yang lebih sepi. Dami kaget. Ia berusaha melepaskan diri, tapi lagi-lagi kalah dengan kekuatan Jeremy.
"Lepaskan aku, Jeremy!" Ia terus meronta, namun tidak di dengar oleh laki-laki gagah yang dominan itu.