NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: yuni93

Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arga Yang Cemburu

Suasana pesta masih terasa sangat meriah dengan dentuman musik dan riuh rendah suara tawa para tamu, namun Yena merasa perlu menyegarkan diri sejenak. Ia memegang tangan juvan dan berbisik pelan kepada Juvan yang sedang berdiri di sampingnya, berpamitan untuk pergi ke toilet sebentar.

"Aku ke toilet dulu ya, sebentar saja," ucap Yena lembut. Juvan mengangguk mengerti, matanya tetap mengawasi gerak-gerik gadis itu dari jauh.

Arga yang dari tadi selalu mengawasi gerak gerik yena dari kejauhan dia pun mengikuti yena pergi ke toilet.

Setelah selesai merapikan penampilannya di depan cermin, Yena melangkah keluar dari ruang toilet yang agak sepi itu. Namun, baru saja ia hendak berbalik arah kembali menuju aula utama, sebuah cengkeraman kuat tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dengan kasar dan menarik paksa tubuhnya menjauh.

Yena terkejut nyaris berteriak, namun mulutnya tertahan oleh rasa kaget saat tubuhnya didorong hingga menempel keras pada dinding tembok yang dingin. Di hadapannya kini berdiri sosok yang wajahnya memerah padam oleh amarah—Arga. Napas laki-laki itu memburu, matanya menatap tajam bagaikan binatang buas yang siap menerkam, tangannya menggenggam erat kedua pergelangan tangan Yena hingga terasa perih dan sakit.

"Kamu pikir kamu sedang main apa, hah?" desis Arga dengan suara rendah yang bergetar menahan luapan emosi, nadanya penuh ancaman dan kecemburuan yang meledak-ledak.

"Siapa laki-laki brengsek itu? Kenapa kamu berani datang ke sini bersamanya? Dan ciuman tadi... apakah kamu tidak tahu malu?!"

Arga mendekatkan wajahnya, menatap tajam ke dalam manik mata Yena yang mulai berkaca-kaca karena takut. Rasa cemburu yang membara menyulap logika berpikirnya menjadi abu. Ia tak sanggup membayangkan Yena milik orang lain, meskipun dialah yang telah mengkhianati hubungan mereka lebih dulu.

"Kamu masih milikku, Yena! Hanya milikku! Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu, apalagi laki-laki asing yang tidak tahu diri itu!" seru Arga dengan suara tertahan namun penuh kemarahan, menekan tubuh Yena agar tak bisa bergerak ke mana pun. Uap amarah dan rasa posesif yang meluap-luap memenuhi ruang sempit di sudut lorong itu, membuat suasana terasa mencekam dan menyesakkan dada.

Yena tidak tinggal diam. Rasa takutnya seketika berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memberontak hingga genggaman tangan Arga sedikit melonggar. Matanya menatap tajam berani menantang manik mata Arga yang memerah.

"Berani-beraninya kamu bicara begitu!" bentak Yena dengan suara bergetar namun tegas.

"Kamu siapa, hah? Kamu sudah tidak punya hak lagi untuk mengatur hidupku, Arga! Ingat tidak? Kamu yang membuangku demi Fira! Kamu yang merusak semuanya!"

Arga mendengus kasar, wajahnya semakin mengerut tak terima.

"Itu masa lalu! Aku menyesal! Aku bisa memperbaiki semuanya! Tapi kamu? Kamu dengan mudahnya lari ke pelukan laki-laki lain di depan semua orang! Itu cara kamu membalasku, bukan?!"

Yena tertawa sinis, menatap Arga dengan pandangan merendahkan.

"Menyesal? Itu baru kata-kata manis setelah kamu melihat aku bahagia! Kamu tidak mencintaiku, Arga! Kamu hanya egois! Kamu cemburu bukan karena sayang, tapi karena kamu tidak suka ada yang menolakmu! Juvan jauh lebih baik darimu—dia tulus, dia menghargaiku, tidak seperti kamu yang penuh kebohongan!" Arga geram, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.

"Aku tidak akan membiarkan hubungan kita yang bertahun-tahun hancur begitu saja demi orang asing! Aku bisa membuatmu kembali padaku dengan cara apa pun!"

"Hubungan kita sudah mati sejak kamu berselingkuh!" potong Yena dingin dan tegas.

"Jangan pernah bermimpi lagi untuk memilikiku. Jalan kita sudah berbeda. Lepaskan aku, atau aku akan berteriak memanggil semua orang untuk melihat siapa mantan kekasihku yang asli ini—seorang pengecut yang tidak bisa menerima kenyataan!"

Kata-kata tajam Yena bagaikan pisau yang menyayat hati Arga, membuat akal sehatnya lenyap seketika. Emosi kemarahan dan kecemburuan meledak tak terkendali di dalam dadanya. Tatapan matanya menggelap, napasnya memburu kasar memburu di udara sempit di antara mereka.

"Kamu bilang dia lebih baik dariku? Kamu dengan mudahnya membiarkan dia menyentuhmu..." desis Arga dengan suara parau yang terdengar mengerikan. Ia menatap bibir Yena dengan tatapan yang memabukkan dan penuh obsesi.

"Kamu tadi berciuman dengan pria asing itu di depan semua orang, kan? Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang... kamu melakukannya denganku?"

Belum sempat Yena membuka mulut untuk menolak atau berteriak, Arga dengan kasar menekan tubuhnya semakin erat ke tembok, lalu mencium bibir Yena secara paksa. Itu bukanlah ciuman yang hangat atau penuh kasih sayang, melainkan ciuman yang liar, penuh amarah, dan upaya penguasaan mutlak.

Yena memberontak sekuat tenaga. Ia memukul dada bidang Arga, mencoba memalingkan wajahnya, kakinya menendang udara berusaha melepaskan diri.

"Lepaskan! Brengsek! Lepaskan aku, Arga!" teriaknya tertahan di sela-sela ciuman paksa itu. Namun, fisik Arga jauh lebih besar dan kuat darinya. Kedua tangan Arga menahan pergelangan tangan Yena dengan satu genggaman yang tak tergoyahkan, sementara tubuhnya menindih agar Yena tak mampu bergerak sejengkal pun. Yena merasa tercekik, napasnya tersengal-sengal, matanya memanas menahan air mata dan rasa jijik yang meluap-luap.Ciuman kasar itu akhirnya terlepas, menyisakan napas memburu dan rasa jijik yang membuncah di dada Yena. Arga menatap wajah gadis itu yang pucat dan matanya yang berkaca-kaca, lalu sebuah senyum licik melengkung di bibirnya—senyum kepuasan yang menjijikkan.

"Bagaimana rasanya, Yena?" tanya Arga dengan nada merendahkan dan penuh kemenangan, jemarinya berusaha menyentuh pipi Yena namun gadis itu membuang wajah dengan kasar.

"Kamu tidak bisa menolakku. Mau sekeras apa pun kamu mencoba lari, kamu tetap tak bisa melupakan sentuhanku."

Sementara itu, di area aula pesta, Juvan mulai merasa gelisah. Waktu berlalu begitu lama namun sosok Yena tak kunjung kembali dari toilet. Perasaan tidak tenang merayap di hatinya, instingnya memberi isyarat buruk. Tanpa mempedulikan keramaian di sekitarnya, Juvan memutuskan untuk menyusul. Ia melangkah cepat menuju lorong sepi yang mengarah ke toilet, matanya memindai setiap sudut dengan kewaspadaan tinggi.

Saat ia mendekati ujung lorong yang agak gelap, pemandangan di hadapannya membuat darah Juvan mendidih seketika. Ia melihat sosok Yena yang terdesak di dinding dengan wajah ketakutan, tepat di hadapan Arga yang berdiri dengan angkuh.

Tanpa berpikir dua kali, Juvan menerjang maju dengan amarah yang meledak. Ia mencengkeram kerah kemeja Arga dengan kuat, lalu dengan kekuatan penuh melayangkan pukulan keras tepat mengenai rahang laki-laki itu.

Bugh!

Suara benturan itu terdengar jelas di lorong sunyi. Arga terhuyung mundur beberapa langkah akibat hantaman tak terduga itu.

"Beraninya kamu menyakiti pacarku!" bentak Juvan dengan suara berat dan bergetar, matanya memancarkan kemarahan yang tak pernah terpancar sebelumnya. Ia segera berdiri di depan Yena, membela bagaikan perisai kokoh untuk melindungi gadis itu dari ancaman lebih lanjut.

Arga perlahan mengangkat tangannya menyentuh sudut bibirnya yang kini berdarah segar. Ia menatap noda merah di ujung jarinya, lalu menatap tajam ke arah Juvan. Alih-alih marah, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum licik yang sangat menjengkelkan.

"Kau pikir kau sudah menang, anak kecil?" desis Arga pelan namun penuh ancaman. Ia melirik sekilas ke arah Yena yang masih bersembunyi di punggung Juvan.

"Liat saja pacarmu itu. Cepat atau lambat, dia akan sadar dan kembali padaku. Dia tidak akan pernah menjadi milikmu sepenuhnya."

Setelah melemparkan racun kata-kata itu, Arga tertawa kecil yang terdengar meremehkan, lalu membalikkan badannya dengan tenang. Ia melangkah pergi menjauhi mereka, menghilang di ujung lorong gelap dengan rasa percaya diri yang menyakitkan, meninggalkan Juvan dan Yena yang masih bergetar menahan sisa ketegangan.

Hati juvan bertanya-tanya siapa sebenarnya lelaki itu kenapa dia mengganggu yena.ia ingin menanyakan hal itu langsung ke pada yena tapi waktunya belum tepat untuk menanyakan pertanyaan semacam itu.

Begitu sosok Arga menghilang dari pandangan, ketegangan yang menahan tubuh Yena seketika runtuh. Lututnya lemas, dan tangis yang ia tahan meledak seketika. Ia langsung merangkul pinggang Juvan erat-erat, membenamkan wajahnya di dada bidang pemuda itu seolah mencari tempat berlindung satu-satunya di dunia.

"Juvan... Juvan..." isaknya terputus-putus, bahunya bergetar hebat. "Aku takut... tadi aku benar-benar takut..."

Juvan langsung membalas pelukan itu dengan lembut namun protektif, tangannya mengusap punggung Yena berulang kali untuk menenangkan. Namun, saat ia perlahan berusaha memeriksa keadaan gadis itu, matanya jatuh pada pergelangan tangan Yena. Genggaman kasar Arga meninggalkan jejak yang jelas—kulit di sana memerah, bahkan membiru sedikit, menandakan betapa kuatnya cengkeraman itu.

Melihat bekas kekerasan itu, hati Juvan terasa nyeri dan perih bercampur amarah yang masih tersisa. Ia mengecup perlahan tangan Yena yang memerah itu dengan tatapan penuh penyesalan dan kasih sayang.

"Maafkan aku, Kak..." bisik Juvan dengan suara bergetar menahan emosi.

"Maaf aku terlambat. Dia tidak akan menyentuhmu lagi, aku janji. Selama aku ada di sini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."

Perlahan Yena melepaskan pelukannya, meski pandangannya masih kabur oleh air mata. Juvan menatap wajahnya dengan tatapan yang penuh perhatian dan kesedihan yang mendalam. Saat matanya menyapu wajah Yena, pandangannya terhenti kaku pada bibir gadis itu. Sudut bibir Yena sedikit pecah dan memerah, jejak nyata dari ciuman kasar serta pemaksaan yang dilakukan Arga sesaat lalu.

Hati Juvan terasa seperti diremas perih melihatnya. Rasa ingin melindungi semakin membara di dada pemuda itu. Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan lembut, seolah takut menyakiti lebih lanjut, jari jempol Juvan menyentuh sudut bibir Yena yang terluka itu, mengusapnya dengan sentuhan penuh kasih dan rasa iba. Tatapannya lembut namun tajam, menyimpan janji setia bahwa ia akan menjaga Yena dari segala kejahatan.

"Lihat apa yang dia lakukan padamu..." bisik Juvan lirih, suaranya bergetar menahan amarah yang kembali bangkit. "Maafkan aku, Kak... Maaf karena tidak bisa melindungimu lebih cepat. Dia tidak akan punya kesempatan kedua untuk menyakiti sehelai rambutmu pun."

Yena sedikit tertegun mendengar ucapan itu. Matanya yang masih berkaca-kaca menatap lekat manik mata Juvan yang memancarkan keteguhan luar biasa.

Melindungiku? batinnya bergumam.

Pertanyaan itu hampir lolos dari bibirnya, namun tertahan saat ia melihat ketulusan yang begitu dalam di sorot mata pemuda di hadapannya. Juvan yang biasanya terlihat sopan dan polos, kini memancarkan wibawa dan kekuatan yang membuat hati Yena perlahan merasa tenang. Meski usianya masih muda, ketegasan Juvan mampu membuat Yena merasa aman, seolah-olah ia benar-benar berada di benteng yang tak bisa ditembus oleh siapa pun.

Yena mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis yang menyiratkan rasa syukur di tengah rasa sakitnya. Ia kembali memegang lengan Juvan, menggenggamnya dengan lembut mencari sandaran.

"Terima kasih, Juvan..." ucapnya lirih. "Terima kasih sudah ada di sini tepat waktu."

1
Visitor3579
Kagak perlu didengerin, klo udah ketahuan selingkuh ya ketahuan ajah. ga usah pake sok nyesal
Visitor3579
Cowok bloooon
Visitor3579
Gilak, dari sini Yena trauma sih buat jatuh cinta lagi. Plisss Yena kuat kan gak menye2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!