Diceraikan saat hamil dan dibiarkan mati, Clarissa bangkit dalam tubuh Elena—gadis bangsawan super kaya.
Kini Clarissa menguasai dunia, membuang status wanita tertindas, dan naik ke puncak tertinggi. Saat sang mantan suami datang merangkak memohon ampun di kakinya, Elena tersenyum sinis:
"Mantan suami, lihatlah aku sekarang! Kamu bahkan tidak pantas menyentuh ujung gaunku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan yang Terlambat
Keheningan yang mencekam dan menakutkan seketika menyelimuti ruang kerja utama di lantai teratas Obsidian Tower. Kata ‘Clarissa’ yang keluar dari bibir Arsenio yang gemetar seolah membeku di udara, membawa atmosfer ngeri yang teramat sangat bagi pria itu. Arsenio menatap Elena dengan mata yang melotot lebar, urat-urat di sekitar pelipisnya menegang, sementara otaknya berputar liar mencoba mencari penjelasan ilmiah dan logis atas kenyataan gila yang baru saja menghantam kesadarannya.
Itu tidak mungkin. Itu sangat tidak masuk akal. Clarissa, istri sah yang dia abaikan selama tiga tahun, sudah dinyatakan meninggal dunia akibat kanker stadium akhir di sebuah rumah sakit pinggiran kota tiga bulan yang lalu. Dia bahkan menolak menghadiri pemakaman wanita itu karena terlalu sibuk merayakan kembalinya Keysha ke dalam pelukannya.
Namun sekarang, di hadapannya, berdiri seorang wanita bangsawan super kaya berambut perak dan bermata safir biru, yang baru saja mengucapkan kalimat sumpah rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya dan Clarissa di detik-detik terakhir sebelum perceraian mereka.
"C-Clarissa... ini tidak mungkin... bagaimana bisa kamu..." bisik Arsenio dengan suara yang parau, serak, dan putus-putus. Tubuhnya gemetar hebat, dan lututnya mendadak terasa lemas bagai kehilangan tulang penyangga.
Elena tidak mundur sedikit pun. Dia justru melangkah maju satu tahap lagi, mempersempit jarak di antara mereka. Gerakan tubuhnya begitu anggun, namun aura sedingin es kutub yang terpancar dari sepasang mata safir birunya membuat Arsenio merasa seolah sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa. Sebuah senyuman sinis, tajam, dan mematikan terukir sempurna di bibir merah Elena.
"Kenapa? Apa kamu merasa takut, Tuan Arsenio yang terhormat?" tanya Elena, nada suaranya sangat tenang, merdu, namun dipenuhi oleh racun yang menusuk tepat ke dalam ulu hati Arsenio. "Kamu terkejut melihat bahwa wanita yang kamu tuduh mandul, wanita yang kamu usir dari hidupmu saat dia sedang mengandung darah dagingmu sendiri... ternyata tidak benar-benar lenyap dari dunia ini?"
Elena mematikan tablet kerja di tangannya dengan gerakan sekali klik yang tegas, lalu melemparkannya ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi ketukan yang nyaring.
"Tuhan menolak melihatku kalah dalam kepasrahan, Arsenio," bisik Elena tepat di depan wajah pria itu, matanya berkilat penuh dengan penderitaan mendalam dari masa lalu yang kini telah mengeras menjadi amarah sekeras batu baja. "Dia memberikan tubuh mewah ini, nama bangsawan Secilia ini, dan seluruh kekuatan finansial raksasa ini hanya untuk satu tujuan. Untuk menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kamu merangkak di bawah kakiku, meratapi seluruh hartamu yang berubah menjadi debu tanpa sisa!"
"A-Aku tidak tahu..." Arsenio mendadak kehilangan seluruh sisa harga dirinya. Air mata kepanikan dan penyesalan yang mendalam mulai mengalir deras membasahi pipinya yang pucat pasi. Pria yang biasanya selalu berdiri tegak dengan keangkuhan mutlak itu kini menjatuhkan kedua lututnya, berlutut lemas di atas lantai marmer tepat di hadapan Elena.
Dia mencengkeram tepi blazer putih milik Elena dengan jemari yang bergetar hebat. "Clarissa... maafkan aku... aku bersumpah aku tidak tahu kalau kamu sedang hamil saat itu! Dokumen medis tiga tahun lalu... Keysha yang memalsukannya! Dia yang membayar dokter untuk mengatakan bahwa kamu wanita mandul agar aku menceraikanmu! Aku dijebak oleh Keysha, Clarissa! Tolong... tolong berikan aku satu kesempatan lagi untuk menebus semua kesalahanku!"
Mendengar Arsenio melempar seluruh kesalahan kepada Keysha demi menyelamatkan dirinya sendiri, Elena merasa muak yang teramat sangat. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak berubah sedikit pun. Dia adalah monster egois yang hanya mencintai uang dan posisinya sendiri. Saat di atas angin, dia menginjak-injak orang lemah; namun saat terpojok, dia tidak ragu untuk mengorbankan wanita yang katanya sangat dia cintai demi belas kasihan.
"Lepaskan tangan kotormu dari pakaian permaisuriku, Arsenio."
Sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan dipenuhi oleh aura dominasi mutlak yang sangat menekan mendadak memutus tangisan Arsenio. Duke Xavier von Obsidian perlahan bangkit dari duduknya di sofa sudut ruangan. Pria jangkung itu melangkah tegak dengan pembawaan seorang penguasa bayangan yang tak tertandingi. Setiap langkah sepatunya di atas lantai kayu terdengar bagai hitungan mundur menuju neraka bagi Arsenio.
Xavier berhenti tepat di samping Elena, lalu dengan kasar menepis tangan Arsenio dari blazer Elena. Dia merangkul pinggang ramping Elena dengan sangat posesif, menegaskan kepada Arsenio siapa pria yang kini memiliki hak penuh untuk melindungi dan mencintai wanita perak itu.
"Duke Xavier... tolong bicara pada Elena... perusahaanku..." mengemis Arsenio sembari menatap Xavier dengan pandangan memohon yang sangat menyedihkan.
Xavier menatap Arsenio dari posisi berdiri dengan sepasang mata abu-abu gelap yang sarat akan penghinaan mutlak. "Tuan Arsenio, jam dinding di ruangan ini sudah menunjukkan pukul sembilan lewat satu menit. Batas waktu dua puluh empat jam yang diberikan oleh *Aethelgard Holdings* telah resmi berakhir satu menit yang lalu."
Xavier melirik ke arah pintu samping ruang kerja yang perlahan terbuka, menampilkan Sekretaris Hendra bersama tiga petugas dari pengadilan niaga dan dua aparat kepolisian distrik pusat yang melangkah masuk dengan dokumen penyitaan berstempel merah tebal.
"Sesuai dengan hukum niaga Secilia City," ucap pengacara senior Elena yang ikut melangkah masuk ke dalam ruangan, "mulai detik ini, seluruh aset operasional, rekening perbankan, gedung kantor pusat, hingga hak paten merek atas nama *Aris Group* secara resmi disita dan dialihkan kepemilikannya di bawah kendali penuh *Aethelgard Holdings* akibat kegagalan bayar utang secara mutlak. Perusahaan Anda... dinyatakan pailit total."
"Tidak... TIDAK! Jangan ambil perusahaanku!" raung Arsenio histeris sembari mencoba merangkak maju untuk meraih kaki Elena kembali, namun dua petugas kepolisian bertubuh tegap langsung mengunci pergerakan lengannya dengan kasar dan memaksanya untuk berdiri.
Elena menatap mantan suaminya yang kini menangis meraung-raung dengan tatapan yang sangat puas dan dingin. "Urusanmu denganku belum selesai, Arsenio. Pengacaraku juga telah menyerahkan seluruh bukti pemalsuan dokumen medis tiga tahun lalu yang kamu lakukan bersama Keysha kepada pihak kejaksaan. Setelah gedung kantormu disita... tempat tinggal barumu adalah sel penjara yang dingin di distrik utara, tepat di sebelah sel milik Keysha."
"Clarissa! Tolong aku! Aku mencintaimu! Aku selalu mencintaimu!" teriak Arsenio dengan suara parau yang memutus urat lehernya, saat tubuhnya diseret paksa keluar dari ruang kerja mewah itu oleh para petugas pengadilan dan aparat kepolisian. Suara tangisan penyesalannya yang terlambat menggema di sepanjang koridor, sebelum akhirnya pintu ganda kayu ek ditutup rapat kembali.
Ruangan itu kembali sunyi. Elena mengembuskan napas panjang, membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada dada bidang Xavier yang terasa sangat hangat dan kokoh. Satu utang darah terbesar dari masa lalunya sebagai Clarissa telah lunas terbayar dengan kehancuran total orang-orang yang telah mengkhianatinya.
Xavier mempererat pelukannya, mengecup lembut puncak kepala Elena dengan penuh komitmen mutlak. "Satu serangga pengganggu telah selesai disingkirkan, Permaisuriku. Sekarang, mari kita bersiap untuk menjatuhkan target kita yang berikutnya: Adrian von Secilia."
Slmt buat klian brdua....ga mst nunggu lma,clon pewaris udh hdir....
xavier pst mkin posesif.....
Elena slalu luarrrrr biasa....mreka pnts jd raja dn ratu brkuasa,scra spa pun yg mau mnjtuhkn mreka pst akan kalh...
yg 1 pnya kuasa,yg 1 otaknya emng jenius....
btw...slmt jd gembel buat mreka yg awlnya songong.....😛😛😛
aku udh mmpir...slm knal....
btw,aku ngebut bcanya krna pgn cpt komen.....😁😁😁....
brskap songonglh slagi klian bsa,abs tu siap2 mmhon sm orng yg klian hina....🙄🙄🙄