NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pewaris

Takdir Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.

Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.

Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30.

Malam semakin larut ketika Keira akhirnya masuk ke kamarnya. Pintu di belakangnya menutup rapat disusul dengan bunyi klik kunci yang terdengar lebih nyaring dari yang seharusnya, punggungnya bersandar, wajahnya sedikit tengadah, sampai kalimat yang beberapa waktu lalu ia ucapkan terngiang di kepalanya.

Yang aku suka itu kamu, Elang. Bukan pewaris Arkatama.

Keira memejamkan mata rapat. Beberapa detik kemudian kedua telapak tangannya naik menutupi wajah. Pipinya kembali terasa panas hanya karena mengingat tatapan Elang setelah mendengar pengakuannya.

“Bisa-bisanya aku mengatakan itu...”

Ia berjalan menuju tempat tidur lalu menjatuhkan tubuhnya ke sana. Bantal segera ia tarik menutupi wajah, merutuki sikapnya yang terlalu terang-terangan. Harusnya ia bisa berbicara lebih tenang, lebih elegan, atau setidaknya tidak langsung mengatakan bahwa dirinya menyukai Elang.

Namun semuanya sudah terucap, dan ia tidak bisa menariknya kembali.

Keira menurunkan bantal perlahan, menatap langit-langit kamar dengan rona yang belum pudar dari kedua pipinya.

Lalu wajah Elang kembali muncul dalam pikirannya. Mata yang melebar, ekspresi terkejut, dan mulut yang bahkan tidak sempat memberikan jawaban karena ia segera meinggalkan pria itu begitu saja.

Keira kembali menutup wajah menggunakan bantal.

“Memalukan...”

Namun beberapa detik kemudian, bantal kembali ia turunkan, dan perlahan sudut bibirnya terangkat.

Malu, tentu saja. Tapi anehnya... ia tidak menyesal.

.

.

.

Di rumah sederhana yang Elang sewa, keadaannya tidak lebih baik dari Keira. Pria itu berbaring di atas tempat tidur dengan posisi miring dan kedua mata terpejam, namun untuk terlelap seakan menjadi hal tersulit untuk di lakukan. Sudah tiga jam ia berbaring, mengubah posisi tidur berulang kali, tetapi kantuk itu tak kunjung datang.

Ia mengembuskan napas kasar, membuka kedua matanya, menjadikan kedua tangannya sebagai bantal saat pandangannya tertuju pada langit-langit kamar yang warnanya sudah mulai memudar.

Sejak ia meninggalkan kediaman Arkatama, suara Keira terus terulang dalam ingatannya.

Yang aku suka itu kamu, Elang. Bukan pewaris Arkatama.

Embusan napas panjang kembali keluar dari bibir Elang, ia memiringkan tubuhnya menghadap jendela yang tertutup tirai tipis, beberapa detik kemudian kembali telentang.

“Kenapa dia bicara begitu... Apakah dia salah bicara atau apa?”

Satu tangannya bergerak naik, meletakkan punggung tangannya menutupi mata.

Ia masih ingat jelas bagaimana dirinya hanya berdiri seperti orang bodoh tanpa mampu memberikan satu jawaban. Padahal bukan karena ia tidak tahu apa yang ia rasakan.

Justru sebaliknya. Entah sejak kapan ia tidak ingat. Ia mulai menunggu Keira datang ke meja kerjanya, memberi dirinya tugas atau apa saja, memperhatikan wajah wanita itu terlalu lama, atau tanpa sadar merasa senang hanya karena bisa sedikit menggoda wanita itu ketika tidak ada siapa pun di sekitar mereka. Ia tertarik, tapi juga sadar akan posisinya.

Dan malam ini ia bahkan nyaris tidak bisa mengalihkan pandangan dari sosok Keira saat wanita itu muncul dengan penampilan yang tidak pernah ia lihat. Gaun biru pastel yang membalut tubuh wanita itu tampak begitu menawan, rambut panjang yang biasanya terurai tampak mempesona dalam sanggul rapi, sampai kalimat Raksa yang masuk ke telinganya seolah menjadi tamparan keras yang membuat dirinya sadar.

Namun, pengakuan wanita itu benar-benar di luar dugaan. Wanita itu mengungkapkan perasaan padanya.

Sementara dirinya?

Hanya diam seperti seorang idiot.

Elang mendecakkan lidah pelan. “Hebat.”

Ia meraih ponsel di samping bantal, membukanya. Nama Keira berada di baris paling atas dalam daftar pesan. Ibu jarinya menyentuh kolom pesan baru, mengetik sesuatu, tapi kemudian berhenti dan menghapusnya.

Ia kembali mengetik kalimat lain, tapi lagi-lagi menghapusnya setelah membentuk sebuah kalimat. Hingga akhirnya layar ponsel ia matikan dan meletakkannya kembali di samping bantal.

Elang menggeleng pelan, hal seperti ini tidak seharusnya dijawab melalui pesan. Pikirnya.

.

.

.

Keesokan paginya....

Keira sudah duduk di ruang kerjanya ketika ketukan terdengar dari pintu.

“Masuk.”

Pintu terbuka disusul sosok Elang yang muncul membuat jemari Keira di atas keyboard terhenti sesaat setelah ia mengangkat wajah. Detik berikutnya, ia kembali menunduk menatap layar komputer ketika kilasan pernyataannya tadi malam tiba-tiba melintas bersamaan dengan panas yang menjalar ke pipinya.

"Ada apa?" tanya Keira berusaha tetap datar seperti biasa dengan pandangan tertuju pada layar.

Elang melangkah mendekat setelah menutup pintu di belakangnya, meletakkan berkas yang ia bawa di meja. "Ini laporan yang Anda minta, Bu Keira."

Pandangan Keira beralih dari layar ke berkas di meja. Tangannya terulur menarik berkas itu mendekat, kemudian membukanya, membaca lembar demi lembar dokumen di dalamnya, lalu mengangguk.

"Bagus." ujarnya seraya menorehkan tanda tangan pada lembar terakhir. "Siapkan data untuk pertemuan siang nanti. Setelah jam makan siang, kamu bisa ke Arkatama Group."

"Baik." Elang mengangguk.

"Ada lagi?" wajah Keira terangkat saat merasakan Elang masih belum beranjak.

Pandangan keduanya bertemu dalam jeda singkat yang terasa begitu panjang.

“Kamu marah?” tanya Elang akhirnya tanpa kalimat formal.

Alis Keira terangkat samar. "Marah? Kenapa aku harus marah?"

“Sejak aku masuk kamu menghindar untuk menatapku,” ucap Elang.

“Aku sedang bekerja, Elang,” jawab Keira. "Jika tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan, kamu bisa keluar." lanjutnya kembali menatap layar komputer.

"Kei."

"Hm?"

"Apakah kamu menyesal mengatakan itu tadi malam?"

Wajah Keira terangkat cepat, rasa malu kembali merayap saat ia justru diingatkan kembali pada pernyataan yang seharusnya tidak ia katakan. Namun kali ini, ada rasa tidak suka terselip di dalamnya mendengar pertanyaan yang Elang ajukan.

"Maksudmu?" tanya Keira menyipitkan mata.

“Kalau kamu menyesal soal tadi malam, tidak perlu menghindariku seperti ini," jawab Elang.

Serta merta, Keira melempar berkas yang ada di mejanya ke wajah pria di depannya. “Aku sedang malu, bodoh!”

Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa bisa dicegah, meninggalkan keheningan di belakangnya yang terasa lebih panjang.

Keira membeku. Wajahnya kian memerah, menumbuhkan senyum samar di bibir Elang.

“Jangan tertawa!”

Elang menahan tawa. "Aku tidak tertawa."

"Wajahmu mengatakan sebaliknya," sahut Keira semakin salah tingkah. "Tadi malam... aku hanya... terlalu banyak bicara.”

Elang tersenyum. “Tidak.” ia mendekat, meletakkan berkas yang sebelumnya mendarat di wajahnya ke meja.

"Seharusnya... aku tidak diam saja." ia mengitari meja dan berdiri tepat di samping Keira. “bukan karena aku tidak suka dengan apa yang aku dengar, tapi aku tidak menyangka kamu akan mengatakannya lebih dulu.”

Elang menarik napas pelan. “Karena sebenarnya... aku juga merasakan hal yang sama.”

Mata Keira tidak berkedip saat ia mendongak menatap pemuda yang berdiri di samping kursinya.

Elang tersenyum tipis. “Aku juga menyukaimu, Kei."

Tidak ada kalimat berlebihan, tetapi justru kesederhanaan itu membuat jantung Keira berdegup lebih keras. Teryata ia tidak merasakan perasaan itu seorang diri.

Keira mendengus, memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyum yang mulai tersungging di bibirnya. "Kenapa baru mengatakan itu sekarang?"

Elang menyandarkan tubuhnya pada tepi meja. "Aku terlalu pengecut untuk mengakuinya jika mengingat statusku. Tapi setelah kamu mengatakannya, kali ini biarkan aku yang maju."

Kening Keira berkerut tipis, tapi tidak mengatakan apapun.

“Pak Raksa sudah mengatur perjodohan cucu beliau denganmu. Jadi, aku akan memikirkan cara untuk berbicara dengan Pak Raksa tentang kita.”

.

.

.

Di Arkatama Group, Ravian baru saja membubuhkan tanda tangan pada satu dokumen ketika pintu ruang kerjanya diketuk.

“Masuk.”

Seorang staf masuk membawa sebuah map di satu tangan.

“Pak Ravian, ada permintaan pertemuan yang baru masuk,” lapornya.

“Dari siapa?”

“Vardhana Resources.”

Wajah Ravian terangkat pelan. Nama itu cukup untuk mengembalikan ingatannya pada pertemuan beberapa hari lalu.

Tatapan Kresna, tekanan yang terus diberikan, dan kalimat terakhir pria itu sebelum meninggalkan ruang rapat.

"Semoga lain kali kita bisa bicara ketika Anda sudah punya keputusan sendiri."

Ravian meletakkan pena di tangannya ke meja. “Bukankah permintaan mereka sudah ditolak?”

“Sudah, Pak. Tapi Pak Kresna meminta pertemuan sekali lagi.” Staf itu menyerahkan map yang ia bawa. “Mereka mengatakan ada penawaran baru yang ingin disampaikan langsung.”

Ravian menerima map yang disodorkan, lalu membukanya. Tidak banyak informasi di sana, hanya permintaan pertemuan resmi dan beberapa poin kerja sama yang sudah diperbarui.

Namun satu nama di bagian bawah membuat rahangnya perlahan mengeras.

Kresna Vardhana.

Pria itu benar-benar kembali.

. . .

. . .

To be continued...

1
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
telat... udah baca🤭
Zhu Yun💫
Ditunggu karya selanjutnya kak Zira... semangat 💪🥳
Zhu Yun💫
Tambah bonchap kak 😁
Zhu Yun💫
Mau ngelamar ya... 🤭
Zhu Yun💫
Mau jadi power rangers 😭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
😍😍😍😍😍
〈⎳ FT. Zira: tengkyuu ibuuu/Kiss//Kiss/
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
lahhh... kok gak sampai mereka menikah sih, gantung amat
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: heh, maksud nya?
total 2 replies
Endah Puji Lestari
😍😍😍😍😍🙏🙏🙏🙏🙏
〈⎳ FT. Zira: terima kasih sudah setia menemani kaka🥰
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
eh... ciyus ini 😱😱😱🤔🤔🤔
〈⎳ FT. Zira: dari yg nanya🤣🤣🤣..kaborrr🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
total 3 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
ini sih kopernya🤭
〈⎳ FT. Zira: emang🤣🤣🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
affa affaan ini 🤦‍♀️🤦‍♀️
〈⎳ FT. Zira: kaborrrr🤣🤣🏃‍♀️🏃‍♀️
total 3 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
karakter si elang ini cool banget dah. bkn kyk karakter utama novel biasanya yang bucin abis ama pasangannya. cinta tapi ga lebay
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: hidung mana ini
total 6 replies
Muft Smoker
selamat menikmati hidup mu Bram ,,
Zhu Yun💫
Ya nikmati sajalah Bram dari apa yang kamu tabur di masa lalu 🤭
Zhu Yun💫
Sudah matang kan mereka berdua buat diajak ngadon /Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Cihuy.. terpesona nih ya 🤭
Zhu Yun💫
Dan sekarang mereka sudah semakin dewasa, semakin tampan, semakin kokoh, semakin kekar, semakin tegak juga anunya /Facepalm//Facepalm//Hammer//Hammer/ tubuhnya maksudnya /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Kirain pak Raksa sudah... 🤭
Endah Puji Lestari
😍🙏
Muft Smoker
dsnii pak raksa bersikap adil agar gx da yg tersakiti ,, dan merasa di rebut posisi ny ,, meski secara gx langsung posisi elang emnk sejak lahir di rebut ma ravi Krn pertukaran tsb ,,
semoga setelah ni kebenaran segera di bongkar biar si Bram mempertanggung jawab kan perbuatan ny ,,




ayoo kak zira jgn lama2 ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!