NovelToon NovelToon
Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Status: tamat
Genre:Office Romance / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: Gek_Nia

Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUKAN LAGI ASISTENMU

Tiga minggu setelah pertunangan mereka, Alya mulai menyadari satu hal.

Menjadi tunangan Raka ternyata jauh lebih merepotkan daripada menjadi asistennya.

Bukan karena Raka berubah.

Justru karena Raka terlalu santai.

Pagi-pagi dia bisa mengirim pesan:

Sarapan.

Alya membalas:

Sudah.

Lima menit kemudian:

Beneran?

Alya mendengus.

Iya.

Foto.

Alya langsung menelepon.

“Raka!”

Tawa Raka terdengar dari ujung telepon.

“Saya cuma memastikan.”

“Jangan mulai mengatur saya.”

“Baik, Bu Direktur.”

Alya tersenyum tanpa sadar.

Hubungan mereka sekarang jauh lebih ringan.

Tidak ada lagi batas atasan dan bawahan.

Tidak ada lagi rasa takut bahwa salah satu dari mereka harus memilih antara cinta dan karier.

Namun ada satu hal yang belum mereka bicarakan dengan serius.

Pernikahan.

Dan pagi itu, masalah tersebut akhirnya muncul.

PAGI DI KANTOR

Alya sedang memimpin rapat ketika Raka muncul di depan pintu.

Dia tidak masuk.

Hanya berdiri dan menunggu.

Alya melirik.

“Pak Raka, ada apa?”

Beberapa anggota tim langsung tersenyum.

Raka menjawab santai,

“Saya mau bicara dengan tunangan saya.”

Alya menahan senyum.

“Bisa tunggu?”

“Bisa.”

Raka pergi.

Begitu pintu tertutup, salah satu staf Alya tertawa.

“Bu, sekarang Pak Raka sudah jinak.”

Alya tertawa.

“Jangan bilang begitu di depan dia.”

Rapat selesai satu jam kemudian.

Alya masuk ke ruang Raka.

“Ada apa?”

Raka menyerahkan sebuah amplop.

Alya membukanya.

Undangan makan malam keluarga.

“Keluarga?”

Raka mengangguk.

“Minggu depan.”

“Untuk apa?”

“Pembicaraan pernikahan.”

Alya langsung diam.

“Sudah?”

Raka tertawa.

“Sepertinya keluarga kita lebih cepat daripada kita.”

Alya duduk.

“Berarti kita harus mulai memikirkan tanggal?”

“Kalau kamu mau.”

Alya menatapnya.

“Kamu mau?”

Raka tidak menjawab cepat.

Kemudian tersenyum.

“Saya sudah lama mau.”

Alya tersenyum.

“Tapi saya belum.”

Raka mengangguk.

“Tidak apa-apa.”

“Bukan berarti saya tidak mau menikah denganmu.”

“Saya tahu.”

“Saya cuma…”

Alya berhenti.

“Saya baru mulai membangun karier saya.”

Raka langsung memahami.

“Dan kamu takut pernikahan akan mengubah semuanya.”

Alya mengangguk.

Raka duduk di depannya.

“Kalau begitu kita jangan menikah hanya karena semua orang ingin.”

Alya menatapnya.

“Kita menikah ketika kita siap.”

Alya tersenyum.

“Terima kasih.”

SATU MINGGU KEMUDIAN

Makan malam keluarga berlangsung sederhana.

Ibu Raka datang.

Ibu Alya datang.

Tidak ada pembicaraan tentang uang.

Tidak ada pembicaraan tentang perusahaan.

Hanya pertanyaan sederhana.

“Kapan?”

Raka dan Alya saling menatap.

Alya menjawab,

“Kami belum menentukan.”

Ibunya tersenyum.

“Kenapa?”

Alya menarik napas.

“Saya ingin menikah dengan Raka karena saya siap, bukan karena usia atau tekanan.”

Raka langsung menggenggam tangannya.

“Saya setuju.”

Ibunya tersenyum.

“Kalau begitu jangan terburu-buru.”

Suasana menjadi ringan.

Namun ketika makan malam hampir selesai, ibu Raka mengatakan sesuatu.

“Raka.”

“Ya, Bu?”

“Ada satu hal yang harus kamu pikirkan sebelum menikah.”

Raka menatapnya.

“Apa?”

“Perusahaan.”

Alya langsung memperhatikan.

Ibunya melanjutkan,

“Setelah kamu menikah, akan ada perubahan struktur kepemilikan.”

Raka mengerutkan kening.

“Perubahan apa?”

“Ibu sudah membaca dokumen lama keluarga.”

Dia menyerahkan map.

“Sebagian saham keluarga akan masuk ke trust keluarga setelah kamu menikah.”

Raka membuka dokumen.

Alya ikut melihat.

Jumlahnya cukup besar.

Raka mengerutkan kening.

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena sebelumnya masalah perusahaan belum selesai.”

Alya membaca halaman berikutnya.

Ada satu klausul yang membuatnya berhenti.

Jika Raka menikah, pasangan sahnya akan menjadi salah satu penerima manfaat trust.

Alya langsung menutup map.

“Saya tidak mau.”

Semua orang diam.

Raka menatapnya.

“Kenapa?”

“Saya tidak ingin orang berpikir saya menikah denganmu karena saham.”

Ibunya Raka berkata,

“Itu hak kamu.”

Alya menggeleng.

“Justru karena itu saya tidak mau.”

Raka menatapnya beberapa detik.

Kemudian menutup map.

“Baik.”

Ibunya terkejut.

“Kamu tidak mau?”

Raka menggeleng.

“Kita tidak akan mengubah struktur saham hanya karena kami menikah.”

Alya menatapnya.

“Kamu yakin?”

“Yakin.”

Raka menyerahkan map itu kembali.

“Kalau suatu hari kamu menerima sesuatu dari keluarga saya, saya ingin itu karena memang seharusnya, bukan karena pernikahan.”

Alya tersenyum.

“Terima kasih.”

Masalah selesai sebelum menjadi konflik panjang.

Namun malam itu, Alya mendapat sesuatu yang jauh lebih penting.

Kebebasan untuk tetap menjadi dirinya sendiri setelah menikah.

DUA BULAN KEMUDIAN

Bisnis Alya berkembang jauh lebih cepat daripada perkiraan.

Bali Smart Distribution Hub berhasil mendapatkan beberapa klien besar.

Pendapatan meningkat.

Tim bertambah.

Namanya mulai dikenal di kalangan pengusaha lokal.

Sampai suatu pagi—

sebuah email masuk.

Pengirimnya adalah perusahaan besar dari Singapura.

Penawaran kerja sama regional.

Mereka ingin Alya membuka operasi di tiga negara:

Indonesia

Malaysia

Singapura

Dan mereka menawarkan Alya posisi sebagai Regional Managing Director.

Alya membaca email tersebut dengan jantung berdebar.

Ini bukan promosi biasa.

Ini kesempatan yang mungkin hanya datang sekali.

Namun ada satu konsekuensi.

Jika dia menerima, dia harus sering bepergian.

Bahkan kemungkinan tinggal beberapa bulan di Singapura.

Alya menutup laptop.

Dia tahu siapa orang pertama yang harus diberitahu.

MALAM

Raka sedang membaca buku ketika Alya datang.

“Aku dapat tawaran.”

Raka langsung menutup bukunya.

“Dari siapa?”

Alya menyerahkan laptop.

Raka membaca.

Matanya langsung berubah.

“Ini besar.”

“Ya.”

“Kamu mau?”

Alya diam.

“Saya belum tahu.”

Raka tidak langsung menjawab.

Dia membaca seluruh proposal.

“Kalau kamu menerima, kamu akan tinggal di Singapura?”

“Tidak permanen.”

“Berapa lama?”

“Sekitar tiga sampai enam bulan setiap tahun.”

Raka mengangguk.

Alya menatapnya.

“Kalau saya ambil, pernikahan kita bagaimana?”

Raka menatapnya.

“Kenapa harus berubah?”

“Karena saya tidak akan selalu ada.”

“Kita bisa mengatur.”

“Kalau saya terlalu sibuk?”

“Kita atur.”

“Kalau kamu sibuk?”

“Kita atur.”

Alya menghela napas.

“Kamu tidak takut?”

“Takut.”

“Lalu?”

Raka tersenyum.

“Saya tidak bertunangan dengan kamu supaya kamu berhenti berkembang.”

Alya terdiam.

“Saya mencintai perempuan yang punya impian.”

Dia menggenggam tangan Alya.

“Bukan perempuan yang harus mengecilkan impiannya supaya saya merasa nyaman.”

Air mata Alya mulai muncul.

“Kalau saya pergi?”

“Saya antar ke bandara.”

“Kalau saya pulang?”

“Saya jemput.”

“Kalau saya terlalu lama?”

“Saya tunggu.”

Alya tersenyum.

“Kenapa kamu selalu bisa menjawab semuanya?”

Raka tertawa.

“Karena sekarang saya sudah tahu satu hal.”

“Apa?”

“Hubungan bukan tentang selalu berada di tempat yang sama.”

“Lalu?”

“Memastikan bahwa meskipun kita berada di tempat berbeda, kita tetap memilih orang yang sama.”

Alya memeluknya.

Kali ini tanpa rasa takut.

TIGA HARI KEMUDIAN

Alya menerima tawaran itu.

Namun dia membuat satu keputusan.

Dia tidak akan meninggalkan bisnisnya di Bali.

Dia akan membangun sistem manajemen yang bisa berjalan tanpa dirinya setiap hari.

Dia akan memimpin ekspansi regional tanpa meninggalkan apa yang sudah dibangunnya.

Raka mendukung.

Bukan dengan uang.

Bukan dengan jabatan.

Tetapi dengan satu kalimat:

“Saya tahu kamu bisa.”

Dan kalimat sederhana itu membuat Alya semakin yakin.

ENAM BULAN BERIKUTNYA

Hidup mereka berubah.

Alya sering berada di Singapura.

Raka tetap di Bali.

Mereka tidak lagi bertemu setiap hari.

Namun hubungan mereka justru menjadi lebih dewasa.

Tidak ada drama.

Tidak ada kecemburuan berlebihan.

Tidak ada tuntutan untuk selalu membalas pesan.

Mereka belajar memberi ruang.

Kadang video call sepuluh menit.

Kadang hanya pesan singkat.

Hari ini berat.

Istirahat. Besok lanjut.

Atau:

Saya bangga sama kamu.

Saya juga.

Mereka tidak membutuhkan percakapan panjang setiap malam untuk tahu bahwa hubungan itu masih ada.

SATU MALAM DI SINGAPURA

Alya baru selesai presentasi ketika seseorang menunggunya di lobi hotel.

Dia berhenti.

Raka.

Alya membeku.

“Kamu?”

Raka tersenyum.

“Surprise.”

Alya langsung memeluknya.

“Kapan datang?”

“Tadi.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Kalau bilang bukan surprise.”

Alya tertawa.

“Kamu menyebalkan.”

“Saya tahu.”

Mereka berjalan keluar.

Raka membawa satu tas kecil.

Alya melihatnya.

“Berapa hari?”

“Tiga.”

“Cuma tiga?”

“Pekerjaan menunggu.”

Alya tersenyum.

“Baik.”

Mereka berjalan berdampingan.

Kemudian Raka berkata,

“Saya punya kabar.”

“Apa?”

“Rumah kita sudah selesai.”

Alya berhenti.

“Serius?”

“Ya.”

“Sudah?”

“Sudah.”

“Dan?”

Raka tersenyum.

“Kamar kamu masih kosong.”

Alya tertawa.

“Memangnya saya harus langsung pindah?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena saya ingin kita memulainya bersama.”

Alya menatapnya.

“Kapan?”

Raka mengangkat bahu.

“Ketika kamu pulang.”

Alya tersenyum.

“Kalau begitu saya akan pulang.”

TIGA BULAN KEMUDIAN

Alya kembali ke Bali.

Tidak untuk liburan.

Tidak untuk sekadar mengunjungi keluarga.

Kali ini dia pulang untuk menetap lebih lama.

Rumah yang dulu hanya berupa bangunan kosong akhirnya siap dihuni.

Malam pertama mereka duduk di ruang tengah.

Tidak ada dekorasi sempurna.

Masih ada beberapa kardus.

Alya melihat sekeliling.

“Ini rumah kita?”

Raka mengangguk.

“Iya.”

Alya tersenyum.

“Rasanya aneh.”

“Kenapa?”

“Dulu saya bahkan tidak tahu apakah saya akan punya pasangan.”

Raka tertawa.

“Dan sekarang?”

Alya melihat cincin di jarinya.

“Sekarang saya punya rumah.”

Raka duduk di sampingnya.

“Dan?”

Alya menoleh.

“Dan seorang laki-laki yang dulu sangat menyebalkan.”

Raka tertawa.

“Kamu juga.”

Mereka saling tersenyum.

Tidak ada konflik.

Tidak ada musuh.

Tidak ada rahasia.

Hanya dua orang yang akhirnya sampai pada titik yang dulu terasa mustahil.

Namun kebahagiaan itu tidak membuat cerita mereka berhenti.

Karena pagi berikutnya—

Alya menerima sebuah surat resmi.

Undangan untuk menjadi pembicara utama dalam forum bisnis perempuan Asia.

Di bagian bawah tertulis:

Tema: Perempuan, Karier, dan Kepemimpinan Tanpa Kehilangan Diri Sendiri.

Alya membaca judul itu.

Kemudian tersenyum.

Raka melihatnya.

“Apa?”

Alya menyerahkan surat tersebut.

Raka membaca.

Kemudian menatapnya.

“Ini cocok untuk kamu.”

Alya tersenyum.

“Kenapa?”

“Karena kamu sudah menjalaninya.”

Alya menatap Raka.

“Dulu saya takut mencintai kamu akan membuat saya kehilangan diri sendiri.”

Raka menggenggam tangannya.

“Dan sekarang?”

Alya tersenyum.

“Sekarang saya tahu.”

“Cinta yang benar bukan membuat seseorang menjadi lebih kecil.”

Dia menyandarkan kepala di bahu Raka.

“Cinta yang benar membuat kita berani menjadi lebih besar.”

Raka mencium keningnya.

Dan untuk pertama kalinya, Alya tidak lagi memikirkan apakah kisah mereka dimulai dengan cara yang salah.

Karena akhirnya dia mengerti—

yang menentukan akhir sebuah hubungan bukan bagaimana mereka bertemu, tetapi bagaimana mereka memilih untuk tumbuh setelah bertemu.

EPISODE 31 BERAKHIR

Pagi itu Alya bersiap untuk berangkat ke kantor.

Dia berdiri di depan cermin.

Cincin pertunangan masih terpasang.

Di meja terdapat kartu identitasnya:

ALYA ANINDITA

REGIONAL MANAGING DIRECTOR

Bukan:

Asisten Raka Mahendra.

Alya tersenyum.

Dia sudah tidak lagi dikenal karena siapa yang dicintainya.

Dia dikenal karena apa yang berhasil dibangunnya.

Dan ketika dia keluar kamar, Raka sudah menunggu dengan dua cangkir kopi.

“Siap, Bu Direktur?”

Alya mengambil kopinya.

“Siap, Pak Tunangan.”

Raka tertawa.

Mereka keluar bersama.

Bukan sebagai bos dan bawahan.

Bukan sebagai dua orang yang saling menyelamatkan.

Tetapi sebagai dua orang dewasa yang memilih berjalan berdampingan tanpa kehilangan arah masing-masing.

1
Anugerah Kreasi Dewata
ceritanya menarik.. mungkin bisa menjadi salah satu novel yang saya rekomendasikan untuk di baca
Dewi Wibawa
terimakasih kakak🙏
Uthie
Ada yg mulai cemburu, tapi masih gengsi 😁😁👍
Uthie
cowok gengsian keburu di tikung 😂
Uthie
Sukkkkaaa banget moment macam itu 👍😁😁😁
Uthie
Saya masih lanjut baca 😍😍👍
Uthie
Menarik 👍👍😁🤗
Uthie
tertarik mampir untuk sebuah cerita baru 😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!