Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.
Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.
Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.
Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.
Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.
Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.
Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS
...BAB 5...
...DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS...
Malam itu, jalanan kota mulai lengang. Lampu-lampu toko masih menyala, tetapi sebagian besar kendaraan sudah berkurang.
Sebuah mobil sport hitam melaju santai di jalan raya.
Berry berada di balik kemudi. Di kursi sebelahnya, Reyga duduk sambil memandang keluar jendela.
Keduanya baru saja meninggalkan sebuah tempat makan setelah menghabiskan waktu hampir dua jam berbincang.
Namun entah mengapa, pembicaraan mereka belum juga selesai.
"Kadang gue heran sama hidup," ucap Berry tiba-tiba.
Reyga menoleh. "Kenapa?"
Berry tersenyum hambar. "Kenapa keluarga selalu jadi tempat pertama seseorang belajar kecewa?"
Reyga terdiam.
Kalimat itu terasa terlalu dekat dengan kehidupan mereka berdua.
"Lo masih mikirin nyokap lo?" tanya Reyga.
Senyum Berry langsung menghilang. "Kadang." Ia menghela napas. "Walaupun gue bilang nggak peduli, tetap aja dia ibu gue."
Reyga diam mendengarkan. Berry menatap jalan di depannya.
"Lo tahu kan, waktu gue umur dua belas tahun, bokap sama nyokap gue cerai."
"Iya." Reyga mengangguk.
"Awalnya gue pikir mereka cuma butuh waktu." Berry tertawa kecil. "Ternyata gue salah."
Ia menggenggam kemudi lebih erat. "Nyokap gue bukan pergi karena nggak bahagia sama bokap. Dia pergi karena lebih memilih laki-laki lain."
Reyga menoleh. "Dia benar-benar ninggalin lo?"
Berry mengangguk. "Bukan cuma ninggalin bokap."
Suaranya terdengar lebih pelan. "Dia ninggalin gue juga."
Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain mesin mobil.
"Yang paling sakit..." lanjut Berry. "Dia nggak pernah benar-benar berusaha mengambil gue."
Reyga mengernyit. "Maksud lo?"
"Dia cuma datang beberapa kali. Setelah itu makin jarang. Sampai akhirnya gue sadar..." Berry tersenyum pahit. "Dia lebih bahagia sama selingkuhannya daripada hidup sama anaknya sendiri."
Reyga mengepalkan tangan. "Brengsek."
Berry tertawa kecil. "Makanya gue nggak percaya yang namanya cinta."
"Karena nyokap lo?"
"Karena semua yang gue lihat dari kecil." Berry menatap lurus. "Setelah itu bokap berubah. Dia jadi dingin. Sering sakit. Gue juga akhirnya berubah."
"Jadi playboy." sindir Reyga.
Berry tersenyum miring. "Iya." Ia menoleh pada Reyga. "Kalau perempuan akhirnya pergi juga, lebih baik gue yang pergi duluan."
Reyga menggeleng. "Lo sadar nggak kalau cara lo itu justru bisa nyakitin orang?"
Berry diam. Kalimat itu tepat mengenai dirinya.
"Ada perempuan yang pernah lo sakiti, kan?" tebak Reyga.
Berry tidak menjawab.
Melda.
Nama itu langsung muncul di kepalanya. Namun Berry memilih diam.
Reyga tidak memaksa.
"Kalau gue..." Reyga mulai bicara. "Masalah gue beda sama Lo."
Berry meliriknya. "Pasti bokap lo?"
Reyga mengangguk. "Dia nggak pernah ninggalin gue."
"Tapi?"
"Dia terlalu ada."
Berry tertawa. "Terus salah juga?"
"Buat gue, iya." Reyga bersandar. "Dia selalu menentukan semuanya."
Sekolah.
Kuliah.
Pekerjaan.
Bahkan masa depannya.
"Dia mau gue jadi penerus perusahaan. Gue harus belajar bisnis. Harus ikut rapat. Harus kenal semua relasi. Bahkan sekarang dia mulai mengatur kapan gue harus berhenti balapan."
Berry menghela napas. "Berarti kita sama-sama punya keluarga yang nggak adil."
Reyga tersenyum tipis. "Bedanya, lo ditinggalin nyokap, dan bokap lo jadi cuek ke lo."
"Dan hidup lo, terlalu dikekang kedua orangtua lo." timpal Berry.
Keduanya saling pandang. Kemudian tertawa kecil.
"Nasib kita sama-sama mengenaskan," kata Berry.
"Bedanya gue masih ganteng." Reyga mengangkat alisnya naik turun.
Berry langsung mendelik. "Jangan ngarang."
"Gue serius."
"Lo lihat kaca mobil dulu." Berry menggeser kaca mobil di depannya ke arah Reyga.
Reyga pun tertawa. Untuk beberapa menit, suasana kembali ringan. Namun tiba-tiba...
"Eh tunggu."
Berry mengurangi kecepatan. "Apa?"
Reyga menunjuk ke depan. "Lo lihat itu?"
Di ujung jalan yang agak gelap, terlihat beberapa orang berlari. Salah satunya membawa sesuatu.
Berry menyipitkan mata. "Kayaknya ada yang dikejar."
Kemudian terdengar suara. Tangisan. Tangisan bayi.
Reyga langsung menegakkan tubuh. "Itu kan suara bayi?"
Berry menginjak rem. Mobil berhenti tidak jauh dari tempat kejadian.
"Kayaknya mereka bawa bayi!" Reyga membuka pintu. "Ayo turun!"
Mereka berdua keluar mobil dan berlari menghampiri.
Tiga orang lelaki yang tadi terlihat membawa bayi langsung panik melihat di depannya ada Reyga dan Berry.
Salah seorang penculik berteriak. "Cepat pergi!" Lalu mereka bertiga berpencar.
"Kejar Rey!" teriak Berry.
Reyga mengejar satu orang. Sementara Berry mengejar pria yang membawa bayi.
"Hei! Berhenti!"
Penculik itu berlari semakin cepat.
Berry mengumpat. "Dasar maling!"
Penculik itu menoleh. "Jangan ikut campur!"
"Lo bawa bayi orang, masih bilang jangan ikut campur?"
Berry mempercepat langkah. Namun penculik tersebut tiba-tiba menyerahkan bayi kepada rekannya. Kemudian berlari ke arah berbeda.
Berry mengejar.
Reyga berhasil menghadang salah satu penculik. Terjadi perkelahian singkat.
Namun lelaki itu berhasil melepaskan diri setelah mendorong Reyga.
"Brengsek!"
Reyga mengejar beberapa meter. Tetapi penculik itu masuk ke gang sempit. Menghilang.
"Rey!" Berry berteriak dari arah lain.
Reyga berbalik. "Mana orangnya?"
"Mereka lolos!" Berry menunjuk ke jalan depan. "Tapi..."
Berry menarik napas lalu menoleh pada bayi yang terduduk di aspal jalanan.
Reyga terdiam. Berry juga terdiam. Mereka saling memandang untuk beberapa saat. Kemudian memandang bayi itu lagi.
Bayi laki-laki berusia sekitar sembilan bulan. Pipinya bulat. Matanya besar. Dan yang paling mengherankan, bayi itu justru berhenti menangis.
Berry menelan ludah. Menggaruk kepala. "Ini..."
Reyga mengangguk pelan. "Bayi."
"Gue tahu bayi."
"Terus kenapa pake nanya?"
Berry mengangkat alis. "Gue cuma memastikan."
Reyga mengusap wajah. "Mana penculiknya?"
"Lolos."
"Kok bisa?"
"Ya bisa."
"Lo yang ngejar!"
"Lo juga ngejar!"
Mereka kembali diam. Bayi itu tiba-tiba mengeluarkan suara kecil.
"Eh..." Berry menatapnya.
Bayi itu justru tersenyum. Berry langsung kaku. "Dia senyum sama gue."
Reyga tertawa. "Mungkin dia tahu lo bodoh."
"Kurang ajar."
Bayi itu tiba-tiba merengek.
Berry panik. "Kenapa?"
"Mana gue tahu?"
"Lo yang pegang!"
"Terus?"
"Diamin!"
Tangisan bayi semakin keras. Berry langsung menggendongnya lebih tinggi.
"Eeh cup cup... jangan nangis."
Tangisan semakin keras. Reyga menutup telinga. "Jangan digoyang begitu!"
"Terus harus bagaimana?"
"Gue juga nggak tahu!"
Mereka berdua yang beberapa menit lalu berani mengejar penculik kini terlihat jauh lebih panik menghadapi seorang bayi.
Berry melihat sekeliling. "Kita bawa ke polisi saja."
Reyga mengangguk. "Iya."
Namun sebelum mereka kembali ke mobil, Reyga melihat sesuatu.
"Sebentar."
"Apa?"
"Apa bayinya punya identitas?"
Berry memeriksa pakaian bayi tersebut. Tidak ada kartu identitas. Tidak ada gelang nama. Tidak ada apa pun.
Reyga memeriksa tas kecil yang ditemukan di dekat bayi. Hanya ada beberapa popok dan botol susu. "Namanya siapa?"
Berry mengangkat bahu. "Nggak tahu."
"Orang tuanya?"
"Mana ku tahu."
"Rumahnya?"
"Apalagi itu."
Reyga menatap Berry. Berry menatap Reyga.
Kemudian keduanya kembali melihat bayi. Bayi itu justru tertawa kecil. Berry menghela napas. "Kayaknya kita bakal dapat masalah."
"Masalah besar."
Bayi itu kembali merengek. Berry panik. "Mungkin dia lapar!"
"Mana susunya?" tanya Reyga.
Berry mengangkat botol. "Ini. Kosong."
Reyga membeku. "Kosong?"
"Ya kosong!"
"Terus kenapa dibawa?" Reyga menatapnya tajam.
"Karena itu botol, bukan dispenser!"
Reyga mengusap kepala. "Terus kita kasih makan apa?"
Mereka saling pandang. Bingung. Tidak ada jawaban. Tangisan bayi semakin keras.
Berry berjalan mondar-mandir sambil memangku bayi itu. "Haduuh jangan nangis, Dek."
Bayi itu semakin kencang menangis. "Rey, dia nggak suka suara gue."
"Karena suara lo memang mengganggu."
"Coba lo yang gendong."
Reyga mengambil bayi itu dari Berry. Ajaibnya... tangisannya langsung berhenti.
Berry melongo. "Lah, berhenti."
Reyga juga heran. Bayi itu menatap wajah Reyga. Kemudian tangannya memegang kerah jaket Reyga.
Berry tertawa. "Dia suka lo."
Reyga menghela napas. "Jangan mulai."
"Kayaknya lo cocok jadi bapak."
"Diam."
Tiba-tiba bayi itu bersin.
"Hacih!"
Reyga membeku. Berry tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa?"
"Bajumu kena iler!"
Reyga menatap bajunya. Mengusap bagian kena alir liur bayi itu. "Hei. Ini jaket mahal."
Berry semakin tertawa. "Selamat datang di dunia perawatan bayi."
Reyga mendengus. Namun saat melihat wajah bayi itu, ekspresinya perlahan melunak.
Bayi itu terlihat begitu polos.
Tidak tahu bahwa beberapa menit lalu dirinya menjadi korban penculikan. Tidak tahu bahwa orang-orang yang seharusnya menjaganya sedang tidak ada.
Reyga mengusap kepala bayi itu. "Tenanglah." Suaranya jauh lebih lembut. "Kita cari orang tua kamu ya..."
Berry memperhatikan sahabatnya. Ada sesuatu yang berbeda dari Reyga.
Lelaki itu biasanya keras. Tidak mudah peduli. Tetapi terhadap bayi kecil ini, hatinya seperti berubah.
Berry tersenyum tipis. "Kita bawa ke kantor polisi sekarang?"
Reyga mengangguk. "Iya."
Mereka berjalan menuju mobil. Namun baru beberapa langkah, bayi itu mulai menangis lagi.
Berry menatap Reyga.
"Lo yang gendong lagi." Reyga ingin menyerahkan pada Berry.
"Kenapa gue?" Berry menolak menggendongnya. "Dia lebih tenang sama lo."
Reyga mendengus. "Lo pikir gue babysitter?"
Berry tertawa. "Mulai malam ini mungkin."
Reyga menatap bayi itu. Bayi tersebut malah menggenggam jarinya dan berhenti menangis lagi.
Reyga terdiam. Entah mengapa... genggaman kecil itu membuat hatinya terasa hangat.
Malam itu, Reyga dan Berry belum tahu siapa bayi tersebut.
Mereka juga belum tahu siapa orang tua kandungnya. Yang mereka tahu hanya satu.
Mereka baru saja menyelamatkan seorang bayi dari penculikan.
Bersambung...