NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:172.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara benda jatuh : 28

Sudut bibir mbah Nar naik keatas, ia tersenyum miring dengan sorot mata memandang lekat plafon tepat di atas satu set kursi tamu kayu jati.

“Dinding pun memiliki telinga, kamu harus berhati-hati bila berucap, sebab ada dia yang memantau di balik celah sebuah pintu tertutup.”

Hamima mengikuti arah pandang mbah Nar — Akhh!

Badannya mundur kebelakang menabrak tembok dinding ruang santai. Ia terpekik dengan mata terperanjat.

Suara terkekeh simbah menghantarkan getar takut ke tubuh wanita yang gemetaran memeluk putrinya.

Pujiara tidak terganggu, tidurnya tetap nyenyak meski ibunya baru saja berteriak.

Untuk meyakinkan akan penampakan barusan, Mima kembali memandang plafon, tetapi tidak ada tangga dengan railing kayu.

“Bergegaslah! Semua punya batasan, termasuk waktu!” ujar suara berat.

‘Kalimatnya bukan sekadar ucapan belaka,’ gumamnya dalam hati, ia merasa ada makna tersirat yang coba mbah Nar sampaikan.

“Sudah selesai?” Rosna memecah keheningan, dia memperhatikan Guntur dan Pujiara yang tertidur.

“Sudah, Rosna,” jawab Mima dengan suara lemah seraya membaringkan putrinya disebelah Guntur.

“Mbah, upah jasa pijatnya berapa, ya?” Dibukanya buntalan pada kain jarik, tempat dia menyimpan lembaran uang 20 ribuan.

“Bayar saja dengan kembang setaman, jeruk purut, kuncup Kantil, lintingan tembakau, seekor ayam hitam, dan telur ayam kampung — kamu antarkan ke gubuk simbah,” Mbah Nar menyimpan minyak urut ke dalam tas kecil, lalu dia beranjak.

Permintaan itu tentu ditentang Hamima, seingatnya dia belum pernah melakukan ritual tersebut. “Maaf, Mbah — aku enggan menyanggupi, lagian mau kepasar susah, nggak ada kendaraan, mana punya bayi. Uang saja ya, mbah?”

Namun simbah melenggang pergi, berdiri di teras sambil memperhatikan sekitar.

Rosna menawarkan diri. “Nanti aku bantu beli di pasar. Rumah Simbah kan melewati pasar, jadi bisa sekalian mampir belanja.”

Mima mendekati Rosna, lalu berbisik. “Upahnya kenapa bukan uang, Rosna?”

“Aku lupa bilang ke kamu, Simbah memang seperti itu, gak semua pelanggannya dimintai bayaran berupa rupiah,” jawab Rosna.

Akhirnya Hamima setuju, dia juga penasaran tentang rahasia yang mau diungkapkan oleh simbah.

Hamima juga meminta tolong kepada Rosna untuk berbelanja stok makanan selama tiga hari. Dari sayuran, ikan air tawar, dan bumbu dapur yang kurang, tahu, tempe.

Rosna tidak merasa keberatan dimintai tolong, malah senang bisa membantu.

Tiga lembar uang kertas total bernilai enam puluh ribu rupiah telah diberikan ke Rosna yang langsung berpamitan, mau mengantarkan simbah pulang.

Bunyi mesin motor tua terdengar berisik, dan Hamima bergegas masuk ke dalam rumah saat kendaraan yang dinaiki Rosna sudah menuruni bukit.

Pintu utama ditutup, entah kenapa Hamima merasa tidak tenang seperti biasanya apabila daun pintu dibiarkan terbuka.

Dipastikan dulu kedua buah hatinya masih pulas, lalu Mima ke belakang, mengangkat kursi meja makan, membawanya ke depan.

Kursi kayu dinaikan ke bangku panjang, lalu hati-hati Hamima naik ke atasnya.

Tangan berlemak pada bagian lengan tersebut berusaha menggapai plafon, ternyata masih kurang panjang, sudah berjinjit pun belum berhasil menyentuh langit-langit rumah.

“Pakai apa baru bisa?” pelan-pelan Mima turun lagi.

Percobaan pertama gagal, dia sedang berpikir keras mencari cara.

“Aku yakin area tangga ada disini. Tinggal gimana caranya mengetuk plafon supaya bisa merasakan ruang kosong atau padat,” gumamnya pelan.

Hamima sedikit paham tentang bangunan rumah, bagian lantai maupun dinding kosong akan berbunyi berbeda saat diketuk.

‘Gala bambu atau bambu, lebih bagus lagi tangga, aku harus mendapatkan benda tersebut. Simbah bilang semua ada batas waktu, apa yang coba disampaikannya?’ idenya sudah matang tinggal pelaksanaan.

Terhalang anak-anak yang tertidur, dan dia tidak tega membangunkan. Hamima memutuskan masuk lagi ke dalam kamar keramat, namun ternyata dikunci.

“Galih benar-benar kehilangan akal. Apa yang sudah dijanjikan kepadanya? Siapa pula si dalang memberi ide ngasih sesaji setiap malam Jumat?” Ia bergumam seorang diri.

Gagal masuk ke dalam kamar mewah, Mima tidak langsung menyerah. Dia menggeledah setiap ruangan mencari benda panjang yang bisa dijadikan gala.

Sampai keluar rumah, mengelilingi bangunan megah, tetap saja tidak menemukan kayu atau apapun itu.

“Aneh,” gumamnya duduk di tepian semen sumur tua. “Rumah sebesar ini dengan langit-langit tinggi, seharusnya ada sapu panjang untuk membersihkan debu sawang yang menempel, menumpuk di tembok sudut rumah.”

“Sebaiknya aku menanak nasi dulu, biar nanti anak-anak gak nunggu kelamaan pas waktunya makan siang.” Mima beranjak, namun baru hendak melangkah, ia mendengar suara aneh.

Byurrr!

Spontanitas badannya bergerak cepat dengan posisi berdiri menjadi menyamping.

Hamima mulai was-was, terdengar jelas tadi suara benda jatuh masuk ke dalam sumur. Dia mempersempit jarak, tidak sampai berdiri dekat dengan tepian buis beton setinggi pahanya.

Badan Mima maju, kepalanya menunduk ingin melihat ke dalam sumur berair jernih.

Air yang semula bisa dibuat bercermin memantulkan bayangan, lambat laun berubah merah, merah pekat.

Mima menahan napas, hidungnya mencium bau amis, dan perut langsung mual — terburu-buru dia menarik badan dan berdiri kaku. “Aku gak salah lihat, tadi itu warna darah!”

“Bu … Bu!” Pujiara terbangun, dan langsung mencari ibunya sambil berteriak.

“Ibu dibelakang, Nak!” sahut Hamima, panggilan putrinya menyadarkannya dari keterkejutan. Bergegas ia masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang.

Pujiara sudah merangkak sampai batas kamar kakaknya, ia tersenyum saat melihat sang ibu mendekat, lalu menggendongnya.

“Anak Ibu pintar sekali, demamnya sudah pergi, sekarang tinggal sehatnya ya, Nak,” ucapnya diiringi harapan.

Ara sudah tidak lagi demam, pun cukup ceria, enggan merengek.

Hamima benar-benar membuktikan ucapannya. Tidak meninggalkan putrinya seorang diri, pun enggan menurunkan Pujiara di lantai. Dia gendong menggunakan jarik sambil menanak nasi, menyiapkan bumbu untuk menumis sayur, agar nanti cepat bisa dimasak belanjaan yang dibelikan Rosna.

Kendati pundak pegal, nyeri, karena bobot Pujiara yang mantap, Ibu penuh kasih tersebut terus menggendong putrinya. Ia menyimpan trauma, takut sewaktu-waktu Ara hilang apabila dibiarkan merangkak di lantai.

***

“Mima, ini aku sudah bawa belanjaan pesananmu!” Rosna menjinjing beberapa plastik, dia tidak langsung masuk ke dalam rumah, menunggu didepan pintu tertutup.

“Masuk saja, Rosna! Aku dibelakang!” entah kenapa sekarang dia suka berteriak, merasa lebih aman, tidak sendirian dirumah besar ini.

Rosna pun masih dapat mendengar suara sayup-sayup itu, lalu dia masuk, menutup lagi pintunya.

Tanpa ada yang memergoki, Rosna berhenti di tengah-tengah jalan antara ruang tamu dan santai — ia mendongak, senyum miringnya tersungging di bibir berlipstik merah muda.

‘Tunggu sesaat lagi, tak lama, hanya sampai dia bersedia pergi ke rumah mbah Nar ….’

.

.

Bersambung.

...----------------...

Maaf ya, Kak. Belakangan ini jarang update, lagi gak bisa atur waktu sama kesibukan dunia nyata yang nguras tenaga sama pikiran.

Semoga mulai hari ini dan seterusnya bisa gas poll. Terima kasih atas dukungan luar biasanya, Kak 🙏

1
AFPA
putus nggak?!
bisa digoreng jd keripik tu 😁
Shee_👚
baru ujung telinga aja dah kaya mau mati, begitu aja dah teriak kesakitan, dulu kamu yang menikam yadi sampai tulang rusuk patah pada hal raganya sudah tak bernyawa. sekarang dia datang untuk meminta nyawamu😏
Shee_👚
yadi: hai bagyo ku datang untung mengambil nyawamu

🤣🤣🤣🤣
AFPA
harusnya dikenain gundule bagiyo itu kak cublik 🤣
sryharty
jangan cuma telinganya doang uad
manuk e juga di iris sekalian,,tuman
Shee_👚
jangan terlalu pede bentar lagi kalian yang akan mati😤
Shee_👚
ayu ayok keluar tunjukkan dimana kamu🙈
Shee_👚
duh deg deg an takut mas dokter ketahuan
Shee_👚
sukurlah, setidaknya janin itu gak jadi tumbal
Shee_👚
para arwah aja masih ada rasa untuk berterima kasih, kenapa manusia durjana gak da rasa itu
Shee_👚
arum menyatu sama mima, jadi inget kisah bidan laila yang di pinjem raganya sama istri pak pras
Secret Admire
saatnya pembalasan... ayo Mima.. semangat 🥰
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mulai pembalasan dendam 😏😏 ini yg saya tunggu" dr kemarin Thor 🤗💪😏
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
mamvusss pak yadi sudah mulai menjalankan misi balas dendam nyaa 🤣🤣 lanjutkan pak, pelan2 saja jangan langsung di bun2 , supaya baygo merasakan kesakitan yang lebih mendalam lagi.
nining cahyaningrum
seruuu kaa... makin pinisirin🥰
FLA
saat yg di nanti akan segera tiba
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
jangan2 Galih juga jompa jampi saat mendapatkan kamu mim 🙊 yaa siapa tahu saja. kamu anak tunggal, cantik, bisa2nya kamu tertarik sama Galih yang kismin 🙊 kalau otak kamu enggak di bikin ora eleng enggak mungkin , kamu bisa sebucin itu sama Galih 😆
Nathania Eryn
ayo pak Yadi habisi sampai tewas
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Akhirnya satu persatu kebohongan dan kebucukan Galih terungkap! sudah saatnya kamu membalaskan semua rasa sakit kamu mima. jangan lagi bersikap tunduk sama Galih.
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Menjemput ajal duluan ku Bagyo, rasakan kesakitan yang Yadi alami.
Darah mengalir meminta ganti
Nyawa di balas. nyawa.
meregang tanpa bisa membalas ...
tak ada bantuan atau penolong,
MATI LAH KAU BAGYO!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!