Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.
Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GARIS MERAH DIATAS KERTAS PUTIH
Satu jam kemudian, suasana di ruang sidang berubah menjadi tegang yang mencekam. Hakim kembali mengambil tempat duduknya, diikuti oleh Pak Hendra yang kini tampak lebih serius, tanpa senyum sarkastik tadi. Raka dan Dinda masuk dengan langkah gontai. Wajah Dinda bengkak karena tangisan, sementara Raka terlihat seperti pria yang baru saja kalah taruhan besar.
"Para pihak," suara Hakim berat. "Hasil verifikasi medis dari Rumah Sakit Pusat telah kami terima. Namun, ada ketidaksesuaian data rawat inap Saudara Raka. Ternyata, Saudara Raka tidak dirawat inap pada bulan April, melainkan hanya observasi rawat jalan selama dua hari. Rekaman medis sebelumnya yang diajukan Penggugat adalah kesalahan administratif dari pihak rumah sakit yang sudah dikoreksi."
Pak Hendra mengerutkan kening, matanya menyipit membaca dokumen baru yang disodorkan panitera. Ini pertama kalinya Lina melihat pengacaranya kehilangan kata-kata.
"Jadi," lanjut Hakim, menatap Raka tajam, "klaim bahwa konsepsi tidak mungkin terjadi adalah gugur. Dan untuk memastikan kepastian hukum, Pengadilan memerintahkan tes DNA cepat menggunakan sampel darah yang sudah diambil tadi pagi. Hasilnya keluar sepuluh menit yang lalu."
Hakim mengangkat selembar kertas.
"Hasil tes DNA menunjukkan probabilitas 99,9% bahwa janin dalam kandungan Saudari Dinda adalah anak biologis dari Saudara Raka."
Ledakan bisikan kembali terdengar di ruang sidang. Lina merasa lututnya lemas. Dia memegang tepi meja penggugat erat-erat hingga kukunya memutih. Anak itu benar-benar anaknya. Darah daging mereka. Buah dari pengkhianatan yang paling menyakitkan.
Raka menghela napas panjang, seolah beban dunia baru saja diangkat dari pundaknya. Dia menoleh ke Dinda, lalu tersenyum tipis. Senyum kemenangan yang menjijikkan.
Dinda mengusap air matanya, lalu menatap Lina. Tatapan itu bukan lagi tatapan adik yang menyesal, tapi tatapan wanita yang merasa telah memenangkan perang.
"Kak Lina," kata Dinda pelan, suaranya bergetar tapi penuh tantangan. "Maafin Dinda. Tapi ini takdir. Bayi ini nggak bisa dipilih ayahnya. Dan Kak Raka... dia bertanggung jawab."
Lina menatap adiknya. Rasa sakit di dadanya bukan lagi berupa tusukan tajam, tapi hampa yang luas dan dingin. Seperti berdiri di tepi tebing tanpa jaring pengaman.
"Pak Hendra," panggil Lina, suaranya serak.
Pak Hendra menoleh, wajahnya suram. "Ya, Bu Lina?"
"Apa artinya ini bagi pembagian harta? Dan status pernikahan kami?"
Pak Hendra menarik napas. "Secara hukum, kehamilan istri sah atau mantan istri yang terbukti anak suami bisa mempersulit perceraian, Bu. Tapi karena ini anak di luar nikah dengan saudara kandung Anda... ini kasus perdata yang sangat rumit. Hakim mungkin akan mempertimbangkan hak anak tersebut atas nafkah dan waris dari ayah biologisnya, yaitu Tuan Raka. Namun, ini tidak membatalkan hak Ibu atas harta gono-gini yang sudah dibangun selama pernikahan."
Raka tiba-tiba berdiri. "Yang Mulia! Saya siap bertanggung jawab penuh atas anak ini. Saya akan menikahi Dinda setelah perceraian dengan Lina selesai. Kami ingin membangun keluarga baru yang utuh."
Lina tertawa. Tawa kecil, getir, yang terdengar sangat keras di ruangan yang hening.
"Keluarga baru?" ulang Lina, menatap Raka lekat-lekat. "Kau menyebut perselingkuhan dengan adik kandungku sebagai 'membangun keluarga'? Kau tidak malu, Raka? Kau tidak merasa jijik melihat cermin setiap pagi?"
Raka mengeras. "Jangan sok suci, Lina! Kamu sendiri yang membuat rumah tangga kita dingin! Dinda memberikan apa yang kamu tidak bisa berikan: perhatian, kelembutan, dan... kehidupan baru!"
"Kehidupan baru?" Lina berdiri, matanya berkaca-kaca tapi tatapannya tajam. "Itu bukan kehidupan baru, Raka, Itu sampah yang kau bungkus dengan kertas kado mahal. Kau menghancurkan kepercayaan adikku sendiri. Kau merusak hubungan kakak-adik kami. Dan sekarang, kau bangga membawa bukti kehancuran itu ke pengadilan?"
Dinda menangis lagi. "Kak, jangan gitu... Bayi ini nggak bersalah..."
"Aku tahu bayi itu tidak bersalah, Din!" bentak Lina, suaranya pecah. "Tapi kau? Kau dewasa! Kau tahu apa yang kau lakukan! Kau tidur dengan suami kakakmu sendiri! Di rumahku! Di atas kasur yang aku beli dengan uang hasil kerjaku!"
Hakim mengetuk palu keras. "Cukup! Emosi tidak menyelesaikan masalah. Pengadilan memutuskan: Perceraian antara Lina dan Raka dikabulkan. Pembagian harta gono-gini dilakukan sesuai proporsi 50:50 untuk aset yang diperoleh selama pernikahan. Namun, Tuan Raka wajib membayar nafkah anak untuk janin tersebut sebesar 30% dari penghasilan bulanannya hingga anak berusia 18 tahun, terlepas dari status pernikahan dengan Ibu Dinda."
kePutusan itu terdengar adil secara hukum, tapi bagi Lina, rasanya seperti tamparan. Raka harus membayar untuk anaknya. Anak yang lahir dari dosa mereka. Dan Lina? Lina harus berbagi harta dengan pria yang telah menghancurkannya, karena "keadilan" mengharuskan demikian.
Saat sidang berakhir, Lina berjalan keluar dengan langkah berat. Arka menunggu di luar, wajahnya prihatin.
"Lin..." panggil Arka.
Lina tidak menjawab. Dia terus berjalan menuju pintu keluar gedung pengadilan. Udara luar terasa panas, menyengat kulitnya.
Raka dan Dinda menyusul dari belakang.
"Lina, tunggu," panggil Raka.
Lina berhenti, tapi tidak berbalik.
"Aku minta maaf," kata Raka, suaranya lebih rendah kali ini. Tidak ada arogansi. Hanya kelelahan. "Aku tahu aku jahat. Tapi... aku juga manusia. Aku butuh dicintai. Dan Dinda... dia benar-benar mencintaiku. Bukan karena hartaku, tapi karena aku."
Lina berbalik perlahan. Matanya menatap Raka, lalu turun ke perut Dinda yang masih datar.
"Dia mencintaimu?" tanya Lina pelan. "Atau dia mencintai keamanan yang kau berikan? Karena kalau dia benar-benar mencintaimu, dia tidak akan menghancurkan hidup kakaknya sendiri demi itu."
Dinda menunduk, tidak berani menatap mata Lina.
"Kau mungkin mendapat anakmu, Rak," kata Lina, suaranya dingin seperti es. "Kau mungkin mendapat 'keluarga baru' mu. Tapi ingat satu hal: setiap kali kau melihat wajah anak itu, kau akan mengingat bagaimana kau mendapatkan dia. Dengan cara yang hina. Dengan cara yang membuat adikmu kehilangan harga dirinya, dan membuat istrimu kehilangan kepercayaannya."
Lina melangkah mendekati Raka, hingga jarak mereka hanya sejengkal.
"Selamat berbahagia, Kakak Ipar," bisik Lina, menekankan kata 'Kakak Ipar' dengan nada yang menyakitkan. "Semoga kebahagiaanmu sebanding dengan rasa sakit yang kau timbulkan. Karena aku yakin, itu mustahil."
Lina berbalik dan berjalan pergi. Kali ini, dia tidak menunggu Arka. Dia berjalan sendirian, menembus kerumunan orang-orang yang menonton drama hidupnya.
Air matanya akhirnya tumpah lagi. Bukan karena sedih kehilangan Raka. Tapi karena sedih kehilangan Dinda. Adik yang dulu selalu ia lindungi, kini menjadi musuh terbesar dalam hidupnya.
Arka mengejarnya, menyamakan langkah. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya berjalan di samping Lina, menjadi tembok diam yang menopangnya agar tidak roboh.
"Ke mana sekarang?" tanya Arka setelah beberapa saat.
Lina mengusap air matanya dengan kasar. "Ke tempat yang jauh. Jauh dari nama Raka. Jauh dari nama Dinda. Jauh dari masa lalu yang busuk."
"Ada ide?"
Lina menatap langit biru yang cerah, kontras dengan badai di hatinya.
"Pulau," kata Lina. "Aku butuh pulau. Atau setidaknya, tempat di mana tidak ada orang yang tahu siapa aku."
Arka tersenyum tipis. "Aku kenal sebuah vila di puncak gunung. Sepi. Dingin. Cocok buat membekukan kenangan buruk. Mau antar?"
Lina menoleh pada Arka. Untuk pertama kalinya, dia melihat ketulusan di mata pria itu. Bukan kasihan,
"Boleh," kata Lina. "Tapi kamu bayar bensinnya."
Arka tertawa. "Deal."
Mereka berjalan menuju mobil Arka, meninggalkan gedung pengadilan yang megah di belakang. Lina tidak menoleh lagi. Dia tahu, bab ini sudah selesai. Bab berikutnya adalah tentang menemukan diri sendiri. Dan kali ini, dia akan menulisnya sendiri. Tanpa Raka. Tanpa Dinda. Hanya Lina.