NovelToon NovelToon
Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: Hello Ketty.

Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.

Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Sera mulai membaca satu per satu seluruh informasi yang dikumpulkan.

Di sana, ia akhirnya paham betapa beratnya perjuangan kakaknya bertahan hidup di dalam neraka itu. Tangannya mengepal erat, bergetar menahan amarah yang meluap saat mengetahui fakta itu:

Hanya sebulan setelah pernikahan Sarah dan Adrian, pria itu sudah mulai merayu dan membujuk kakaknya agar memindahkan seluruh harta warisan miliknya ke atas nama Adrian.

Sarah yang saat itu begitu tergila-gila dan mencintai suaminya, tanpa berpikir panjang langsung menuruti kemauan Adrian.

Tak cukup sampai di situ—setelah semua harta berpindah tangan—Adrian kembali meminta istrinya berhenti bekerja di perusahaannya sendiri.

Alasannya terdengar manis: ia tak ingin melihat Sarah kelelahan. Padahal tujuannya jelas: ingin mengambil alih sepenuhnya apa yang menjadi hak istrinya.

Sarah dan Sera adalah putri dari pengusaha tekstil yang lumayan sukses.

Ketika kedua orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan pesawat saat mereka berusia 18, seluruh harta peninggalan orang tua dibagi rata untuk mereka berdua.

Namun Sera tak berminat menekuni dunia bisnis; ia memilih mewujudkan cita-citanya menjadi dokter spesialis bedah yang handal.

Ia meminta kakaknya untuk menjaga dan mengelola harta warisan itu sebagai kenang-kenangan satu-satunya dari orang tua mereka.

Di usia dua puluh tahun, Sarah pun diangkat menjadi Direktur Utama di perusahaan keluarga.

Meski perusahaan itu tidak terlalu besar dan mencolok, namun namanya sudah masuk dalam daftar 15 besar perusahaan terkaya di kota.

Tak lama setelah seluruh harta berpindah ke tangan Adrian dan keluarganya, sifat pria itu berubah drastis menjadi kasar. Bersama seluruh keluarganya, ia mulai menyiksa kakaknya tanpa henti.

Membaca deretan peristiwa yang dialami Sarah, mata Sera terasa perih sampai menembus ke jantung.

Ia tak sanggup melanjutkan membaca bagian yang mengerikan itu—benar saja apa yang dikatakan sahabatnya tadi.

Ia menghela napas panjang, lalu sengaja melewati bagian-bagian yang terlalu menyakitkan untuk dibaca.

Takut jika terus membaca, amarahnya akan meledak seketika; ia bisa saja langsung melesat ke kediaman itu dan melenyapkan mereka semua.

Tapi jika ia bertindak gegabah, maka hasil akhirnya dia pasti akan dipenjara dan membusuk disana.

Bukan hanya itu, Sarah juga akan kehilangan satu-satunya sandaran yang dia punya.

Tahan diri, Sera... Terima saja dulu kenyataan ini... Masih banyak hal lain yang harus kau lakukan.

Sera kembali melanjutkan membaca pada bagian silsilah keluarga Adrian.

Ternyata, ibu Adrian hanyalah seorang anak angkat dari keluarga kaya raya Vergantara. Dan sepanjang hidupnya, keluarga itu sangat mendambakan kehadiran keturunan laki-laki yang sah.

"Kau sudah membaca bagian tentang garis keturunan mereka?" tanya Sera melihat ke arahnya Dion.

Dion mengangguk. "Sudah, aku sudah membacanya. Ternyata ibu kandung Adrian itu bernama Rika, dan dia adalah anak angkat dari keluarga Vergantara. Dulu, pasangan keluarga Vergantara belum dikaruniai anak selama setahun pernikahan, jadi mereka mengangkat seorang anak perempuan berusia 10."

"Saat Rika berusia empat belas tahun, akhirnya istri Tuan Vergantara mengandung seorang pewaris laki-laki, yaitu Tuan Sean Vergantara. Kemudian saat Rika menginjak usia delapan belas tahun, dia menikah dengan seorang pejabat dan kemudian melahirkan Adrian yang saat ini sudah berusia 28 tahun. Dimana usianya selisih 4 tahun dari usia Sean Vergantara pamannya si pewaris tunggal Group Garuda Emas V.

Dion menatap lekat ke arah Sera. "Aku memperingatimu, Sera: berhati-hatilah menghadapi mereka. Adrian mendapat perlindungan penuh dari pamannya. Kau sebaiknya berpikir masak-masak sebelum melangkah masuk ke dunia mereka." Lanjut Dion panjang lebar sekaligus menasehati sahabatnya itu.

"Oya, satu lagi. Kau pasti sudah mendengar rumor tentang Tuan Sean, bukan? Katanya, Tuan Sean itu penyuka sesama jenis—makanya sampai usianya 32 tahun, dia belum juga menikah."

Sera mengepalkan tangannya erat, berusaha menyusun rencana dalam kepalanya.

Meski sudah mendengar silsilah keluarga suami kakaknya, namun itu tidak membuat Sera menguburkan niatnya untuk menghancurkan Adrian dan orang-orang yang terlibat.

Dion perlahan mendekatkan wajahnya dengan nada berbisik:

"Sebenarnya... kabar bahwa dia menyukai laki-laki itu hanyalah rumor. Belum ada satu pun yang terbukti. Dan....." Dion menggantung ucapannya tersenyum penuh arti.

"Dan apa?" Tanya Sera curiga.

"Kalau benar dia tidak menyukai laki-laki, dan kau tetap bertekad untuk balas dendam. Kau hanya perlu melakukan satu hal..." bisik Dion.

Sera semakin curiga melihat tatapan Dion.

"Wajahmu cantik Sera, kau berkarisma dan beda dari wanita pada umumnya. Dan aku yakin kau bisa masuk ke dalam hidupnya," tersenyum penuh arti.

"Maksudmu?"

"Kalau kau bisa berhasil meluluhkan hatinya... maka kau juga bisa menghancurkan mereka semua tanpa harus mengotori tanganmu sendiri. Kau tinggal menggunakan kekuasaan Tuan Sean untuk melenyapkan mereka satu persatu.

Dan ada satu hal lagi yang kudengar... sebenarnya Rika itu tidak pernah puas dengan pembagian harta warisan. Dia hanya mendapat sepuluh persen saja, sedangkan sembilan puluh persen sisanya dipegang penuh oleh pewaris tunggal keluarga Vergantara... Tuan Sean sendiri."

Mendengar usulan picik Dion, sudut bibir Sera terangkat perlahan, menyunggingkan senyum licik yang menyiratkan rencana besar.

Sebuah ide tiba-tiba melintas di benaknya; ternyata ada celah, ada sosok yang bisa ia gunakan untuk meruntuhkan Adrian.

Baiklah... mari kita coba keberuntungan ini, batinnya bergema dalam hati.

"Tapi itu sangat berisiko, jika kau tidak bisa meluluhkan hati pria yang terdengar dingin itu. Maka kau sendiri yang bakal hancur. Jadi aku sarankan lebih baik kau mundur saja. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu Sera, aku menyayangimu sudah seperti saudara sendiri. Dan aku tidak serius dengan apa yang aku katakan tadi itu," ujar Dion agar Sera mau membatalkan niatnya.

Sera menggeleng pelan, lalu meletakkan telunjuknya tepat di bibir sahabatnya, memintanya diam.

"Kau tidak perlu cemas," bisiknya. "Selama dendam kakakku belum terbalaskan, aku tidak akan pernah bisa tenang. Biarpun nyawaku harus kubawa ke dalam neraka mereka, mereka tetap harus merasakan apa yang Kakakku deritai selama ini. Dan aku juga harus mengambil kembali hak yang seharusnya bukan menjadi milik mereka. Jika harus mati, mata aku akan mati bersama mereka semua," ujar Sera penuh tekad yang membara.

Mata Dion terbelalak. Ia tak menyangka tekad Sera sudah sekeras baja untuk menghancurkan setiap orang yang pernah menyakiti kakak kembarannya itu.

_____

 

Tap... tap... tap...

Suara langkah kaki Sera terdengar jelas melangkah masuk ke ruangan Sarah dirawat.

Matanya langsung tertuju pada sosok kakaknya yang sudah duduk di tepi ranjang.

Sarah hanya menatap kosong ke arah tubuhnya sendiri.

Begitu menyadari kehadiran adiknya, tangan Sarah bergerak cepat berusaha menutupi setiap memar yang terlihat—padahal usahanya sia-sia, sebab tak ada satu inci pun di tubuhnya yang tak terlihat penganiayaan.

"Kakak sudah bangun rupanya," sapa Sera lembut. Ia perlahan mengulurkan tangan, ingin menyentuh wajah kakaknya sekadar untuk memeriksa kondisi lebam yang masih membengkak.

Namun belum jari-jarinya menyentuh kulit, Sarah tersentak mundur secara refleks, matanya membelalak memancarkan ketakutan.

"Jangan!"

Tangan Sera terhenti di udara.

"Jangan... jangan sakiti aku..." rintih Sarah pelan, tubuhnya gemetar menekuk ke dalam.

Hati Sera seperti diremas melihat reaksi kakaknya.

Ternyata trauma kakaknya sudah sangat parah. Bahkan hingga tangan yang bermaksud mengobati pun kini dianggap sebagai ancaman yang akan melukainya kembali.

"Apa maksud Kakak? Aku hanya ingin memeriksa Kakak saja, melihat apakah luka Kakak sudah sedikit membaik," ujar Sera berusaha terdengar tenang.

Sarah langsung gugup, air mata mulai menggenang kembali.

Sera menarik napas panjang, rasa kesal bercampur iba mendesak di dadanya melihat kebodohan Sarah. Setelah semua penyiksaan yang ia lalui bertahun-tahun lamanya, Sarah justru masih saja memilih untuk diam dan menelan rasa sakit itu sendirian.

"Biar Sera periksa Kakak sebentar," kembali mengulurkan tangannya.

"Tidak usah, Sera... Kakak sudah merasa baikan. Kakak cuma mau pulang," potong Sarah menghindari Sera.

Wajah Sera yang tadinya lembut seketika berubah dingin saat mendengar kakaknya menyebut 'pulang'.

"Pulang ke mana?" tanyanya datar.

Sarah menunduk dalam, tak berani menatap manik mata adiknya. "Tentu saja pulang ke rumahku... rumah suamiku."

Kepalan tangan Sera mengerat.

"Tidak," ucapnya tegas. "Sampai kapanpun, Kakak tidak akan pernah pulang ke sana lagi."

Sarah mendongak terkejut. "Kenapa? Itu kan tempat tinggal Kakak, Sera..."

"Kalau aku bilang tidak, berarti tetap TIDAK!" bentak Sera sedikit meninggi, matanya menatap tajam tepat ke manik mata kakaknya. "Jika Kakak masih berniat melangkahkan kaki kembali ke neraka itu, langkahi mayatku dulu!"

Kata-kata itu seketika membuat Sarah terbungkam. Butiran bening mulai meluncur deras membasahi pipi pucatnya.

Melihat itu, Sera mendengus kasar lalu memalingkan wajah, berusaha menahan amarah yang meluap-luap.

"Kenapa Kakak menangis? Apa hanya menangis yang Kakak tahu! Sejak 7 tahun lalu, kita sudah menjadi yatim piatu, tumbuh tanpa perlindungan siapa pun. Tapi lihatlah Kakak... Kakak hanya tahu bersikap lemah dan pasrah begitu saja!" hardiknya tak sanggup lagi menahan diri.

"Kakak tidak sadar? Justru karena Kakak selalu diam dan membiarkan diri diinjak-injak, mereka jadi semakin berani! Kalau Kakak membiarkan diri dipijak tanpa perlawanan sedikit pun, maka mereka akan terus menginjak lebih dalam sampai Kakak hancur lebur tak bersisa! Gunakan akal sehatmu untuk berpikir!"

"Buka matamu, Kak! Suamimu itu tidak mencintai mu! Mana ada seorang laki-laki yang mencintai, tapi menyiksamu sampai hampir kehilangan nyawa! Dan mana ada laki-laki tulus, tapi memanfaatkan wanitanya! Dia hanya mengincar hartamu, Kak! Sadar!"

Sera benar-benar meledak marah, tak terima mendengar bahwa kakaknya masih saja berniat kembali ke pelukan pria yang hampir saja merenggut nyawanya.

"Dan....."

 

Sera menggantung kalimatnya sejenak, menatap lekat sosok kakaknya yang menangis tersedu-sedu.

"Aku yang akan kembali ke sana... dan mengambil kembali seluruh harta peninggalan Ayah dan Ibu yang telah mereka rampas!"

"Tidak!!"

"Jangan, Sera... jangan, sayang... Aku janji! Kalau kamu minta Kakak tidak ke sana lagi, maka Kakak janji takkan pernah kembali lagi ke tempat itu!" Sarah memegang tangan adiknya erat, air mata mengalir semakin deras. "Kalau kamu minta aku bercerai... aku akan melakukannya. Yang penting kamu tetap di sini bersamaku. Kumohon, jangan pernah pergi ke sana..."

Sera mengangkat tangannya perlahan, mengusap butiran bening yang membasahi pipi kakaknya.

"Kak... aku tidak akan membiarkan mereka hidup enak menikmati harta warisan Ayah dan Ibu. Kakak tidak perlu khawatir, aku punya cara untuk menjatuhkan mereka semua."

"Yang perlu Kakak lakukan hanya satu: rawat dirimu, sembuhkanlah luka dan rasa sakitmu sampai pulih sepenuhnya. Dan yang kedua... jangan pernah sekalipun terpikir untuk kembali pada pria durjana itu. Dia beserta seluruh keluarganya akan menerima balasan yang jauh lebih berat dari apa yang Kakak rasakan selama ini." ucap Sera mantap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!