NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Hari Pembalasan

Malam semakin larut.

Lampu-lampu Club Glamore masih menyala terang, sementara suara musik dari lantai bawah terdengar samar hingga ke lorong hotel yang berada di lantai atas.

Di salah satu kamar, dua orang yang sejak beberapa jam lalu tenggelam dalam pengaruh alkohol kini berada dalam keadaan yang sama sekali tidak mereka sadari.

Daffa dan Mona.

Daffa membuka matanya perlahan.

Pandangan pria itu masih buram. Kepalanya terasa berat, seolah baru saja dihantam berkali-kali.

Namun ketika sosok perempuan di hadapannya kembali terlihat, sebuah senyum tipis muncul di bibirnya.

"Rania…" tangannya terulur. Ia menyentuh wajah perempuan itu dengan lembut.

Mona yang juga masih berada dalam pengaruh alkohol hanya memejamkan mata ketika merasakan sentuhan tersebut.

"Brian…" Suaranya lirih.

Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari kesalahan yang sedang terjadi.

Daffa mengira perempuan di hadapannya adalah Rania.

Sementara Mona meyakini pria yang berada begitu dekat dengannya adalah Brian.

Keduanya terlalu mabuk untuk berpikir jernih.

Terlalu larut dalam bayangan orang lain.

Dan terlalu tenggelam dalam perasaan yang mereka pikir sedang mereka rasakan.

Daffa menarik Mona lebih dekat.

"Kenapa kau selalu membuatku kehilangan akal seperti ini, Rania?"

Mona hanya tersenyum kecil. "Brian…"

Nama itu kembali keluar dari bibirnya.

Daffa tidak memperhatikan. Begitu pula Mona. Mereka membiarkan malam membawa mereka semakin jauh dari kenyataan.

Sentuhan-sentuhan lembut berubah menjadi pelukan yang lebih erat.

Bisikan-bisikan semakin sulit dibedakan. Dan tanpa mereka sadari. Malam itu menjadi sebuah kesalahan yang tidak akan pernah bisa mereka tarik kembali.

Beberapa jam sebelumnya...

Seseorang telah memastikan bahwa Daffa dan Mona mendapatkan cukup banyak alkohol untuk membuat keduanya kehilangan kendali atas diri mereka sendiri.

Sebuah permainan yang dirancang dengan sangat rapi.

Dan orang yang berada di balik semuanya adalah...

Brian Aristama.

Brian tidak berniat melupakan apa yang telah dilakukan Daffa pada rumah tangganya bersama Rania.

Tidak setelah pria itu ikut campur dalam perceraian dirinya dan Rania.

Tidak setelah Daffa berusaha menjauhkan Rania darinya.

Dan terlebih lagi...

Tidak setelah Daffa berani menyentuh kehidupan Rania dan anaknya.

Brian tidak terburu-buru.

Ia tahu pembalasan yang paling menyakitkan bukanlah pembalasan yang dilakukan dengan kemarahan.

Melainkan pembalasan yang membuat seseorang menghancurkan hidupnya sendiri tanpa menyadarinya.

Dan malam ini, langkah pertama sudah berhasil dilakukan.

Kembali ke kamar.

Mona terbaring dalam keadaan lelah. Daffa berada tidak jauh darinya.

Keduanya masih sama-sama terbuai oleh alkohol. Tidak ada yang menyadari waktu telah berganti.

Tidak ada yang menyadari siapa sebenarnya orang yang berada di samping mereka.

Dan tidak ada yang mengetahui bahwa keputusan malam itu akan menjadi awal dari sebuah masalah yang jauh lebih besar.

Daffa tersenyum samar. "Rania..."

Mona yang sudah hampir terlelap bergumam pelan. "Brian... jangan tinggalkan aku."

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan.

Malam terus berlalu.

Meninggalkan dua manusia yang sama-sama tidak sadar bahwa mereka baru saja terjebak dalam permainan seseorang yang jauh lebih berbahaya daripada yang mereka kira.

Pagi harinya.

Cahaya matahari perlahan menembus celah tirai kamar.

Mona mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa sangat berat.

Ia mengangkat tangan untuk memijat pelipis. "Argh pusing sekali..." gumamnya.

Kemudian matanya bergerak ke samping. Ia membeku.

Sorang pria tengah tertidur di sebelahnya.

Mona menatap wajah itu dengan pandangan yang masih samar.

Namun beberapa detik kemudian, matanya membesar.

"DAFFA?!"

Seketika wajahnya berubah pucat.

Di waktu yang hampir bersamaan, Daffa terbangun karena teriakan tersebut.

"Apa...?" Ia membuka mata.

Ketika melihat siapa perempuan yang berada di sampingnya, tubuhnya seketika menegang.

"Kau..?" Daffa mengingat wajah itu, wajah yang pernah memeluk dirinya saat di dapur.

"Mona," gumam Daffa.

Keduanya saling menatap.

Tidak ada yang mampu berkata-kata. Potongan-potongan kejadian semalam perlahan kembali memenuhi kepala mereka.

Alkohol.

Kamar.

Sentuhan.

Dan kesalahan yang telah terjadi.

Mona langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Tidak..."

Daffa mengusap wajahnya kasar. "Ini tidak mungkin."

Namun kenyataan tidak pernah peduli pada penyangkalan.

Mereka telah melakukan kesalahan.

Dan kesalahan itu akan memiliki konsekuensi.

Jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.

Di tempat lain...

Pagi itu Brian berdiri di dekat jendela kamarnya di dalam rumah Rania.

Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Ia membacanya sekilas.

Sudut bibirnya perlahan terangkat.

Dingin.

Mengerikan.

"Bagaimana rasanya Daffa?"

Brian memasukkan ponselnya ke dalam saku. Tatapannya kemudian beralih ke pintu kamar.

Pintu itu baru saja terbuka.

Rania berdiri di ambang pintu dengan wajah sedikit heran ketika mendapati Brian masih berada di sana.

"Kau masih di sini?" Brian tidak langsung menjawab.

Rania melangkah masuk beberapa langkah.

"Kenapa kau tidak pulang?"

Tatapan Brian beralih kepadanya. Senyum tipis kembali muncul di wajah pria itu.

Namun kali ini, Rania sama sekali tidak tahu apa yang baru saja dilakukan pria tersebut.

Dan lebih dari itu...

Rania tidak tahu bahwa pagi ini akan menjadi awal dari permainan Brian yang jauh lebih besar.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!