Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.
Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.
Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.
Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.
Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.
Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.
Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 : BELANJA BERSAMA DAN SALAH PIKIR
...BAB 27...
...BELANJA BERSAMA DAN SALAH PIKIR...
Dua hari telah berlalu sejak Amelia resmi mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai reporter.
Awalnya atasannya sangat menyayangkan keputusan itu.
"Amelia, apa kamu yakin?" Wajah Pak Hendra serius.
"Saya yakin, Pak."
"Kamu tahu kan, kamu itu punya potensi besar?"
Amelia tersenyum kecil. "Saya tahu. Dan saya berterima kasih banyak karena selama ini Bapak sudah memberikan saya kesempatan."
"Tapi kenapa harus berhenti?" tanyanya lagi kecewa.
Amelia sempat terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa pekerjaan barunya adalah mengurus seorang bayi misterius bersama seorang pembalap keras kepala.
"Saya hanya ingin mencoba pekerjaan yang berbeda." jawab Amelia.
Atasannya akhirnya menghela napas. "Kalau itu keputusanmu, ya sudah saya tidak bisa memaksa lagi."
Amelia mengangguk. Ia sudah memikirkan keputusan itu matang-matang. Apalagi Reyga benar-benar menepati ucapannya.
Lelaki itu tidak hanya berniat membiayai kebutuhan Bintang. Ia juga berjanji akan membantu kebutuhan Amelia dan keluarganya dari gaji yang diberikan untuk pekerjaan barunya.
Bukan sebagai belas kasihan. Reyga menyebutnya sebagai pekerjaan. Dan Amelia menerimanya.
Pagi tadi Berry mengirim pesan bahwa dirinya akan pulang hari itu.
Reyga yang sedang menyiapkan botol susu langsung membaca pesan tersebut.
Berry : Gue pulang siang ini. Jangan bikin apartemen gue berubah jadi taman kanak-kanak.
Reyga langsung membalas. Terlambat.
Beberapa detik kemudian balasan masuk.
Berry : Maksud lo?
Reyga tersenyum. Tunggu saja.
Berry tidak membalas lagi.
Sementara itu, Amelia duduk di lantai sambil memasukkan beberapa keperluan Bintang ke dalam tas bayi.
Popok, tissue basah, baju ganti, botol susu dan mainan dan biskuit bayi juga.
Dan entah kenapa...
Amelia juga memasukkan dua buah kaus kaki bayi yang ukurannya berbeda.
Reyga yang duduk di sofa melihatnya. "Kenapa kaus kakinya beda?"
Amelia menoleh. "Hah?"
"Yang satu gambar beruang. Yang satunya lagi gambar kelinci." tunjuk Reyga.
Amelia memperhatikan. "Oh ini." Ia tertawa kecil. "Ini buat jaga-jaga. Kalau satunya kotor dan basah kena air susu. Bisa pakai satunya lagi."
Reyga mengangguk-angguk, seolah baru memahami sesuatu yang sangat penting. "Oh..."
Amelia kembali memeriksa isi tas. Reyga juga ikut melirik tas itu. "Kalau begitu bawa tiga pasang sekalian."
Amelia mengernyit. "Kenapa?"
"Kalau yang kedua juga kotor." sahut Reyga.
Amelia menatapnya beberapa detik. "Terus kalau yang ketiga kotor?" alis Amelia terangkat.
Reyga terdiam. Bintang tiba-tiba mengoceh.
"Ta... ta..."
Amelia langsung tertawa. "Tuh, Bintang juga bingung sama logika kamu."
Reyga mendengus. "Ya sudah, dua pasang cukup."
Amelia menutup tasnya. "Makanya kalau mau pergi sama bayi apa-apa harus disiapkan."
Reyga melihat tas besar itu. "Ini sebenarnya kita mau ke supermarket atau pindahan?"
"Belanja kebutuhan Bintang sama isi kulkas." jawab Amelia.
"Berarti pindahan."
Amelia langsung memukul lengannya Reyga.
"Berisik!"
Reyga tertawa kecil sambil menggendong Bintang. Bayi itu malah ikut tertawa.
"Jangan ikut-ikutan," gumam Reyga pada Bintang. "Ayahmu sedang diserang."
Amelia langsung menoleh. "Ayah?"
Reyga mendadak salah tingkah. "Eh... maksud gue—"
Amelia tersenyum geli. "Sudahlah. Ayo berangkat sebelum kamu makin banyak salah ngomong."
Reyga hanya bisa menghela napas sambil menggendong Bintang lebih erat.
Mereka akhirnya keluar untuk membeli kebutuhan Bintang sekaligus mengisi kulkas apartemen Berry.
Namun Reyga sekarang harus lebih hati-hati lagi jika keluar rumah. Masalahnya, kini Reyga sekarang semakin mulai terkenal. Khawatir akan banyak media yang meliputnya lagi.
Sejak pemberitaan mengenai dirinya dan Alessia tersebar, wajah Reyga semakin mudah dikenali banyak orang. Karena itu, sebelum keluar rumah, Reyga mengenakan topi dan masker hitam.
Amelia menatapnya dari atas sampai bawah. "Kau yakin?"
"Apanya?"
"Kau kelihatan seperti maling." kata Amelia menahan tawa.
Reyga melotot. "Ini namanya penyamaran. Kalau maling kan, biasanya bawa barang berharga." Reyga menunjuk Bintang. "Tapi gue bawa bayi."
Amelia tertawa. "Memangnya bayi bukan barang berharga."
Reyga menatap Bintang. "Justru dia paling berharga."
Amelia terdiam sesaat. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun membuatnya tersenyum kecil.
Mereka kemudian naik mobil. Mobil baru yang Reyga beli kemarin. Bukan mobil mewah seperti mobil pemberian Ayahnya dulu, hanya mobil biasa, yang penting kegunaannya sama, mobil itu bisa membawanya kemanapun ia pergi.
Bintang duduk nyaman di kursi bayinya. Reyga di depan kemudi. Amelia di samping Bintang. Mobil Reyga berjalan santai. Mereka seolah menikmati perjalanan itu. Seperti sebuah keluarga yang lengkap.
Begitu sampai di supermarket, Reyga langsung mendorong troli. Bintang berada di kursi khusus troli.
Amelia berdiri di sampingnya. "Pertama kita beli popok dulu."
Reyga mengambil satu bungkus berisi 40 pcs "Yang ini?"
Amelia memeriksa. "Yang ukuran M."
"Kenapa M?"
"Karena ukuran Bintang pasnya M."
Reyga mengangguk. Lalu mengambil dua bungkus.
Amelia mengerutkan kening. "Kenapa dua?"
"Daripada kurang. Pampersnya sering bocor setiap dua puluh menit sekali." Reyga memasukkan dua bungkus ke troli. "Lo nggak tahu aja."
Amelia menghela napas. Mereka berjalan lagi. Sampai di bagian makanan bayi.
Reyga mengambil satu produk. "Ini?"
"Itu untuk usia berapa?"
"Enam bulan."
"Jangan." cegah Amelia. Ia mengambil yang lain. "Ini. Untuk sembilan bulan. Kita sesuaikan dengan umurnya."
Reyga tersenyum. "Nah kan gue bilang apa, gue nggak salah pilih Lo jadi pengasuh."
Amelia mendelik. "Jangan panggil aku pengasuh."
"Terus?"
Amelia berpikir... "Pengurus Bintang."
Reyga tertawa kecil. "Bedanya apa?"
"Lebih terhormat." Amelia menyengir.
"Ya sudah. Pengurus Bintang." tegas Reyga.
Bintang tertawa sambil memukul mainannya di troli.
Tok!
"Dia kayak mau sesuatu." Amelia memperhatikan. "Itu?!" Ia menunjuk rak di sebelah mereka.
Ada mainan berbentuk bebek. Bintang langsung mengulurkan tangan.
Reyga mengambilnya. "Yang ini?" Bintang tertawa. "Dah ambil." Reyga memasukkan mainan itu ke troli.
Amelia tersenyum melihatnya. "Kamu sadar nggak?"
"Apa?"
"Kalau Bintang minta apa pun, kamu selalu kasih."
Reyga mengangkat bahu. "Dia kan masih bayi. Perlu di manjain..."
"Kalau nanti dia minta motor balap?" canda Amelia melirik Reyga, tersenyum.
Reyga terdiam. Amelia menahan tawa. "Kasih juga?"
"Jangan kurang ajar." ketus Reyga, Amelia tertawa.
Belum selesai belanja, seorang perempuan tiba-tiba berjalan mendekati mereka. "Permisi..."
Reyga langsung menegang.
Perempuan itu menatapnya lama. "Kamu Reyga, kan?"
Amelia menoleh ke belakang. Reyga masih terdiam.
Perempuan itu menyipitkan mata. "Kamu pembalap itu kan?" tanyanya lagi dengan matanya yang sudah berbinar.
Reyga mengangguk pelan.
"Eh!" Perempuan itu langsung memanggil teman-temannya. "Eh, lihat sini ada Reygaaa!" teriaknya menjerit. Meloncat-loncat girang.
Reyga langsung panik. "Amel."
"Kenapa?"
"Pegang Bintang."
"Hah?"
"Pegang!" perintahnya.
Amelia buru-buru mengambil Bintang. Reyga menarik topinya lebih rendah. Lalu membetulkan maskernya lebih rapat.
Dua orang lain mulai mendekat. "Reyga, boleh foto-foto nggak?"
"Kak Reyga, benar kamu lagi dekat sama Alessia?"
"Eh Kak, bayi itu anaknya siapa?" tiba-tiba ada yang menunjuk Bintang yang di pangku Amelia.
Reyga membeku. Amelia langsung memutar badan, menjauh.
"Ayo larii!" Reyga mendorong troli sambil berjalan cepat.
"Kamu kenapa malah lari?"
"Karena mereka nanya bayi!"
"Terus?"
"Lo mau gue jelasin di tengah supermarket?"
Amelia tertawa. Mereka akhirnya berbelok ke lorong makanan. Reyga bersandar pada rak.
"Hah capek juga..." keluh Reyga.
Amelia menatapnya geli. "Katanya penyamaran."
"Masker gue gagal." sungutnya.
"Topimu juga gagal." tambah Amelia.
"Terus apa yang berhasil?" tanya Reyga.
Amelia menunjuk Bintang. "Bayinya."
Reyga bingung. "Maksud lo?"
"Orang-orang sekarang malah sibuk melihat Bintang."
Bintang tersenyum polos. Reyga menghela napas. "Dia memang sumber masalah."
Amelia menggeleng. "Dia sumber masalah yang lucu."
Akhirnya mereka lolos dari kejaran.
Beberapa jam kemudian, mereka pulang setelah selesai belanja. Bagasi mobil hampir penuh. Popok, susu, makanan, buah-buahan, sayuran, daging, telur, minyak goreng dan beras juga ada.
Bahkan Amelia membeli beberapa makanan cemilan untuk Berry.
Sesampainya di apartemen, mereka membawa semua barang masuk.
Namun baru pintu dibuka. Berry sudah berdiri di ruang tengah.
Berry juga baru saja pulang beberapa menit lalu.
"Astaga!" Matanya langsung tertuju pada Amelia. Kemudian Bintang. Kemudian Reyga.
Kemudian tumpukan belanjaan.
Berry menunjuk Amelia. "Lo?"
Amelia tersenyum. "Halo."
Berry menatap Reyga. "Jangan bilang..."
Reyga santai. "Dia pengurus Bintang sekarang."
Berry membelalak. "Serius?"
Amelia mengangguk. "Iya."
Berry menatap keduanya bergantian. Kemudian senyum perlahan muncul di wajahnya. "Ooooh hooho..."
Reyga mengerutkan kening. "Ooooh apaan?"
Berry menyilangkan tangan. "Nggak."
"Lo senyum aneh."
"Gue cuma senang."
"Senang apanya?"
Berry menunjuk mereka. "Kelihatan cocok."
Amelia langsung tersedak. "Hah?"
Reyga melotot. "Jangan ngawur."
Berry tertawa kencang. "Gue cuma bilang kalian berdua cocok."
"Kita nggak ada hubungan apa-apa," sahut Amelia cepat.
"Iya, gue tahu." Berry mengangguk. "Tapi kalau orang luar lihat..."
Ia menatap Reyga yang sedang mengambil Bintang dari stroller. Lalu melihat Amelia yang langsung membantu merapikan pakaian bayi.
Mereka memang terlihat seperti pasangan muda yang sudah terbiasa mengurus anak.
Berry menghela napas.."Kayaknya tinggal tunggu undangan."
"Berry!" Amelia langsung melempar tisu ke arahnya.
Berry tertawa.
Reyga ikut menggeleng. "Dasar."
Namun ketika Amelia mengambil Bintang dari pelukannya dan bayi itu langsung tersenyum lebar.
Reyga diam sejenak. Ada sesuatu yang terasa begitu biasa. Amelia di sampingnya. Bintang di tengah mereka. Seperti pemandangan yang sudah lama ada. Reyga segera mengalihkan pandangan.
"Berry, bantu masukin belanjaan." perintah Amelia.
Berry mengangkat kedua tangannya. "Siap, Bos."
Namun dalam hati Berry sendiri, ia merasa sedikit iri. Bukan kepada Reyga.
Melainkan kepada kedekatan sederhana yang mulai terbentuk di antara mereka. Padahal belum ada hubungan apa pun. Tapi mereka terlihat begitu serasi.
Sementara dirinya?
Setiap kali memikirkan seorang perempuan bernama Melda, dadanya justru terasa sesak.
Berry menghela napas. "Nasib gue kenapa begini?"
Reyga menoleh. "Lo ngomong apa?"
"Nggak." Berry mengangkat satu kardus popok.
"Ini popok apa batu bata?"
Amelia tertawa. Reyga ikut tertawa.
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh masalah, apartemen Berry kembali dipenuhi suara tawa.
Mereka belum tahu, bahwa kedatangan Amelia sebagai pengurus Bintang perlahan akan mengubah kehidupan ketiga orang dewasa itu.
Terutama kehidupan Reyga. Karena tanpa disadarinya, lelaki yang selama ini merasa tidak membutuhkan siapa pun mulai terbiasa memiliki seseorang di sisinya.
Bersambung...