Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah memancarkan kehangatan ke seluruh sudut kota.
Suasana di dalam penthouse terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Baskara dan Alena telah rapi mengenakan pakaian untuk memulai aktivitas harian mereka.
Setelah menikmati sarapan ringan buatan koki privat, Baskara melajukan mobilnya membelah jalanan pagi yang mulai padat, dengan tujuan mengantar sang istri kembali ke tempat favoritnya—toko roti milik Alena.
Tidak lama kemudian, mobil mewah Baskara berhenti tepat di depan pelataran toko roti.
Baskara langsung mematikan mesin, melepas sabuk pengamannya, dan menoleh ke arah Alena.
Ia meraih kedua tangan istrinya, menggenggamnya hangat sebelum menatap lekat-lekat mata wanita itu.
"Sayang, semangat kerjanya hari ini, ya. Dan ingat, jangan lupa makan siang," pesan Baskara penuh perhatian, ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Alena.
Alena tersenyum manis, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya.
Ia menganggukkan kepalanya dengan patuh. "Iya, Bas. Kamu juga hati-hati di jalan, jangan terlalu stres memikirkan urusan kantor," balas Alena mengingatkan suaminya.
Sebelum turun dari mobil, Baskara mengecup singkat puncak kepala Alena.
Setelah itu, Alena melangkah keluar dari mobil, melambaikan tangan sejenak ke arah suaminya, lalu masuk ke dalam toko rotinya dengan hati yang jauh lebih ringan dan berbunga-bunga.
Begitu pintu kaca toko terbuka, Tanti bersama dua orang karyawan baru menyambut kedatangan Alena dengan senyuman hangat dan sapaan hormat.
Suasana toko roti yang bersih dan harum aroma mentega langsung menyambut indra penciuman Alena, mengembalikan semangatnya untuk kembali berkutat dengan adonan.
"Selamat pagi, Bu Alena," sapa Tanti seraya menyerahkan sebuah clipboard berisi daftar pesanan hari ini.
Alena menerima papan catatan itu dan memeriksanya sekilas.
"Pagi, Tanti. Wah, ada pesanan apa saja hari ini?" tanyanya penasaran.
"Ini, Bu. Ada pesanan khusus untuk suplai kafe langganan kita, ditambah pesanan besar dari salah satu katering hotel," jelas Tanti sambil menunjuk angka-angka di atas kertas.
"Totalnya kita harus menyiapkan 100 roti tawar premium hari ini, ditambah beberapa varian pastry."
Mendengar jumlah pesanan yang cukup besar itu, mata Alena justru berbinar penuh antusias.
Alih-alih merasa terbebani, ia merasa tantangan ini adalah cara terbaik untuk menyibukkan diri dan melupakan segala drama keluarga yang sempat mengusik ketenangannya.
Alena meletakkan tasnya di ruang belakang, merapikan rambutnya, lalu mengenakan celemek kain berwarna krem yang menjadi seragam kerjanya.
Ia menoleh ke arah Tanti dan kedua karyawan baru dengan senyuman penuh energi.
"Baiklah, kalau begitu kita tidak punya banyak waktu untuk santai," seru Alena penuh semangat sambil menyingsingkan lengan bajunya.
"Ayo kita buat sekarang!"
Sebelum sibuk menimbang tepung dan mencampur bahan-bahan untuk ratusan pesanan roti tawar, Alena memutuskan untuk menyiapkan camilan khusus untuk mengisi tenaga mereka pagi itu.
Di sela-sela kesibukan di dapur belakang, ia menyempatkan diri membuatkan satu loyang porsi pizza rumahan yang menjadi favoritnya.
Tidak butuh waktu lama bagi Alena untuk meratakan saus tomat segar, menata topping sosis dan jamur, lalu menaburkan keju mozzarella di atas adonan tipis yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Loyang itu pun dimasukkan ke dalam oven bersamaan dengan persiapan awal lainnya.
Beberapa menit kemudian, aroma harum keju yang dipanggang langsung menguar memenuhi seluruh sudut dapur.
Alena mengeluarkan loyang tersebut dari dalam oven, memperlihatkan pizza rumahan dengan lapisan keju yang meleleh sempurna, panas, dan tampak sangat menggugah selera.
"Wah, aromanya harum banget, Bu!" puji salah satu karyawan baru sambil menelan ludah melihat lelehan keju yang masih mendesis kecil.
Alena tersenyum puas.
Ia memotong pizza tersebut menjadi beberapa bagian, menyisihkan sebagian untuk dinikmati bersama Tanti dan para pegawainya sebagai suntikan tenaga sebelum mereka berjibaku menyelesaikan tumpukan pesanan roti tawar hari ini.
Keju yang lumer dan gurih di setiap gigitannya benar-benar menjadi penyemangat yang sempurna di pagi yang sibuk itu.
Setelah tenaga mereka terisi kembali berkat pizza keju yang lezat, suasana di dapur toko roti langsung kembali sibuk.
Alena dan timnya langsung bergerak cepat menyelesaikan tugas masing-masing demi memenuhi tenggat waktu pesanan para pelanggan.
Alena berdiri di depan oven komersial berukuran besar yang sudah berada di suhu ideal.
Dengan cekatan, ia mulai memasukkan deretan loyang berisi adonan roti tawar yang sudah mengembang sempurna ke dalam mesin pemanggang.
Aroma ragi dan adonan mentega yang mulai terpapar panas segera berpadu dengan aroma harum khas toko roti, menciptakan suasana kerja yang begitu nyaman.
Sementara itu, di meja stainless steel sebelah, Tanti tidak tinggal diam.
Dengan keahlian yang sudah teruji, wanita itu dengan sigap menguleni sisa adonan roti tawar berikutnya.
Tangannya bergerak cepat menimbang, membulatkan, dan merapikan setiap potongan adonan sebelum nantinya dimasukkan ke dalam cetakan loyang roti.
Kedua karyawan baru yang mendampingi Tanti tampak fokus membantu menyiapkan bahan pelengkap dan merapikan loyang bersih, membuat alur kerja di toko roti Alena hari itu berjalan sangat efektif dan kompak.
Waktu berlalu dengan cepat hingga semua pesanan 100 roti tawar telah tersusun rapi di dalam kardus, siap untuk didistribusikan.
Tanti dan kedua karyawan baru segera mengangkat kardus-kardus tersebut ke dalam mobil pengantar, meninggalkan Alena sendirian di toko untuk membereskan sisa-sisa tepung dan adonan yang berceceran di meja kerja.
Saat Alena sedang asyik mengelap meja dengan kepala tertunduk, ia tidak menyadari bayangan gelap yang menyelinap masuk melalui pintu belakang yang tidak terkunci.
Bugh!
Sebuah hantaman keras mendarat tepat di tengkuk Alena.
Dunianya seketika berubah menjadi gelap, dan tubuhnya ambruk ke lantai tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Dari balik bayang-bayang, dua pria bertubuh tegap berpakaian serba hitam muncul.
Salah satunya menatap tubuh Alena yang tak sadarkan diri dengan tatapan dingin, lalu memberi isyarat kepada rekannya.
"Ikat dan sumpal dia. Setelah itu lempar ke dalam gudang belakang," perintah pria itu dengan suara parau.
"Hancurkan semua peralatan di toko ini, siram dengan bensin, dan bakar sampai tidak ada yang
tersisa."
Dalam hitungan menit, toko yang tadinya hangat dan harum itu berubah menjadi zona kehancuran.
Mereka memecahkan etalase kaca, menghancurkan mesin pembuat roti, dan merobohkan rak-rak kayu.
Setelah memastikan semua perabotan rusak, mereka menyiramkan bensin ke seluruh sudut toko, membasahi lantai dan tumpukan kardus yang tersisa.
Salah satu dari mereka menyalakan korek api dan melemparkannya ke lantai yang sudah basah oleh bensin.
Wush!
Api langsung menyambar dengan ganas, menjilat dinding kayu dan melahap apa pun yang ada di depannya.
Dalam sekejap, toko roti Alena telah berubah menjadi kobaran api besar yang membumbung tinggi ke langit, memakan bangunan itu tanpa ampun, sementara Alena masih terikat tak berdaya di dalam gudang yang kini perlahan mulai terkurung oleh asap hitam yang pekat.
Di ruang kerjanya yang mewah, Baskara mondar-mandir dengan perasaan gelisah yang tiba-tiba merayap di dadanya.
Jantungnya berdegup kencang tanpa alasan yang jelas, seolah ada alarm bahaya yang berteriak di dalam kepalanya.
Untuk meredakan rasa cemas itu, ia meraih ponsel di atas meja dan menekan nomor Alena.
Tut... tut... tut...
Tidak ada jawaban. Baskara mengerutkan kening, mencoba menelepon sekali lagi.
Masih sama—nada sambung terus berbunyi hingga akhirnya teralih ke pesan suara.
"Kenapa ponselnya tidak diangkat?" gumam Baskara dengan rahang yang mengeras.
Pikirannya mendadak tidak tenang. Ia langsung mencari kontak Tanti dan menekan tombol panggil.
"Halo, Tanti? Di mana Alena? Kenapa ponselnya tidak aktif?" tanya Baskara tanpa basa-basi begitu sambungan terangkat.
Diujung sana, suara Tanti terdengar agak terengah-engah di dalam mobil pengantar.
"Maaf, Pak Baskara! Saya sedang di jalan, mengantar pesanan ke katering hotel bersama dua karyawan baru. Ponsel Ibu mungkin ditaruh di meja karena sedang sibuk."
Deg!
Darah Baskara mendadak berdesir dingin. Bulu kuduknya meremang seketika.
Jika Tanti dan karyawannya sedang mengantar pesanan, lalu siapa yang bersama Alena di toko? Toko itu kosong!
Tanpa pikir panjang, Baskara menyambar kunci mobil dan jasnya di atas kursi, lalu berlari sekencang-kencangnya keluar dari ruangannya, mengabaikan panggilan dari sekretarisnya yang berteriak bingung melihat bos mereka pergi dengan wajah pucat pasi dan mata menyala penuh amarah.
Langkah kaki Baskara menggema panik menuruni lift privat menuju basement.
Napasnya memburu, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Insting tajamnya sebagai seorang pria yang terbiasa menghadapi intrik bisnis berbahaya langsung membunyikan alarm darurat.
Billy. Nama itu berkelebat di kepalanya. Tidak mungkin ada orang lain yang cukup nekat dan berdendam separuh mati selain sepupunya yang tidak punya otak itu.
Di dalam mobil sport hitamnya, Baskara menginjak pedal gas hingga batas maksimal.
Mobil melesat membelah jalanan kota bagai kilat, mengabaikan lampu merah dan klakson protes dari pengendara lain. Pikirannya hanya satu: Alena.
Sementara itu, di dalam gudang belakang toko roti, kesadaran Alena perlahan-lahan kembali.
Rasa sakit yang luar biasa berdenyut di bagian belakang kepalanya, membuat visinya buram dan berputar.
"Mmmphhh..."
Alena membuka matanya saat udara yang ia hirup bukan lagi oksigen segar, melainkan kepulan asap hitam pekat yang menyesakkan dada.
Ia mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, namun kepanikannya langsung membuncah ketika ia menyadari tubuhnya terikat erat pada sebuah kursi kayu tua dengan tali tambang kasar.
Ia mendongak. Di luar pintu gudang yang setengah terbuka, lidah api berwarna merah oranye menjilat-jilat ganas, melahap etalase, meja, dan seluruh isi toko yang kini telah menjadi lautan api.
Suara kayu yang terbakar kriek-kriek bergemeretak mengerikan, diiringi hawa panas yang membakar kulit.
Toko... tokoku terbakar! batin Alena histeris, air matanya tumpah seketika bercampur dengan debu hitam dan keringat dingin.
Ia meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan ikatan di tangannya meski kulit pergelangan tangannya lecet dan berdarah.
Asap semakin pekat, memenuhi ruangan sempit itu dan membuat dadanya terasa seperti ditekan batu besar. Napasnya tersengal-sengal.
"Bas... Tolong aku, Bas..." lirih Alena di antara sumpalannya
Ia merasakan kesadarannya kembali menipis akibat kekurangan oksigen.
Dari kejauhan, langit di atas kawasan komersial itu tampak menghitam, disusul kepulan asap pekat yang membumbung tinggi.
Jantung Baskara seakan berhenti berdetak saat melihat kobaran api besar melalap sebuah bangunan yang sangat ia kenal.
Screeeet...!
Mobil Baskara berhenti mendadak di tengah jalan, nyaris menabrak pembatas jalan. Sebelum mobil sepenuhnya berhenti, ia sudah membuka pintu dan melompat keluar.
"ALENA!" teriak Baskara histeris, suaranya tenggelam di tengah hiruk-pikuk warga yang mulai berkerumun menyaksikan kebakaran tersebut.
Melihat toko roti istrinya sudah hampir separuh runtuh dilalap api, Baskara kehilangan akal sehatnya.
Tanpa memikirkan keselamatan nyawanya sendiri, ia menyambar sebuah jaket tebal yang disiram air dari genangan di dekat jalan, lalu menerobos masuk melalui pintu depan yang kerangkengnya sudah runtuh terbakar.
"Pak! Jangan masuk! Bahaya!" teriakan warga sekitar sama sekali tidak dihiraukan oleh Baskara.
Pria itu merangsek masuk ke dalam neraka kecil itu, matanya memerah menahan pedih akibat asap tebal.
Di tengah kobaran api yang membabi buta, ia mendengar suara l yang sangat lemah dari arah bagian belakang toko.
"Alena!" seru Baskara dengan sisa tenaganya, menerobos dinding api menuju pintu gudang yang hampir roboh.
Begitu ia mendobrak pintu gudang yang setengah terbakar, pemandangan di dalam sana membuat darah Baskara mendidih seketika.
Istrinya terikat tak berdaya di kursi, terkulai lemas dengan kepala tertunduk dan dikelilingi api yang mulai merembet ke lantai gudang.
Dengan rahang mengeras penuh amarah dan mata yang menyala bagai iblis kelaparan, Baskara langsung menerjang ke dalam, menghampiri wanita yang paling ia cintai di dunia ini.
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭