NovelToon NovelToon
HALAMAN TERAKHIR

HALAMAN TERAKHIR

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: T.K. OKVIANDI

Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.

Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.

Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.

Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HALAMAN DUA PULUH TIGA

Bis mulai meninggalkan tempatnya parkir sesaat setelah pintu bis ditutup. Selama perjalanan terlihat Langit menahan sakit dikakinya, sesekali Rindu melihat wajah Langit meringis kesakitan hingga sedih Rindu dibuatnya. "Masih sakit ya? Aduh gue bingung sorry ya gue nggak bisa bantu apa-apa" tanya Rindu.

"Iya nggak apa-apa Rin lu tadi udah bantuin gue ke bis aja udah makasih banget gue, nanti juga sembuh kok, kebetulan di penginapan gue punya minyak urut dari perguruan silat, mudah-mudahan aja ngebantu" jawab Langit.

"Amin, mudah-mudahan aja ya, besok kan lu masih ada pertandingan, be te we sorry ya gue mau merem-meremin mata dulu , tau nih kok ngantuk gue" ujar Rindu.

"Sok mangga keun, nanti gue bangunin kalau udah sampe, oh ya pake nih jaket gue buat bantalan kepala lu" ucap Langit sambil melepaskan jaket yang dikenakannya lalu diberikan kepada Rindu.

"Hehehe makasih ya Langit, lumayan buat ganjelan kepala" ucap Rindu menerima jaket dari langit.

Rindu melipat-lipat jaket pemberian dari Langit untuk dijadikan bantalan kepalanya ke jendela. Ditempat lain, terlihat Allisya sedang mengeluarkan handphone dari tas yang belum lama terdengar berdering menandakan ada sebuah pesan masuk. Ternyata itu adalah pesan whatsapp dari Galang.

"Assalamu alaikum sya, aku tadi baru denger kabar kalau di daerah Lembang sekarang lagi riskan kalau malam hari. Kalau gak salah penginepan kamu didaerah Lembang kan? Kamu jangan keluar ya malem ini di kamar aja, bilangin juga sama yang lain." Allisya membaca pesan whatsapp dari galang, dan langsung membalasnya

"Wa alaikum salam a, iya a aku nginep di daerah Lembang, insya Allah aman a aku kan emang gak bakalan keluar malem, nanti aku bilangin ke yang lain deh" balas Allisya dakam pesan whatsappnya

Setelah membalas pesan dari Galang, Allisya kembali meletakkan handphonenya kedalam tas, Allisya bangkit dari tempat duduknya dan berbisik kepada Bu Riri selaku pembina Osis yang duduk dekat dengannya. Bu Riri terlihat menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan dari Allisya, dengan menggunakan mikrofon Allisya memberikan pengumuman yang tadi diberitahukan oleh Galang kepada teman-temannya.

Seluruh terlihat mendengarkan dengan baik, kecuali Rindu yang terlihat sedang tertidur pulas di kursinya. Ibu Riri menambahkan beberaa nasihat kepada siswanya , agar tidak ada yang keluar dari penginapan dimalam hari, jikalau terpaksa harus beramai-ramai tidak seorang diri atau berdua saja.

Matahari sudah mulai terbenam berganti dengan indahnya cahaya rembulan, dari depan penginapan terlihat bis mulai memasuki tempat parkir. Dengan perlahan tanpa maksud mengagetkan , Langit membangunkan Rindu yang sedang tertidur pulas disampingnya.

"Rin, Rin bangun udah sampai , nanti dilanjut dikamar aja istirahatnya" ucap Langit dengan pelan-pelan.

Dengan tubuh masih lunglai dan mata tersayu-sayu Rindu mencoba bangun dari lelapnya. Beberapa kali Rindu menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan mencoba menyegarkan tubuhnya itu. "Eh iya , makasih ya , oh iya ini jaket lu, maaf ya jadi kusut gini" ucap Rindu dengan setengah sadar sambil menyerahkan jaket milik Langit.

Siswa terlihat mulai turun dari bis satu persatu , sementara Langit masih mencoba menurunkan tas dari tempatnya seorang diri, Rindu mencoba menawarkan diri untuk membantunya, namun dengan lembut Langit menolaknya.

"Masih sakit kaki lu? Udah biarin aja ,nanti tas lu gue aja yang bawain, jalannya udah bisa kan lu?" tanya Rindu.

"Kalau disebut sakit sih masih, tapi udah nggak apa-apa gue bisa kok sendiri Rin, nggak enak gue ngerepotin lu terus, gue kan cowok harus kuat" jawab Langit.

Rindu hanya membalas ucapan Langit dengan senyumannya, Langit masih berusaha menurunkan tasnya yang lumayan besar. Dengan spontan Rindu pun ikut membantu Langit menurunkan tasnya tersebut dengan tangannya. Sekali lagi, terlihat ada yang berbeda dari mereka saat bertatapan dan saling memberikan senyuman satu sama lain. Tatapan yang mengisyaratkan layaknya subuh yang menghantarkan pagi, layaknya sang rembulan yang datang menaburkan sebuah mimpi. Walaupun Langit menolak bantuan dari Rindu, Rindu tetap mencoba membantu Langit berjalan untuk turun dari bis dengan menuntunnya walau tas Langit tetaplah Langit yang membawanya.

"Makasih ya Rin, dari sini gue sendiri aja masa iya lu ikut ke kamar anak-anak cowok" ucap Langit.

"Yakin lu bisa? Gak apa-apa gue anterin kalau lu ijinin" tanya Rindu.

"Beneran Rin, gak apa-apa kok gue bisa , ini juga udah mendingan , nanti gue balurin minyak yang gue bawa juga sembuh" jawab Langit sambil terus berlalu menuju kamarnya.

Seluruh siswa mulai berjalan meninggalkan tempat parkir bis , mereka berjalan berkelompok-kelompok menuju kamarnya masing-masing. Terlihat Langit berjalan menaiki anak tangga ditemani dan dibantu oleh Ferry beserta 2 orang siswa kelas yang sekamar. Tiba didepan pintu kamar, Feery segera membuka kunci pintu kamar tersebut dan segera masuk diikuti oleh Langit dan 2 siswa lainnya. Setelah meletakkan barang bawaan yang tadi dibawa Langit, Langit segera membuka lemari dan mengeluarkan sebuah botol dari dalam lemari, yang ternyata itu adalah botol berisikan minyak yang dimaksud Langit selama ini.

Dalam kamar terlihat Ferry berjalan menuju kamar mandi sementara 2 siswa lainnya sedang merebahkan tubuhnya diatas kasur. Disisi lain terlihat Langit sedang membalurkan minyak yang dibawa dari Jakarta ke kakinya yang sakit. Setelah selesai Langit mengobati kakunya, dia kembali menuju depan lemari untuk meletakkan botol minyaknya dan mengeluarkan laptop dari dalam lemari. Membawa laptopnya, Langit berjalan menuju meja didalam kamarnya, dengan menarik kursi yang sebelumnya digunakan didekat kasur, Langit duduk dikursi tersebut dan menghidupkan laptopnya di atas meja. Baru saja Langit menghidupkan laptopnya , Ferry keluar dari kamar mandi mengenakan celana pendek tanpa mengenakan kaos.

"Ngapain lu, rajin amat buka-buka laptop" tanya Ferry.

"Ya ini gue lanjutin tulisan gue, gue ada project nulis novel gitu, mudah-mudahan aja sukses" jawab  Langit.

"weeisss, temen gue mau jadi penulis toh. Coba sini gue liat" pinta Ferry sambil mencoba mengintip tulisan Langit pada laptopnya.

"ooo jangan , tar aja kalau udah kelar, masa iya tar lu jadi tahu duluan, oh iya pake dulu tuh baju lu" tolak Langit sambil menutupi layar laptopnya.

"Ya  udeh lanjutin deh bro, tar ah gerah badan gue, biar keangin-angin dulu" ucap Ferry sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur menonton televisi.

Langit terlihat melanjutkan menulis dengan laptopnya ditemani sebotol minuman bersoda disampingnya sementara kedua siswa kelas sudah terlelap tidur di atas tempat tidur. Belum lama Langit menulis dengan laptopnya, terdengar suara pintu kamar diketuk dengan keras dari arah luar kamar.

"Tok tok tok....." suara ketukan pintu kamar dengan kerasnya.

"Kak Langit , kak buka kak, penting" suara seorang perempuan dari balik pintu kamar.

Langit langsung menghentikan aktifitasnya menulis, dan segera berlari kearah pintu membukakan sedikit pintu kamarnya. Setelah dibuka , ternyata itu adalah Nila dan Allisya yang datang. Setelah mengetahui itu siapa, Langit langsung membuka pintu kamarnya lebar-lebar, dari dalam kamar terlihat Ferry menarik selimut menutupi tubuhnya yang tidak memakai baju atasan. Menyadari hal tersebut, Langit langsung keluar dari kamar dan menutup kembali pintunya.

"Ada apa Sya? Kenapa kok tergesa-gesa gitu kamu?" tanya Langit.

"Kak Rindu kak" panik Allisya dengan nafas tengengah-engah.

"Rindu? Kenapa sama Rindu? Ada apa sya?" tanya Langit dengan panik setelah mendengar ucapan Allisya.

"Itu kak, tadi pas aku lagi dikamar mandi, Nila lagi telepon pacarnya, dia liat kak Rindu keluar penginapan sendirian, udah dipanggil tapi ga denger" Allisya semakin panik.

"Iya kak, tadi sebelumnya sih aku denger pas baru sampai itu loh, kak Rindu bilang pulsanya abis, katanya mau beli pulsa tar ah abis ngaso bentaran" timpa Nila.

"Waduh, tukang pulsa kan di sini paling diminimarket, terus kan jaraknya lumayan, dia sendirian?" tanya Langit dengan penuh kecemasan.

"Iya kak, tadi aku liat sendirian keluar penginapannya" jawab Nila.

"Aduh tuh anak , gak denger apa tadi udah dibilangin disini lagi riskan, ya udah Sya Nil, biar kakak susulin aja deh" panik Langit semakin menjadi-jadi

Langit bergegas kedalam kamar mengenakan kembali celana panjangnya dan langsung meninggalkan kamarnya tanpa menutup pintu kamar. "Ya udah Sya kakak nyusul Rindu dulu ya , doain nggak kenapa-kenapa ya, oh iya jangan bilang ke bu Riri atau siapapun juga ya" ucap Langit.

"Oi mau kemana lu, udah malam ini, lu gak inget yang tadi dibilang pas di bis" tanya Ferry dari dalam kamar.

"Bentar doang kok, urgent ini, oh iya pintu kamar jangan dikunci ya" jawab Langit sambil berlalu meninggalkan Allisya dan Nila yang masih berdiri didepan kamar Langit.

Dari arah dalam kamar terlihat Ferry keluar kamar sambil memakai kaos ke tubuhnya, dia terkejut saat didepan kamarnya masih ada Allisya dan Nila yang sedang berdiri berdampingan. "Eh ada Allisya sama Nila toh, kirain udah pergi hehehe, mau kemana itu Langit? Urgent urgent apaan sih?" tanya Ferry.

"Itu kak, kak Langit mau nyusulin kak Rindu" jawab Nila.

"Nyusul Rindu? Nyusul kemana? Lah kan dibilangin buat jangan keluar penginapan kalau nggak perlu-perlu banget, emang Rindu nggak paham yang dibilang tadi apa" tanya Ferry yang ikut khawatir.

"Nah itu dia kak, kayaknya tadi kak Rindu tidur deh pas di bis, makanya aku kaget pas Nila bilang kak Rindu keluar penginapan sendirian, ya udah aku bilang ke kak Langit aja, kan kak Langit dekat sama kak Rindu" balas Allisya dengan wajah penuh kecemasan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!