NovelToon NovelToon
Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ADIK YANG BERJALAN DUA LANGKAH

Luka Nira mulai mengering tiga hari kemudian. Ibu mengganti balutannya dengan kain yang lebih tipis, lalu memasukkan daun pisang kering ke bagian belakang sepatu agar kulit kasar tidak langsung menyentuh tumit. Nira mencoba berjalan mengelilingi rumah. Ia meringis sekali, tetapi segera mengatakan sudah tidak sakit.

Pada Senin pagi, kami kembali berangkat bersama. Ayah belum berhasil membangun jembatan. Pak Bramantya mengatakan dana desa tidak dapat dipakai tanpa rapat, sedangkan beberapa warga bersedia menyumbang bambu tetapi belum punya waktu mengangkutnya. Ayah tetap mengumpulkan tali dan menandai dua pohon besar di tepi sungai sebagai tempat ikatan.

"Minggu ini," katanya sebelum kami berangkat. "Kalau cuaca baik, kita mulai."

Aku mengangguk. Nira membawa gambar jembatannya di dalam buku, seolah gambar itu dapat membantu pekerjaan Ayah. Ia bahkan menambahkan dua tiang bendera kecil pada kedua ujungnya dengan pensil merah.

Jahitan benang karung pada sepatuku terlihat jelas. Ibu mengoleskan sedikit minyak kelapa, tetapi serat cokelat tetap menonjol. Anehnya, aku tidak merasa semalu sebelumnya. Setiap melihatnya, aku teringat suara Mbah Wreda: barang yang lusuh belum tentu kehilangan gunanya.

Kami melewati Tikungan Nangka dengan langkah pelan. Setelah beberapa waktu, aku sadar Nira tidak berada tepat di sampingku. Ia berjalan dua langkah di belakang, berhati-hati seperti sedang mengikuti jejak yang tidak boleh disentuh.

"Kenapa jauh?" tanyaku.

"Tidak jauh."

Aku berhenti. Ia ikut berhenti.

"Biasanya kau menarik tas-ku."

Nira melihat sepatu kiriku. "Aku takut menginjak tumit Kakak. Nanti jahitannya rusak lagi."

Aku tertawa. "Jahitannya di depan, bukan di tumit."

"Kalau aku menginjak, bagian depan bisa kaget."

"Sepatu tidak bisa kaget."

"Kakak bilang air takut masuk ke sepatu baru dalam gambarku."

Aku tidak dapat membantah. Aku memperlambat langkah sampai kami sejajar. "Mulai sekarang jalan di sampingku. Kalau kau tetap di belakang, aku harus terus menoleh dan kita malah terlambat."

Nira mengangguk. Beberapa menit kemudian, ia kembali dua langkah di belakang. Aku tidak menegurnya lagi. Aku hanya berjalan lebih lambat agar jarak itu tidak bertambah.

Perjalanan terasa panjang setelah hujan. Tanah menempel pada telapak dan membuat kaki berat. Untuk mengusir lelah, aku mengajak Nira bermain menghitung burung. Setiap burung yang melintas bernilai satu angka. Burung yang hinggap di pohon bernilai dua. Jika kami melihat sarang, nilainya lima.

"Kalau burungnya terbang lalu hinggap?" tanya Nira.

"Tiga."

"Kalau terbang, hinggap, lalu terbang lagi?"

"Kau terlalu banyak aturan."

Ia tertawa. Kami baru mengumpulkan sebelas angka ketika sampai Tikungan Burung. Setelah itu, kami membuat permainan baru. Setiap pohon berbunga harus diberi nama.

Nira menunjuk bunga kecil berwarna ungu di tepi jalur. "Itu bunga Ratu Kabut."

"Kenapa?"

"Karena tumbuhnya saat kabut."

Aku menunjuk bunga putih di bawah semak. "Kalau itu?"

"Bunga Gigi Kambing."

"Namanya buruk."

"Bentuknya memang seperti gigi kambing."

Permainan itu membuat kami lupa pada rasa pegal. Tujuh kilometer tidak menjadi pendek, tetapi pikiran kami berhenti mengukur setiap langkah. Kadang-kadang, cara bertahan bukan menghilangkan kesulitan. Kami hanya memberi nama lain agar kesulitan itu lebih mudah dilewati. Di Tikungan Batu Tidur, kami berhenti minum dari botol bekas kecap. Aku memeriksa balutan Nira dan merapikan kain yang mulai bergeser. Ia ingin duduk lebih lama, tetapi matahari sudah naik. Kami berbagi sepotong singkong rebus, masing-masing menggigit dari ujung berbeda, lalu menyimpan sisanya untuk waktu istirahat. Pada masa itu, perjalanan sekolah mengajarkan kami membagi bukan hanya makanan, tetapi juga tenaga dan keberanian.

Sungai pagi itu rendah. Kami menyeberang tanpa masalah, lalu naik menuju jalur yang melewati semak dan pohon jati muda. Matahari belum tinggi. Burung-burung berbunyi dari kejauhan, tetapi di dekat kami hutan kecil terasa terlalu diam.

Nira menarik lengan bajuku. "Kak, semaknya bergerak."

Aku berhenti. Daun di sebelah kanan bergoyang, padahal angin hampir tidak ada. Terdengar suara tanah dikais dan napas pendek.

Aku menarik Nira ke balik pohon besar. Kami merunduk sambil menggenggam tas. Jantungku berdetak sampai telinga terasa penuh. Ayah pernah mengatakan ada babi hutan yang turun mencari umbi setelah hujan. Anak babi mungkin lari, tetapi induknya dapat menyerang jika merasa terancam.

Dari semak muncul seekor anak babi berwarna cokelat gelap. Tubuhnya tidak besar, tetapi bergerak cepat melintasi jalan. Nira hampir tertawa karena bentuk ekornya. Aku menutup mulutnya dengan telapak.

Beberapa detik kemudian, terdengar dengusan berat dari dalam semak. Ranting patah. Tanah kembali dikais.

Kami tidak menunggu induknya keluar.

Aku memberi isyarat agar Nira mengikuti. Kami mundur perlahan, lalu berbelok ke jalur lama di sisi bukit. Jalur itu memutar lebih jauh dan jarang dipakai karena berbatu serta curam. Namun, lebih baik terlambat daripada menghadapi babi hutan di jalan sempit.

Kami mendaki dengan tangan berpegangan pada akar. Nira bernapas cepat. Balutan tumitnya mulai bergeser, tetapi ia tidak mengeluh. Aku berjalan di depan dan menarik tangannya pada bagian yang tinggi.

"Masih jauh?" tanyanya.

"Sedikit."

Aku berbohong. Kami bahkan belum mencapai puncak jalur.

Di satu bagian, akar besar melintang seperti tali. Aku melangkah melewatinya, tetapi ujung sepatu kiriku tersangkut. Tubuhku terdorong ke depan. Aku menahan diri dengan tangan, sementara jahitan di bagian depan tertarik keras.

Terdengar bunyi serat menegang.

"Sepatunya?" tanya Nira.

Aku berdiri cepat. "Tidak apa-apa."

Satu simpul benang karung tampak longgar. Ujung kulit belum terbuka, tetapi ada celah tipis. Aku menekan bagian itu dengan jari, lalu mengikat tali sepatu lebih kuat. Aku tidak mengatakan apa pun kepada Nira. Wajahnya sudah pucat karena ketakutan dan kelelahan.

Kami keluar dari jalur berbatu ketika matahari mulai tinggi. Dari kejauhan terdengar bel sekolah pertama. Kami masih harus melewati jalan kabupaten.

"Lari?" tanya Nira.

Aku melihat kakinya. "Jangan. Kita jalan cepat saja."

Kami mempercepat langkah. Sepatuku mulai berbunyi lagi, tidak sekeras dulu, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa jahitan Mbah Wreda sedang menahan beban. Nira berjalan dua langkah di belakang. Kali ini aku membiarkannya karena jalur sempit dan napas kami sudah habis.

Bel kedua berbunyi ketika atap sekolah terlihat. Halaman telah kosong. Semua murid berada di kelas. Kami melewati gerbang dengan seragam berkeringat, ujung celana penuh debu, dan napas terputus-putus.

Pak Sasmita berdiri di depan kantor sambil memegang buku kedisiplinan. Wajahnya tegas. Ia melihatku, lalu Nira, kemudian kembali melihat jam dinding di belakangnya.

"Kalian terlambat lagi," katanya.

Aku ingin menjelaskan tentang semak, anak babi, jalur memutar, dan jahitan sepatu yang hampir lepas. Namun, sebelum satu kata keluar, Pak Sasmita menutup bukunya dan berjalan langsung ke arah kami.

1
Riska Noor
bagus ceritanya, realita di pelosok daerah tertentu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!