[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 : Balasan
Brak!
Suara embusan angin malam yang mendadak menderu kencang berpadu dengan aura dingin yang mematikan, membuat nyala api lentera di sudut kamar pribadi Selir Qin berkedip liar. Jenderal Luo Tian mundur dua langkah dengan napas tersengal, sementara Selir Qin menjerit tertahan, cangkir teh di tangannya terlepas dan pecah berkeping-keping di atas lantai marmer.
Di ambang jendela yang terbuka lebar, Wang Yiche berdiri tegap dengan topeng besi perak yang memantulkan cahaya suram. Di sampingnya, Fang Hua melepas penutup kepalanya perlahan, menatap kedua bangsawan tinggi itu dengan senyuman tipis yang sarat akan sindiran tajam.
"P-Pangeran... Kelima?!" gumam Jenderal Luo Tian terbata-bata, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Matanya terbelalak tak percaya melihat pria yang seharusnya terisolasi dan membusuk di istana barat kini berdiri di hadapannya dalam keadaan hidup, lengkap dengan tekanan membunuh yang luar biasa pekat.
"Bagaimana mungkin... kau bisa keluar dari istana barat?!" seru Selir Qin histeris, menunjuk ke arah Wang Yiche dengan tangan bergetar hebat. "Di mana para pembunuh bayaran itu?! Seharusnya kalian sudah mati!"
Wang Yiche melangkah masuk perlahan, diikuti oleh Fang Hua. Setiap derap sepatu bot mereka di atas lantai marmer terdengar seperti hitungan mundur menuju kematian bagi penghuni ruangan tersebut.
"Pembunuh bayaran yang kalian sewa bersama Kasim Lu?" suara bariton Wang Yiche menggelegar dingin, memenuhi seluruh ruangan. "Mereka sudah menyampaikan pesan kalian... dan sekarang, giliran aku yang datang untuk mengantarkan balasan."
Jenderal Luo Tian meraba hulu pedang yang tergantung di dinding di dekatnya, mencoba meraih senjata itu dengan panik. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pedang, sebuah bayangan hitam melesat kilat.
Sshh!
Bilah pedang Wang Yiche sudah menempel tepat di leher Jenderal Luo Tian, menghentikan seluruh gerakan pria paruh baya itu seketika. Napas Jenderal Luo tertahan di tenggorokan; ia tidak pernah menyangka bahwa pangeran yang dianggap sebelah mata itu memiliki kecepatan dan kekuatan yang begitu mengerikan dari dekat.
"J-Jangan bunuh aku!" teriak Jenderal Luo Tian gemetar ketakutan, kehilangan seluruh wibawanya sebagai jenderal besar kekaisaran. "Aku... aku adalah ayahmu secara hukum! Keluarga Luo bisa memberimu kekayaan dan perlindungan..."
"Perlindungan?" Fang Hua tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dingin di telinga Selir Qin. Ia melangkah maju mendekati wanita paruh baya yang kini meringkuk ketakutan di dekat meja. "Kalian mengirim putri bungsu keluarga Luo ke kandang monster demi menutupi ambisi busuk kalian, lalu bersekongkol dengan permaisuri untuk membunuhnya di hari pertama. Dan sekarang kau berbicara tentang perlindungan?"
Selir Qin menatap tajam ke arah Fang Hua, kebencian terpancar jelas dari manik matanya. "Kau... pengantin wanita sialan! Seharusnya sejak awal aku memastikan racun itu langsung merenggut nyawamu sebelum kau sempat menginjakkan kaki di istana barat!"
Fang Hua tidak tersinggung. Ia justru menundukkan sedikit tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Selir Qin tanpa secuil pun rasa gentar.
"Sayangnya, racun murahan buatan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan kenyataan yang harus kalian hadapi malam ini," bisik Fang Hua tajam.
Wang Yiche melirik sekilas ke arah Fang Hua, memberi ruang bagi gadis itu untuk memegang kendali penuh atas pembalasan dendam ini. Di bawah tatapan tajam sang pangeran, Fang Hua mengeluarkan sebotol kecil cairan kimia dari tas ranselnya, lalu meneteskannya ke atas meja teh tepat di hadapan Selir Qin.
"Kalian ingin melihat bagaimana rasanya hidup dalam ketakutan dan perlahan kehilangan segalanya?" ucap Fang Hua tenang namun mematikan.
***
Happy Reading 🥰
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️