NovelToon NovelToon
Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi
Popularitas:818
Nilai: 5
Nama Author: Arya Walker

[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]

Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Desa Yang Aneh

Udara di dalam hutan rimbun itu terasa lembap dan berat.

Sinar matahari hanya mampu menembus celah-celah kanopi yang padat, menciptakan pilar-pilar cahaya miring yang menyinari spora dan debu yang melayang di udara.

Suara gemerisik daun yang bergesekan dan sesekali kepakan sayap burung liar menjadi satu-satunya melodi di tengah keheningan yang menekan.

Dua sosok terlihat berjalan menelusuri jalan setapak yang ditumbuhi semak belukar.

Mereka adalah Simon dan Gogo Penampilan Simon kini tampak lebih siap tempur, jubah hitamnya yang compang-camping telah berganti dengan baju besi kulit ringan yang pas di tubuhnya, memudahkan pergerakannya namun tetap memberikan perlindungan dasar.

Gogo pun mengenakan perlengkapan yang serupa, meskipun zirah kulitnya tampak sedikit sesak di bagian perutnya.

"Ughh, kurasa aku akan meminta baju besi baru pada kapten, baju besi ini terlalu sempit untukku." Kata Gogo sambil melihat baju besinya.

"Kurasa, itu cocok untukmu gogo, baju besi ini mungkin dapat membantumu dalam menurunkan berat badan." Kata Simon sambil bercanda.

"Bahh, tanpa baju besi ini pun perutku mampu menahan sebuah panah." Kata Gogo.

Simon tidak menjawab dan hanya menggelengkann kepalanya.

Dua hari telah berlalu sejak Simon menetap di barak. Selama waktu itu, ia terus mengasah kemampuannya tanpa henti.

Simon berhenti sejenak, mengatur napasnya, lalu memanggil panel transparan yang hanya bisa dilihat oleh matanya sendiri.

Nama: Simon Blake

Pekerjaan: Ksatria Magang Tingkat 1

Keterampilan:

Pernafasan Ular Hitam (Dasar): 196/200 Pedang Silang (Dasar): 3/200.

Simon mendesah panjang, guratan frustrasi muncul di wajah tampannya.

Walaupun teknik pedang silang telah menerobos batasan, namun untuk pernafasan ular hitam hanya bertambah sedikit.

'aku ingin mencoba pergi ke pasar gelap lune, namun waktunya kurang tepat untuk sekarang mungkin setelah misi ini selesai aku akan meminta cuti beberapa hari untuk melihat pasar gelap.' pikir Simon.

Padahal ia sudah berlatih mati-matian hingga ototnya terasa terbakar, namun tanpa dukungan ramuan ksatria, kecepatan peningkatannya terasa seperti merangkak di atas roda.

Angka-angka 196/200 itu terasa begitu dekat namun sangat sulit digapai, seolah ada dinding transparan yang menghalangi terobosannya menuju tingkat menengah.

"Simon, menurutmu apa yang sebenarnya terjadi pada desa yang kita selidiki ini?" tanya Gogo, memecah keheningan sembari menyeka keringat di dahinya.

Simon menggelengkan kepalanya perlahan, tetap waspada mengamati sekeliling.

"Entahlah. Kapten Jon hanya bilang bahwa desa ini telah berhenti memberikan upeti gandum pada Baron," jawab Simon dengan nada yang dingin.

"Tugas kita hanyalah melihat dan melaporkan situasi desa itu ketika sampai disana.

"Apakah mungkin mereka diserang bandit?" duga Gogo sembari menggenggam gagang pedangnya.

"Mungkin saja," balas Simon realistis. "Tapi jika ada serangan skala besar, seharusnya berita itu sudah sampai ke telinga Baron melalui pengungsi, bukan? Fakta bahwa tidak ada kabar malah lebih mencurigakan."

.....

Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, mereka akhirnya sampai di pintu masuk desa yang dituju, Desa Maple.

Desa itu tampak sangat asri namun memberikan kesan yang salah.

Pohon-pohon maple yang daunnya mulai menguning berdiri tegak di antara deretan rumah kayu, namun tidak ada asap masakan yang mengepul dari cerobong asap seperti umumnya.

Suasana disini sunyi serta mencekam, seolah-olah waktu telah membeku di tempat ini.

"Halo! Apakah ada orang di sini?!" teriak Gogo dengan suara lantang yang menggema. "Kami adalah prajurit utusan Baron!"

Tidak ada jawaban.

Pintu-pintu rumah tampak tertutup namun tidak terkunci rapat.

Gogo menatap sekeliling dengan wajah pucat.

"Apa yang sebenarnya terjadi dengan desa ini? Penduduknya ke mana? Apakah mereka semua melarikan diri?" Tebak Gogo dalam pikirannya.

Di masa lalu dia telah mendengar bahwa penduduk desa pergi meninggalkan tuannya, ketika pajak di beratkan untuk mereka.

"Seharusnya tidak mungkin," Simon menyipitkan matanya.

Ia melangkah menuju salah satu teras rumah dan menunjuk ke sebuah keranjang berisi gandum serta peralatan tani yang tergeletak begitu saja.

"Jika mereka melarikan diri, seharusnya mereka membawa barang-barang penting atau ternak mereka. Lihatlah, peralatan berharga dan hasil panen ini ditinggalkan begitu saja. Ini bukan pelarian yang direncanakan"

Melihat barang-barang menumpuk seperti itu membuatnya merasa aneh, Seakan-akan ada hal yang menyerang mereka begitu cepat.

"Tuan... maafkan aku karena telat menyambut kalian," sebuah suara tua dan serak terdengar di ujung rumah tersebut.

Simon dan Gogo segera mengalihkan pandanganya ke tempat suara itu berasal.

Seorang pria tua dengan pakaian lusuh dan wajah yang dipenuhi kerutan dalam berjalan tertatih-tatih ke arah mereka.

Simon menatap pria itu dengan tatapan yang menyelidik.

"Pak, di mana seluruh penduduk desa yang lain? Mengapa tempat ini begitu sepi?" tanya Simon.

Simon melihat pria tua itu terdiam sejenak dan berkata.

"Penduduk lain... mereka semua terkena wabah mematikan yang membuat mereka hanya bisa terbaring lemah di ranjang, Tuan," jawab pria tua itu sembari membungkuk hormat.

"Nama saya Carl, saya adalah kepala desa di sini. Tuan-tuan pasti ksatria yang diutus oleh Tuan Baron, bukan?"

"Ya, kami datang atas perintah langsung Baron Brent," sahut Gogo tegas. "Seharusnya kamu tahu alasan kami di sini. Desamu telah menunggak upeti selama dua bulan, dan kami datang untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi" [User Query].

Carl menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan penyesalan yang mendalam.

"Maafkan kami, Tuan. Desa kami telah dilanda wabah misterius ini selama lima bulan terakhir. Kami sangat menyesal tidak bisa mengirimkan upeti tepat waktu kepada Tuan Baron"

"Mengapa kamu tidak memberitahu Baron tentang situasi ini?" tanya Gogo penuh curiga.

"Kami telah mengirim surat berkali-kali, Tuan, tapi sepertinya tidak pernah ada balasan. Hal itu membuat penduduk desa semakin putus asa karena hampir semua orang kini terjangkit wabah aneh ini," Carl menjelaskan dengan nada sedih.

Simon menyilangkan tangan di depan dadanya. "Wabah apakah ini?"

"Saya tidak tahu pasti, Tuan. Wabah ini muncul ketika penduduk desa mengambil air di sumur dan meminumnya. Setelah itu muncul ruam-ruam merah yang aneh di sekujur tubuh mereka, disertai dengan rasa pusing yang hebat dan demam tinggi," Carl bercerita sembari menatap mereka berdua.

"Tapi yakinlah Tuan, kami tidak bermaksud mengkhianati Baron. Kami sebenarnya telah menyimpan gandum upeti itu di gudang desa, hanya saja kami tidak sempat mengirimnya karena alasan wabah ini," lanjut Carl.

"Saya sangat senang Tuan Baron masih peduli. Saya berharap Tuan-tuan ksatria bisa memberitahu beliau tentang masalah di desa kami

Simon dan Gogo saling memandang, dan mengangguk, kemudian Simon beralih ke pria tua itu.

"Baiklah, di mana letak gudang kalian?" tanya Simon dengan wajah datar.

Carl mengantar mereka menuju sebuah bangunan kayu besar yang tertutup rapat. Saat pintu gudang dibuka, Simon dan Gogo melihat tumpukan karung gandum yang melimpah di dalamnya.

"Baiklah, aku mengerti situasinya. Aku akan segera melaporkan ini kepada Baron sesegera mungkin agar beliau bisa mengangkut hasil tanam di desa ini," kata Simon sembari berbalik bersama gogo.

"Terima kasih Tuan Ksatria telah mengerti," ucap Carl dengan suara gemetar, pria tua itu mengiikuti mereka berdua keluar.

"Baiklah, kami akan segera pergi sekarang dan melaporkan kepada Baron. Jaga diri kalian baik-baik. Percayalah, Baron akan membantu kalian," Simon mencoba menenangkan pria tua itu.

"Sebentar, Tuan," Carl menyela dengan cepat.

"Karena kalian sudah datang dari jauh, lebih baik beristirahatlah di sini untuk sehari. Kami akan menyiapkan kamar untuk kalian berdua"

Gogo mengerutkan kening, instingnya merasa ada yang janggal dengan keramahan kepala desa ini.

"Tidak perlu, kami akan pergi sekarang juga," kata Gogo.

Namun, suara Simon justru terdengar tenang di sampingnya. "Baiklah, kami akan menginap sehari di sini. Tubuh kami juga sangat lelah"

"Apa!?, kau!"

Gogo menatap Simon dengan aneh, lalu menarik lengan Simon dan membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat rendah.

"Simon, apa kau gila? Kenapa kita harus tinggal di desa yang penuh kejangalan ini?!"

Simon tidak menoleh, namun bibirnya bergerak sedikit memberikan bisikan balasan yang tajam.

"Tenanglah. Aku juga ingin tahu apa yang ingin mereka lakukan, tunggulah sbentar lagi Disni." Desis Simon dengan tatapan yang sangat dingin.

Carl menyeringai tipis, memperlihatkan beberapa giginya yang berlubang. "Heheh... baguslah kalau begitu, Tuan. Kami akan segera menyiapkan kamar untuk kalian"

Simon memperhatikan punggung Carl yang menjauh dengan mata yang berkilat tajam. Sementara Gogo sepertinya ketakutan di sampingnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!