Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Sarang Ular dan Cemoohan Para Elit
Hotel Imperial adalah simbol keangkuhan Kota Jiangzhou. Malam itu, pelataran parkir hotel berbintang enam tersebut disesaki oleh deretan mobil hypercar dan limusin anti-peluru. Karpet merah membentang dari pintu lobi hingga ke aula perjamuan di lantai dasar, dijaga ketat oleh puluhan petugas keamanan berseragam hitam.
Bagi para tamu undangan yang merupakan taipan, politisi, dan selebritas kelas A, malam ini adalah ajang pamer kekayaan dan relasi. Namun bagi Su Yuhan, karpet merah itu terasa bagaikan jalan setapak menuju tiang eksekusi mati.
Saat pintu taksi sewaan mereka terbuka, Yuhan melangkah keluar dengan tubuh sedikit kaku. Gaun malam hitamnya melekat sempurna, menonjolkan kecantikan alaminya yang dingin dan elegan bak ratu es. Namun, tangannya yang mencengkeram tas kecilnya tampak pucat dan gemetar.
Lin Fan keluar dari sisi lain pintu taksi. Ia mengenakan setelan jas hitam yang usang dan terlihat murah. Potongannya tidak pas di badan, sangat kontras dengan kemewahan yang mengelilingi mereka. Meski begitu, Lin Fan berjalan dengan punggung tegak lurus, langkahnya tenang, dan matanya memancarkan ketajaman seekor elang yang sedang memantau buruannya.
"Lin Fan," bisik Yuhan pelan saat mereka berjalan berdampingan memasuki lobi utama. "Ingat, apa pun yang mereka katakan nanti, tolong jangan melawan. Tahan emosimu. Nyawa kita adalah taruhannya."
"Aku mengerti, Yuhan," jawab Lin Fan dengan senyum tipis. "Malam ini, aku hanya akan menjadi penonton."
Begitu pintu ganda aula perjamuan dibuka untuk mereka, cahaya dari lampu gantung kristal Swarovski raksasa langsung menyilaukan mata. Ratusan elit Jiangzhou sedang berbincang sambil menikmati sampanye mahal. Alunan musik klasik dari kuartet gesek memenuhi udara.
Namun, detik ketika pelayan mengumumkan kedatangan "Presiden Direktur Grup Su", musik seolah berhenti, dan ratusan pasang mata serempak menoleh ke arah pintu masuk.
Tatapan mereka bukanlah tatapan hormat, melainkan tatapan lapar, meremehkan, dan penuh ejekan. Berita tentang dana 500 Miliar Yuan dan pemerasan Keluarga Chen telah menjadi rahasia umum di kalangan atas. Dalam hierarki kejam Jiangzhou, posisi Yuhan malam ini sangatlah jelas:
Bisik-bisik sinis mulai menyebar di seluruh penjuru aula seperti dengungan kawanan lalat:
"Itu dia wanita malang dari Keluarga Su. Berani sekali dia datang membawa suaminya yang cacat mental itu."
"Lihat jas yang dipakai pria itu! Astaga, apakah dia memungutnya dari tempat sampah di belakang hotel?"
"Kudengar Tuan Muda Chen memaksanya datang untuk menyerahkan kontrak Bank Sentral. Wanita bodoh, dia terlalu beruntung mendapat uang sebanyak itu, wajar jika Keluarga Chen mengambil alih."
Setiap bisikan yang tertangkap telinga Yuhan terasa seperti jarum yang menusuk kulitnya. Ia menundukkan wajahnya sedikit, mencoba menahan rasa malu yang membakar dadanya.
Tiba-tiba, seorang wanita muda dengan gaun merah menyala dan perhiasan berlian berlebihan melangkah maju menghalangi jalan mereka. Ia adalah Li Na, pewaris perusahaan kosmetik raksasa yang terkenal sebagai salah satu penjilat setia Keluarga Chen.
"Ya ampun, lihat siapa yang datang merusak pemandangan!" seru Li Na dengan suara melengking yang sengaja dikeraskan agar seluruh aula mendengarnya. Ia memutar-mutar gelas sampanyenya, menatap Yuhan dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Su Yuhan, gaun hitammu sangat pas. Apakah kau sedang berkabung untuk meratapi kematian perusahaanmu malam ini?"
Beberapa tamu di sekitarnya tertawa tertahan.
Yuhan menarik napas panjang, mencoba mempertahankan wibawanya. "Minggirlah, Li Na. Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu."
"Oh, galak sekali! Pantas saja Tuan Muda Chen ingin memberimu 'pelajaran' malam ini," cibir Li Na. Matanya kemudian beralih pada Lin Fan, dan tawanya meledak. "Dan kau benar-benar membawa anjing peliharaanmu! Hei, Lin Fan! Apakah kau tidak tahu aturan tak tertulis di sini? Gelandangan dilarang masuk ke Hotel Imperial. Atau kau datang ke sini untuk melamar menjadi pencuci piring?"
Tawa ejekan meledak di sekitar mereka. Nyonya-nyonya kaya menutup mulut mereka dengan kipas sambil menatap jijik pada Lin Fan, sementara para pria menggelengkan kepala meremehkan.
Yuhan mengepalkan tangannya. "Li Na, jaga mulutmu! Dia adalah suamiku!"
Melihat istrinya dibela mati-matian, Lin Fan melangkah maju setengah langkah, menempatkan tubuhnya di antara Yuhan dan Li Na. Ia tidak terlihat marah. Wajahnya sedingin bongkahan es di kutub utara.
Ia menatap Li Na dengan pandangan kosong yang anehnya membuat wanita bergaun merah itu seketika merinding.
"Di mataku, kau hanyalah seekor burung beo berisik yang memamerkan bulu pinjaman," ucap Lin Fan. Suaranya tidak keras, namun entah bagaimana, baritonnya bergema membelah tawa kerumunan. "Nikmatilah sampanyemu, Nona Li. Karena setelah malam ini, kau bahkan tidak akan mampu membeli air putih di kota ini."
Aula seketika hening. Ratusan elit terbelalak tak percaya. Seorang menantu benalu yang menjadi lelucon satu kota, baru saja mengancam pewaris perusahaan besar di depan umum?
"Kau... beraninya kau, dasar sampah!" Li Na memekik marah, wajahnya merah padam. Ia mengangkat tangannya, bersiap menampar wajah Lin Fan.
Namun, sebelum tangan itu mendarat, sebuah suara berat dan penuh arogansi menggema dari arah tangga utama marmer di ujung aula.
"Hentikan keributan murahan ini."
Kerumunan seketika terbelah seperti Laut Merah. Para elit menundukkan kepala mereka dengan penuh hormat. Dari atas tangga, Chen Fei melangkah turun perlahan bak seorang kaisar lalim. Ia mengenakan setelan jas putih tulang, ditemani selusin pengawal elit bersenjata api yang tak disembunyikan.
Matanya yang licik menatap lurus ke arah Su Yuhan dan Lin Fan bak menatap dua ekor domba yang sudah berada di atas meja jagalnya.
"Selamat datang di perjamuan amal Keluarga Chen, Su Yuhan," ucap Chen Fei sambil menyeringai lebar. "Aku harap kau sudah membawa pena dan kontrak 500 Miliar itu bersamamu."