NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:32.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Sepucuk surat

Tik tok tik tok tik tok!

Jam dinding digital di ruang tengah menunjukkan pukul tujuh malam. Aroma harum tumis kangkung, ayam goreng bumbu lengkuas, dan sambal terasi buatan Aura menyeruak di udara, mencoba mengikis nuansa dingin dan membeku yang menyelimuti rumah besar itu selama berhari-hari.

Aura berdiri beberapa langkah dari sofa ruang tengah. Ia merapikan celemek yang terikat di pinggangnya, dan mencoba mengumpulkan segenap keberanian yang tersisa di dalam hatinnya.

"Mas Fadil... makan malam sudah siap. Sebaiknya makan dulu, nanti bisa masuk angin," ujar Aura, yang berusaha mencairkan ketegangan dan berkomunikasi secara wajar.

Bagaimanapun rumit dan hancurnya situasi ini, nurani Aura menegaskan satu hal: secara sah ia adalah seorang istri.

Kewajiban mendasar untuk melayani kebutuhan makan dan kenyamanan Fadil di rumah tetaplah tanggung jawabnya, meskipun ia tau batas tak kasat mata di antara mereka membuat pelayanan sebagai istri di atas ranjang adalah hal yang mustahil.

Fadil yang sedang duduk memangku laptop di atas sofa dengan jemari yang menari lincah di atas papan ketik, hanya menghentikan gerakannya sejenak.

Pria itu menolehkan kepala ke arah meja makan bertutup saji di kejauhan dengan tatapan datar tanpa ekspresi.

Tanpa sepatah kata pun membalas ucapan Aura, Fadil kembali memalingkan pandangannya ke layar laptop, dan melesakkan perhatiannya pada angka-angka dan grafik pekerjaan seolah Aura hanyalah sesosok bayangan yang tak bersuara.

Melihat respon Fadil, Aura hanya mematung di tempatnya selama beberapa detik. Hatinya tercubit perih, dihantam rasa diabaikan yang kian akrab menyapa harinya.

Melihat tidak ada tanda-tanda Fadil akan beranjak, Aura pun menghela napas. Ia lalu membalikkan badan dan beranjak menuju meja makan.

Sembari menarik kursi kayu berukir itu, sesekali mata Aura melirik ke arah sofa tempat Fadil berada. Ada porsi harapan kecil di dalam hatinya agar pria itu setidaknya menyusul, duduk di ujung meja yang sama, dan menikmati makan malam bersama.

Namun, harapan itu lenyap seiring perut Aura yang mulai berbunyi nyaring. Rasa lapar yang tak lagi bisa diajak kompromi memaksa Aura untuk menyerah.

Dengan sedikit berat hati dan perasaan ganjil, Aura terpaksa menyantap makan malamnya seorang diri. Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya alunan musik yang mengiringi santap malamnya yang hambar.

Usai menghabiskan porsinya, Aura bergegas membereskan piring kotornya dan membawanya ke wastafel dapur. Ia mencuci piring dengan perlahan, mengeringkan tangannya, lalu merapikan kembali hidangan di atas meja makan.

Makanan milik Fadil tetap ia biarkan tersaji rapi di bawah tutup saji, bersiap jika sewaktu-waktu pria itu berniat menyantapnya.

Aura kemudian melangkah menuju tangga untuk naik ke kamarnya di lantai atas, dengan langkah kakinya yang sengaja diperlambat di setiap anak tangga.

Tepat saat tumitnya menapaki anak tangga terakhir di lantai dua, sudut matanya menangkap sebuah pergerakan di lantai bawah.

Fadil perlahan menutup layar laptopnya dengan suara klik yang pelan. Pria itu menyandarkan punggungnya sejenak, memijat pangkal hidungnya yang lelah, lalu berdiri.

Dengan langkah tenang namun pasti, Fadil berjalan menuju meja makan, menarik kursi yang berhadapan dengan posisi duduk Aura tadi, lalu membuka tutup saji dan mulai mengambil piring.

Aura kini berdiri mematung di balik pagar pembatas lantai dua sambil memperhatikan pemandangan itu dari ketinggian dalam remang cahaya lampu.

Pria itu bukannya tidak lapar. Pria itu hanya enggan menyantap makanan tersebut di hadapannya. Fadil sengaja menunggu Aura menyingkir dari pandangannya agar ia tidak perlu berbagi meja atau sekadar bertukar tatap dengannya.

Aura menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan dari bibirnya yang mendingin. Sebuah senyum getir penuh kepasrahan terukir tipis di wajahnya yang lelah.

Tanpa suara, Aura berbalik melangkah menuju kamarnya, menutup pintu rapat-rapat, dan membiarkan malam kembali mengurungnya dalam kepedihan yang sunyi.

**

Keesokan harinya, matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai ruang tengah. Aura terbangun lebih awal, menyelesaikan kewajiban salatnya, dan langsung bergegas menuju dapur.

Mengabaikan sisa ganjalan semalam, ia kembali sibuk memotong sayuran dan menyiapkan sarapan sederhana, nasi goreng telur serta secangkir kopi hitam panas kesukaan Fadil.

Tak lama, langkah kaki teratur dari arah tangga terdengar menandakan Fadil telah siap untuk berangkat kerja. Pria itu tampak sangat rapi dengan setelan kemeja biru tua dan dasi yang terikat sempurna.

Aura yang sedang meletakkan cangkir kopi di meja makan langsung mendongak. "Pagi, Mas. Sarapannya sudah siap. Kopinya juga baru selesai diseduh."

Fadil menghentikan langkahnya tepat di dekat meja makan. Matanya melirik dingin ke arah cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis, lalu beralih menatap wajah Aura.

Tidak ada lagi emosi meledak-ledak seperti hari-hari sebelumnya, yang tersisa hanyalah dinding es yang begitu tebal dan sulit ditembus.

"Tidak usah repot-repot menyiapkan sarapan untukku mulai besok," ujar Fadil. "Aku bisa sarapan di luar atau di kantor."

Aura meremas tepi celemeknya. "Tapi setidaknya diminum dulu kopinya, Mas. Nanti dingin."

Fadil menyambar kunci mobil di meja tanpa menyentuh cangkir itu sedikit pun. "Aku ada rapat penting pagi ini. Dan satu hal lagi..." Fadil menatap mata Aura, "...aku mungkin akan pulang sangat larut malam ini. Kamu tidak perlu menungguku atau menyiapkan makan malam."

Tanpa menunggu balasan dari Aura, Fadil berbalik melangkah keluar. Suara dentum pintu depan yang tertutup menjadi penanda akhir dari interaksi singkat mereka pagi itu.

Aura menarik kursi dan terduduk lemas. Ia menatap cangkir kopi hitam yang masih mengepul di atas meja. Penolakan halus dan sikap dingin seperti ini justru terasa jauh lebih menyiksa daripada amarah.

Fadil tidak lagi membentaknya, melainkan memperlakukannya seperti sesosok 'asing' yang tak kasat mata di rumahnya sendiri.

(Nasib seorang Pengantin Pengganti memang menyedihkan 😓😓)

Siang harinya, kesunyian rumah besar itu mendadak terpecah oleh dering bel pintu utama. Aura yang sedang merapikan rak buku di kamar atas bergegas turun untuk memeriksa.

Saat pintu dibuka, seorang pria berseragam kurir berdiri seraya memegang sebuah kotak kardus berukuran sedang yang terbungkus rapi.

"Dengan Ibu Aura?" tanya kurir itu memastikan.

"Iya, betul. Saya sendiri."

"Ada paket kilat untuk Ibu. Silakan tanda tangan di sebelah sini."

Dengan kening yang berkerut heran, Aura menandatangani bukti penerimaan dan menerima paket tersebut.

Sepengetahuannya, ia tidak sedang memesan barang apa pun. Saat memeriksa ia tidak melihat ada nama pengirim tertera di bagian luar kotak, yang hanya ada label alamat rumah ini dan namanya sebagai penerima.

Aura lantas membawa paket itu ke dalam dan meletakkannya di atas meja dapur. Rasa penasaran mendorongnya untuk meraih pemotong kertas dan membuka solasi penutup kotak.

Saat penutup kardus terbuka, mata Aura langsung membelalak dan membulatkan sempurna. Tangannya yang memegang pemotong kertas mendadak gemetar hebat.

Di dalam kotak itu terbaring beberapa potong pakaian santai, sebuah buku harian bersampul kulit coklat, dan sepucuk surat dalam amplop putih. Aura mengenali dengan sangat jelas barang-barang tersebut, itu adalah milik Keisya.

Dengan jantung yang berdetak cepat dan liar, Aura merogoh kotak itu dan mengambil amplop putih tersebut. Dengan perlahan, jemarinya yang dingin membuka lipatan kertas di dalamnya. Tulisan tangan Keisya yang sangat khas terpampang di sana:

_______________

"Aura, adikku tersayang...

Jika kamu membaca surat ini, berarti paket ini sudah sampai dengan selamat di tanganmu tanpa diketahui siapa pun. Maafkan Kakak, Ra. Maafkan Kakak yang sudah menjadi penjahat terburuk dalam hidupmu.

Kakak tau saat ini kamu pasti membenci Kakak. Kamu dan Fadil harus menanggung akibat dari kehancuran yang Kakak tinggalkan. Tapi percaya sama Kakak, Ra... Kakak tidak punya pilihan lain hari itu. Kakak terlalu takut dan hancur.

Tolong jangan cari Kakak. Kakak ingin menenangkan diri dan merawat janin ini di tempat yang jauh. Tolong jaga Mama dan Papa untuk Kakak. Dan untuk Fadil... sampaikan permohonan maaf Kakak yang teramat besar padanya. Kakak tidak pantas untuk pria sebaik dia.

Pegang buku harian ini, Ra. Di sana ada semua jawaban tentang apa yang terjadi pada Kakak malam itu. Kakak memercayakannya padamu.

Salam sayang,

Keisya."

___________________

Aura meremas surat itu di dadanya. Air matanya menetes dan jatuh menimpa lembaran kertas tersebut. Keisya benar-benar telah pergi jauh dan memilih menyembunyikan kehamilannya seorang diri.

Perlahan, jemari Aura terulur meraih buku harian bersampul coklat di dalam kotak. Buku yang menyimpan kebenaran kelam tentang malam naas yang merenggut kesucian kakaknya.

Aura mengepalkan tangannya. Ia lalu memeluk buku harian itu erat-erat, menyadari bahwa kini ia memegang kunci rahasia yang sanggup mengubah seluruh arah ketegangan di dalam rumah ini.

"Apa yang harus aku lakukan?."

Bersambung...

1
sunaryati jarum
Makin harmonis,semoga damai selalu kedepannya, Kesya juga dapat jodoh yang mau menerima keadaannya
sunaryati jarum
Semoga apa yang menjadi keyakinan Aura tentang Farhan,benar
sunaryati jarum
Alhamdulillah Farhan sudah move on dari Aura, semoga menjadi keluarga yang harmonis
sunaryati jarum
Ana- ana wae ngidamnya Aura
Aurora: xixixi... untung suaminya Siaga dan sayang benget 🤗😃
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
🤣🤣kelamaan pakai jubah, bisa² jadi Fadil panggang😅😅
Aurora: Wkwkkw... bisa jadi bisa jadi😅🤣🤣
total 3 replies
sunaryati jarum
🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Selamat untuk kalian kabar ini yang emak tunggu, semoga sehat kamu Nak Aura dan janinmu
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya... buah cinta yang ditunggu telah hadir membawa kebahagiaan mereka berdua dan seluruh keluarga besar😊
𝐀⃝🥀Weny
selamat untuk kalian.. jaga kandunganmu ya Aura 😊
Aurora: ok sip, dengan setiap dukunganmu aku selalu bersemangat 😅😅😃🤗
total 7 replies
𝐀⃝🥀Weny
itulah buah dari kesabaran dan keikhlasan😊sekarang memetik kebahagiaan 😊
Aurora: yes ituuu.
total 3 replies
sunaryati jarum
Semoga bulan madunya menyenangkan ,dan request emak dikabulkan
sunaryati jarum
Semoga segera ada kabar baik untuk Aura,ada benih Nak Fadil yang sedang tumbuh di rahimnya
𝐀⃝🥀Weny
thor kenapa mengiris bombai di depanku sih🥹😭😭😭
sunaryati jarum: Bukan sedih tapi terhura
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
thor up lagi sangu turu😅😅😅
sunaryati jarum
Tindakan kamu sudah benar demi hati Aura,dan kesembuhan ingatan Kesys
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya... semoga Keisya menerima kenyataan bahwa Fadil memang bukan tunangannya lagi 😊
Aurora: bisa jadi bisa jadi 😃
total 7 replies
falea sezi
heleh prettt trauma🤣
falea sezi
bukan polos tp goblokkk si aura🤣🤣 g usa debat emank. goblok ngapain ngurusin anak kakk nya wong kakk mu aja bangke
sunaryati jarum
Waduh ,ingatan Kesya cuma Fadil dan mau menikah sebulan lagi.Padahal sudah hampir satu tahun.Untung Fadil sudah teguh dan membentengi diri tidak ada cinta lagi pada Kesya
𝐀⃝🥀Weny
wah waaaah... bahayaaaa, untung aja Fadil sudah punya prinsip🤭
Aurora: wkwkwk... boleh deh😅😅🤣
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!