NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Senyum Sang Ketua

Malam telah menancapkan kekuasaannya dengan sempurna di atas langit Jakarta. Pendar lampu kota membiaskan pendar keemasan saat mobil sport mewah milik Varro memasuki pelataran luas kediaman keluarga Wijaya. Suasana mansion megah berarsitektur modern itu terasa hening, berkebalikan dengan gemuruh hangat yang masih memenuhi dada sang pemilik rumah.

Varro melangkah masuk menyeberangi lantai marmer yang dingin. Jas cokelat pastel yang ia kenakan seharian kini tersangkut santai di lipatan lengan kirinya, sementara dua kancing teratas kemejanya sudah dilonggarkan. Wajah tampannya yang biasa memancarkan keangkuhan dingin kini tampak melemas, dihiasi seulas senyum tipis yang tak kunjung pudar dari bibirnya.

Tanpa memedulikan sekeliling, Varro menjatuhkan tubuh jangkungnya ke atas sofa kulit hitam di ruang tamu utama. Ia menyandarkan kepalanya ke belakang, memejamkan kedua matanya, dan membiarkan benaknya memutar kembali deretan kenangan hari ini.

Bayangan tawa polos Gisella saat memakan es krim, raut kebingungannya di restoran mewah, kilau berlian di leher cantiknya, serta hangatnya penerimaan dari Ibuku, semua itu meracuni pikirannya dengan rasa bahagia yang asing.

Namun, Varro tidak menyadari bahwa ia tidak sendirian di ruangan itu.

Dua sosok pria yang sejak tadi duduk di sudut sofa lain sedang mengamatinya dengan dahi berkerut. Marcel dan Brandon saling melempar pandangan penuh rasa heran melihat tingkah ketua mereka yang bertindak seperti orang kesurupan.

"Lo kenapa senyam-senyum sendiri kayak orang gila begitu?" cetus Marcel memecah hening. Pria berkarisma itu melangkah mendekat lalu menepuk bahu Varro cukup keras. "Cerita dong sama kita-kita! Ada angin apa seorang Varro Aldrian Wijaya bisa senyum manis sendirian di tengah malam?"

Varro menghembuskan napas pelan tanpa membuka matanya, lalu mengibaskan tangan kanan untuk menyingkirkan cengkeraman Marcel dari bahunya. “Ah, nanti aja. Gue lagi capek.”

Marcel menaikkan sebelah alisnya, menyunggingkan senyum godaan yang penuh intrik. “Eits, kok bisa capek? Jangan-jangan si Gisel lagi dikejar cowok lain, makanya lo berasa ngos-ngosan dan capek ngejar dia?”

Pertanyaan itu sukses membuat Varro membuka kedua matanya. Pria berpostur 183 sentimeter itu menegakkan posisi duduknya, menatap Marcel dengan senyuman miring yang sarat akan rasa percaya diri mutlak.

“Gue gak pernah bilang kalau gue capek ngejar dia,” sahut Varro santai, merapikan kerah kemejanya. “Lagipula, kalaupun ada cowok lain yang berani ngejar Gisel... gue yakin seribu persen cowok itu gak bakal ada apa-apanya dibanding gue.”

Dari sudut sofa, Brandon yang sedang memegang buku tebalnya menghentikan bacaannya sejenak. Ia menggeleng-gelengkan kepala prihatin. "Dasar narsis tingkat dewa."

Marcel tergelak keras mendengarnya. "Sok banget lo, Al! Terus dari tadi siang lo ngapain aja seharian sama Gisel sampai pulang jam segini?"

Varro menyandarkan punggungnya kembali, menghela napas panjang dengan raut wajah puas yang sengaja dipamerkan. “Pokoknya... gue pergi berduaan sama dia seharian penuh. Bebas dari gangguan siapa pun.”

Brandon menutup bukunya seraya menoleh penuh ke arah Varro. "Cerita tuh yang jelas dong, Al. Jangan setengah-setengah kalau ngomong."

Varro melirik kedua sahabatnya bergantian, senyum tipisnya berubah menjadi kekeh sinis. “Lo berdua tuh kepo banget ya jadi manusia? Rasa ingin tahu kalian melampaui batas.”

Brandon membetulkan posisi kacamatanya, mengelak santai. "Gua gak merasa kepo ya, Al. Gue cuma memastikan ketua geng gue gak ditipu cewek."

"Ya harus kepo dong!" potong Marcel cepat, menepuk dada bidangnya. "Kita berdua ini kan sohib karib lo, kawan sejiwa lo! Kita harus tahu hubungan lo sama Gisel udah sampai tahap mana. Udah ada kemajuan signifikan belum?"

Varro terdiam sejenak. Ia memandangi plafon tinggi ruang tamunya, lalu melontarkan sebuah kalimat singkat dengan nada amat datar, namun efeknya bagai ledakan bom bagi dua sahabatnya.

“Gue udah ketemu sama Mamanya tadi.”

DEG!

Marcel yang sedang bersedekap dada hampir tersedak ludah sendiri, sementara Brandon refleks memajukan tubuhnya, menatap mata Varro dengan binar tak percaya.

“Hah?! Serius lo?!” seru Brandon, suaranya naik satu oktav. “Terus? Respon Mamanya gimana pas lihat lo?”

Varro menyunggingkan senyum kemenangan paling lebar yang pernah ia miliki. Pria itu menyisir rambut atasnya ke belakang dengan jemari kekarnya. “Ya... Mamanya jelas menerima gue dengan tangan terbuka lah. Gue kan cakep, kaya, sopan, dan baik hati. Gak mungkin ada cewek atau ibu dari cewek mana pun yang bisa gak suka sama sosok sempurna kayak gue.”

Brandon memutar bola matanya malas, melempar pandangan jijik pada ketuanya. ”Cih... pamer terus. Kesombongan lo gak ada obatnya, Al.”

Marcel memajukan tubuhnya rapat ke arah Varro, menyenggol lengan pria itu. "Terus kalau Mamanya udah setuju, emang Gisel-nya sendiri udah suka sama lo?"

Senyum lebar di wajah Varro seketika luntur. Pria itu menghembuskan napas panjang, menatap karpet dengan raut jujur yang langka. “Belum,” jawab Varro pelan.

Marcel tertawa mengejek. “Lah! Kata lo tadi gak mungkin ada cewek yang bisa gak suka sama-"

“Gue bakal bikin Gisel suka sama gue,” potong Varro cepat dengan nada suara yang mendadak berubah sangat dalam dan penuh ketegasan mutlak. Tak ada keraguan sedikit pun di matanya.

Marcel menyeringai penasaran, memajukan telinganya mendekati bibir Varro. ”Gimana caranya, Bro? Kasih tahu bocorannya dong!”

Seketika, atmosfer hangat di ruangan itu menguap. Varro memiringkan kepalanya sedikit. Matanya yang cokelat gelap menyipit tajam, memancarkan aura dominasi Starlit yang begitu membekukan, tatapan dingin seorang bos besar yang siap menghabisi siapa saja yang mengusik wilayah kekuasaannya.

“Buat apa gue kasih tahu lo caranya?” tumpas Varro dengan suara bariton yang menusuk. “Lo mau coba-coba ambil dia dari gue, hah?”

Melihat kilat bahaya di mata Varro, Marcel seketika membeku. Tubuhnya refleks mundur beberapa sentimeter.

Brandon yang paham betul bahwa Varro tidak pernah bercandain hal yang menyangkut kepemilikan, langsung merangsek maju dan menutup rapat mulut Marcel dengan telapak tangannya.

“Engga kok, Al! Tahan emosi lo,” sahut Brandon cepat seraya memegangi bahu Marcel. “Dia cuma bercanda doang tadi. Iya kan, Cel?”

Marcel mengangguk-angguk cepat dengan mata membelalak di balik bekapan tangan Brandon, mengumbar senyum canggung untuk mencairkan suasana. “Iya, gue bercanda doang, Al! Jangan terlalu serius gitu dong matanya, ngeri gue.”

Brandon melayangkan senyum lembutnya untuk meredakan gejolak di dada ketuanya. Varro menatap mereka berdua selama beberapa detik, sebelum akhirnya mendesah jengkel dan membuang pandangannya ke depan.

“Lo berdua bener-bener gak jelas,” gumam Varro merapikan kemejanya kembali.

Brandon menepuk-nepuk punggung sofa, mencoba mengarahkan kembali obrolan ke jalur aman. ”Yaudah... emangnya tadi lo sama Gisel ngapain aja seharian penuh?”

Rasa kesal Varro perlahan mencair berganti dengan binar antusiasme. Pria itu akhirnya melunakkan sikapnya dan mulai membeberkan seluruh rentetan kejadian hari ini. Dari bagaimana ia ketakutan di dalam rumah hantu, insiden tidak sengaja berciuman di atas arena ice skating, memborong tas Gucci dan baju-baju mahal untuk keluarga Gisel, membelikan kalung berlian, hingga obrolan empat mata yang sangat dalam bersama Ibuku di ruang tamu rumah sederhana itu.

Brandon mendengarkan setiap detail cerita itu dengan saksama. Begitu Varro selesai bercerita, Brandon menyunggingkan senyum tipis dan mengangkat kedua ibu jarinya tinggi-tinggi ke udara.

“Widih... jago juga lo,” puji Brandon tulus. “Bisa menaklukkan dan merebut hati calon mertua dalam sekali jalan. Respect, Al.”

Marcel yang duduk di sebelahnya menatap Varro dengan raut wajah tak percaya dan sedikit merajuk. "Bisa-bisanya lo ceritain detail semuanya begitu aja sama Brandon?! Kenapa kalau sama gue lo ngomongnya selalu setengah-setengah dan pakai diancam segala?"

Varro melirik Marcel seraya tersenyum meremehkan. "Soalnya lo itu tipikal orang yang terlalu kepo dan mulutnya ember. Beda sama Brandon. Brandon itu meskipun gak tahu dan gak peduli, gue yakin semua cerita rahasia gue bakal disimpan rapat-rapat di otaknya sampai sepuluh tahun ke depan."

Brandon terkekeh pelan menyetujui ucapan Varro.

Marcel menghembuskan napas pasrah, menyandarkan tubuhnya ke sofa seraya mengurut dadanya. “Pantesan aja dari tadi pas masuk pintu lo senyam-senyum gak jelas kayak orang gila. Ternyata statusnya udah naik jadi calon menantu idaman.”

Varro bangkit dari sofa kulitnya, merapikan jas di tangannya. “Udah puas kan lo berdua korek-korek rahasia gue? Sekarang... pulang sana!” seru Varro seraya menoyor pelan kepala kedua sahabatnya bergantian.

“Tolong ya, Al. Kepala gue ini berharga dan mahal,” protes Brandon lirih seraya mengelus kepalanya yang ditoyor.

Marcel melotot tak terima. “Lo ngusir gue sama Brandon dari mansion lo sendiri? Tega banget lo!”

“Terserah lo mau bilang apa. Pokoknya jangan ada yang ganggu gue malam ini,” jawab Varro tak peduli. Pria itu membalikkan badan dan melangkah lebar meninggalkan ruang tamu, berjalan menuju lift pribadi yang berada di sudut hall untuk naik ke lantai dua.

Marcel menatap punggung ketuanya yang menghilang di dalam pintu lift dengan rasa penasaran yang masih membumbung tinggi. “Dia mau ngapain tuh sampai ketat banget gak mau diganggu malam-malam begini?”

Brandon menyandarkan kepalanya, membuka kembali buku horornya. “Mau pacaran lewat telepon kali.”

“Tadi kan dia udah seharian pacaran sama Gisel di luar,” sahut Marcel bingung.

“Ya lo cari tahu aja sendiri sana ke kamarnya kalau berani,” balas Brandon bodo amat, kembali membenamkan fokusnya pada barisan tulisan di bukunya.

Marcel mengacak rambutnya frustrasi, menggerutu jengkel pada heningnya ruangan. “Dasar Varro! Mentang-mentang udah dapat restu dan lampu hijau dari Mamanya Gisel, langsung lupa sama sahabat sendiri!”

Brandon tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. "Biarin aja Varro melakukan apa yang dia mau sekarang, Cel. Ini pertama kalinya gue lihat mata dia sehidup itu setelah bertahun-tahun."

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!