Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.
"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Malam pertama, malah pisah ranjang.
Biasanya dia tidak akan segan-segan mendekati wanita cantik. Kenapa kali ini hanya sekilas saja?" bisik seseorang di antara tamu.
"Mungkin saja dia gengsi di depan umum. Tapi kalau sudah berdua saja... siapa yang bisa menjamin," sahut yang lain terkekeh.
"Benar juga. Pura-pura dingin saja dia itu," gumam yang lain lagi.
Percakapan itu terputus saat Aiden menyisipkan pembicaraannya.
"Katanya, dia bilang Nayla itu tidak menarik. Dia bahkan tak sudi mencium gadis itu," bisik Aiden seakan sedang berbagi rahasia besar pada Marcus dan Yera.
"Benarkah dia berkata begitu?" tanya Yera tak percaya.
"Iya. Dan dia juga bilang tak rela menikah dengan Nayla Atmaja," tambah Aiden sok tau.
"Itu karena teman mu buta matanya mas. Lihatlah dia hari ini. Nyatanya istrinya cantik luar biasa. Dasar tak punya selera!" sahut Yera kesal.
Aiden tersenyum setuju. Benar juga, Ethan sepertinya buta akan keindahan. Hari ini dia justru merasa iri karena sahabatnya menikah lebih dulu, dan istrinya sungguh jelita tak terkira.
Nayla tampak begitu mempesona dalam gaun pengantin putih gading yang elegan dan tertutup anggun. Rambut cokelat ikalnya terurai indah, dihiasi rangkaian bunga segar yang menambah keanggunannya. Riasan wajahnya tampak alami namun memancarkan kecantikan yang memikat siapa pun yang memandang.
"Kalau dia bosan, aku siap mengambil alih lho... Dia sungguh cantik sekali," bisik Aiden setengah bercanda.
"Jangan mimpi! Cari saja sendiri wanitamu. Jangan berani-berani melirik milik orang lain!" sahut Marcus sebal.
"Ya terserah aku saja. Kalau dia sendiri tak menghargai, kenapa kau yang sibuk membela?" Tukas Aiden pada Marcus yang sudah melotot galak membela kakak sepupunya.
Percakapan mereka berdua makin tak jelas arahnya, membuat Yera memilih menjauh dan menghampiri sepasang pengantin baru itu untuk mengucapkan selamat.
"Jagalah istrimu dengan baik. Ingat, wanita itu untuk dilindungi dan dihargai, bukan untuk disakiti," pesan Pak Victor dengan tatapan bijak.
***
Setelah seharian mengikuti rangkaian upacara pernikahan yang melelahkan, malam ini Nayla Atmaja akhirnya bisa duduk di tepi ranjang luas di Kamar Presiden Suite hotel mewah milik keluarga Ethan. Ruangan yang telah disiapkan khusus untuk mereka berdua sebagai tempat tinggal pertama setelah resmi bersanding.
Nayla melepas sepatu hak tingginya, lalu memijat pelan kakinya yang bengkak dan terasa nyeri luar biasa akibat sepatu itu yang tak nyaman dipakai seharian. Dengan kesal, ia melempar sepatu itu ke lantai, lalu melepaskan ikatan hiasan rambutnya hingga rambut panjangnya terurai bebas jatuh di bahu.
Klik...
"Aduh, jangan dibuat berantakan kamarnya! Dasar tidak tahu aturan!" Nayla menoleh kaget. Siapa lagi kalau bukan Ethan Spencer Eko Argantara yang baru saja datang dan bersuara ketus begitu.
"Cih... aku hanya ingin berganti pakaian saja. Hanya saja koperku belum juga diantar ke sini," jawab Nayla sewot.
Nayla berdiri dan berjalan mengelilingi kamar yang begitu luas dan mewah itu. Terdapat balkon yang tak kalah megahnya menghadap ke luar. Kamar bernuansa klasik bergaya Eropa ini memang baru pertama kali ditempati Nayla. Dia tak henti-henti mengagumi setiap sudut ruangan, bahkan berputar-putar kagum melihat kamar mandinya yang tampak seperti kolam berendam pribadi dengan bak mandi berukuran besar.
"Wah... ini kamar mandi atau kolam renang? Luar biasa indahnya!" seru Nayla takjub.
Ethan hanya mendecih meremehkan sambil berdiri di belakangnya, memperhatikan gadis itu yang mencelupkan kedua kakinya ke dalam air hangat yang mengisi bak mandi itu.
"Dasar kampungan. Biasanya kau mandi di sungai ya? Pantas saja tampak begitu terpesona," ujar Ethan sinis.
"Selalu saja mulutmu tajam dan pedas seperti cabai, Tuan Ethan!" balas Nayla tak kalah ketus.
Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu. Seorang petugas hotel masuk mengantarkan koper berisi pakaian ganti milik Nayla.
"Terima kasih ya," ucap Nayla ramah.
"Sama-sama, Nyonya Argantara. Selamat beristirahat," jawab petugas itu sopan sebelum pergi.
Nayla belum terbiasa dipanggil dengan sebutan yang terdengar begitu asing itu. Sementara Ethan sudah sibuk melepas jas hitamnya, diikuti dasi dan kemeja putih yang dikenakannya.
"Hei, ganti pakaianmu di kamar mandi! Jangan di sini!" bentak Ethan.
"Ish merepotkan sekali. Bukankah ini kamarku juga? Kalau tidak suka pindah kamar saja sana! Dasar pria aneh!" balas Nayla kesal.
Ethan berjalan menuju lemari pakaian, mengambil kaos hitam untuk ganti. Mendengar itu, Nayla seketika berbalik memunggungi pria itu dengan wajah memerah padam, baru sehari menikah saja sudah begini perasaannya.
**
Pagi hari menjelang, beberapa menit belakangan, ponsel di meja nakas berbunyi nyaring berkali-kali, namun kedua penghuni kamar itu seakan tak mendengar dan tetap melanjutkan tidur nyenyaknya.
"Suara apa sih berisik sekali..." tangan Ethan meraba-raba meja nakas dengan mata terpejam, lalu melirik layar ponsel yang terus berdering itu dengan wajah kesal.
"Ish... menyebalkan..." Dengan kasar kakinya menendang pelan punggung seseorang yang tidur beralaskan selimut di lantai bawah ranjang. Semakin kesal karena pemilik ponsel itu hanya bergumam tak jelas dan tak beranjak mematikannya.
"Hei Nayla! Matikan alarm ponselmu! Berisik sekali!"
"Aduh... apa sih? Punggungku sakit tahu!" Nayla menguap lebar, lalu duduk terpaksa meraih ponselnya dan mematikan alarm. Ia menatap jendela yang tertutup tirai, cahaya pagi sudah terang menyelinap masuk. "Bangunlah, Ethan. Sudah pagi ternyata."
Ethan sama sekali tak menanggapi, dia justru menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya kembali.
"Dasar pemalas," gumam Nayla kesal.
Nayla berjalan menuju kamar mandi membawa pakaian ganti dari kopernya. Lebih baik dia berendam air hangat di bak mandi besar itu untuk menyegarkan tubuhnya pagi ini.
Ponsel Ethan kembali berdering tak lama kemudian.
"Aduh... siapa lagi pagi-pagi begini? Halo..."
"Ethan, sudah jam delapan pagi. Kamu masih tidur saja?"
"Ah... Iya, Mom... maaf, saya sudah bangun kok," jawab Ethan tergagap kaget. Matanya melotot menatap jam dinding dan langsung bangun dengan wajah cemas.
"Ya ampun, pengantin baru malas-malasan pasti semalaman bertempur terus ya? Cepat bersiaplah, Ayah dan Ibu sudah menunggu di restoran untuk sarapan bersama hehe."
"Baik, Mom, aku segera mandi."
"Kami menunggu kalian di Restoran Garden. Jangan terlambat, ingat penerbanganmu dan Nayla tiga jam lagi."
"Siap, Mom, aku paham kok."
Klik...
"Menyebalkan sekali... baru kemarin menikah, hari ini sudah harus berangkat ke Hawai. Dan sialnya harus bersama Nayla yang selalu membuatku emosi meledak," gerutu Ethan dalam hati.
"Di mana gadis itu? Lantai pun berantakan seperti ini?" Ethan merapikan selimut yang tadi dipakai Nayla tidur di lantai semalam. Dia mengerutkan kening melihat kasur lantai yang terpasang rapi di sudut ruangan.
Tok... tok... tok...
"Hei! Cepat mandinya! Aku juga mau mandi! Apa kamu tidur di dalam sana sampai lama sekali?" teriak Ethan tak sabar mengetuk pintu.
Klik...
"Aku dengar! Tidak perlu berteriak-teriak pagi-pagi sekali, Tuan Songong!" sahut Nayla dari balik pintu.
"Apa katamu?!"
"Cepatlah mandi sana! Wajahmu itu kalau bangun pagi terlihat galak seperti kerbau di lumpur!" Wajah Ethan seketika memerah padam menahan amarah. Ingin sekali dia mencubit hidung gadis yang mulutnya begitu tajam dan menyebalkan itu.