NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Club

Malam itu klub malam dipenuhi dentuman musik disco yang memekakkan telinga. Lampu-lampu neon berputar liar memenuhi ruangan, memantul di gelas-gelas alkohol mahal dan wajah orang-orang yang datang untuk melupakan masalah hidup mereka, entah dengan mabuk, berjoget, atau bermain-main dengan seseorang untuk semalaman.

Di salah satu sofa pojok VIP, seorang wanita tampak hampir tumbang.

Evelyn Noire, 24 tahun, pegawai kantoran yang biasanya hidup damai bersama deadline dan kopi instan, kini setengah rebahan sambil memeluk botol minuman seperti memeluk masa depannya yang gagal.

Pipinya merah. Rambut hitamnya berantakan. Tatapannya kosong penuh luka batin. “Laki-laki... cuma mitos...” gumamnya ngawur.

Sudah ada beberapa pria yang sejak tadi melirik ke arahnya. Cantik, sendirian, mabuk berat—kombinasi yang cukup membuat para pria hidung belang percaya diri mendekat.

“Cantik, sendirian aja?”

“Temennya mana nih?”

“Kayaknya udah nggak sadar deh—” ucapnya pada temannya yang lain.

Belum sempat salah satu dari mereka duduk di sebelah Evelyn—“WOI. MINGGIR.”

Seorang gadis muncul bak petir di siang bolong.

Raya.

Sahabat Evelyn sejak zaman kuliah sekaligus satu-satunya manusia yang masih cukup waras untuk mengurus makhluk menyedihkan ini.

Dengan hoodie hitam, wajah jutek permanen, dan aura seperti debt collector yang siap menyita motor orang. Tatapan tajamnya langsung membuat para pria itu mundur perlahan.

“Kalau mau cari mangsa jangan temen gue, muka lo semua kayak penjahat episode filler tau nggak?!”

Para pria itu langsung kabur tanpa debat.

Raya memijat pelipis melihat kondisi Evelyn. “Ya Tuhan... gue tinggal meeting online dua jam doang, lo udah jadi dekorasi klub.”

Evelyn mendongak pelan dengan mata setengah terbuka.

“Rayyy.... Jangan ‘Rayyy’ gue.”

Alih-alih membantunya berdiri baik-baik, Raya malah menarik rambut Evelyn pelan tapi penuh ancaman.

“BANGUN.”

“AAK— SAKIT WOI!”

“Masih bisa teriak berarti belum mati,” ucapnya tak perasaan.

Dengan tanpa belas kasihan, Raya menyeret Evelyn keluar klub sementara Evelyn meronta seperti korban penculikan.

“Persahabatan kita berakhir malam ini, Raya...”

“Persahabatan kita berakhir waktu lo muntah di helm gue tahun lalu.” jawab Raya sarkas.

Sesampainya di luar, udara malam yang dingin langsung menghantam wajah mereka.

Raya melepas pegangannya kasar lalu berkacak pinggang.

“Pantesan lo dua jam nggak bales chat! Ternyata mabok di sini?!”

Evelyn diam sambil mengerucutkan bibir seperti anak TK habis dimarahin. Lalu tiba-tiba matanya berkaca-kaca.

“Leo ninggalin gue, Ray...” ucap Evelyn pelan, namun setelah itu tangisnya pecah begitu saja.

Raya yang tadinya masih emosi langsung berubah panik.

“Heh, eh— jangan nangis gitu dong anjir.”

“Dia ninggalin gueee...” Evelyn meraung dramatis sambil mengguncang bahu Raya.

“TIGA TAHUN KITA BERSAMA!” teriak Evelyn histeris.

Orang-orang yang lewat mulai menoleh penasaran. Raya buru-buru menutup mulut Evelyn.

“IYA IYA, COWOK LO BRENGSEK—” ucapnya sambil melirik sekitar, malu.

“BUKAN COWOK GOBLOK!” Tangisan Evelyn makin keras.

“LEO KUCING GUEEE!” ucap Evelyn masih menangis.

Raya terdiam. “...hah?”

“DIA BELUM PULANG DARI PAGI...” Tangisan Evelyn naik satu oktaf.

“Pasti dia udah punya babu baru... pasti dia nemu manusia lain yang lebih kaya...!”

Raya mematung beberapa detik sebelum menghela napas panjang penuh penderitaan.

“...jadi lo mabok gara-gara kucing?”

“Itu bukan kucing biasa...” Evelyn terisak sedih. “Dia anak gue...”

“Lo belum nikah, Evelyn.” ucap Raya menatap horor gadis itu.

“Gue single mother...” jawabnya asal.

Raya hampir ingin meninggalkan sahabatnya di trotoar saat itu juga. Namun sebelum ia sempat bicara—

SRET.

Evelyn mengusap ingus ke lengan hoodie Raya.

Hening.

Raya perlahan menunduk melihat noda basah mengilap di bajunya. Urat di dahinya berkedut.

“...Evelyn Noire.”

“Hehe...” Evelyn cengengesan tak merasa bersalah sedikit pun.

“Gue sumpah pengen nyemplungin lo ke got.” Raya mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menarik sedikit lengan baju panjang Evelyn.

“Udah. Pulang.”

“Aku tidak punya rumah lagi...” gumam Evelyn dramatis sambil terseret pelan di trotoar.

“Lo tinggal di apartemen dua lantai, goblok.”

“Tapi hatiku tunawisma...”

“Gue lempar juga nih orang.”

Evelyn masih mengomel tidak jelas sepanjang jalan menuju parkiran, sementara Raya menyeretnya dengan ekspresi lelah seperti ibu tunggal yang mengurus anak nakal.

Sesampainya di mobil, Raya langsung membuka pintu belakang.

“Masuk.”

 

Evelyn menatap kursi mobil itu lama. “...gue diculik ya?”

“Masuk sebelum gue beneran culik.” Dengan satu dorongan tanpa belas kasih,

BRUK.

Evelyn jatuh ke bangku belakang dengan pose mengenaskan. “YA AMPUN TULANG EKORKU—” protesnya.

“Syukur masih ada.”

Kemudian Raya membanting pintu mobil lalu masuk ke kursi kemudi. Sepanjang perjalanan menuju apartemen Evelyn, suasana di mobil dipenuhi ocehan mabuk yang makin lama makin tidak masuk akal.

“Ray...”

“Hm?”

“Kalo gue ilang... jangan jual koleksi photocardku...” ucap Evelyn sedikit ngelantur.

“Yang gue jual pertama justru itu.”

“Aku tahu dunia kejam...”

Raya memutar mata malas mendengar jawaban itu. Lima belas menit kemudian, mereka akhirnya sampai di apartemen Evelyn.

Raya turun lebih dulu lalu membuka pintu belakang mobil. Evelyn masih meringkuk sambil memeluk seatbelt.

“Ayo turun.”

“Aku menyatu dengan mobil ini.”

“Turun sebelum gue tarik rambut lo lagi.”

Ancaman itu sukses membuat Evelyn langsung berdiri tegak. Dengan langkah sempoyongan, Evelyn berjalan sambil berpegangan pada pundak Raya. Lebih tepatnya... membebani seluruh berat tubuhnya pada sahabatnya itu.

“Ish! Lo berat juga ternyata...”

“Itu beban hidup...”

“Beban hidup lo isinya diskonan online semua.”

-------

Mereka akhirnya sampai di depan kamar apartemen Evelyn. Setelah beberapa kali gagal memasukkan password karena Evelyn terus salah pencet sambil ketawa sendiri, pintu akhirnya terbuka. Begitu masuk, Raya langsung menyeret Evelyn menuju kamar.

BRUK.

Tubuh Evelyn dilempar ke atas kasur tanpa perasaan.

“Ugh...”

Raya berdiri sambil berkacak pinggang, menatap Evelyn yang sudah setengah tidak sadar. “Lain kali jangan nyusahin lagi lah, anying...” omelnya lelah. “Gue kira lo kenapa, ternyata mabok gara-gara kucing ilang.”

Evelyn hanya mengangkat jempol lemah dari atas kasur.

“Leo... pasti pulang...”

“Iya iya.” Raya mengambil selimut lalu melemparkannya asal ke tubuh Evelyn.

“Tidur sana.” Walaupun mulutnya galak, ia masih memastikan botol air berada di dekat kasur dan AC kamar tidak terlalu dingin.

Sebelum keluar, Raya mematikan sebagian lampu kamar.

“Gue pulang. Jangan mati malam ini.”

“Tidak janii...” gumam...

Evelyn pelan.

"Bacot."

Ceklek.

Pintu tertutup dan suasana kamar langsung hening. Evelyn menggeliat pelan di atas kasur sambil memeluk bantal.

Kepalanya masih berat karena alkohol, tapi matanya tidak bisa benar-benar terpejam.

Lampu kamar masih menyala. Ia mendecakkan lidah kesal. "Ah... pantes aja..."

Evelyn memang punya kebiasaan aneh-ia tidak bisa tidur kalau lampu belum dimatikan total.

Namun karena terlalu malas

Bangun, gadis itu hanya meraba-raba meja samping kasur hingga tangannya menyentuh sebuah novel tebal.

Novel thriller psikologis yang beberapa hari lalu ia beli karena viral di internet.

Dengan mata setengah

tertutup, Evelyn asal mengambil novel itu lalu menutup wajahnya menggunakan buku tersebut.

"Gelap... sip..."

Dan beberapa menit kemudian... ia benar-benar tertidur.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!