6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 - JEJAK KAKI MENUJU SUMUR
Malam itu desa mati itu tidak tidur.
Setelah pintu balai desa yang terbuka sendiri di BAB 5, udara jadi lebih berat. Lampu petromaks yang tadi masih menyala satu per satu padam, padahal tidak ada angin. Maya memeluk lututnya di pojok balai, matanya tidak lepas dari tulisan di dinding yang baru muncul: SATU SUDAH KUBAWA.
Riko mencoba terlihat tenang. "Oke, semua jangan panik. Mungkin warga iseng."
"Tidak ada warga, Riko," bisik Sinta lirih. "Dari tadi kita lihat sendiri, kaki mereka tidak menapak tanah. Mereka bukan manusia."
Bima yang dari tadi diam di depan pintu tiba-tiba berdiri. "Aku dengar suara air. Kayak orang timba sumur."
Semua diam. Dan benar saja. Dari arah belakang balai, di kegelapan kebun pisang, terdengar suara katrol sumur yang berdecit pelan. Krek... krek... krek... Berirama, seperti ada yang sedang menimba air di jam 1 malam.
Pak Kades yang sore tadi menyambut mereka sudah tidak ada. Kursinya kosong. Tapi di lantai balai, ada jejak kaki basah. Jejak itu bukan masuk ke balai, tapi keluar. Dari tengah balai menuju pintu belakang yang mengarah ke kebun pisang. Jejak kaki itu kecil, seperti kaki perempuan, dan di setiap jejaknya ada bercak lumpur hitam yang baunya busuk seperti lumpur sumur yang lama tidak dipakai.
"Maya, jangan lihat," kata Riko, tapi Maya sudah melihatnya. Jumlah jejaknya ada enam. Pas dengan jumlah mereka. Dan satu jejak di paling depan, jejaknya berhenti, seperti orangnya hilang begitu saja di tengah jalan.
Sinta menghitung dengan suara gemetar. "Satu, dua, tiga, empat, lima... yang satu lagi kemana?"
Tiba-tiba suara katrol itu berhenti. Digantikan dengan suara perempuan tertawa pelan dari arah sumur. Tawanya bukan tawa senang, tapi tawa menahan sakit.
Riko mengambil senter satu-satunya yang baterainya masih sisa setengah. "Aku cek ke sumur. Kalian di sini aja."
"Jangan!" Maya menarik tangannya. "Kamu gak baca tulisan itu? SATU SUDAH KUBAWA. Kalau kamu keluar, kamu yang dibawa!"
Tapi Bima sudah terlanjur penasaran. Sebagai anak indigo yang dari kecil bisa lihat hal-hal aneh, dia merasa ada yang memanggilnya dari sumur itu. "Namanya Laras," bisik Bima tiba-tiba. Matanya kosong menatap gelap. "Perempuan di sumur itu namanya Laras. Dia KKN tahun 2018. Dia yang pertama."
Semua merinding. KKN tahun 2018? Desa ini sudah mati sejak 2015, bagaimana bisa ada KKN 2018?
Bima melangkah mengikuti jejak kaki basah itu tanpa bisa dikendalikan. Senter di tangannya bergetar. Semakin dekat ke kebun pisang, bau busuk lumpur itu semakin menyengat. Dan di tanah, jejak kaki basah itu semakin jelas, dan sekarang ada satu jejak baru yang muncul, jejak kaki besar laki-laki, menyusul jejak kaki perempuan kecil itu, seperti mengejar.
Di ujung kebun pisang, mereka melihatnya. Sumur tua. Bibir sumurnya terbuat dari batu bata merah yang sudah lumutan. Kayu katrolnya sudah lapuk. Dan di atas bibir sumur itu, ada kain. Kain batik. Kain batik yang sama persis dengan yang dipakai Sinta hari ini. Padahal Sinta ada di balai, tidak pernah ke sumur.
Sinta menjerit pelan. "Itu... itu batikku. Kok bisa di sana?"
Dari dalam sumur, terdengar suara air bergolak, seperti ada yang berenang di bawah. Dan kemudian, pelan-pelan, muncul sebuah tangan. Tangan pucat, kuku-kukunya penuh lumpur hitam, memegang bibir sumur. Tangan itu mencoba naik.
Riko langsung menarik Bima mundur. "LARI! BALIK KE BALAI!"
Mereka berlari kembali ke balai, napas terengah-engah. Pintu belakang balai yang tadi terbuka sedikit, sekarang terbuka lebar. Dan di dalam balai, Maya tidak ada. Posisi di mana Maya duduk tadi kosong. Hanya ada jejak kaki basah yang baru, yang sekarang jumlahnya tinggal lima menuju keluar, dan satu jejak yang kembali masuk ke dalam balai, berhenti tepat di tempat Maya duduk tadi.
Di dinding balai, tulisan SATU SUDAH KUBAWA kini meneteskan air lumpur hitam, dan di bawahnya muncul tulisan baru yang masih basah: GILIRAN KEDUA MALAM INI.
Sinta menangis kencang memanggil nama Maya. "MAYA! MAYA DIMANA KAMU!"
Tidak ada jawaban. Hanya suara katrol sumur yang kembali berdecit. Krek... krek... krek...
Kali ini suara timbaannya lebih berat, seperti menimba sesuatu yang sangat berat dari dalam sumur.
Bima memejamkan mata, mencoba menerawang. "Maya... Maya ada di bawah... dia di dalam sumur... dia masih hidup... tapi ada yang memeluknya dari belakang... perempuan rambut panjang..."
Riko tidak tahan lagi. Dia mengambil linggis yang ada di pojok balai dan berlari lagi ke arah sumur, kali ini sendirian. "MAYA! TAHAN! AKU DATANG!"
Sesampainya di sumur, Riko melihat timba sumur itu sudah naik. Di dalam timba kayu itu bukan air. Melainkan rambut. Rambut panjang perempuan yang basah, melilit-lilit di dalam timba, dan di antara rambut itu, ada gelang. Gelang manik-manik. Gelang milik Maya yang tadi siang dia pakai.
Riko mengangkat timba itu dengan tangan gemetar. Rambut itu masih bergerak, seolah hidup. Dan dari dalam sumur yang gelap, terdengar suara Maya, sangat pelan, sangat jauh dari bawah.
"Riko... jangan lihat ke bawah... dia ada di belakang kamu..."
Riko membeku. Perlahan, dari pantulan air sumur yang hitam, dia melihat bayangan di belakangnya. Bukan satu. Banyak. Puluhan warga desa yang kakinya tidak menapak tanah, berdiri melingkar di kebun pisang, menatapnya. Dan di paling depan, Pak Kades tersenyum, tapi matanya hitam semua.
Tulisan di dinding balai yang bisa dilihat dari kejauhan kini berubah lagi. Bukan lagi SATU SUDAH KUBAWA, tapi menjadi: ENAM MASUK, SATU SUDAH DI DALAM. LIMA LAGI MENUNGGU GILIRAN.
Malam baru jam 1:30. Masih panjang. Dan sumur itu belum kenyang.
Riko tidak bisa bergerak. Kakinya seperti tertanam lumpur. Dari air sumur yang hitam legam itu, dia melihat pantulan wajahnya sendiri, tapi di belakang pantulan wajahnya, ada wajah lain yang menempel sangat dekat. Wajah seorang perempuan dengan mata melotot putih, rambutnya menutupi setengah wajah, mulutnya sobek sampai ke telinga. Wajah itu tersenyum ke arah Riko dari dalam air.
Tangan pucat dari dalam sumur itu semakin kuat menarik celana Riko. Kuku-kukunya yang hitam panjang mencakar kulitnya, meninggalkan bekas goresan perih yang langsung berdarah. Bau anyir darah bercampur bau lumpur busuk itu membuat Riko mual.
"Siapa kamu!" Riko akhirnya bisa berteriak, suaranya pecah.
Dari dalam sumur, suara itu menjawab, bukan satu suara, tapi banyak suara yang tumpang tindih. Suara Maya, suara perempuan asing, dan suara anak kecil menangis.
"Kami yang ditinggalkan... kami yang tidak pernah pulang KKN... kenapa kalian datang lagi... kenapa kalian bangunkan kami..."
Air sumur itu tiba-tiba naik dengan cepat, meluap dari bibir sumur. Bukan air bening, tapi air hitam kental penuh rambut dan lumpur. Air itu mengalir mengikuti jejak kaki basah tadi, mengalir kembali menuju balai desa. Mengikuti alur jejak yang menuju tempat Maya menghilang.
Riko tersadar. "SINTA! BIMA! JANGAN INJAK AIRNYA!"
Tapi terlambat. Dari dalam balai, terdengar jeritan Sinta lagi. Kali ini lebih keras, lebih panik. Air hitam itu sudah masuk ke dalam balai.
Dan dari dalam genangan air hitam di lantai balai, muncul satu per satu tangan pucat. Banyak. Mencoba menarik kaki siapa saja yang ada di sana.
Sumur itu tidak hanya mengambil satu orang. Malam ini, dia ingin semuanya.
Bima mencoba membaca doa, tapi suaranya tercekat. Genangan air hitam itu kini sudah setinggi mata kaki. Dinginnya menusuk tulang. Dari dalam genangan itu, dia melihat wajah-wajah. Wajah anak-anak KKN tahun-tahun sebelumnya yang tidak pernah kembali. Mereka menatapnya, meminta tolong. "Tolong kami... jangan tinggalkan kami di sini lagi..." Air itu semakin naik, dan sumur di luar bergetar hebat, seperti ada sesuatu yang sangat besar akan keluar malam ini.
Sinta sudah menangis kehabisan suara. Kakinya ditarik tangan-tangan itu. Dia melihat Maya. Maya berdiri di tengah genangan air hitam, tapi matanya kosong, wajahnya pucat, rambutnya basah menutupi wajah. Maya tersenyum, tapi senyum itu bukan senyum Maya yang mereka kenal. Dari mulut Maya keluar suara perempuan lain. "Kalian sudah masuk desa kami, sekarang giliran kalian yang menjaga sumur ini selamanya."
Riko berlari menerobos genangan air hitam itu. Dia memeluk Sinta yang sudah lemas. Air itu terasa seperti memegang es. Dari dalam sumur di luar, terdengar suara gemuruh keras. Timba sumur itu jatuh sendiri, berdenting memecah keheningan malam. Dari dalam lubang sumur yang gelap itu, sesuatu mulai merangkak naik. Lambat. Berat. Bau busuknya semakin menyengat. Dan tulisan di dinding balai berubah untuk terakhir kalinya malam itu: TUJUH MASUK.
Riko tahu mereka tidak akan bisa keluar malam ini. Pintu balai sudah tertutup air hitam. Jendela-jendela bergetar sendiri. Dari lubang sumur, suara tawa perempuan itu semakin keras, bercampur tangisan. Sinta memeluk Riko erat, tubuhnya gemetar hebat. "Kita bakal mati di sini ya, Rik?" bisiknya. Riko tidak menjawab. Matanya fokus ke timba sumur yang kini naik sendiri, perlahan, tanpa ada yang menarik. Di dalam timba itu, ada sesuatu. Ada wajah yang menatap mereka dari dalam air timba yang hitam.
Wajah itu... wajah itu adalah wajah Riko sendiri. Tapi lebih tua, lebih pucat, dengan mata hitam semua. Wajah di dalam timba itu tersenyum, lalu melambai pelan ke arah Riko. Seolah berkata, "Ayo masuk, sudah waktunya giliranmu." Riko mundur selangkah. Kakinya menyentuh sesuatu yang lembek di dalam air hitam. Dia menunduk. Itu adalah nametag KKN. Tulisan di nametag itu: RIKO - DESA MATI 2025. Padahal mereka baru datang kemarin. Malam itu belum berakhir, tapi sumur itu sudah menuliskan akhir untuk mereka semua.Maya yang kerasukan itu tertawa keras. Tawanya menggema di seluruh balai. "Satu sudah di dalam," kata suara dari tubuh Maya sambil menunjuk ke arah sumur. "Enam lagi akan menyusul. Kalian pikir kalian KKN pertama yang datang ke sini? Sudah banyak sebelum kalian. Dan semua nametagnya ada di dalam sumur ini." Sinta menjerit. Di dalam air hitam yang menggenang itu, mulai bermunculan nametag-nametag lama. Ada puluhan. Semua bertuliskan nama-nama mahasiswa yang berbeda, dengan tahun yang berbeda-beda. Dan di antara nametag itu, ada satu yang masih bersih dan baru. Tulisan di nametag baru itu: SINTA.
Riko menatap nametag SINTA yang baru itu dengan napas terengah-engah. Itu artinya Sinta yang selanjutnya. Tanpa pikir panjang, Riko meraih nametag itu dari dalam air hitam, meremasnya kuat, dan melemparkannya jauh ke dalam sumur yang gelap. "AMBIL AKU SAJA! JANGAN MEREKA!" teriak Riko dengan suara pecah. Seketika air hitam itu berhenti bergerak. Semua diam. Dari dalam sumur, terdengar suara berat yang menjawab, bukan suara perempuan lagi, tapi suara laki-laki tua. "Kalau begitu, masuklah. Kamu yang pertama."
Sinta langsung menarik tangan Riko. "JANGAN RIK! JANGAN!" Tapi Riko sudah berdiri. Kakinya melangkah pelan ke arah pintu balai yang sudah terbuka, mengarah ke sumur tua di luar. Hujan turun semakin deras. Dari dalam sumur, cahaya merah samar mulai menyala dari dasarnya. Dan dari cahaya itu, terlihat bayangan-bayangan tangan yang melambai, memanggil Riko untuk turun. Langkah Riko semakin dekat. Satu langkah lagi, dia akan sampai di bibir sumur.
Dan di belakangnya, Maya yang kerasukan itu berbisik pelan, "Selamat datang di Desa Mati, Riko. Kamu tidak akan pernah bisa keluar lagi." Suara itu adalah suara terakhir yang Riko dengar sebelum kakinya menginjak bibir sumur yang licin. Air hitam di dalam sumur itu bergejolak seperti hidup, menunggu mangsa barunya. Riko menutup mata. Dia sudah siap.
Di detik terakhir, sebelum tubuhnya jatuh, Riko sempat mendengar suara Sinta memanggil namanya dengan isak tangis. Itu membuatnya tersenyum. Setidaknya, pengorbanannya tidak sia-sia. Sinta akan hidup. Untuk sekarang. Sumur itu akhirnya mendapatkan apa yang dia mau. Satu jiwa pemberani sebagai pengganti.
Maya terbangun dengan napas terengah, dia tidak ingat apa-apa. Tapi di tangannya, tergenggam erat nametag Riko yang basah oleh air hitam sumur itu.
BERSAMBUNG KE BAB 7: WAJAH DI DALAM TIMBA - BESOK PAGI
Halo pembaca Desa Mati! 😈
Makasih udah berani baca sampai BAB 6 ini, kalian hebat!
Menurut kalian siapa yang bakal diambil sumur selanjutnya setelah Maya?
Tulis di komentar ya, yang nebak bener aku kasih shoutout di BAB 7!
Jangan lupa LIKE & KOMEN biar aku semangat up BAB 7 besok!
SATU SUDAH DI DALAM, SIAPA SELANJUTNYA?
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐