NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:745
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 — RAHASIA DI BALIK PERJODOHAN

Sore itu, hujan gerimis mengguyur pinggiran Kota Arunika dengan ketukan lembut yang monoton di atas kaca jendela. Di dalam sebuah ruang tamu bernuansa kayu jati kuno di kediaman Kiai Abdul Faruqi, suasana terasa amat berbeda dari biasanya.

Aroma teh tubruk hangat dan asap tipis kayu cendana mengisi udara, namun hawa di dalam ruangan itu terasa sangat tebal dan berat.

Dua pria paruh baya duduk berhadapan di atas sofa kulit berwarna cokelat tua.

Kiai Abdul Faruqi duduk dengan posisi tegap. Pria sepuh itu mengenakan jubah putih bersih dan peci hitam, memegang seuntai tasbih kayu di tangan kanannya. Di seberangnya, Hamdan Nathan duduk menyandar kaku. Pria berdarah dingin yang biasanya selalu tampil percaya diri dengan jas mewahnya itu kini tampak lelah. Garis-garis halus di sekitar matanya menegaskan gumpalan beban batin yang telah lama ia tanggung sendirian.

"Aurel dan Rasyid makin hari makin bisa menyesuaikan diri, Pak Hamdan," Kiai Abdul membuka percakapan dengan suara bassnya yang tenang dan dalam. "Anak-anak itu sudah mulai menemukan rasa saling menghargai. Rasyid bercerita kalau Aurel makin kerasan di pesantren."

Hamdan menghembuskan napas panjang, mengangguk perlahan seraya menatap cangkir tehnya yang masih mengepul. "Alhamdulillah... Itu kabar yang paling ingin saya dengar, Kiai. Saya sangat bersyukur Rasyid punya kesabaran luar biasa menghadapi anak itu."

Kiai Abdul meletakkan tasbihnya di atas meja. Pria tua yang dihormati masyarakat itu menatap Hamdan lurus-lurus dengan pendar mata yang amat bijaksana, sekaligus sarat akan ketegasan.

"Tapi kita tidak bisa terus-menerus menyembunyikannya, Pak Hamdan," kata Kiai Abdul pelan.

Hamdan tertahan. Jemari tangannya yang memegang tepi meja tampak sedikit gemetar. Pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan Kiai Abdul.

"Aurel belum siap, Kiai..." bisik Hamdan dengan suara yang agak serak. "Anak itu baru saja mau membuka hatinya untuk Rasyid. Kalau dia tahu alasan sebenarnya di balik perjodohan ini sekarang... saya takut dia akan merasa dikhianati lagi. Dia akan pikir saya menjadikan pernikahan ini sebagai alat pelunasan rasa bersalah."

"Kalau terus disembunyikan, nanti dia akan jauh lebih terluka sewaktu kebenaran itu membongkar dirinya sendiri, Pak Hamdan," potong Kiai Abdul tegas namun halus. "Sesuatu yang dibangun di atas pondasi rahasia akan selalu rentan digoyang oleh prasangka."

Hamdan memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri.

Pernikahan antara Aurelia Nathania dan Muhammad Rasyid Al-Faruqi yang selama ini dianggap Aurel sebagai bentuk pengekangan sepihak ayahnya... ternyata menyimpan sebuah akar rahasia yang jauh lebih dalam dan rumit.

Dua puluh tahun yang lalu, ketika Hamdan Nathan baru saja merintis usahanya dari nol di Kota Arunika, bisnis kontraktornya sempat berada di ambang kebangkrutan hebat akibat ditipu oleh rekannya sendiri. Di saat seluruh kolega dan bank membelakanginya, Kiai Abdul Faruqi—yang saat itu kenal lewat almarhum ayah Hamdan—menjadi satu-satunya orang yang mengulurkan tangan.

Kiai Abdul tidak hanya membantu menyuntikkan dana dari modal keluarga pesantren tanpa bunga satu persen pun, tetapi juga pasang badan menjamin nama baik Hamdan di hadapan para investor.

Berkat pertolongan itu, bisnis Hamdan bangkit pesat hingga menjadi konglomerasi besar seperti hari ini.

Namun, keterikatan itu bukan sekadar soal hutang piutang uang.

Dua belas tahun lalu, sebuah tragedi menimpa proyek pembangunan gedung madrasah pesantren yang dikerjakan oleh perusahaan Hamdan. Kesalahan teknis dari tim pengawas Hamdan menyebabkan kelalaian struktur bangunan. Sewaktu Hamdan panik dan terancam hukuman pidana serta kebangkrutan total, almarhumah ibu Aurel—Rina Nathania—secara pribadi mendatangi Kiai Abdul dan Ummi Kulsum.

Rina yang saat itu tahu betul kebaikan keluarga Faruqi memohon dengan bertumpuk air mata. Dan Kiai Abdul, demi menjaga silaturahmi serta melihat ketulusan Rina, memilih untuk menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan, menanggung seluruh kerugian tanpa menuntut Hamdan ke jalur hukum.

Malam itu, di rumah lama keluarga Hamdan, sebuah janji diucapkan di antara dua keluarga.

Janji bahwa suatu hari nanti, ketika anak-anak mereka sudah dewasa, kedua keluarga ini akan menyatukan ikatan silaturahmi tersebut secara abadi melalui pernikahan. Sebuah janji yang disetujui sepenuhnya oleh almarhumah Rina Nathania sebelum beliau meninggal dunia.

"Rina yang pertama kali meminta janji ini, Pak Hamdan," ujar Kiai Abdul pelan, mengingat kenangan almarhumah ibu Aurel. "Rina ingin Aurel punya tempat berlindung yang aman jika suatu hari beliau sudah tidak ada di dunia. Rina tahu betul Rasyid dan keluarga pesantren bisa menjaga Aurel dari kerasnya dunia."

Hamdan mengusap wajahnya yang terasa panas. "Saya tahu, Kiai... Rina sangat menyayangi Aurel. Tapi Aurel tidak pernah tahu soal surat perjanjian dan janji itu. Dia cuma tahu kalau saya adalah ayah otoriter yang suka ngatur hidupnya."

"Maka ceritakan padanya secara jujur," pukas Kiai Abdul. "Biar dia paham bahwa pernikahan ini lahir bukan dari paksaan bisnis atau ego orang tua, melainkan dari cinta dan doa almarhumah ibunya sendiri."

Hamdan terdiam membisu di atas sofanya. Suara rintik hujan di luar jendela terasa makin nyaring, memenuhi ruang tamu yang canggung itu.

Pria paruh baya itu menyadari satu hal yang teramat menakutkan: rahasia besar ini kini ibarat bom waktu yang berdetak pelan. Dan cepat atau lambat... kebenaran itu akan menuntut untuk keluar ke permukaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!