Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Vroom.
Suara raungan mesin V12 dari Lamborghini Aventador SVJ memecah hiruk pikuk lalu lintas pagi di pusat kota Jakarta.
Rizal memegang kemudi dengan sangat santai sambil menikmati alunan musik jazz dari sistem audio mobilnya.
Penampilannya pagi ini benar-benar memancarkan aura seorang elit kelas atas yang tak tersentuh.
Setelan jas berwarna abu-abu arang dan kemeja hitam di dalamnya membalut tubuhnya dengan sangat sempurna.
Rambutnya ditata rapi menyibak ke belakang, mempertegas garis wajahnya yang tampan dan dingin.
"Tinggal sepuluh menit lagi sebelum rapat dimulai."
Rizal bergumam pelan saat melihat jam tangan mewah yang baru dibelinya kemarin.
Dia menekan pedal gas sedikit lebih dalam, membuat hypercar hitam pekat itu melesat membelah jalanan Sudirman.
Di ujung jalan, sebuah gedung pencakar langit megah bertuliskan Menara Wijaya sudah menjulang tinggi menantang awan.
Gedung itu adalah markas pusat dari salah satu gurita bisnis terbesar di Indonesia, Wijaya Group.
Pagi ini, pelataran Menara Wijaya terlihat jauh lebih ramai dan sibuk dari hari-hari biasanya.
Puluhan mobil van dari berbagai stasiun televisi nasional dan media cetak terparkir berjejer di halaman gedung.
Ratusan wartawan dengan kamera dan mikrofon di tangan tampak berkerumun di dekat pintu masuk utama.
Mereka semua sedang menunggu kedatangan para petinggi Wijaya Group untuk meliput skandal terbesar tahun ini.
Ciiiit.
Rizal menghentikan mobilnya tepat di lobi utama yang sudah dijaga ketat oleh puluhan petugas keamanan.
Kedatangan mobil seharga dua puluh lima miliar itu langsung menyita seluruh perhatian para pencari berita.
Jepret. Jepret. Jepret.
Kilatan lampu flash kamera langsung menyambar dari berbagai arah mencoba mengabadikan momen tersebut.
"Mobil siapa itu? Apakah ada konglomerat lain yang ikut campur dalam rapat hari ini?"
"Lihat plat nomornya, itu bukan mobil dari keluarga Wijaya atau dewan direksi yang kita kenal!"
Para wartawan saling berbisik sambil terus menekan tombol shutter kamera mereka dengan beringas.
Pintu gunting Lamborghini itu perlahan bergerak naik ke atas tanpa menimbulkan suara bising sedikit pun.
Tap.
Sepatu pantofel kulit mengkilap milik Rizal menyentuh lantai marmer pelataran lobi.
Pemuda itu keluar dari mobilnya dan berdiri tegak menatap ratusan pasang mata yang sedang menyorotnya.
Banyak wartawan wanita yang tanpa sadar menahan nafas melihat ketampanan dan pesona misterius yang dipancarkan oleh Rizal.
"Permisi Tuan, Anda siapa? Apakah Anda memiliki hubungan dengan Nona Clara Wijaya?"
Seorang wartawan pemberani mencoba menerobos barisan keamanan dan menodongkan mikrofon ke arah Rizal.
Rizal bahkan tidak melirik ke arah wartawan tersebut sama sekali.
Dia hanya terus berjalan dengan langkah yang sangat tenang dan berwibawa melewati kerumunan itu.
Para petugas keamanan Wijaya Group yang sudah mendapat instruksi langsung membuka jalan lebar untuknya.
"Tuan Rizal, Nona Clara sudah menunggu Anda di ruang tunggu VIP."
Seorang kepala keamanan berjas hitam langsung menyambut Rizal sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Rizal hanya mengangguk pelan dan membiarkan petugas itu memandunya menuju lift khusus petinggi perusahaan.
Di dalam ruang tunggu VIP yang kedap suara, Clara sedang berjalan mondar-mandir dengan raut wajah tegang.
Wanita cantik itu mengenakan setelan blazer kerja berwarna merah marun yang membuatnya terlihat sangat profesional.
Klek.
Pintu ruangan terbuka dan sosok Rizal melangkah masuk dengan senyum tipis di wajahnya.
"Selamat pagi, Nona Clara. Anda terlihat sedikit kurang tidur hari ini."
Rizal menyapa dengan nada santai yang langsung membuat ketegangan di bahu Clara sedikit mengendur.
"Selamat pagi Tuan Rizal, saya memang tidak bisa tidur sama sekali memikirkan rapat gila ini."
Clara mengusap wajahnya perlahan mencoba menghilangkan rasa penatnya.
"Paman Herman benar-benar mengundang hampir seluruh media massa bisnis di Jakarta pagi ini."
"Baguslah, itu artinya pertunjukan hari ini akan ditonton oleh seluruh masyarakat Indonesia."
Rizal duduk di salah satu sofa kulit dan menyilangkan kakinya dengan sangat rileks.
"Apakah Anda benar-benar yakin kita bisa membalikkan keadaan hari ini, Tuan Rizal?"
Clara duduk di seberang Rizal dan menatap pemuda itu dengan tatapan penuh harap.
"Saya jamin, setelah rapat ini selesai, nama Paman Herman hanya akan menjadi sejarah kelam di perusahaan Anda."
Aura keyakinan mutlak yang memancar dari mata Rizal membuat Clara akhirnya bisa tersenyum lega.
Tok. Tok.
Seseorang mengetuk pintu ruang VIP dengan cukup keras.
"Nona Clara, rapat pemegang saham akan segera dimulai dalam waktu dua menit."
Suara seorang asisten terdengar dari luar pintu memberikan pengumuman.
Rizal langsung berdiri dan merapikan kancing jas abu-abunya dengan gerakan perlahan.
"Mari kita mulai pestanya, Nona Clara."
Clara ikut berdiri dan berjalan berdampingan bersama Rizal menuju pintu keluar ruang VIP.
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong panjang yang berujung pada sebuah pintu ganda berukuran raksasa.