Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEMBURU (2)
Setelah pertandingan selesai dengan kemenangan tipis sekolah Nara, para pemain berjalan menuju ruang ganti. Naya segera turun dari tribun untuk mencari kakaknya. Ia menemukan Reksa di lorong belakang gedung olahraga sedang membersihkan luka kecil di sudut bibirnya.
“Kak Reksa!”
Reksa menoleh. “Hei, Nay.”
Naya berlari mendekat dan langsung memegang lengannya. “Kakak tidak apa-apa?”
“Hanya luka kecil.”
“Apa yang terjadi dengan Kak Nara?”
Reksa mengangkat bahu. “Entahlah. Sejak awal pertandingan dia melihatku seperti ingin melemparkanku ke dalam ring. Selama kami berhadap-hadapan, aku tidak pernah melihat dia seemosional itu. Dia salah makan apa sih sebelum pertandingan tadi? Heran.”
Naya belum sempat menjawab ketika suara langkah terdengar dari ujung lorong. Nara muncul bersama tas olahraganya. Rambutnya basah setelah mandi, dan jaket tim dikenakannya setengah terbuka. Langkahnya melambat saat melihat Naya berdiri di samping Reksa dengan tangan masih memegang lengan lelaki itu.
Wajah Nara langsung berubah dingin. Ia berbalik hendak pergi karena takut dengan dirinya menjadi emosional lagi sehingga mengajak Reksa bertengkar tentang Naya. Yang ada nanti harga dirinya yang dipasang sangat tinggi itu runtuh dalam sekejap karena kekonyolan yang tergambar jelas di kepalanya.
“Kak Nara!” panggil Naya.
Nara tidak menghentikan langkahnya untuk menjauh dari posisi Naya sekarang.
“Apaan sih Kak Nara itu?” Naya melepaskan tangannya dari lengan Reksa dan mengejar Nara. “Kak Nara, tunggu!”
Suara dari Naya semakin membuat Nara mempercepat langkah kakinya membuat Ekky yang sebelumnya berada disampingnya terbengong-bengong tertinggal di belakang Nara.
“Sepertinya kita akan mendapatkan tontonan menarik, Ky.” Ujar Reksa yang ternyata sudah berjalan bersampingan dengan Ekky.
“Apa maksudnya?”
“Lihat saja adegan seperti drama romansa di depan kita,” Reksa memberikan kode kepada Ekky dengan dagunya kearah depan.
Dengan napas terengah-engah, Naya berhasil berdiri di hadapannya dan merentangkan kedua tangan agar lelaki itu tidak dapat lewat.
“Kakak kenapa?” tanyanya.
Nara memalingkan wajah. “Tidak kenapa-kenapa.”
“Kakak jelas sedang marah.”
“Aku lelah.”
“Kalau lelah, Kakak tidak akan menghindariku selama seminggu.”
Nara menatapnya. “Memangnya kenapa kalau aku menghindarimu? Bukankah itu yang kamu inginkan sebelum-sebelumnya?”
Naya terdiam. Nada suara Nara terdengar datar, tetapi matanya menunjukkan sesuatu yang berbeda. Ada kemarahan di sana, sekaligus kekecewaan yang berusaha disembunyikan.
“Aku tidak pernah mengatakan ingin Kakak menghindariku.”
“Kamu tidak perlu mengatakannya.”
“Lalu kenapa Kakak bersikap seperti ini?”
“Harusnya kamu bertanya kepada dirimu sendiri.”
Naya mengerutkan kening. “Apa maksudnya?”
Nara tertawa pelan. “Sudahlah, Nay, kembali saja kepada Reksa.”
Untuk beberapa detik, Naya hanya menatapnya mencoba mencerna ucapan dari Nara. Kemudian, matanya melebar seolah baru memahami sesuatu. “Ini tentang Kak Reksa?”
Nara tidak menjawab.
“Kakak marah karena aku bersama Kak Reksa?”
“Aku tidak marah.”
“Kalau begitu, lihat aku.”
Nara tetap memalingkan wajah tak mau melihat wajah Naya yang jujur sekarang menjadi salah satu kelemahannya.
Naya hampir tertawa karena semua potongan kejadian akhirnya tersusun di kepalanya. Hari ketika Nara mulai menjauh adalah hari ketika Reksa datang menjemputnya dari sekolah. Saat itu, ia memang memeluk lengan kiri kakaknya karena ingin membujuk Reksa membelikannya es krim di TA-Mart. Kapan lagi dirinya bisa dijemput oleh Kakaknya yang super sibuk dengan segudang kegiatannya itu jika tidak karena kedua orang tuanya sedang berhalangan menjemputnya.
“Apakah Kakak melihat kami di taman minggu lalu?” tanyanya.
Rahang Nara mengeras. “Aku tidak sengaja lewat.”
“Dan Kakak melihat aku memegang lengannya?”
“Aku tidak peduli.”
“Kakak bahkan hampir bertengkar dengannya di lapangan.”
“Itu karena dia lawanku.”
Naya mengangguk pelan, berpura-pura memahami. “Jadi, Kak Nara nekad melakukan pelanggaran, menghindariku selama seminggu, dan sekarang berjalan pergi mengacuhkanku hanya karena Kak Reksa adalah lawan Kakak?”
“Benar.”
Naya menahan senyum. “Kakak cemburu.”
Nara menatapnya tajam. “Jangan sembarangan bicara.”
“Kakak benar-benar cemburu.”
“Aku tidak cemburu.”
“Lalu kenapa Kakak marah melihatku memeluk lengannya?”
“Karena…” Nara berhenti. Ia tampak kesulitan menemukan alasan yang masuk akal. Wajahnya yang biasanya dipenuhi keyakinan kini terlihat canggung.
“Karena dia Reksa,” katanya akhirnya.
“Memangnya kenapa kalau dia Reksa?”
“Dia rival terbesarku.”
“Itu urusan Kakak dengannya.”
“Dan kamu terlihat sangat dekat dengannya.”
“Tentu saja aku dekat dengannya.”
Jawaban itu membuat wajah Nara kembali menegang. “Bagus. Kalau begitu, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”
Ia hendak berjalan melewati Naya, tetapi gadis itu segera mencengkeram ujung jaketnya.
“Kak Nara.”
“Apa lagi?”
Naya menatap ke belakang, tempat Reksa berdiri sambil melipat tangan di dada bersama dengan Ekky. Kakaknya terlihat berusaha keras menahan tawa. Naya kembali memandang Nara.
“Reksa itu kakak kandungku.”
Lorong mendadak terasa sunyi. Nara tidak bergerak. Tatapannya berpindah dari Naya kepada Reksa, lalu kembali lagi kepada Naya.
“Apa?”
“Kak Reksa adalah kakak kandungku,” ulang Naya. “Kami tinggal di rumah yang sama. Ibu kami sama. Ayah kami juga sama. Bahkan foto wajahnya ada di ruang keluarga rumahku sejak dia masih bayi.”
Nara berkedip beberapa kali. “Kenapa dia sekolah di tempat lain?”
“Karena dia mendapat beasiswa basket di SMA Garuda. Dia menggilai basket sama seperti Kak Nara. Bedanya, dia tidak sibuk dengan para penggemarnya.”
Nara terdiam. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Naya melihat lelaki itu benar-benar kehilangan kata-kata. Ia menepuk dahinya merasa bodoh karena terkabut rasa cemburu sialan itu.
Reksa akhirnya berjalan mendekati mereka. “Jadi, ini alasanmu hampir mengajakku berkelahi?”
Nara menatapnya dengan wajah kaku.
Reksa tersenyum lebar. “Kau pikir aku pacar adikku sendiri? Apakah aku segila itu?”
“Aku tidak pernah mengatakan begitu.”
“Kau tidak perlu mengatakannya. Wajahmu sudah menjelaskan semuanya.”
Nara mengembuskan napas panjang. “Diamlah.”
Reksa justru tertawa semakin keras. “Kapten basket terkenal ternyata bisa cemburu juga.”
“Aku bilang diam.”
Naya menutup mulutnya, tetapi tawanya tetap lolos. Semua kekesalan yang dirasakannya selama seminggu perlahan menghilang, digantikan rasa geli melihat wajah Nara yang memerah.
Namun, di balik kelucuan itu, terselip kehangatan yang membuat dadanya berdebar. Nara cemburu. Artinya, keberadaannya memiliki arti bagi lelaki itu. Setelah tawanya mereda, Naya menatap Nara dengan lebih serius.
“Kenapa Kakak tidak langsung bertanya kepadaku?”
Nara terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Aku tidak punya hak untuk bertanya.”
“Jadi, Kakak memilih membuat kesimpulan sendiri?”
“Aku melihatmu memeluk lengannya.”
“Itu karena aku meminta dibelikan es krim.”
“Dia mengusap dan mengacak-acak rambutmu.”
“Dia sudah melakukan itu sejak aku masih kecil.”
“Kau menyandarkan kepala di bahunya.”
“Aku sedang mengantuk.”
Nara mendesah, Ia terlihat semakin malu setiap kali Naya memberikan penjelasan. Rasanya ia ingin menggulung seluruh rumput diseluruh muka bumi karena sikap kekanak-kanakannya tadi.
“Kakak seharusnya bertanya,” lanjut Naya. “Bukan langsung menghilang dan meluapkan emosi di pertandingan basket.”
“Aku pikir kamu tidak akan peduli.”
“Aku peduli.”
Dua kata itu membuat Nara mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu di bawah cahaya lampu lorong yang mulai menyala. Untuk sesaat, suara-suara siswa di luar gedung terasa menjauh. Naya baru menyadari betapa jujur kalimatnya terdengar. Ia segera melepaskan pegangan dari jaket Nara dan mundur selangkah.
“Maksudku, aku peduli karena sikap Kakak menyebalkan,” katanya terburu-buru. “Kakak tiba-tiba berhenti datang ke perpustakaan. Lalu saat bertemu, Kakak bersikap seolah tidak mengenalku.”
Senyum kecil muncul di bibir Nara.
“Jadi, kamu merindukan kehadiranku?”
“Ti-tidak.” Nata menutupi kegugupan karena ketahuan dirinya merindukan sosok Nara yang duduk berhadap-hadapan dengannya di perpustakaan.
“Kamu baru saja mengatakan perpustakaan terasa berbeda tanpaku.”
“Aku tidak mengatakan seperti itu.”
“Tapi maksudmu begitu.”
“Kakak terlalu percaya diri.”
“Aku memang percaya diri.”
“Dan narsis.”
“Itu juga bukan hal baru.”
Naya memutar bola mata malas. “Sepertinya aku lebih menyukai Kakak saat sedang menghindariku.”
“Sayangnya, aku sudah tahu Reksa adalah kakakmu.” Nara melirik lelaki yang berdiri di belakang Naya disusul oleh Ekky. “Jadi, aku tidak punya alasan untuk menghindar lagi.”
Reksa mengangkat satu alis. “Jangan terlalu senang. Aku belum memberimu izin mendekati adikku.”
Nara menatapnya menantang. “Aku tidak membutuhkan izinmu.”
“Kau membutuhkannya kalau tidak ingin kutabrak saat pertandingan berikutnya.”
“Cobalah kalau mampu.”
Naya berdiri di antara mereka sambil menghela napas. “Kalian benar-benar seperti anak kecil.”
Namun, kali ini ia tidak merasa terganggu. Nara sudah kembali menjadi Nara yang dikenalnya, menyebalkan, percaya diri, dan selalu memiliki jawaban untuk setiap perkataan. Anehnya, melihatnya seperti itu membuat Naya merasa lega.
Reksa akhirnya berpamitan untuk kembali bersama timnya. Sebelum pergi, ia menepuk bahu Nara cukup keras.
“Lain kali, tanyakan dulu sebelum menjadi gila karena cemburu.”
“Aku tidak cemburu,” balas Nara.
Reksa hanya tertawa dan berjalan pergi disusul Ekky yang juga memberikan tepukan kerasnya di posisi pundak yang sama ditepukkan keras oleh Reksa ke Nara. Ia merasa terlalu banyak hal tentang Nara yang luput darinya. Apakah ia sudah tidak dianggap sahabat dari Nara sehingga harus mengetahui urusan hati seorang Nara justru dari Reksa, saingan mereka dalam urusan basket. “Aku butuh penjelasan tentang hal ini nanti setelah menyelesaikan masalahmu dengan Naya.”
Kini, hanya hanya tinggal Nara dan Naya yang tersisa di lorong. Nara memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya. “Jadi, kalian benar-benar saudara kandung?”
Naya mengangguk. “Kakak masih tidak percaya?”
“Kalian tidak mirip.”
“Semua orang bilang begitu.”
“Dia juga tidak terlihat cukup baik untuk menjadi kakakmu.”
Naya menahan senyum. “Jangan begitu, dia kakak terbaik yang kumiliki.”
Mereka berjalan berdampingan menuju gerbang sekolah. Langit telah berubah jingga, sementara angin sore membawa aroma tanah dan rumput dari lapangan. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Nara akhirnya membuka suara. “Naya.”
“Ya?”
“Maaf.”
Langkah Naya melambat. Permintaan maaf dari Nara adalah sesuatu yang langka. Lelaki itu biasanya lebih suka berdebat selama berjam-jam daripada mengakui kesalahannya.
“Maaf karena salah paham,” lanjutnya. “Dan karena menghindarimu.”
Naya menatapnya dari samping. “Aku memaafkan Kakak.”
“Semudah itu?”
“Ada syaratnya.”
Nara langsung terlihat waspada. “Apa?”
“Kakak harus mengembalikan buku yang sudah seminggu Kakak bawa.”
“Itu masih belum terlambat.”
Nara ikut berhenti dan berbalik menghadapnya. Senyum khasnya kembali muncul, tetapi kali ini tidak terlihat sombong. Ada sesuatu yang lebih lembut dalam tatapannya.
“Karena aku ingin punya alasan untuk duduk bersamamu lagi.”
Jantung Naya berdetak lebih cepat. Ia segera berjalan mendahului Nara agar lelaki itu tidak melihat wajahnya yang memanas.
“Aku ada latihan renang,” katanya.
“Aku akan menunggu.”
“Latihannya sampai sore.”
“Aku punya waktu.”
“Bukankah Kakak juga latihan basket?”
“Aku bisa datang setelah latihan.”
Naya tidak menjawab. Namun, Nara melihat senyum kecil yang gagal disembunyikan gadis itu.
Ia mempercepat langkah hingga berjalan sejajar dengannya.
Kesalahpahaman itu memang membuat mereka menjauh selama beberapa hari. Namun, tanpa mereka sadari, kecemburuan Nara justru mengungkapkan sesuatu yang selama ini tidak pernah berani mereka katakan.
Bahwa Nara tidak sekadar mencari alasan untuk pergi ke perpustakaan. Bahwa Naya tidak benar-benar ingin menghindarinya. Dan bahwa pertemuan-pertemuan mereka yang terlalu sering terjadi mungkin bukan lagi sekadar kebetulan. Sebelum mereka berpisah di gerbang, Naya menoleh kepada Nara.
“Kak.”
“Hmm?”
“Lain kali, kalau melihatku bersama lelaki lain, jangan langsung marah.”
Nara mengangkat alis. “Berarti akan ada lelaki lain?”
“Itu hanya contoh.”
“Aku tidak suka contohnya.”
Naya tertawa kecil. “Pokoknya, tanyakan dulu.”
Nara mengangguk perlahan. “Baik. Tapi kamu juga harus menjawab dengan jujur.”
“Selama pertanyaannya masuk akal.”
Nara mendekat sedikit, kemudian bertanya dengan suara lebih pelan, “Kalau begitu, sekarang aku boleh bertanya?”
Naya memandangnya curiga. “Kak Nara mau bertanya tentang apa?”
“Apakah ada seseorang yang sedang kamu sukai?”
Naya membeku. Ia sendiri bingung apakah perasaan yang dimilikinya kepada Nara hanya rasa kagum yang perlahan kembali mendapatkan tahtanya di hati Naya atau lebih dari itu.
Senyum Nara semakin lebar ketika melihat reaksi Naya.
“Pertanyaan itu tidak masuk akal,” jawab Naya cepat.
“Kenapa?”
“Karena aku harus pulang.”
Naya berbalik dan berjalan meninggalkannya. Namun, baru beberapa langkah, ia kembali menoleh.
“Kak Nara.”
“Ya?”
“Senin jangan terlambat ke perpustakaan.”
Nara berdiri di dekat gerbang sambil tersenyum. “Tidak akan.”
Naya melanjutkan langkahnya. Kali ini, ia tidak menoleh lagi. Namun, dari cara gadis itu memeluk tas di dadanya dan menyembunyikan wajah yang memerah, Nara merasa telah memperoleh jawaban yang jauh lebih jelas dibandingkan dengan penjelasan kata-kata.
Dan untuk pertama kalinya, Nara bersyukur telah salah paham.
***