NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

Sabtu, 08.00 Pagi

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai apartemen, menerangi kamar yang masih berantakan oleh tumpukan dokumen dan buku-buku kuliah.

Di atas ranjang, seorang gadis mengeliat pelan.

"Hmmm..."

Evelyn menarik selimutnya sedikit lebih tinggi sebelum akhirnya membuka mata dengan malas.

Butuh beberapa detik baginya untuk memproses keadaan. Langit-langit kamar. Bantal. Selimut. Kamarnya sendiri. Oke. Masih hidup.

Namun beberapa detik kemudian... Mata Evelyn membelalak.

"Tunggu..."

Ingatan semalam perlahan kembali. Kael. Makanan. Telepon dari Celine. Koper. Mayat. Panik. Lalu...

"...aku pingsan."

Evelyn langsung duduk tegak. Rambutnya berantakan ke segala arah. Wajahnya kosong. Loading. Kemudian—

"AAAAAAAAAAAAA!!"

Teriakan mendadak menggema di seluruh kamar.

Evelyn menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Ya ampun... gue pingsan di depan dia..."

Rasa malu mulai

menyerang. Namun untungnya Kael sudah tidak ada di

apartemen. Setidaknya dia tidak perlu menghadapi pria itu pagi-pagi. Kalau tidak mungkin dia sudah kabur ke luar negeri.

Perlahan Evelyn turun dari ranjang. Lalu entah kenapa... Pikirannya kembali teringat sesuatu.

CCTV.

"..."

Evelyn berhenti berjalan. "Kamera."

Wajahnya perlahan berubah pucat. "Oh nggak."

Tanpa membuang waktu, ia langsung berlari menuju meja kerjanya. Laptop dibuka. Jari-jarinya bergerak cepat. Sistem CCTV apartemen muncul. Kemudian ia membuka rekaman semalam.

Awalnya biasa saja. Dirinya duduk di sofa. Kael di sampingnya. Mereka berbicara.

Lalu... Dirinya mulai limbung. Dan jatuh. Tepat ke pangkuan Kael. Evelyn menahan napas.

"Oke..."

Masih aman. Masih bisa ditoleransi. Lalu rekaman berlanjut. Dan... Mata Evelyn perlahan membesar. Kael tidak langsung membawanya ke kamar. Tidak. Pria itu malah memeluk tubuhnya lebih erat.

Lalu...

Dengan santainya.

Meletakkan dagunya di atas kepala Evelyn. Diam. Begitu saja. Seolah itu hal paling normal di dunia.

"..."

Evelyn membeku. Laptop masih menyala. Video masih berjalan. Namun otaknya sudah berhenti bekerja. Beberapa detik. Beberapa menit. Lalu...

"WOOOOOOYYYYYY!!!"

Evelyn menjerit sambil menutup laptopnya. Mukanya langsung merah padam.

"KENAPA LO MELUK GUE LAMA BANGET SIH?!"

Tidak ada yang menjawab.

Karena dia sedang teriak pada rekaman CCTV. Namun itu tidak menghentikannya. Evelyn menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Berguling ke kiri. Lalu ke kanan. Lalu ke kiri lagi.

"AAAAAAAGGGHHHH!"

Dia menendang-nendang udara. Menutup wajah dengan bantal. Kemudian berteriak lagi.

"KENAPA GUE MALAH NONTON SAMPAI HABIS SIH?!"

Yang lebih parah... Video belum selesai. Setelah beberapa saat, Kael akhirnya mengangkat tubuhnya. Menggendongnya ke kamar.

Pelan. Hati-hati. Bahkan pria itu membenarkan selimut yang menutupi tubuhnya.

Memastikan tidak ada bagian yang terbuka. Lalu baru pergi. Sangat jelas. Dengan kualitas HD.

Dan semua itu... Terekam jelas.

"MATI AJA GUE."

Evelyn menelungkup di kasur. Tidak bergerak. Jiwanya seperti meninggalkan raga. Jika Celine melihat video itu... Dia pasti tidak akan selamat. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Diejek sampai lulus kuliah. Minimal.

Belum lagi... Kenapa Kael melakukan itu? Bukankah biasanya wajah pria itu datar seperti tembok? Kenapa semalam malah begitu?

Semakin dipikir. Semakin malu.Semakin ingin menghilang dari muka bumi.

Tepat saat Evelyn sedang berguling-guling untuk kesekian kalinya...

Ding!

Notifikasi muncul dari laptopnya. Evelyn menghentikan aksinya. Matanya melirik layar. Nama yang muncul membuatnya langsung waspada.

Celine.

"Ah."

Panggilan video. Evelyn langsung merapikan rambutnya seadanya. Lalu menerima panggilan.

Wajah Celine langsung muncul memenuhi layar.

"Evelyn." Celine menyapa.

"Napa?" Evelyn.

"Kok muka lo merah?"

Celine.

"..."

"Lo demam?" Celine.

"..."

"Lo habis nangis?" Celine.

"..."

"Atau-" Celine.

"TUTUP MULUT LO."

Evelyn.

Celine menyipitkan mata. Curiga. Sangat curiga. "Kejadian apa semalam?"

"Gak ada." Evelyn.

"Bohong." Celine.

"Gak ada." Evelyn.

"Bohong." Celine.

"Elo kenapa sih?!" Evelyn.

Karena semakin panik, justru membuat Celine semakin yakin. Temannya sedang menyembunyikan sesuatu. Dan itu pasti menarik. Sangat menarik.

Namun sebelum interogasi berlanjut, Celine tiba-tiba tersenyum lebar.

"Udah siap belum?"

"Hah?"

"Makan yok."

"Makan?"

"Iya."

Celine mengangkat kunci mobilnya. "Hari ini Sabtu. Kuliah libur. Gue jemput lo. Terus kita makan. Terus jalan.

Terus lo cerita apa yang lo sembunyiin."

Evelyn langsung refleks menjawab. "Gak ada yang gue sembunyiin!"

"Berarti ada." Celine.

"SIAL." Evelyn.

Celine tertawa puas. Sementara Evelyn hanya bisa memegangi kepalanya. Hari baru bahkan belum benar-benar dimulai. Tapi hidupnya sudah terasa kacau lagi. Dan entah kenapa... Di balik rasa malu yang membuatnya ingin menabrak tembok itu...

Bayangan seorang pria dengan wajah datar kembali muncul di kepalanya. Kael. Dan tanpa sadar... Ujung telinga Evelyn kembali memerah.

"AAAAAGGGHHH!"

Teriakan frustasinya kembali menggema di dalam apartemen. Di layar laptop, Celine tertawa sampai hampir jatuh dari kursinya. Hari Sabtu yang damai? Tidak. Setidaknya tidak untuk Evelyn.

------

Siang itu restoran cukup ramai oleh pengunjung akhir pekan. Aroma makanan yang menggoda memenuhi udara, sementara suara percakapan para pelanggan bercampur menjadi latar yang nyaman.

Namun bagi Evelyn...

Kenyamanan itu tidak berlaku.

Karena di depannya duduk seorang makhluk bernama Celine yang sejak tadi tidak berhenti menggodanya.

"Eve..."

"Apa lagi?"

Celine menyeringai. "Kael."

Evelyn langsung menutup mata. "Tolong."

"Enggak bisa."

"Celine."

"Enggak bisa."

"Celine."

"Enggak bisa."

Evelyn benar-benar ingin melempar sendok ke arah sahabatnya itu. Sejak mereka bertemu satu jam yang lalu, topik pembicaraan hanya berkisar antara Kael, Kael, dan Kael.

Sampai akhirnya Evelyn menyerah. Daripada terus diganggu, lebih baik menjelaskan sebagian kejadian semalam.

"Udah, gue cerita."

Mata Celine langsung berbinar. Evelyn menghela napas panjang.

"Jadi gini..."

Kemudian ia menceritakan bagaimana Celine meneleponnya dan memberitahu tentang koper berisi potongan tubuh manusia. Bagaimana perutnya langsung mual. Bagaimana ia berlari ke kamar mandi. Dan bagaimana setelah itu Kael berniat pulang. Lalu... Saat dirinya bangkit dari sofa. Kepalanya mendadak pusing. Dan ia kehilangan keseimbangan.

"Terus?" Celine mendekatkan wajahnya penuh antusias.

"Terus ya jatuh."

"Ke mana?"

"Ke Kael."

"Oh."

"Itu aja."

"Oh."

"Elo kenapa kecewa?"

"Gue kira lanjut."

Evelyn langsung

menyumpal mulut Celine

dengan kentang goreng. "Sadar diri."

Celine tertawa terbahak-bahak sambil menepis tangan sahabatnya. Meski begitu, setelah mendengar penjelasan tersebut, akhirnya rasa penasaran Celine sedikit berkurang.

Sedikit. Sangat sedikit.

Karena sesekali wanita itu masih menyeringai jahat sambil melirik Evelyn. Namun setidaknya suasana mulai tenang.

Mereka kembali menikmati makanan masing-masing.

Sampai Evelyn teringat sesuatu.

"Oh iya."

"Hm?"

"Soal koper itu."

Ekspresi Celine berubah serius. Evelyn mengaduk minumannya pelan.

"Sebenarnya sebelum ketahuan isinya apa, gue sempat lihat koper itu."

Celine mengernyit. "Di mana?"

"Di lift."

"Hah?"

Evelyn mengangguk. Lalu perlahan ia menceritakan semuanya. Tentang lift yang tiba-tiba kelebihan muatan. Tentang koper hitam yang berada di pojok lift. Tentang angka penumpang yang menunjukkan dua orang padahal dirinya sendirian.

Dan tentang staf apartemen yang akhirnya membawa koper itu pergi. Semakin lama mendengar cerita tersebut, semakin merinding wajah Celine.

"Tunggu."

"Apa?"

"Berarti lo satu lift sama itu?"

"Iya."

"Anjir."

"Elo jangan ngomong gitu."

"Merinding gue."

Evelyn juga merinding.

Jujur saja, kalau ia tahu isi koper itu sejak awal... Mungkin dirinya sudah pingsan di dalam lift.

Mereka terdiam beberapa saat. Lalu seperti biasa... Otak mereka mulai berkelana ke mana-mana.

"Menurut lo siapa pelakunya?" tanya Celine.

"Gue mana tahu."

"Mungkin penghuni apartemen."

"Bisa jadi."

"Mungkin pembunuh bayaran."

"Kebanyakan nonton film."

"Mungkin mafia."

"Lebih parah."

"Mungkin psikopat."

Evelyn mendadak diam.

Celine yang menyadari perubahan ekspresinya langsung menoleh.

"Kenapa?"

Evelyn menggeleng.

"Enggak."

Padahal dalam kepalanya, satu nama tiba-tiba muncul.

Altair. Nama itu muncul begitu saja. Membuat bulu kuduknya berdiri. Kalau dipikir-pikir...

Di novel yang bisa ngelakuin ini semua selain pria gila itu?. nPsikopat.bManipulator.

Seseorang yang bisa menghancurkan hidup orang lain hanya karena bosan.

Dan yang lebih membuat Evelyn tidak nyaman... Beberapa kejadian aneh akhir-akhir ini seolah selalu berujung pada sosok yang sama. Pembunuhan. Orang hilang.bKejadian di kampus. Sampai koper misterius ini.

"Tapi..." Evelyn bergumam pelan.

"Hm?" tanya Celine.

"Enggak." Ia menggeleng lagi. Tidak mungkin. Atau mungkin?

Ah, sial.

Kepalanya malah semakin pusing. Lagipula apa alasannya Altair melakukan semua itu?

Dan kenapa harus di dekat dirinya?

Tidak masuk akal. Benar-benar tidak masuk akal. Namun entah kenapa... Perasaan buruk itu tidak mau pergi. Seolah ada sesuatu yang sedang bergerak diam-diam di balik layar.

Sesuatu yang belum ia lihat.

Sesuatu yang perlahan mulai mendekatinya.

"Eve."

"Hm?"

"Muka lo serem."

Evelyn langsung berkedip.

"Hah?"

"Dari tadi bengong."

"Oh."

"Jangan mikir aneh-aneh."

Evelyn tersenyum tipis.

"Iya."

Meski begitu, jauh di dalam pikirannya... Nama itu masih tertinggal. Altair. Dan semakin ia mencoba mengabaikannya...

Semakin kuat perasaan bahwa pria itu adalah pusat dari semua kekacauan yang sedang terjadi.

Padahal... Jika Evelyn tahu kebenarannya. Ia mungkin tidak akan bisa makan setenang ini lagi.

1
Susi Nugroho
Kalimatnya banyak pengulangan
Susi Nugroho
Lanjut
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!