Tak memiliki apa pun selain namanya, Kenzo bertahan hidup di dunia yang kejam. Bagi orang lain, mimpi adalah sesuatu yang bisa dikejar. Baginya, mimpi hanyalah kemewahan yang selalu direnggut oleh kenyataan.
Hingga suatu hari, sebuah antarmuka emas muncul di hadapannya.
Sistem Gacha.
Jaminan 100%.
Setiap putaran selalu menghadiahkan sesuatu yang nyata. Kemampuan, artefak, teknik, bahkan kekuatan yang sanggup mengubah takdir. Dengan sistem itu, Kenzo tak lagi sekadar bermimpi. Ia akan menapaki jalan menuju puncak dan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Gudang tua itu bergetar hebat.
Terdengar derit logam yang sangat nyaring. Pipa besi di tangan Kenzo melengkung tajam akibat benturan itu.
Ia tergelincir mundur beberapa langkah. Sol sepatunya berdecit keras di atas lantai beton yang basah.
Zirah Rajut Kinetik di balik jaket usangnya mengeras secara otomatis. Pelindung itu menyerap sebagian besar hantaman, meski lengan Kenzo tetap terasa kebas.
"Hanya itu kemampuanmu, Tikus Got?" ejek si bos jangkung sambil bersiap mengayunkan tongkatnya lagi.
Kenzo tidak menyahut. Otaknya yang analitis bekerja jauh lebih cepat daripada mulutnya.
Jarak mereka sekitar 5 meter. Posisi itu terlalu menguntungkan bagi serangan gelombang kinetik lawan.
Lari mendekat adalah jalan terbaik.
Menggunakan kekuatan fisik tingkat perak miliknya, ia melesat maju dengan kecepatan penuh.
Si bos jangkung menyeringai. Ia langsung mengayunkan tongkatnya secara horizontal hingga menciptakan gelombang kejut yang tajam.
Tepat sebelum serangan itu mengenainya, Kenzo menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia meluncur mulus melewati lintasan bahaya tersebut.
Sambil meluncur, ia mencabut Pistol Taktis Phantom dari sabuknya.
Bum! Bum!
Dua peluru udara padat melesat cepat tanpa suara ledakan mesiu.
Pria jangkung itu tersentak. Ia terburu-buru menyilangkan lengan untuk menciptakan perisai kinetik darurat.
Tembakan pertama menghantam dinding pertahanan itu hingga pecah. Namun, tembakan kedua berhasil lolos dan menghantam telak tulang kering kaki kirinya.
"ARGH!"
Bos jangkung itu kehilangan keseimbangan dan langsung jatuh berlutut.
Kenzo tidak menyia-nyiakan kesempatan. Memanfaatkan sisa momentum luncurannya, ia melontarkan tubuhnya ke atas.
Satu tendangan memutar mendarat telak di pelipis sang lawan. Pukulan dengan kekuatan manusia super itu langsung merubuhkannya.
Pria itu ambruk ke lantai, pingsan seketika.
Napas Kenzo memburu hebat. Stamina fisiknya terkuras banyak untuk melakukan gerakan cepat dan tembakan beruntun tadi.
Di sekelilingnya, puluhan penjaga masih mengerang kesakitan. Para tawanan di dalam sel kaca menatapnya dengan wajah pucat pasi.
Langkah kaki Kenzo baru saja terayun satu kali ke depan, ketika suhu di dalam gudang mendadak anjlok drastis.
Tepuk tangan lambat terdengar dari arah pintu besi yang berkarat. Suaranya menggema dingin, mengalahkan dengung lampu neon di atas kepala.
Naluri bertahan hidup Kenzo berteriak kencang. Ia menoleh perlahan.
Sesosok pria melangkah keluar dari kegelapan kontainer.
Pakaiannya berupa setelan jas abu-abu gelap yang sangat rapi, tampak kontras dengan isi gudang yang kumuh. Setengah wajah bagian bawahnya tertutup oleh masker logam hitam.
"Mengecewakan sekali," ucap pria bermasker itu dengan suara mekanis yang dingin. Ia melirik bos jangkung yang terkapar dengan pandangan jijik.
Kenzo menelan ludah, bersiap dengan posisi bertarung yang kokoh.
"Siapa kau?" tanya Kenzo sambil mencengkeram erat senjata di tangannya.
"Namaku tidak penting bagi orang mati," jawab Eksekutor itu dengan nada santai. "Kau sudah merusak rencana kami."
Ia mengangkat tangan kanannya yang bersarung tangan hitam.
Udara di sekitarnya mendadak berdesir. Dari ujung jari-jarinya, memanjang benang-benang energi berwarna merah darah yang berpendar panas.
Dengan satu jentikan santai, Eksekutor itu menyabetkan tangannya ke arah pilar beton di dekatnya.
Sring!
Pilar beton setebal tubuh manusia itu terpotong rapi secara diagonal, lalu bagian atasnya bergeser dan jatuh berdebum keras ke lantai.
Mata Kenzo membelalak lebar.
'Zirahku tidak akan berguna menghadapi energi pemotong seperti itu,' batin Kenzo cemas.
"Mari kita lihat seberapa lincah tikus got ini bisa melompat," bisik Eksekutor tersebut.
Dalam sekejap mata, sosoknya menghilang dari pandangan. Kecepatannya jauh melampaui kemampuan refleks tingkat perak milik Kenzo.
Ke kiri!
Menuruti instingnya, Kenzo melompat mundur secepat mungkin.
Tiga benang energi merah menyambar udara kosong tempatnya berdiri sedetik lalu. Meski berhasil menghindar, hawa panas ekstrem itu tetap sempat menyerempet lengan kirinya.
Kain jaket usangnya terbelah tipis.
Rasa terbakar yang hebat menembus zirah pelindungnya, meninggalkan luka sayatan memanjang di kulit. Darah segar mulai menetes deras membasahi tangannya.
Sambil menahan rasa perih yang luar biasa, Kenzo menembakkan senjatanya tiga kali berturut-turut.
Bum! Bum! Bum!
Eksekutor itu justru meliuk dengan lentur, menghindari peluru udara dengan mudah seolah sudah membaca arah tembakan.
Sebuah sabetan benang merah mendadak melesat ke arah tangan Kenzo.
Krak!
"ARGH!"
Kenzo menjerit tertahan saat tulang pergelangan tangannya retak. Pistol hitam di tangannya terlempar jauh, meluncur ke kolong meja.
Sebelum sempat ia memperbaiki posisinya, sebuah tendangan keras menghantam perutnya secara telak.
Zirahnya meredam hantaman, tetapi daya dorongnya melemparkan tubuh Kenzo sejauh 12 meter melintasi ruangan.
Ia menabrak jeruji besi sel kaca dengan sangat keras, lalu jatuh tersungkur di lantai sambil memuntahkan darah segar.
Para tawanan di dalam sel berteriak histeris dan mundur ketakutan.
Kondisi fisik Kenzo benar-benar berada di titik terendah. Tubuhnya gemetar hebat ketika ia mencoba menopang diri dengan satu tangan.
Langkah sepatu kulit terdengar mendekat perlahan, bagai ketukan jam kematian.
"Keberanian tanpa kekuatan yang nyata hanyalah sebuah kebodohan," ucap Eksekutor itu, berdiri menjulang tepat di hadapan Kenzo.
Benang-benang energi merah di tangannya kini menyatu, memadat menjadi sebilah pedang cahaya yang memancarkan hawa panas yang mengerikan.
Pria itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, bersiap memenggal kepala Kenzo dalam satu tebasan.
Napas Kenzo tersengal-sengal di sela-sela darah yang menetes dari dahinya.
Namun, alih-alih menunjukkan ketakutan, ia justru mengukir senyum miring di sudut bibirnya.
Ia menatap lurus ke arah bayangan hitam pekat di bawah tubuhnya yang kini mulai bergerak-gerak liar.
"Kau yang meminta ini, Azzy," bisik Kenzo pelan ke arah kegelapan di bawahnya.