NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25. Selena Menantang

Siang itu, Naira berjalan menyusuri lorong kantor Arsen Group dengan hati yang tenang. Beberapa gulungan sketsa desain ia peluk erat di dadanya, dan senyum tipis tak lepas dari bibirnya, senyum yang muncul setiap kali ia teringat wajah Mikael.

Hidupnya kini terasa begitu lengkap, begitu damai, seolah semua potongan teka-teki yang selama ini hilang akhirnya menemukan tempatnya.

Namun kedamaian itu terhenti saat sesosok perempuan melangkah keluar dari ruang di sampingnya dan menabraknya dengan sengaja.

Naira merasakan dorongan itu kuat dan penuh emosi. Sketsa-sketsa di pelukannya terlempar, berhamburan di lantai lorong yang bersih dan mengkilap.

Naira terhuyung sedikit, tapi ia segera menyeimbangkan dirinya. Ia tidak jatuh. Ia hanya berdiri tegak, menatap perempuan di hadapannya yang wajahnya memerah menahan amarah dan kesedihan yang bercampur aduk.

Itu Selena.

Kekasih Ravian. Perempuan yang selama ini menjadi alasan Naira menyembunyikan perasaannya sendiri.

Dan hari ini, di lorong yang sepi ini, Selena berdiri di hadapannya dengan mata yang berkilauan, bukan karena benci pada Naira, tapi karena cemburu yang menyiksa hatinya sendiri.

"Kamu bahagia sekali, ya?" suara Selena bergetar, terdengar tajam namun menyembunyikan rasa sakit yang dalam.

"Kamu berjalan ke mana-mana dengan senyum itu, seolah dunia milikmu sendiri. Seolah tidak ada yang pernah menyakitimu. Seolah kamu mendapatkan segalanya dengan begitu mudah."

Naira menatapnya dengan lembut, tidak ada amarah di matanya. Ia perlahan berlutut untuk mengambil sketsa yang berantakan, lalu berdiri kembali sambil menatap Selena dengan tenang.

"Apa maksudmu, Selena."

Selena tertawa getir, air mata mulai menggenang di matanya tapi ia berusaha menahannya dengan keras. Ia melangkah selangkah lebih dekat, menatap Naira dengan pandangan yang penuh rasa iri dan kepahitan.

"Kamu tahu apa yang paling menyakitkan? Setiap kali aku melihatmu, aku teringat pada apa yang tidak bisa aku miliki."

Suaranya pecah, dan untuk sesaat, topeng keangkuhannya runtuh. Selena menyeka air matanya dengan kasar, menunduk sebentar sebelum kembali menatap Naira dengan mata yang masih menyala.

"Ravian mencintaiku. Tapi mengapa setiap kali kami bersama, matanya selalu mencari keberadaanmu?

Mengapa saat ia bercerita, namamu selalu yang paling sering disebut? Mengapa aku merasa, aku hanya pengganti yang tidak pernah cukup baik untuk menggantikan tempatmu di hatinya?"

Naira tertegun. Ia tidak menyangka bahwa rasa sakit Selena sedalam ini. Ia tidak menyangka bahwa di balik sikap dingin dan angkuh itu, Selena sebenarnya hanya seorang perempuan yang ketakutan. Ketakutan kehilangan cinta orang yang ia cintai, ketakutan tidak pernah menjadi yang pertama di mata orang yang ia sayangi.

"Aku tidak pernah bermaksud mengambil apa pun darimu, Selena," jawab Naira pelan namun tulus. "Aku tidak pernah merebut Ravian darimu.

Sejak awal, aku tahu hatinya bukan milikku. Dan sekarang, hatiku sudah milik Mikael sepenuhnya. Aku bahagia dengan Mikael. Dan aku berharap, suatu hari nanti, kamu juga bisa bahagia. Bersama Ravian, atau dengan siapa pun yang pantas mencintaimu sepenuhnya."

Selena menggeleng, air mata kini jatuh bebas di pipinya. "Kamu tidak mengerti. Kamu tidak pernah mengerti rasanya menjadi aku.

Rasanya selalu berada di posisi kedua. Selalu menjadi cadangan. Selalu menunggu seseorang yang hatinya berada di tempat lain.

Dan yang paling menyakitkan, melihat betapa sempurnanya hubunganmu dengan Mikael. Kalian saling melengkapi. Kalian saling mencintai tanpa keraguan. Dan aku, aku hanya berdiri menonton kebahagiaan kalian sambil memegang hati yang hancur."

"Selena..." Naira ingin menghiburnya, ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi ia tahu kata-kata itu tidak cukup.

"Dia bercerita tentangmu, Naira. Setiap hari. Tentang bagaimana kamu tertawa, tentang bagaimana kamu menggambar, tentang bagaimana kamu selalu ada saat ia butuh teman. Dan aku tersenyum mendengarkannya, tapi di dalam hatiku... aku merasa semakin kecil, semakin tidak berarti. Aku iri padamu. Karena kamu dicintai dengan sepenuh hati. Dan aku... aku tidak pernah merasakan itu."

Naira menatapnya dengan rasa iba yang tulus. Ia mengerti perasaan itu. Ia pernah berada di posisi Selena, mencintai seseorang yang hatinya tidak sepenuhnya untuknya. Ia tahu betapa sakitnya.

"Cinta tidak bisa dipaksakan, Selena," kata Naira lembut namun tegas. "Dan cinta juga tidak bisa direbut. Jika Ravian benar-benar mencintaimu sepenuhnya, tidak ada satu orang pun yang bisa mengambilnya darimu. Tapi jika hatinya masih terbagi, itu bukan salahku. Itu bukan salahmu juga. Hati memang punya cara sendiri untuk memilih tempat berlabuh."

Selena hendak membalas, tapi suara langkah kaki yang mantap terdengar mendekat. Langkah yang dikenal dengan baik oleh mereka berdua.

Mikael muncul dari ujung lorong, dan saat melihat mereka berdua, Naira yang tenang dan Selena yang menangis, ia segera berjalan mendekat dan berdiri tepat di belakang Naira.

Kehadirannya seketika memberikan rasa aman yang luar biasa. Ia meletakkan tangannya di bahu Naira, lembut, namun penuh kepemilikan yang jelas.

Ia menatap Selena dengan tenang, tanpa kemarahan, tapi dengan ketegasan yang tidak bisa ditawar.

"Selena," suaranya rendah namun jelas. "Aku tidak tahu apa yang sedang kamu perjuangkan. Tapi aku tahu satu hal, Naira tidak pernah menjadi penghalang bagi kebahagiaanmu.

Jika kamu merasa tidak bahagia, jika kamu merasa tidak dicintai dengan cukup, lihatlah ke dalam hubunganmu sendiri, bukan pada perempuan yang berdiri di hadapanmu.

Naira adalah masa depanku. Siapa pun yang menyakitinya, dengan alasan apa pun, berarti menyakitiku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun membuatnya merasa bersalah atas kebahagiaannya sendiri."

Selena menatap Mikael, lalu beralih ke Naira. Dan di saat itu, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada kecemburuan. Ia menyadari bahwa meskipun ia iri pada hubungan mereka, meskipun ia cemburu pada Naira karena mendapatkan cinta yang utuh, ia tidak bisa membenci Naira. Karena Naira tidak pernah mengambil apa pun darinya.

Yang ia miliki dan ia takut akan kehilangan, sebenarnya tidak pernah benar-benar miliknya sepenuhnya.

Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan, menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. Tatapannya pada Naira kini tidak lagi penuh amarah, melainkan penuh kesedihan dan pengakuan yang pahit.

"Kamu benar," bisik Selena pelan, suaranya gemetar namun jujur. "Kamu tidak mengambil apa pun dariku. Aku hanya marah pada diriku sendiri. Marah karena tidak bisa membuatnya mencintaiku sepenuhnya. Dan aku menyalahkanmu karena itu lebih mudah daripada mengakui kebenarannya."

Ia berbalik perlahan, langkahnya tidak lagi terburu-buru atau penuh kemarahan, melainkan berat dan penuh kesadaran.

"Maaf," ucapnya pelan sebelum menghilang di ujung lorong. "Maaf sudah menyakitimu."

Saat Selena pergi, Mikael segera memutar tubuh Naira menghadapnya. Tangannya menyentuh pipi Naira dengan lembut, matanya mencari-cari tanda kesedihan di wajahnya.

"Apakah kamu baik-baik saja, Sayang?" tanyanya lembut dan cemas. "Dia tidak mengatakan sesuatu yang menyakitkan, kan?"

Naira tersenyum, lalu menggeleng pelan. Ia memegang tangan Mikael yang ada di pipinya, merasakan kehangatan yang menenangkan.

"Aku baik-baik saja, Mikael. Dia tidak menyakitiku. Dia hanya terluka. Seperti aku juga pernah terluka. Aku hanya berharap dia menemukan kebahagiaannya, seperti aku menemukanmu."

Mikael menatapnya dengan kekaguman yang semakin dalam. Ia tersenyum, lalu menarik Naira ke dalam pelukannya yang hangat dan melindungi.

"Kamu luar biasa, Naira. Kamu bahkan berbelas kasih pada orang yang berusaha melukaimu. Itulah mengapa aku mencintaimu begitu dalam. Hati sebaik milikmu sangat langka di dunia ini."

Naira memeluk pinggangnya erat, menyandarkan kepalanya di dada pria yang dicintainya. Suara detak jantungnya yang tenang dan kuat membuatnya merasa aman, dicintai, dan utuh.

"Terima kasih sudah berdiri di sisiku," bisiknya di dadanya.

"Aku akan selalu ada di sisimu," jawab Mikael lembut di atas kepalanya. "Tidak peduli apa pun yang terjadi. Tidak peduli siapa yang datang atau pergi. Hanya kita. Selalu kita."

Di lorong yang sepi itu, di antara sketsa yang sudah rapi kembali di tangannya, Naira menyadari satu kebenaran, kebahagiaannya tidak perlu membuat orang lain menderita.

Tapi ia juga tidak perlu merasa bersalah karena bahagia. Karena cinta sejati tidak pernah meminta maaf untuk keberadaannya. Ia hanya ada, nyata dan tulus, seperti cinta yang kini tumbuh subur di antara dirinya dan Mikael.

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!