Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Tut tut tut.
Sambungan telepon diputus sepihak meninggalkan Bu Rina yang gemetar ketakutan di atas sofa.
Siska yang baru keluar dari kamarnya melihat ibunya yang terlihat syok berat.
"Ada apa lagi sih Bu, muka Ibu pucat begitu seperti habis melihat hantu."
Siska bertanya sambil mengikir kuku panjangnya yang dicat merah terang.
"Siska, rentenir online baru saja menelepon ibu dan mengancam akan menyebar data KTP ibu."
"Ibu lupa kalau bulan lalu ibu pinjam uang pakai aplikasi untuk beli tas arisan."
Bu Rina merengek memegang lengan anak perempuannya dengan panik.
"Biasanya si gembel Amir yang selalu ibu suruh bayar tagihannya dari gaji bulanannya."
Siska mendengus kesal dan melempar kikir kukunya ke atas meja kaca.
"Ibu ini bagaimana sih, kan aku sudah bilang kita harus berhemat dulu."
"Uang di tabunganku sudah habis untuk bayar listrik dan cicilan mobilku kemarin."
Siska memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing menghadapi masalah keuangan yang tiba-tiba menumpuk.
"Cepat kau telepon Kevin, Siska."
"Minta uang lima juta padanya, uang segitu pasti seperti uang jajan anak SD baginya kan."
Bu Rina mendesak Siska dengan tatapan memohon.
Siska mengangguk ragu dan mengambil ponsel pintarnya.
Ia menekan kontak bernama Kevin Sayang dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
Tuuuut. Tuuuut.
Nada dering tersambung terdengar panjang, namun tidak ada jawaban dari pihak seberang.
Siska mencoba menelepon lagi hingga tiga kali berturut-turut tapi hasilnya tetap sama.
"Kevin tidak mengangkat teleponnya Bu, mungkin dia sedang sibuk rapat proyek."
Siska berusaha mencari alasan untuk menenangkan ibunya dan dirinya sendiri.
Namun tiba-tiba, sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor Kevin.
[Siska sayang, maaf aku tidak bisa angkat telepon, sedang ada masalah sedikit di proyek perumahan ayahku.]
[Bulan ini mungkin aku tidak bisa mengunjungimu dulu, rekeningku dibekukan sementara oleh ayah untuk audit perusahaan.]
[Tolong bersabarlah sedikit ya, love you.]
Mata Siska terbelalak lebar membaca pesan singkat yang sangat menghancurkan harapannya itu.
"Rekeningnya dibekukan, lalu bagaimana dengan janji membelikan gaun pengantin dan mobil mewah bulan depan!"
Siska berteriak histeris membuat Bu Rina ikut melompat kaget dari sofa.
"Ada apa Siska, jangan bikin ibu makin panik dong."
"Kevin bilang rekeningnya dibekukan karena ada audit perusahaan ayahnya, dia tidak punya uang bulan ini."
Siska membanting ponselnya ke atas sofa dengan perasaan marah dan kecewa bercampur aduk.
"Lalu bagaimana dengan hutang pinjaman online ibu."
"Bisa-bisa kita dipermalukan di grup WhatsApp keluarga besar Siska!"
Bu Rina menangis meratapi nasibnya yang tiba-tiba berubah sial sejak mengusir Amir.
Di dalam hati kecilnya, ia mulai merasakan penyesalan tipis, namun ego kesombongannya langsung menepis perasaan itu.
"Ini semua gara-gara si gembel Amir itu."
"Kalau saja dia tidak pergi dan tetap bekerja seperti anjing, kita tidak akan kesulitan begini."
Siska ikut menyalahkan Amir atas kehancuran ekonomi yang mereka buat sendiri.
Sementara itu, Rendy yang baru pulang bermain di warung internet masuk ke dalam rumah dengan wajah ceria.
"Ibu, Kak Siska, aku dengar rumor dari teman-teman di jalan."
"Katanya kemarin ada pemuda di kolam Galatama yang menang hadiah ratusan juta rupiah secara tunai."
"Kalian harus minta uang tambahan pada Kak Kevin biar aku bisa beli joran pancing mahal dan ikut turnamen itu juga."
Rendy berbicara dengan santainya tanpa menyadari hawa panas dan tatapan membunuh dari ibu dan kakaknya.
"Diam kau anak nakal, tidak ada lagi uang untuk mainan bodohmu itu!"
Bu Rina melemparkan bantal sofa tepat ke wajah Rendy yang langsung kebingungan.
Mereka tidak menyadari bahwa pemuda misterius yang memenangkan ratusan juta itu adalah Amir, mantan menantu yang mereka buang layaknya sampah.
Dan Amir saat ini sedang memarkirkan mobil tujuh miliarnya di lobi apartemen mewahnya.
Petugas keamanan apartemen bahkan sampai membukakan pintu mobil untuk Amir dan memberikan hormat ala militer padanya.
Amir tersenyum membalas sapaan itu dan melangkah masuk ke dalam lift dengan gaya bos besar.
"Kekayaan ini terlalu cepat terkumpul, tapi aku belum puas."
"Besok aku akan mencari target yang jauh lebih gila lagi untuk dipancing."
Amir bergumam dengan seringai mematikan yang siap menghancurkan dunia orang-orang yang meremehkannya.