NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Nadya berdiri di ambang pintu ruang jahit mini yang kini telah ditata rapi di salah satu sudut rumah baru mereka.

Matanya lekat menatap Armand yang duduk membungkuk di depan mesin jahit, jemarinya dengan cermat menuntun potongan kain yang tadi mereka beli.

Keseriusan dan ketelitian di wajah suaminya itu membuat dada Nadya bergemuruh oleh rasa hangat. Tanpa terasa, waktu sudah berjalan begitu cepat.

Ia lantas berbalik menuju dapur, meracik dua cangkir teh hangat dan menata beberapa buah risol ayam buatan Bibi di atas piring kecil.

Dengan langkah ringan, Nadya kembali menghampiri suaminya.

Ia meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping mesin jahit, lalu menepuk pelan bahu Armand.

"Mas, diminum dulu," bujuk Nadya dengan suara lembut. "Sudah dua jam Mas di depan mesin jahit. Nanti matanya lelah."

Armand menghentikan gerakannya, lalu mendongak menatap istrinya.

Ia tersenyum, garis-garis ketegangan di wajahnya perlahan mencair.

"Iya, Dek, sebentar lagi selesai," jawab Armand ramah sambil merapikan sisa benang.

"Mas tinggal merapikan jahitan tepi ini saja."

Meski berkata sebentar lagi, Nadya tahu betul betapa perfeksionis suaminya dalam hal merancang pakaian.

Ia hanya bisa tersenyum simpul, senang melihat pria itu kini memiliki kembali gairah hidup dan keahlian yang sempat terkubur oleh rasa rendah diri di masa lalu.

Tak berselang lama, deru mesin jahit di sudut ruangan akhirnya berhenti.

Armand bangkit dari duduknya dengan senyum puas tersungging di bibirnya.

Di tangannya, ia membawa setelan seragam baru yang baru saja diselesaikannya.

"Dek, kamu coba, pas tidak?" tanyanya sambil menyerahkan pakaian itu kepada Nadya.

Nadya menerima setelan itu dengan mata membelalak tak percaya.

"Mas, kok cepat sekali? Ini baru sebentar lho!"

Armand tertawa kecil, lalu meraih cangkir teh hangat yang tadi disiapkan istrinya dan menyeruputnya pelan.

"Kalau sudah terbiasa dan dikerjakan dengan hati, tangan ini bergerak sendiri, Dek."

Nadya yang penasaran langsung masuk ke dalam kamar ganti untuk mengenakan pakaian buatan suaminya.

Begitu ia mengenakannya di depan cermin, matanya langsung berbinar kagum.

Potongannya sangat pas memeluk tubuhnya, lengkungan jahitannya begitu rapi, dan kainnya terasa sangat dingin serta nyaman di kulit.

"Jahitannya halus sekali..." gumam Nadya takjub.

Ia segera melangkah keluar kamar, menghampiri Armand dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

"Mas, bagus sekali! Pas di badan, dan jahitannya benar-benar rapi seperti buatan desainer ternama.

Armand tersenyum bangga, rasa lelahnya seketika menguap melihat hasil kerjanya dihargai sebesar itu oleh istrinya.

"Besok Mas ikut aku ke kantor ya," lanjut Nadya dengan nada antusias.

"Terus, kira-kira Mas butuh berapa orang untuk membantu di tempat produksi nanti?"

Armand berpikir sejenak, menimbang skala pekerjaan yang akan ia tangani untuk perusahaan istrinya.

"Untuk permulaan, lima orang saja, Dek. Supaya koordinasinya lebih mudah dan kualitas jahitannya tetap terjaga."

Sementara itu, di tempat yang jauh dari kediaman Nadya dan Armand, suasana hati Sarah tengah berkecamuk hebat.

Ia duduk di ruang tamu rumah mewahnya, menatap kosong ke luar jendela dengan pikiran yang sama sekali tidak bisa tenang.

Bayangan wajah Armand yang begitu gagah, berwibawa, dan memukau dalam balutan jas slim-fit berputar-putar di kepalanya.

"Mas Armand tampan sekali..." gumam Sarah tanpa sadar, nada suaranya menyiratkan rasa penyesalan yang mendalam.

Ia sama sekali tidak menyangka pria yang selama bertahun-tahun ia anggap sebelah mata dan ia perlakukan sebagai beban kini bertransformasi menjadi sosok pria berkelas yang mampu meremukkan harga dirinya dalam sekejap.

Ibu Mirna yang melihat putrinya melamun segera mendekat, mencoba menyadarkan Sarah dari lamunan yang berbahaya itu.

"Sarah, ingat! Kamu sudah resmi bercerai, dan kamu juga sudah mendapatkan uang dua miliar dari Nadya. Jangan bertindak bodoh," tegur Ibu Mirna dengan nada cemas.

Sarah menoleh, sorot matanya menajam, menyembunyikan ambisi kelam yang mulai bergejolak di dadanya.

Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat di atas pangkuan.

"Jangan panggil aku Sarah, Bu, kalau aku tidak bisa mendapatkan keduanya," ucap Sarah penuh tekad dengan suara dingin.

"Aku tahu betul bagaimana watak Mas Armand dulu. Dia pria yang baik, penurut, dan sangat mencintaiku. Aku yakin... di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, mas Armand masih mencintai aku."

"Kamu memang keras kepala, Sarah," desis Ibu Mirna sambil menggelengkan kepala, merasa khawatir dengan obsesi putrinya yang mulai di luar batas kewajaran.

Namun, teguran sang ibu sama sekali tidak menggoyahkan tekad Sarah.

Wanita itu sudah terbutakan oleh rasa penasaran sekaligus gengsi yang terluka.

Ia tidak rela melihat mantan suaminya—pria yang dulu selalu ia remehkan dan ia jual demi uang—kini hidup makmur dan tampak jauh lebih berkilau di samping wanita lain, terutama Nadya.

Di dalam kepalanya, roda rencana mulai berputar. Sarah mulai menyusun berbagai cara licik agar ia bisa kembali menemui Armand secara empat mata.

Ia tahu betul jika ia mendatangi rumah atau kantor Nadya secara langsung, ia pasti akan diusir mentah-mentah atau kembali dipermalukan. Karena itu, ia harus mencari celah lain.

Pasti ada cara untuk mendekatinya, batin Sarah penuh ambisi.

Ia tahu Armand adalah tipe pria yang memiliki rasa iba yang tinggi dan menjunjung tinggi masa lalu mereka.

Dan di situlah celah yang akan ia gunakan untuk merebut kembali apa yang dulu pernah ia sia-siakan.

Di sisi lain, keheningan malam menyelimuti kamar utama kediaman Nadya dan Armand.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua pagi, namun Nadya masih terjaga.

Ia berbaring miring, menatap wajah suaminya yang tertidur pulas dengan napas yang teratur dan tenang.

Berbagai bayangan dan pikiran berkecamuk di kepalanya—mulai dari rasa syukurnya atas perubahan hidup mereka, hingga sedikit kekhawatiran terselubung mengenai bayang-bayang Sarah yang sempat muncul di mal tadi siang.

Gerakan kecil Nadya membuat Armand membuka matanya perlahan-lahan.

Penyesuaian cahaya lampu tidur yang temaram membuat pandangannya langsung tertuju pada sang istri yang tampak gelisah.

"Dek, kamu kenapa belum tidur?" tanya Armand dengan suara serak khas bangun tidur, sarat akan perhatian.

Nadya mengerjap pelan, menatap suaminya dengan sorot mata lelah.

"Entahlah, Mas. Dari tadi aku mencoba memejamkan mata, tapi tidak bisa."

Armand tersenyum tipis, memahami bahwa istrinya mungkin memikirkan banyak hal setelah hari yang cukup melelahkan dan penuh kejutan. Ia bergeser sedikit, merentangkan sebelah lengannya.

"Dek, kemarilah," ajak Armand lembut.

Nadya menatap wajah suaminya, merasakan kehangatan yang begitu menenangkan menjalar di dadanya.

"Boleh Mas peluk?" tanya Armand meminta izin dengan penuh kelembutan.

"B-boleh, Mas.." jawab Nadya pelan.

Tanpa ragu lagi, Nadya mendekat, merapatkan tubuhnya ke pelukan suaminya.

Armand segera mendekapnya erat, sebelah tangannya dengan sabar menepuk-nepuk punggung Nadya perlahan, memberikan rasa aman yang selama ini dicari oleh seorang wanita karier yang terbiasa memikul bebannya sendirian.

"Tidurlah yang tenang, Dek. Lepaskan semua beban yang ada di pikiranmu malam ini. Ada Mas di sini," bisik Armand di dekat telinganya.

Sentuhan hangat dan ketulusan dari dekapannya bekerja seperti sihir yang menenangkan.

Dalam hitungan detik, rasa cemas Nadya menguap begitu saja, dan ia tertidur pulas dalam pelukan suaminya yang kini menjadi pelindung terkuat dalam hidupnya.

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!