NovelToon NovelToon
Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius
Popularitas:34.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?

Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Dika masih berdiri di ruang kerjanya. Dokumen yang tadi ditemukan masih terbuka di atas meja. Ia kembali membaca tanggal yang tercantum di sana.

Tidak ada yang berubah. Tanggal itu tetap sama. Dika mengambil ponselnya, lalu memotret halaman tersebut. Setelah itu, ia memasukkan kembali dokumen ke dalam map dan meletakkannya seperti semula.

Ia tidak ingin Miranda tahu bahwa dirinya sudah melihat berkas itu. Jangan sampai.

Ada terlalu banyak hal yang belum masuk akal. Selama ini Dika mengenal Shiren sebagai putri yang dibesarkan bersamanya. Ia tidak pernah merasa perlu mempertanyakan masa kelahirannya. Semua dokumen penting tentang Shiren juga selama ini berada dalam pengelolaan Miranda.

Sekarang, justru satu dokumen lama membuat keyakinannya goyah. Dika mengambil jas yang tergantung di kursi. Besok ia akan mulai dari sesuatu yang lebih mudah dibuktikan.

Uang.

Jika memang ada transaksi yang tidak semestinya, ia ingin mengetahui ke mana semuanya pergi.

Pagi berikutnya, Miranda datang ke kantor bersama Dika. Perempuan itu duduk di samping suaminya di ruang rapat kecil. Beberapa orang dari bagian keuangan sudah menunggu di sana.

Di atas meja terdapat beberapa map tebal. Dika duduk di ujung meja.

"Mulai dari transaksi ini."

Ia mendorong satu dokumen ke arah Miranda. Miranda membacanya sekilas.

"Ini pemindahan aset lama."

"Aku tahu."

Dika menyandarkan tubuhnya. "Aku ingin tahu kenapa aset ini dipindahkan."

Miranda menjaga wajahnya tetap tenang. "Waktu itu ada kebutuhan perusahaan."

"Perusahaan yang mana?"

Miranda menunjuk nama perusahaan di dokumen. "Yang ini."

Kepala bagian keuangan segera membuka laptop. "Pak, kami sudah memeriksanya."

Dika menoleh. "Bagaimana?"

"Perusahaan tersebut memang tercatat sebagai rekanan, tetapi kepemilikannya mengalami beberapa kali perubahan."

"Perubahan?"

"Iya."

Kepala bagian keuangan memutar layar laptop ke arah Dika. "Yang membuat kami heran, setelah aset dipindahkan ke perusahaan ini, sebagian dana kembali mengalir ke perusahaan lain."

Dika memperhatikan layar. "Perusahaan lain?"

"Benar."

"Siapa pemiliknya?"

"Sedang kami telusuri."

Dika mengangguk. "Telusuri sampai tuntas."

Miranda mulai merasa tidak nyaman. "Dika, mungkin semua ini hanya karena sistem pencatatan lama."

Dika menoleh kepadanya. "Mungkin saja."

Nada suaranya tenang, seolah tak ingin Miranda menaruh rasa curiga sedikit pun.

"Tapi kalau memang tidak ada masalah, seharusnya pemeriksaan ini tidak membuat siapa pun keberatan."

Miranda terdiam, untuk kali ini kegugupan nampak jelas di wajahnya.

Dika kembali melihat dokumen. "Mulai hari ini, semua transaksi yang menggunakan kewenanganmu harus melalui pemeriksaan ulang."

Wajah Miranda menegang. "Kenapa sampai seperti itu?"

"Karena aku baru sadar selama ini aku terlalu banyak menyerahkan urusan tanpa memeriksanya sendiri."

Kalimat itu terdengar biasa. Tetapi Miranda tahu maksud di baliknya. Kepercayaan Dika mulai berkurang. Rapat berakhir tidak lama kemudian.

Begitu semua orang keluar, Miranda masih duduk di kursinya. "Kamu mencurigaiku?"

Dika berdiri sambil merapikan dokumen. "Aku sedang mencari penjelasan."

"Itu sama saja."

"Tidak."

Dika menatap istrinya. "Kalau aku sudah menuduh, aku tidak akan memintamu datang ke sini untuk menjelaskan."

Miranda tidak mampu menjawab. Dika mengambil map dan keluar dari ruangan. Di lorong, ia berhenti sejenak. Ponselnya bergetar. Pesan dari bagian keuangan masuk.

Pak, kami menemukan hubungan antara salah satu perusahaan penerima aset dengan seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga.

Dika membaca pesan itu dua kali. Ia langsung membalas. Cari tahu siapa orangnya. Jangan beri tahu siapa pun.

☘️☘️☘️☘️☘️

Di tempat lain, Azmira sedang berada di sebuah balai warga bersama beberapa tenaga kesehatan dari rumah sakit.

Hari itu rumah sakit mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga di daerah pinggiran kota. Sejak pagi, suasana sudah cukup ramai. Beberapa warga membawa anak-anak mereka untuk diperiksa.

Azmira baru saja selesai memeriksa seorang anak ketika seseorang berdiri di dekat meja pemeriksaan.

"Dokter Azmira."

Azmira mengangkat wajah.

William.

Ia datang bersama dua orang dari bagian pengelola rumah sakit. Setelah berbicara sebentar dengan panitia, William berjalan menghampirinya.

"Kamu sudah selesai memeriksa pasien di sini?"

"Baru satu. Masih banyak yang menunggu."

William melihat ke arah antrean. "Kalau begitu jangan terlalu memaksakan diri. Jadwalnya masih panjang."

Azmira tersenyum. "Aku masih kuat."

William tidak membantah. Ia justru menoleh kepada salah seorang staf yang berdiri tidak jauh darinya.

"Pastikan dokter dan tim mendapatkan waktu istirahat secara bergantian. Jangan sampai mereka belum makan sampai acara selesai."

"Baik, Pak."

Azmira memperhatikan percakapan itu. "Kamu memang selalu seperti ini?"

William menoleh. "Seperti apa?"

"Memerhatikan semuanya."

William tersenyum. "Kalau tidak diperhatikan, nanti yang repot juga aku."

Azmira tertawa kecil. Tidak lama kemudian, seorang panitia datang membawa beberapa laporan.

"Pak William, untuk pemeriksaan tambahan, ruangan sebelah bisa kita gunakan. Tapi jumlah kursinya kurang."

William membaca laporan itu sebentar. "Gunakan ruang pertemuan di sebelah aula. Saya sudah minta dibuka."

Panitia mengangguk dan segera pergi. Azmira memperhatikan William. "Kamu sudah menyiapkan semuanya?"

"Ini kegiatan rumah sakit."

"Biasanya pemilik rumah sakit datang sampai sejauh ini?"

William menatapnya. "Aku bukan cuma datang."

Ia menunjukkan berkas di tangannya. "Aku yang bertanggung jawab memastikan program ini berjalan."

Azmira mengangguk. "Oh."

William kemudian melihat ke arah antrean. "Kalau kamu butuh sesuatu, bilang."

"Aku akan bilang."

William hendak pergi, tetapi berhenti. "Dan jangan lupa makan."

Azmira langsung menatapnya. "Kamu juga sama saja seperti Tania."

William tertawa. "Kalau begitu berarti Tania benar."

Azmira menggeleng sambil tersenyum.

William kembali bergabung dengan pihak pengelola. Kali ini ia tidak mengganggu pekerjaan Azmira. Ia hanya sesekali terlihat berbicara dengan panitia, memastikan semua kebutuhan kegiatan terpenuhi.

Dari tempatnya berdiri, Azmira diam-diam memperhatikannya. Ada sisi lain dari William yang baru ia lihat hari itu. Bukan lelaki yang sengaja mencari alasan untuk mendekatinya atau seseorang yang ingin mendapatkan perhatian.

Di tempat itu, William terlihat seperti seseorang yang memang terbiasa memegang tanggung jawab. Dan justru sikap itulah yang membuat Azmira mulai melihatnya dengan cara berbeda.

Bersambung . ...

1
kiky
kapan up Thor 🤔🤔
Fenty
kok lama g up thot
kiky
Loom up y
Marini Suhendar
thor kapan up lagi
Yeni Astriani
kapan update lagi Author, penasaran nihhhh kelanjutan ceritanya
ceuceu
Dika tetep harta hak shiren ga di ganggu gugat,pdhl bukan anak kandung,azmira dari kecil ga merasakan kasih sayang ga ada harta dari dika tapi dika ga mikirin hak azmira,puck lah dika
falea sezi
jangan mau menerima maafin boleh menerima ogah bgt🤣 di jadiin serep saat si seren bukan anak nya enak bgt si bangsat🤣
Yeni Astriani
memaafkan boleh tapi bukan berarti harus menerima apalagi Azmira sudah terbiasa hidup mandiri tanpa bantuan dari Pak Dika ☺☺☺
Nar Sih
makasih udh up lgi kak🙏
Ilham
berarti sirhen bukan anak kandung Dika yang dia rawat 25 tahun
Sari Nilam
gimana rasanya dika....sakittttt kan
tp tidak lebih sakit apa yang pernah azmira lalui tanpa tahu ayahnya dendiri tdak mengakuinya
Sari Nilam
masih belum sebanding de gan luja yang azmira dan ibunya rasakan
azmira yang malang tapi tangguh
azmira yang cerdas tapu tak pernah diakui
🤣🤣penyesalanmu terlambat kaunmerawat anak yang bukan darah dagingmu. dan darah dagingmu kau abaikan
Ilham
aku mau bertanya,,katanya si Dika pengin anak laki2 buat penerusnya...tapi knapa sama anak selingkuhan nya perempuan juga si Dika mau saja menerimanya...sedangkan anak kadung nya sendiri perempuan juga tapi dia ngk mau menerimanya kan aneh
Ilham
aku ketawa sendiri membawa kata jawaban Mira...aku berharap ceritanya Mira di bantu sama orang kaya
Ilham
buat lah cerita Mira ini sebenarnya enak mungkin...aku suka cerita anak kecil tapi ada juga penolong Mira
Rohmi Yatun
gak ada gunanya kehadiran Dika disaat Azmira sudah sukses.. kalo q jadi Azmira Big No untuk Dika.. gak akan ada istilah anak durhaka untuk seorang ayah seperti Dika.. 👎
Nar Sih
dulu rina yg sdh setiya dan sabar dgn tangisan azmira ,kini saat nya kmu terima kemarahan putri mu dika🤣
ceuceu
Kesalahanmu terlalu fatal dika
Tengku Nafisa
maafmu tdk berlaku dika. sibuk membesarkan anak org. anak sendiri kau telantarkan.
Rohmi Yatun
jujur kalo q jd Azmira.. tidak bisa menerima kehadiran Ayahnya.. untuk apa hadir skrg.. mau tanggung jawab katanya, tanggung jawab dlm hal apa?.. 👎👎👎👎 tidak masuk akal.. kedatangan mu sudah sgt terlambat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!