Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
"Drake" lirih Nathalie saat melihat Drake berdiri di hadapannya sambil mengulurkan tangannya ke arahnya.
"Bangunlah. Kau membuat jalanan macet" ucap Drake.
Nathalie menoleh, dan benar saja jalanan sudah macet, suara klakson kendaraan sangat nyaring memekikan telinga. Perlahan Nathalie pun bangkit, dan menepi ke pinggir jalan bersama Drake.
"Kamu kenapa? Kamu tidak berniat bunuh diri kan?" tanya Drake.
Nathalie tidak menjawab, tiba-tiba dia memeluk Drake dan menangis dalam pelukan pria itu.
"Tolong, bawa aku pergi dari sini" pinta Nathalie dengan suara memohon.
"Hei, apa yang terjadi" tanya Drake.
Nathalie menggelengkan kepalanya tidak mau menjawab pertanyaan laki-laki itu. Dia masih merasa trauma.
Nathalie memeluk Drake lebih erat, tubuhnya yang masih gemetar menempel pada dada pria itu seolah takut dilepaskan. Bau parfum Drake yang mahal dan familiar entah kenapa memberinya sedikit rasa aman di tengah kekacauan malam ini. Air matanya membasahi kemeja Drake, tapi ia tak peduli.
Drake membeku sesaat, tangannya ragu-ragu di udara sebelum akhirnya mendarat pelan di punggung Nathalie. Ia bisa merasakan getaran hebat di tubuh perempuan itu, serta bau keringat, darah, dan ketakutan yang menempel di bajunya.
"Hei... tenang dulu," gumam Drake dengan suara rendah, hampir lembut, sesuatu yang jarang ia tunjukkan. Ia melirik ke sekitar. Mobil-mobil di belakang sudah mulai berisik, klakson membahana, tapi sopir-sopir yang melihat adegan itu hanya melirik sekilas sebelum memilih mengambil jalur lain.
Drake melepaskan pelukan Nathalie dengan hati-hati, lalu memegang kedua bahunya agar perempuan itu menatapnya. Wajah Nathalie tampak kacau, pipi memerah bekas tamparan, mata bengkak, rambut acak-acakan, dan ada memar di pergelangan tangannya yang baru saja ia sadari.
"Kamu habis apa, Nathalie? Siapa yang berani menyentuhmu" tanya Drake lagi, suaranya lebih tegas kali ini. Matanya menyipit, melihat bekas-bekas kekerasan di tubuh perempuan itu.
Nathalie menggelengkan kepalanya kuat-kuat, bibirnya gemetar. "Jangan tanya dulu. Tolong, bawa aku pergi dulu dari sini. Aku dia akan mengejarku" Suaranya pecah, tenggorokannya terasa sakit karena terlalu banyak berteriak tadi.
Drake diam sejenak. Ingatannya kembali ke malam saat Nathalie menjual dirinya padanya. Waktu itu ia pikir perempuan ini hanya salah satu dari banyaknya yang mencari uang cepat. Tapi sekarang, melihatnya seperti ini membuat dia iba.
Ia menghela napas panjang, lalu membuka pintu penumpang mobilnya. "Masuk. Kita bicara di tempat yang aman."
Nathalie tanpa ragu langsung masuk, meringkuk di kursi seperti anak kecil yang ketakutan. Drake menutup pintu, mengitari mobil, dan duduk di kursi pengemudi. Mobil mewah itu melaju pelan meninggalkan gang sempit tersebut, meninggalkan rumah Nathalie yang gelap di belakang.
Sepanjang perjalanan, Nathalie hanya diam. Tangannya mencengkeram ujung bajunya sendiri, mata menatap kosong ke luar jendela. Drake sesekali meliriknya, tapi tak memaksa bicara. Ia mengarahkan mobil menuju apartemennya di pusat kota, tempat yang mewah, aman, dan jauh dari gang-gang kumuh seperti tadi.
Sesampainya di basement apartemen, Drake mematikan mesin. Ia menoleh ke Nathalie yang masih diam.
"Aku nggak akan paksa kamu cerita sekarang," kata Drake pelan. "Tapi kamu butuh mandi, obat-obatan, dan istirahat. Besok... kalau kamu mau, kamu bisa cerita."
Nathalie menoleh, matanya masih basah. "Kenapa kamu mau bantu aku? Dulu aku cuma—"
Drake memotong dengan senyum tipis yang sulit dibaca. "Karena aku nggak suka lihat barang yang pernah aku beli dirusak orang lain."
Nathalie tersentak mendengar kata-kata itu, tapi anehnya, kali ini ia tak merasa tersinggung. Mungkin karena kelelahan, atau karena saat ini Drake adalah satu-satunya orang yang tak sedang menyakitinya.
Mereka naik lift dalam diam. Begitu masuk ke apartemen mewah Drake yang luas dan dingin, Nathalie langsung merasa seperti berada di dunia lain. Drake menunjukkan kamar mandi.
"Mandi dulu. Ada baju bersih di lemari. Aku siapkan makanan untuk kamu."
Nathalie mengangguk lemah. Sebelum masuk kamar mandi, ia berhenti di ambang pintu dan menoleh.
"Drake..."
"Ya?"
"Terima kasih," bisiknya, suaranya hampir hilang.
Drake hanya mengangguk, lalu berbalik menuju dapur. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang bergejolak. Bukan sekadar nafsu seperti dulu. Melainkan sesuatu yang lebih rumit.
Sementara itu, di kamar mandi, Nathalie membiarkan air hangat membasuh tubuhnya yang penuh luka. Air matanya kembali mengalir, bercampur dengan air shower.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dyah menjatuhkan kantong belanjaannya begitu saja ke lantai. Buah-buahan dan mie instan berguling keluar. Matanya membelalak melihat Hadi tergeletak di lantai kamar dengan kepala berlumuran darah kental yang sudah mulai mengering. Lampu tidur pecah berserakan di sampingnya, dan kursi kecil terguling tak jauh dari situ.
"Pak Hadi! Anda kenapa?!" seru Dyah dengan suara bergetar. Ia berlutut cepat di samping pria tua itu, tangannya menepuk-nepuk pipi Hadi berkali-kali.
"Pak Hadi! Bangun!"
Tak ada respons. Hanya desahan lemah dan napas yang tersengal-sengal. Darah masih menetes pelan dari luka di pelipisnya. Dyah merasa jantungnya mau copot. Ia buru-buru meraba denyut nadi di leher Hadi, masih ada, meski lemah.
"Ya Tuhan... anak kurang ajar itu!" umpatnya dengan suara parau. "Nathalie! Dasar jalang tak tahu diuntung!"
Dyah bangkit tergesa-gesa, kakinya gemetar. Ia berlari keluar kamar, mencari putrinya di seluruh rumah kecil itu. Pintu kamar terbuka lebar, kunci cadangan masih tergantung di lubangnya. Nathalie tak ada di mana-mana.
"Anak brengsek!!" bentak Dyah pada dirinya sendiri sambil memukul-mukul meja.
Ia kembali ke kamar, melihat kondisi Hadi yang semakin pucat. Darah sudah membasahi lantai kayu usang. Panik mulai merayap naik ke tenggorokannya. Kalau Hadi mati di sini, ia bisa kena masalah besar. Polisi, tetangga, gosip, apalagi suaminya yang lumpuh dikamar pasti akan tahu.
"Aku harus telepon ambulans," gumam Dyah sambil mengeluarkan ponsel tua dari saku roknya. Jarinya gemetar saat menekan nomor darurat. "Aku nggak mau dia mati di rumahku... nanti susah urusannya."
Tapi sebelum panggilan tersambung, ia berhenti. Otaknya berputar cepat. Kalau ambulans datang, mereka pasti tanya-tanya. Bagaimana Hadi bisa babak belur seperti ini? Nathalie pasti akan dituduh, dan ia sendiri bisa terseret. Uang yang sudah ia terima dari Hadi juga akan hilang begitu saja.
Dyah mematikan panggilan. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai terasa darah. Akhirnya ia memutuskan mengambil handuk kotor dari lemari dan menekannya ke luka Hadi, berusaha menghentikan pendarahan.
Dia sebisa mungkin mengobati Hadi, supaya tidak menimbulkan kecurigaan nantinya.
"Awas kamu Nathalie. Aku tidak akan mengampunimu" maki Dyah sambil mengobati Hadi yang masih belum sadarkan diri.