Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Sarapan Penuh kebohongan
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa sangat canggung, setidaknya bagi Ardi. Laki-laki itu duduk dengan pandangan kosong yang sesekali mencuri lihat ke arah Sarah. Di hadapannya, sepiring nasi goreng margarin sederhana buatan Sarah tersaji hangat.
Anehnya, Sarah bersikap biasa saja. Dia tidak mogok masak lagi pagi ini, bahkan dengan telaten menuangkan kopi hitam ke cangkir Ardi seperti hari-hari biasanya.
"Mas, kopinya," ucap Sarah lembut, menaruh cangkir itu di dekat tangan Ardi. Wajahnya bersih tanpa beban, seolah malam sebelumnya tidak terjadi apa-apa.
"Ah... iya, makasih ya, Sarah," jawab Ardi gugup. Tangannya sedikit gemetar saat memegang sendok. Rasa bersalah setelah melakukan kesalahan besar semalam benar-benar menyiksanya dari dalam. Dia merasa menjadi penjahat paling buruk, apalagi melihat Sarah yang kembali bersikap manis pagi ini.
Dari arah tangga, Rika dan Ibu Widya turun dengan langkah malas. Rika langsung melirik meja makan dengan wajah ditekuk.
"Wah, akhirnya masak juga. Takut ya kalau Ardi benar-benar tidak kasih uang belanja lagi?" cibir Rika sambil menarik kursi di sebelah ibunya.
Ibu Widya ikut duduk dengan angkuh. "Makanya, Sarah, jadi istri itu yang tahu diri. Kalau Ardi kerja keras, kamu itu bagian melayani di rumah. Jangan banyak tingkah seperti kemarin."
Ardi yang sedang dilingkupi rasa bersalah luar biasa mendadak merasa sangat risih dengan omongan ibu dan kakaknya. "Ma, Mbak, bisa diam tidak? Pagi-pagi tidak usah memancing keributan. Makan saja yang ada."
Rika mendengkus, merasa heran dengan Ardi yang tiba-tiba membela Sarah. "Lho, kok kamu malah sewot, Di? Kan Mbak cuma mengajari istrimu."
Sarah hanya tersenyum tipis, sangat tipis hingga tidak ada yang menyadari kilat dingin di matanya. Dia duduk tenang sambil menyesap teh hangatnya.
"Tidak apa-apa, Mas. Mbak Rika sama Mama kan memang suka sekali berkomentar," ujar Sarah santai, nada suaranya terdengar sangat sabar dan polos. "Oiya Mas, bagaimana urusan proyek Jakarta kemarin? Semalam kamu pulang larut sekali, pasti capek ya mengurus semua masalah kantor?"
Uhuk!
Ardi langsung tersedak nasi gorengnya sendiri. Wajahnya mendadak merah padam. Dia buru-buru menyambar cangkir kopi dan meminumnya sampai tandas untuk meredakan rasa gugupnya yang mendadak memuncak.
"K-kok kamu tiba-tiba tanya soal itu?" tanya Ardi dengan suara agak serak, mencoba tertawa kecil yang terdengar sangat garing di telinga.
"Ya kan kamu sendiri yang bilang kemarin kalau proyek itu penting sekali buat kamu, Mas. Makanya aku tanya, semuanya lancar kan?" Sarah menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Ardi dengan binar mata yang tampak sangat polos namun justru terasa mencekik leher Ardi. "Semoga kerja keras kamu semalam di kantor membuahkan hasil yang... memuaskan ya."
Ardi menelan ludah dengan susah payah. Kata-kata "kerja keras semalam di kantor" rasanya langsung menghantam ulu hatinya. Apakah Sarah tahu sesuatu tentang apa yang dia lakukan semalam? Tidak, pikir Ardi cepat. Sarah kan semalam di rumah, dia tidak mungkin tahu. Itu pasti cuma pertanyaan perhatian biasa dari seorang istri.
"I-iya, murni urusan pekerjaan kok. Semuanya sedang diusahakan biar cepat selesai," jawab Ardi, mencoba mengontrol suaranya agar terdengar meyakinkan di depan ibu dan kakaknya yang mulai memandanginya dengan heran.
"Baguslah kalau begitu," sahut Sarah sambil merapikan piring kosongnya. Dia berdiri, lalu mengusap bahu Ardi dengan lembut sebelum berjalan ke dapur. "Semangat kerjanya ya, Mas. Aku selalu mendukung apa pun yang terbaik untukmu... dan untuk masa depan kita."
Ardi hanya bisa mengangguk kaku. Sentuhan tangan Sarah di bahunya terasa sangat dingin, membuat bulu kuduknya meremang tanpa alasan yang jelas.
Begitu Sarah menghilang di balik sekat dapur, senyum polos di wajah perempuan itu langsung lenyap, digantikan oleh tatapan sedingin es. Di dalam saku daster kasualnya, ponsel Sarah bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari orang kepercayaannya:
"Nona Muda, draf gugatan cerai sudah siap di meja kerja Anda di kantor pusat. Dan hari ini, kurator dari bank akan mulai mengirimkan surat peringatan pertama untuk penyitaan aset perusahaan Pak Ardi karena gagal bayar."
Sarah mengetik balasan dengan gerakan jemari yang sangat santai.
“Bagus. Biarkan kurator itu datang ke kantornya siang ini. Aku ingin tahu bagaimana reaksi suamiku saat dunianya benar-benar mulai hancur secara resmi.”