NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebelum Bulan Ketiga Terbit

Kael tetap menutupi mata Aelora.

Telapak tangannya dingin, tetapi Aelora masih dapat melihat gambaran Seraphiel di balik kelopak matanya.

Rambut putih yang kotor oleh darah.

Enam sayap terikat rantai.

Pedang Lucien di lehernya.

“Turunkan aku,” kata Aelora.

“Tidak.”

“Aku harus melihat.”

“Tidak ada lagi yang perlu kaulihat.”

“Dia ayahku.”

Kael tidak menjawab. Ia berdiri sambil tetap menggendong Aelora, lalu berjalan menjauh dari jendela menara.

Cahaya berbentuk matahari masih memenuhi langit utara. Suara Lucien bergema dari pegunungan hingga ke dinding istana.

“Bulan pertama sudah naik,” katanya. “Dua lagi, Putri Kecil.”

Kael mengangkat tangan.

Bayangan dari seluruh lorong melesat keluar melalui jendela. Bentuknya menjadi ratusan burung hitam yang menyelimuti lambang matahari di langit.

Cahaya Lucien mencoba menembusnya.

Kael mengepalkan tangan.

Langit utara menjadi gelap.

Suara sang pendeta terputus.

Namun tidak sepenuhnya.

Tawa pelan masih terdengar beberapa detik setelah gambar Seraphiel hilang.

Aelora membuka mata ketika tangan Kael turun.

“Kenapa kau menutupnya?”

“Karena dia ingin kau melihat.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itulah jawabannya.”

Kael menuruni tangga dengan langkah cepat. Prajurit memenuhi setiap lantai. Sebagian berlari menuju menara pengawas. Yang lain membawa peti senjata, kristal komunikasi, dan peta perbatasan.

Lonceng terus berbunyi.

Dum.

Dum.

Dum.

Setiap bunyi membuat sayap putih Aelora bergetar.

“Lucien tahu aku akan datang,” katanya.

“Itu sebabnya kau tidak akan datang.”

“Kalau kita diam, dia akan membunuh Seraphiel.”

“Kalau kau mendatangi altar, dia akan menggunakan darahmu untuk membuka gerbang.”

“Kita bisa menghancurkan altar lebih dulu.”

“Kita?”

Aelora menatapnya. “Aku tahu bentuk altar itu dari masa depan.”

“Dan kau baru saja kehilangan darah dari sayapmu.”

“Hanya beberapa bulu.”

Kael berhenti di tengah tangga.

Tatapannya turun ke bagian belakang jubah Aelora. Noda merah sudah melebar pada kain yang menutupi sayap.

“Beberapa?”

Aelora mencoba melihat ke belakang. Gerakannya menarik luka dan membuatnya meringis.

Kael langsung melanjutkan perjalanan, kali ini lebih cepat.

“Aku tidak perlu dibawa ke Eirna.”

“Kau berdarah.”

“Seraphiel juga berdarah.”

“Dan menambah satu pasien tidak akan menyelamatkannya.”

“Aku bukan pasien.”

“Kau selalu mengatakan itu ketika sedang menjadi pasien.”

Mereka mencapai lantai utama.

Daren berdiri di ujung lorong dengan baju zirah yang belum terpasang sempurna. Wajahnya masih pucat akibat luka anak panah, tetapi pedang sudah tergantung di pinggang.

Eirna berjalan di sampingnya sambil marah.

“Kalau jahitanmu terbuka, saya akan membiarkanmu menjahitnya sendiri.”

“Pasukan perbatasan membutuhkan komandan.”

“Pasukan membutuhkan komandan yang tidak pingsan di atas kuda.”

“Saya tidak akan pingsan.”

“Semua orang di istana ini mengatakan kalimat yang sama sebelum jatuh.”

Daren melihat Kael dan langsung menunduk.

“Yang Mulia. Tiga pos utara tidak merespons. Menara pengawas Gravan melihat setidaknya empat puluh penunggang Gereja Fajar.”

“Belasan yang kulihat hanya pasukan depan,” kata Aelora.

Daren memandangnya. “Putri melihat mereka?”

“Melalui Menara Rune.”

Wajah Daren berubah.

Kael tidak memberinya waktu untuk bertanya.

“Tutup Jalur Raven dan Sungai Vard. Jangan hadapi pasukan cahaya di tanah terbuka. Gunakan hutan dan kabut.”

“Siap.”

“Tidak ada yang mengejar sampai melewati batas luar.”

Daren mengerutkan dahi. “Kalau mereka mundur menuju kuil?”

“Biarkan.”

“Mereka membawa tahanan.”

“Itulah umpan mereka.”

Daren memahami.

“Seraphiel.”

Aelora melihat nama itu membuat beberapa prajurit menoleh.

Bukan dengan ketakutan biasa.

Dengan kecurigaan.

Malaikat enam sayap berada di tangan Gereja Fajar, dan kini Raja Iblis sedang mempertimbangkan operasi untuk menyelamatkannya.

Daren memegang gagang pedangnya.

“Kalau dia benar orang yang menyelamatkan pasukan saya, saya akan membawanya kembali.”

“Tanpa Aelora,” kata Kael.

Daren menatap Aelora sebentar, lalu mengangguk.

Aelora tidak menyukai cepatnya semua orang menyetujui keputusan yang dibuat mengenai dirinya.

“Aku bisa membantu.”

Kael tetap berjalan.

“Ayah.”

Tidak ada jawaban.

“Ayah.”

“Aku mendengar.”

“Kalau begitu jawab.”

“Kau tidak ikut.”

“Kenapa boleh Daren yang belum sembuh?”

Daren membuka mulut.

Eirna menyelanya. “Pertanyaan yang sangat baik.”

“Saya tidak meminta pendapat Tabib.”

“Karena itu saya memberikannya gratis.”

Kael menyerahkan Aelora kepada Eirna.

Aelora langsung mencengkeram kerah mantelnya.

“Jangan.”

“Kau perlu dirawat.”

“Kau akan pergi tanpa aku.”

“Aku akan menuju ruang strategi.”

“Itu tetap pergi.”

Kael mencoba melepaskan jemarinya satu per satu. Aelora menahan sekuat tenaga, tetapi tubuhnya terlalu lelah.

“Seraphiel mungkin tidak punya waktu,” katanya.

“Bulan ketiga belum terbit.”

“Lucien bisa berbohong.”

“Benar.”

“Dia bisa membunuhnya sebelum itu.”

“Benar.”

“Lalu kenapa kau tenang?”

Kael berhenti melepaskan tangannya.

“Aku tidak tenang.”

Bayangan di lantai membesar, memenuhi lorong sampai para prajurit mundur ke dinding.

Kael menurunkan suaranya.

“Aku sedang memutuskan cara menyelamatkan seorang malaikat yang pernah kubenci, menghancurkan altar yang dapat membuka tiga dunia, menghentikan pendeta yang mengingat masa depan, dan memastikan anakku tidak mengorbankan dirinya karena mengira semua nyawa adalah tanggung jawabnya.”

Aelora menatapnya.

“Jadi jangan salah mengira diamku sebagai ketenangan.”

Jemarinya akhirnya terlepas dari mantel Kael.

Eirna mengangkat Aelora dengan hati-hati agar sayapnya tidak tertekan.

Kael menoleh kepada Daren.

“Panggil Orin, pemimpin klan perbatasan, dan utusan Elyrion. Ruang strategi dalam lima menit.”

Daren berjalan pergi.

“Utusan Elyrion?” tanya Aelora.

“Elianor mengenal struktur Kuil Sayap Patah.”

“Kau masih percaya kepadanya?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Kepercayaan bukan syarat untuk menggunakan informasi seseorang.”

Milo yang sejak tadi bersembunyi di lipatan mantel Kael mengangkat kepalanya.

“Itu terdengar seperti kalimat yang akan berakhir buruk.”

Kael mengambil kucing kecil itu dan menyerahkannya kepada Aelora.

“Kau ikut menjaga dia.”

Milo terlihat tersinggung. “Aku baru saja membantu menghancurkan senjata takdir.”

“Dan hampir lenyap lagi.”

“Aku berkontribusi.”

“Kontribusimu sekarang adalah memastikan dia tetap di ruang perawatan.”

Milo mendengus. “Tugas yang lebih sulit.”

Kael berbalik.

Aelora memanggilnya sebelum ia berjalan jauh.

“Ayah.”

Kael menoleh.

“Kalau harus memilih lagi,” katanya, “antara aku dan kerajaan…”

Kael memandangnya cukup lama.

Kemudian ia berjalan kembali.

“Aku sudah memilih.”

Aelora menahan napas.

“Di sidang?”

“Ya.”

“Aku tidak mendengar jawabannya.”

“Karena kau pergi sebelum aku selesai.”

“Apa yang kaukatakan?”

Kael berdiri di hadapannya.

“Aku mengatakan Nocthara bukan kumpulan tembok, mahkota, dan hukum tua. Kerajaan adalah orang-orang yang seharusnya dilindungi oleh semua itu.”

Ia menyentuh rambut Aelora yang menempel pada dahinya.

“Kalau keselamatan Nocthara membutuhkan pengorbanan seorang anak, berarti yang mereka selamatkan bukan kerajaan. Hanya ketakutan mereka sendiri.”

Dada Aelora terasa sesak.

“Jadi kau memilihku?”

“Aku memilih Nocthara.”

Aelora menunduk.

Kael mengangkat dagunya menggunakan satu jari.

“Dan kau bagian dari Nocthara.”

Aelora menatapnya.

“Bagian yang sering kabur, membuka pintu terlarang, dan menolak tidur.”

“Aku tidak kabur.”

“Kau keluar melalui lorong rahasia tanpa izin.”

“Aku berjalan cepat.”

“Dengan mantel dan bekal.”

“Aku membawa sisir.”

“Itu tidak membantumu.”

Milo mengangkat kaki depannya. “Saya dapat menjadi saksi bahwa itu memang pelarian.”

Aelora memelototinya.

Kael hampir tersenyum, tetapi suara terompet perang dari halaman membuat wajahnya kembali keras.

“Aku akan kembali.”

“Kau selalu berkata begitu.”

“Dan sejauh ini aku selalu kembali.”

Kalimat itu menenangkan sekaligus menakutkan.

Dalam masa depan lama, Kael pernah mengatakan hal yang sama.

Lalu suatu hari ia tidak kembali.

Aelora menggenggam Piko dan Milo bersamaan.

“Jangan pergi ke Kuil Sayap Patah sendirian.”

“Aku tidak akan.”

“Jangan masuk gerbang.”

“Tidak.”

“Jangan menyentuh pedang putih-hitam.”

Kael terdiam.

Aelora menyipitkan mata. “Kau pernah melihat pedang itu sebelum hari ini?”

“Di gudang senjata Asterion, dua belas tahun lalu.”

“Kenapa tidak mengatakannya?”

“Karena aku baru memastikan bahwa itu senjata yang sama.”

“Apa namanya?”

“Eidolon.”

Nama itu membuat lambang Solumbra pada pergelangan Aelora berdenyut.

Kael melihat reaksinya.

“Senjata itu dibuat untuk menyalurkan darah tiga garis,” katanya. “Malaikat, manusia, dan Umbra.”

“Darahku.”

“Ya.”

“Siapa yang membuatnya?”

“Asterion menyelesaikan bilahnya.”

“Dan Varion?”

Kael memandang menuju jendela gelap di ujung lorong.

“Varion yang merancang tujuan penggunaannya.”

Eirna menyesuaikan posisi Aelora.

“Pertanyaan berikutnya dilakukan setelah sayap diperiksa.”

Kael mengangguk dan akhirnya berjalan pergi.

Aelora memperhatikannya sampai sosok hitam itu menghilang di tikungan.

Ruang perawatan dipenuhi bau ramuan pahit.

Eirna meletakkan Aelora tengkurap di atas ranjang dengan bantal di bawah dada. Sayap kecilnya dibuka perlahan.

Aelora menggigit ujung selimut.

“Ini akan sakit?” tanyanya.

“Ya.”

Aelora menoleh sedikit. “Biasanya kau berkata sedikit sakit.”

“Saya sudah berhenti berbohong.”

“Sekarang aku merindukan kebohongan.”

Eirna membersihkan darah di antara bulu. Tiga bulu patah di bagian pangkal. Kulit di sekitar tulang sayap memerah dan panas.

Milo duduk di atas meja, mengawasi seperti pengawas yang tidak berguna.

“Sayapnya tumbuh terlalu cepat,” katanya.

Eirna meliriknya. “Anda menjadi tabib sejak kapan?”

“Sejak saya melihat lebih banyak sayap patah daripada manusia hidup.”

“Bantu dengan diam.”

Nira dan Ryn muncul di balik kaca pintu. Nira menempelkan wajahnya pada permukaan, sementara Ryn berdiri di belakang dengan perban melingkari dada.

Aelora melambaikan tangan kecil.

Nira mencoba membuka pintu.

Seorang penjaga menahannya.

“Aku membawa sup!” teriak Nira dari luar.

“Tidak boleh masuk,” jawab Eirna.

“Supnya tidak terkutuk!”

“Kemarin kau juga mengatakan bonekanya lucu.”

Nira melihat mangkuk di tangannya, seolah baru menyadari reputasinya telah rusak.

Ryn mengangkat selembar kertas ke kaca.

Tulisan besar terlihat di sana.

KAMI TIDAK AKAN MEMBIARKANMU DIKIRIM KE BENTENG.

Aelora membaca dua kali.

Ia mengambil papan kecil dari meja dan menulis menggunakan kapur.

KAEL SUDAH MEMILIHKU.

Nira tersenyum lebar.

Ryn menurunkan bahunya, terlihat lega.

Eirna menyentuh salah satu bulu patah.

Rasa sakit menyambar punggung Aelora.

Cahaya putih meledak dari sayapnya.

Semua rune ruangan menyala.

Pada saat yang sama, garis hitam di punggung kirinya bergerak.

Aelora menjerit.

Eirna segera melepaskan tangannya.

“Aelora?”

Sesuatu mendorong dari bawah kulit kiri.

Bukan tulang padat.

Bayangan.

Bentuknya menyerupai sayap yang belum selesai, hitam dan transparan. Ia muncul hanya beberapa detik, lalu menghilang kembali ke dalam tubuh.

Aelora gemetar.

Milo melompat mendekat.

“Sayap kedua menjawab rasa sakit sayap pertama.”

“Apakah itu buruk?” tanya Aelora terengah-engah.

Eirna memeriksa punggung kirinya. Wajah tabib itu semakin tegang.

“Mereka tidak hanya tumbuh.”

“Apa lagi?”

“Mereka saling memanggil.”

Lampu rune di atas mereka berubah warna.

Dari ungu menjadi emas.

Eirna berdiri cepat.

“Semua orang mundur.”

Nira dan Ryn menjauh dari kaca. Penjaga menarik senjata.

Cahaya keemasan keluar dari lambang Solumbra pada pergelangan Aelora. Bentuknya menjadi benang tipis yang mengarah ke utara.

Benang itu menembus dinding.

Aelora dapat merasakan sesuatu di ujungnya.

Rantai.

Dingin.

Darah.

Dan seseorang yang berusaha tetap sadar.

“Seraphiel,” bisiknya.

Eirna meraih kristal pemutus sihir.

“Jangan putuskan,” kata Aelora.

“Ini mungkin jalur pelacak.”

“Bukan.”

“Bagaimana kau tahu?”

Aelora menutup mata.

Melalui benang itu, suara lelaki terdengar.

Lemah.

Patah-patah.

Namun nyata.

“Aeloria…”

Aelora menahan napas.

Suara itu bukan Lucien.

Bukan Varion.

Ada kehangatan aneh di dalamnya, seperti lagu yang pernah didengar saat masih berada dalam kandungan.

“Ayah kandung?”

Benang emas bergetar.

Seraphiel menarik napas berat dari tempat yang sangat jauh.

“Jangan… datang saat bulan ketiga…”

Aelora menggenggam seprai.

“Kenapa?”

“Bulan ketiga… bukan batas waktu.”

Suara rantai bergesekan.

Kemudian terdengar pukulan.

Seraphiel mengerang.

Aelora mencoba duduk, tetapi Eirna menahan bahunya.

“Apa maksudmu?”

Suara itu semakin lemah.

“Itu… kunci altar.”

Aelora merasa darahnya menjadi dingin.

Lucien tidak sedang memberi batas waktu.

Ia sedang menunggu tiga bulan Nocthara berada di langit pada saat bersamaan.

“Kalau bulan ketiga terbit,” lanjut Seraphiel, “gerbang akan terbuka… meski kau tidak datang.”

Benang emas mulai putus.

“Tunggu!”

“Aeloria…”

Suara Seraphiel berubah menjadi bisikan.

“Jangan selamatkan aku.”

Benang itu hancur.

Cahaya di ruangan padam.

Aelora menatap dinding utara.

Di luar jendela sempit, bulan pertama menggantung merah di langit.

Di belakangnya, bulan kedua mulai muncul dari balik awan.

Dan jauh di cakrawala, tepi pucat bulan ketiga sudah terlihat.

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!