Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Yogyakarta
Perjalanan kereta api dari Jakarta memakan waktu berjam-jam, namun rasanya tidak terasa berat atau membosankan bagi Rima.
Sejak kereta bergerak meninggalkan stasiun, ia duduk tenang di kursi dekat jendela, matanya tak lepas dari pemandangan yang perlahan berubah di hadapannya.
Gedung-gedung tinggi dan jalanan padat ibu kota perlahan berganti menjadi hamparan sawah hijau yang membentang luas, bukit-bukit berkelok yang dihiasi pepohonan rindang, hingga sungai-sungai jernih yang membelah desa-desa tenang.
Sejuknya AC di dalam kereta, membuat Rima menjadi rileks menikmati perjalanannya.
Sesekali layar ponselnya bergetar pelan, menandakan pesan masuk dari nama yang selalu membuat jantungnya berdebar lebih cepat, Mas Andre.
Isinya sederhana namun selalu terasa begitu hangat dan penuh perhatian.
"Sudah makan bekalnya belum?"
"Jangan lupa minum air putih ya."
"Pemandangannya pasti indah sekali ya di luar kereta."
"Tetap jaga barang bawaanmu baik-baik."
Setiap kali membaca pesan itu, senyum tak pernah lepas dari wajah Rima, rasa lelah seketika hilang berganti semangat baru.
Ia selalu membalasnya dengan cerita singkat tentang apa yang ia lihat, atau sekadar mengingatkan Andre agar tidak lupa beristirahat di kantor.
Sore hari menjelang waktu maghrib, matahari mulai turun perlahan memancarkan cahaya keemasan yang menyelimuti seluruh tanah Jawa.
Kereta akhirnya melambat perlahan, roda besinya beradu dengan rel terdengar berirama, hingga suara pengumuman lembut terdengar jelas.
"Kereta Api tujuan Stasiun Tugu, Yogyakarta, akan segera memasuki area stasiun. Selamat datang kembali di kota pelajar."
Rima segera membereskan barang-barangnya dengan teliti.
Ia memakaikan tas ransel di pundak, lalu menarik kedua kopernya berjalan perlahan menuju pintu keluar gerbong.
Hatinya berdebar kencang. Campuran antara rindu yang mendalam pada kota ini, rasa bangga setelah menyelesaikan masa magang, dan sedikit rasa senang karena kini ia kembali ke tempat yang sudah ia kenal dan nyaman.
Saat melangkah keluar dari gerbong, udara Jogja yang sejuk langsung menyambutnya.
Langit tampak begitu luas berwarna jingga keunguan. Rima berhenti sejenak, menarik napas panjang: "Aku pulang..."
Rima langsung menuju angkutan kota yang biasa ia tumpang dulu, menuju gang kecil di dekat kampus Universitas Gadjah Mada.
Di sanalah tempat kost lamanya berada. Tempat yang ia tinggali dari awal kuliah dan kemudian berangkat magang ke Jakarta.
Sesampainya di depan pagar rumah kost yang dicat warna putih kusam itu, Rima tersenyum lebar.
Pagar kayu yang sama, pohon mangga besar di depan, dan bunga matahari yang selalu ditanam pemilik kost di pinggir jalan semuanya masih sama persis seperti dulu.
Belum sempat Rima mengetuk pintu, Bu Aminah, pemilik kost yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri, sudah keluar untuk menyapu teras.
"Ya ampun! Rima!" seru Bu Aminah kaget sekaligus senang, segera berlari menghampiri dan memeluknya erat. "Nggak nyangka kamu sudah pulang. Kami sudah menunggumu dari tadi!"
"Bu Aminah!" Rima membalas pelukan itu dengan haru. "Iya Bu, aku sudah pulang."
"Masuklah, masuklah! Kamar kamu masih selalu dibersihkan seperti biasanya," ucap Bu Aminah sambil membantu menarik koper berat Rima masuk.
Rima berjalan menuju kamarnya di sudut kanan halaman. Saat pintu kayu itu terbuka, ia tersenyum haru, semuanya masih sama persis.
Tempat tidur kayu yang sama, meja belajar yang penuh coretan kecil tulisan tangannya, rak buku yang kosong menunggu diisi kembali, bahkan gorden bermotif bunga matahari yang ia beli sendiri masih tergantung rapi di jendela.
Udara di dalam kamar terasa sejuk dan sangat akrab, seolah ia tidak pernah pergi jauh.
"Terima kasih banyak ya Bu Aminah sudah menjaga kamarku," ucap Rima tulus.
"Sama-sama Nak. Kamu ini anak yang rajin dan sopan, tentu saja ibu senang menjaganya. Istirahatlah dulu, nanti ibu bawakan teh hangat," jawab Bu Aminah sambil tersenyum ramah lalu menutup pintu perlahan.
Rima duduk di tepi tempat tidur, menyentuh kain sprei yang masih wangi. Rasanya lega sekali kembali ke tempat yang sudah seperti rumah sendiri ini.
Ia tidak perlu lagi beradaptasi dengan lingkungan baru, tidak perlu lagi mencari rute jalan atau tempat makan seperti saat di Jakarta, di sini semuanya sudah ia hafal di luar kepala.
Tak lama kemudian ponselnya berdering, nama Mas Andre berkedip jelas di layar. Rima segera mengangkatnya dengan semangat.
"Halo Mas Andre! Assalamualaikum," sapa Rima ceria.
"Waalaikumsalam Rima," suara Andre terdengar lega. "Sudah berada di kostmu kan? Baik-baik saja kan di sana?"
"Iya Mas. Aku sudah di kamar sekarang. Semuanya masih sama persis seperti dulu. Bu Aminah menjaga kebersihan kamarku dengan baik. Rasanya sangat nyaman dan lega bisa kembali ke sini."
"Syukurlah kalau begitu. Aku jadi tenang mendengarnya. Kamu sudah hafal lingkungan di sana, jadi pasti lebih mudah beradaptasi kembali," ucap Andre lembut.
"Jangan lupa beristirahat ya, jangan langsung beres-beres semuanya hari ini."
"Iya Mas, nanti aku lanjut besok. Kamu juga jangan lupa istirahat di sana ya."
Setelah telepon selesai, Rima pun tak lupa menghubungi ayah dan ibunya untuk mengabarkan kalau Rima sudah sampai di Jogja.
Rima lalu mulai menyusun barang-barangnya perlahan.
Ia menaruh buku-buku baru di rak, menempelkan sketsa gambar dari Jakarta di dinding, dan meletakkan kotak bekal pemberian Andre di meja, sebagai pengingat bahwa meski kini ia kembali ke tempat lamanya, ada hal baru yang indah yang telah tumbuh di hatinya.
Malam itu, Rima tidur dengan sangat nyenyak di tempat tidur yang paling ia rindukan.
Ia merasa bersyukur memiliki tempat pulang yang akrab ini, tempat di mana ia bisa tumbuh, belajar, dan menunggu waktu yang tepat untuk bertemu kembali dengan orang yang ia cintai.