Raymond yang dulunya penduduk bumi, mendapati dirinya bereinkarnasi menjadi Rock Lee di anime Naruto. Dalam kepanikannya menerima kenyataan, tiba-tiba dia membalikkan cheat yang dulu dia buat saat main game mobil sewaktu di bumi. Regenerasi tak terbatas dan kebal terhadap ilusi genjutsu. Uchiha Madara: Sialan apakah dia masih manusia. Penulis : hallo semua, saya ingin bersenang-senang membuat novel fanfic ini, selamat membaca..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billy Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Misi Pertama dan Ujian di Balik Bayang-Bayang
Sinar matahari pagi mulai merambat naik, menembus celah-celah daun pohon ek yang tinggi di sekitar lapangan latihan nomor tiga. Ketegangan sisa pertarungan singkat antara Lee dan Neji masih terasa tipis di udara, seperti kabut yang enggan beranjak. Namun, kehadiran Might Guy yang eksentrik langsung memecah atmosfer kaku itu menjadi sesuatu yang jauh lebih bising.
"Nah, murid-muridku yang penuh dengan gairah!" Guy berkacak pinggang, giginya berkilat tertimpa cahaya matahari pagi. "Hari ini kita tidak akan menghabiskan waktu dengan memukuli tiang kayu. Sandaime Hokage telah memberikan kita sebuah misi tingkat D yang sangat krusial bagi keseimbangan ekonomi desa!"
Tenten menghela napas panjang, bahunya merosot lemas. "Jangan bilang kalau misi krusial yang Guru maksud adalah mencari kucing hilang lagi, atau membersihkan selokan di area barat?"
"Hampir tepat, Tenten!" Guy mengacungkan jempolnya dengan penuh semangat. "Misi kita hari ini adalah membantu pembersihan gudang logistik milik klan Akimichi di dekat pasar pusat, sekaligus mengawal pengiriman bahan makanan sensitif ke perbatasan hutan kematian. Tugas ini membutuhkan ketelitian, kecepatan, dan tentu saja... stamina masa muda!"
Neji hanya mendengus, memalingkan wajahnya ke arah lain dengan tatapan malas. Bagi seorang jenius klan Hyuga yang menguasai teknik legendaris, tugas-tugas domestik seperti ini terasa seperti penghinaan terhadap bakatnya. Namun, dia tidak memiliki pilihan selain patuh pada hierarki sistem ninja.
Sementara itu, Lee—atau Reymond—hanya tersenyum tipis. Di dalam hatinya, dia justru merasa lega. Misi tingkat D yang membosankan ini adalah kesempatan sempurna baginya untuk membiasakan diri dengan tubuh barunya tanpa perlu mempertaruhkan nyawa di medan pertempuran yang sesungguhnya. Dia perlu mengukur batas ketahanan mentalnya, karena meskipun fisiknya tidak bisa hancur, otaknya masih merupakan otak manusia biasa yang bisa merasakan lelah secara psikologis.
"Baiklah! Jangan buang waktu lagi! Target kita adalah menyelesaikan ini sebelum tengah hari!" Guy berteriak memimpin jalan, melompat ke atas pagar pembatas lapangan dengan gerakan yang terlampau dramatis.
Mereka berempat berjalan membelah jalanan desa menuju distrik komersial Konoha. Sepanjang perjalanan, Tenten berjalan di samping Lee, sesekali melirik ke arah rekannya itu dengan tatapan penuh selidik. Sudut matanya menyipit, memperhatikan cara berjalan Lee yang kini terlihat jauh lebih santai dan seimbang, tidak lagi kaku seperti biasanya.
"Lee," Tenten berbisik, memastikan suaranya tidak terdengar oleh Neji yang berjalan beberapa langkah di depan mereka. "Kamu benar-benar terasa berbeda hari ini. Biasanya, kalau Neji bicara seperti tadi, kamu sudah berteriak-teriak tentang rivalitas sejati sampai telingaku sakit. Tapi tadi... kamu tenang sekali. Apa kepalamu sempat terbentur keras saat latihan kemarin?"
Lee menoleh, menatap wajah manis Tenten yang tampak tulus mengkhawatirkannya. Dia terkekeh pelan, menggaruk belakang kepala mangkoknya yang terasa agak aneh. "Ah, tidak kok, Tenten. Aku cuma berpikir, berteriak tidak akan membuatku menjadi lebih kuat dari Neji. Lagipula, kemarin di rumah sakit aku punya banyak waktu untuk merenung. Membakar energi untuk amarah itu sia-sia."
Tenten mengedipkan matanya beberapa kali, tampak terkejut dengan jawaban yang begitu dewasa dari mulut seorang Rock Lee. "Wow. Kalau begitu, proses merenungmu sukses besar. Pertahankan itu, Lee. Jujur saja, versi dirimu yang ini jauh lebih menyenangkan untuk diajak bicara."
Di depan mereka, telinga Neji sedikit bergerak mendengar percakapan itu. Dia tidak menoleh, tetapi langkah kakinya agak melambat. Peristiwa di lapangan latihan tadi pagi masih mengganjal di benaknya. Bagaimana mungkin serangan Juken-nya yang sempurna tidak memberikan efek apa pun pada tubuh Lee? Itu menentang semua teori medis ninja yang dia pelajari sejak kecil.
Sesampainya di gudang logistik klan Akimichi, mereka disambut oleh seorang ninja paruh baya bertubuh tambun yang sedang memegang daftar inventaris. Di sekelilingnya, puluhan peti kayu berukuran besar yang berisi pasokan beras, senjata rahasia, dan gulungan obat-obatan menumpuk tidak beraturan.
"Ah, Tim Guy! Syukurlah kalian cepat datang," ujar ninja Akimichi itu sambil menyeka keringat di dahinya. "Beberapa pekerja kami mendadak demam, padahal pasokan ini harus segera dipindahkan ke gudang bawah tanah dan sebagian lagi harus dibawa ke pos penjagaan luar. Bisakah kalian membantu?"
"Serahkan pada kami, Chouza-sama!" Guy memberi hormat dengan gaya militer yang kaku. "Murid-muridku siap mengerahkan seluruh tenaga mereka!"
Tugas pun dibagi. Neji dan Tenten ditugaskan untuk menyortir dan mencatat jenis gulungan serta senjata rahasia berdasarkan segelnya, sebuah tugas yang membutuhkan ketelitian tinggi. Sementara itu, Lee secara sukarela mengajukan diri untuk memindahkan peti-peti kayu terberat ke dalam gudang bawah tanah.
"Lee, peti itu beratnya masing-masing hampir delapan puluh kilogram. Gunakan alat bantu jika kamu—" Kalimat Chouza terputus ketika dia melihat apa yang dilakukan Lee.
Tanpa ekspresi berlebihan, Lee mendekati tumpukan peti. Dia menekuk lututnya sedikit, menyisipkan kedua tangannya di bawah peti kayu terbawah, lalu mengangkat tiga peti sekaligus dengan satu gerakan mulus. Total beratnya mendekati dua ratus empat puluh kilogram, namun wajah Lee bahkan tidak memerah karena tekanan.
Glek. Tenten yang sedang memegang gulungan kertas menelan ludah melihat pemandangan itu. "Dia... mengangkat itu seolah-olah itu hanya tumpukan bantal?"
Neji yang sedang memeriksa segel senjata pun menghentikan gerakannya. Matanya yang putih susu menatap tajam ke arah otot-otot lengan Lee. Tidak ada ketegangan yang berlebihan, tidak ada tanda-tanti pemaksaan chakra fisik. Aliran energi di dalam tubuh Lee mengalir dengan sangat konstan dan stabil, seolah-olah beban seberat itu adalah hal yang alami bagi tubuhnya.
Di dalam pikirannya, Reymond justru sedang menikmati sensasi ini. Gila, ini luar biasa, batinnya gembira. Setiap kali otot belikatku mulai terasa pegal karena mengangkat beban ini, cheat regenerasi langsung menyembuhkannya dalam waktu kurang dari satu detik. Aku bisa melakukan ini seharian tanpa merasa lelah fisik sama sekali!
Dia terus berjalan bolak-balik memasuki lorong gudang bawah tanah yang gelap dengan kecepatan yang konstan. Para pekerja klan Akimichi yang berada di lokasi hanya bisa melongo menyaksikan efisiensi kerja dari si remaja beralis tebal itu. Tugas yang seharusnya memakan waktu tiga jam, berhasil diselesaikan oleh Lee sendirian dalam waktu kurang dari empat puluh lima menit.
Ketika Lee keluar dari gudang untuk terakhir kalinya, dia hanya menyeka sedikit keringat fiktif di pelipisnya sambil tersenyum lebar ke arah Guru Guy yang menatapnya dengan mata berbinar-binar penuh kebanggaan.
"Kerja bagus, Lee! Efisiensi masa mudamu hari ini benar-benar memecahkan rekor!" Guy menepuk pundak Lee dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman kecil. "Sekarang, mari kita lanjutkan ke bagian kedua dari misi ini: mengawal kereta pasokan ke perbatasan hutan!"
Namun, saat mereka mulai bergerak menuju gerbang luar desa dengan menarik kereta kayu, insting Reymond yang tajam—didukung oleh kesadaran jiwanya yang lebih peka terhadap lingkungan sekitar akibat proses transmigrasi—merasakan ada sesuatu yang salah. Di balik semak-semak lebat yang membatasi jalur jalan, ada riak chakra yang sangat samar, namun berbau asing dan penuh dengan niat buruk. Misi tingkat D ini... tampaknya tidak akan sesederhana yang tertulis di atas kertas dokumen Hokage.