Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.
Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.
Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Pengkhianat di Dalam Mansion
Lorong rahasia di bawah mansion Alvaro berubah menjadi medan perang.
Suara tembakan menggema tanpa henti, memantul di dinding batu yang lembap.
Dor! Dor! Dor!
Percikan api keluar dari moncong senjata, sementara serpihan batu beterbangan akibat peluru yang menghantam dinding.
"Leo, lindungi Aurora dan Elena!" teriak Raven.
"Siap, Tuan!"
Leo segera membagi anak buahnya menjadi dua kelompok. Sebagian bertahan di depan, sementara sisanya mengawal Aurora dan Elena menuju tempat yang lebih aman.
Namun Aurora menolak mundur.
"Aku tidak akan meninggalkan orang yang terluka."
Ia berlutut di samping salah seorang penjaga yang terkena tembakan di bahu. Dengan tangan cekatan, Aurora menghentikan pendarahan menggunakan peralatan medis yang selalu dibawanya.
Di sisi lain, Raven dan Luca bertarung berdampingan.
Meski baru bertemu, gerakan mereka seolah saling melengkapi.
Saat Raven melumpuhkan seorang penyerang dari depan, Luca langsung menutup celah di sisi kiri.
"Kanan!" teriak Luca.
Raven berputar dan melepaskan dua tembakan.
Dor! Dor!
Dua pria bersenjata langsung roboh.
Raven menoleh sambil tersenyum tipis.
"Kau ternyata jauh lebih hebat daripada yang kau akui."
Luca mengangkat bahu.
"Hidup mengajariku banyak hal."
Pertempuran semakin sengit.
Belasan anak buah Damian terus berdatangan dari lorong-lorong kecil yang sebelumnya tersembunyi.
Jelas mereka telah mengenal tempat itu jauh sebelum Raven menemukannya.
Damian sendiri hanya berdiri beberapa meter dari mereka sambil menikmati kekacauan yang terjadi.
"Kalian benar-benar menyedihkan," ejeknya.
"Kalian mengira sudah selangkah lebih dekat dengan kebenaran."
"Padahal sejak awal kalian hanya mengikuti jalan yang sudah kami siapkan."
Raven mengangkat pistolnya.
"Diam!"
Dor!
Peluru melesat ke arah Damian.
Namun pria itu sudah lebih dulu menghindar.
Ia tertawa kecil.
"Amarahmu membuatmu mudah ditebak."
Damian lalu mengeluarkan sebuah alat elektronik kecil dari sakunya.
Klik.
Begitu tombol merah ditekan, alarm mansion berbunyi nyaring.
Suara sirene memenuhi seluruh bangunan.
"Waspada! Penyusup terdeteksi!"
Semua orang saling berpandangan.
Leo mengernyit.
"Penyusup?"
Seorang penjaga berlari menuruni tangga dengan napas memburu.
"Tuan Leo!"
"Ada seseorang yang membobol ruang penyimpanan utama!"
Raven langsung membeku.
"Ruang penyimpanan?"
"Itu tempat semua dokumen rahasia disimpan."
Damian tersenyum puas.
"Akhirnya kau sadar."
"Kalian terlalu sibuk mengejarku..."
"...hingga lupa menjaga rumah sendiri."
Raven mengepalkan tangan.
"Pengkhianat..."
"Siapa orang dalam itu?"
Damian hanya mengangkat bahu.
"Kalau kuberitahu sekarang, permainan ini akan membosankan."
Belum sempat Raven bergerak, terdengar langkah kaki dari lorong sebelah.
Tok... Tok... Tok...
Sesosok pria tua muncul dari balik bayangan.
Black King.
Semua anak buah Alvaro langsung mengarahkan senjata kepadanya.
"Jangan bergerak!" bentak Leo.
Namun Black King tetap melangkah maju dengan tenang.
Ia bahkan tidak membawa senjata.
Tatapannya langsung tertuju kepada Raven.
"Dengarkan aku."
"Aku tidak punya banyak waktu."
Raven masih memasang wajah dingin.
"Kenapa aku harus percaya kepadamu?"
Black King menghela napas panjang.
"Karena Damian menginginkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar membunuhmu."
"Apa maksudmu?"
"Dia mencari data lengkap Proyek Phoenix."
Aurora yang sedang membalut luka penjaga ikut mengangkat kepala.
"Proyek Phoenix lagi..."
Black King mengangguk.
"Kalau seluruh data itu jatuh ke tangan Damian..."
"...bukan hanya keluarga Alvaro atau Valerio yang hancur."
"Seluruh organisasi bawah tanah akan berada di bawah kendalinya."
Raven masih diliputi keraguan.
Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Damian tertawa keras.
"Kalian masih sempat mengobrol?"
Ia mengangkat sebuah granat dan melemparkannya ke tengah lorong.
Boom!
Ledakan besar mengguncang seluruh ruang bawah tanah.
Batu-batu dari langit-langit mulai berjatuhan.
"Semua keluar!" teriak Leo.
Raven segera menarik Aurora, sementara Luca membantu Elena berlari menuju tangga.
Saat hampir mencapai pintu keluar, Raven menoleh ke belakang.
Black King masih berdiri di tengah lorong.
Pria tua itu menatap Raven sambil melemparkan sebuah kunci logam berwarna hitam.
"Tolong..."
"...selesaikan apa yang gagal kami lakukan."
Raven menangkap kunci itu tepat sebelum bongkahan batu besar jatuh.
Brak!
Lorong runtuh sepenuhnya.
Jalan masuk tertutup oleh tumpukan batu raksasa.
Raven berdiri mematung sambil menggenggam erat kunci hitam di tangannya.
Entah Black King masih hidup atau tidak.
Namun satu hal kini semakin jelas.
Di dalam mansion Alvaro masih ada seorang pengkhianat yang diam-diam bekerja untuk Damian, dan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.