NovelToon NovelToon
Jodohku Gadis BAR-BAR

Jodohku Gadis BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Fey

Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Malam hari di kamar Kanza Arumi selalu menjadi tempat pelarian paling aman dari hiruk-pikuk dunia nyata.

Dinding berwarna pastel yang dihiasi beberapa foto instax, lampu gantung kecil yang berpijar hangat di sudut ruangan, serta tirai putih yang melambai pelan tertiup angin malam, semuanya tampak begitu tenang.

Sangat kontras dengan badai yang sedang berkecamuk di dalam kepala gadis itu.

Kanza duduk meringkuk di atas ranjang dengan piyama tidur kebesaran dan bandana yang menyembunyikan poni berantakannya.

Ponselnya tergeletak tak berdaya di samping bantal, layarnya terus menyala dengan notifikasi yang berdenting berulang kali, mungkin dari Yuma yang menagih kelanjutan cerita tapi tidak satu pun dibukanya.

Di sekitarnya, tumpukan buku kalkulus dan boneka beruang kecil tergeletak tak beraturan.

Di antara semua benda itu, hanya satu kenyataan yang benar-benar menyiksa batinnya malam ini: ia telah dilamar.

Dirinya sendiri masih sulit memproses kenyataan itu ke dalam logika. Ia membenamkan wajahnya ke dalam bantal, mengeluh tertahan hingga suaranya teredam kain katun.

"Gue baru kelas tiga SMA... masih hobi antre cilok di depan gerbang sampai keringetan, masih panik setengah mati tiap guru fisika nanya rumus, dan sekarang gue harus... mikirin pelaminan?"

Ia duduk kembali, menatap langit-langit kamar yang tampak makin tinggi. Bayangan wajah pria itu mendadak melintas tanpa permisi.

Hanan Arkan. Sosok laki-laki yang datang dengan sopan santun tingkat tinggi berbalut senyum setenang telaga.

Laki-laki yang katanya dosen. Laki-laki yang membawa wibawa luar biasa bersama Umah dan Abahnya.

"Kaku... ya Allah, kenapa sih harus sekaku itu? udah kayak ngomong sama tembok aja nanti, nggak ada romantisnya!" gumamnya lirih sambil membayangkan betapa kontrasnya Hanan dengan aktor-aktor china romantis yang selama ini menghuni dinding kamarnya.

Kanza berdiri dari tempat tidurnya dan mulai berjalan mondar-mandir seperti orang yang sedang menghafal naskah pidato.

Dalam pikirannya, satu per satu kejadian siang tadi terputar kembali bak film dokumenter yang membosankan sekaligus mendebarkan.

"Kenapa dia nggak datang pakai hoodie sama sneakers kayak cowok-cowok keren di TikTok, sih? Kenapa nggak masuk rumah sambil bawa martabak terus kasih tebakan garing biar suasananya cair? Tapi ini... dia malah datang bawa kue bolu, duduk dengan khidmat layaknya sedang sidang paripurna, dan manggil aku 'Ananda Kanza' dengan suara selembut sutra."

Kanza mendesah berat, lalu menjatuhkan diri kembali ke kasur hingga tubuhnya membal pelan. Ia menatap boneka-bonekanya seolah mereka bisa memberikan solusi.

"Gue ini siapa sih... cuma remaja SMA yang kadang kalau ngomong suka asal jeplak. Nggak nyambung banget sama orang yang bahasannya sudah tentang visi-misi masa depan, rencana rumah tangga, dan program hidup yang terstruktur rapi. Gue... belum siap jadi orang dewasa!"

Matanya menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Angin dari jendela membuat tirai bergerak lembut, seolah sedang menertawakan kepanikannya yang tidak berujung.

Ia memejamkan mata, namun kantuk enggan datang. Hatinya masih sibuk berdebat dengan kenyataan pahit yang manis ini.

Detik demi detik berlalu, hingga sebuah notifikasi masuk dengan getaran yang sanggup mengguncang kembali pikirannya. Sebuah pesan dari Abi.

Abi: "Kanza, besok Umah dan Abah ngajak silaturahmi ke rumah lagi ya. Biar kalian bisa lebih kenal satu sama lain."

Kanza hanya bisa memelototi layar ponselnya dengan mata membelalak. Bibirnya bergumam pelan, nyaris tak terdengar di keheningan malam.

"Biar bisa lebih kenal? Ini acara pelantikan anggota pramuka apa ta'aruf sih?"

Ia kembali membenamkan wajah ke dalam bantal. Kali ini tidak hanya karena bingung, tetapi karena rasa malu yang menjalar hingga ke telinga.

Dalam hatinya, ia tahu betul bahwa keluarga sedang mencoba memberikan hal terbaik bagi masa depannya.

Namun, hatinya merasa belum selesai tumbuh. Ia belum siap menerima kenyataan bahwa hidup tak selalu berjalan sesuai naskah remaja 18 tahun yang masih ingin bebas tertawa, berlari, dan menertawakan dunia.

"Gue belum siap, Gus Hanan. Serius. Lo terlalu damai... dan gue masih terlalu gemar bikin rusuh," bisiknya sebelum akhirnya menyerah pada malam.

Pagi itu, rumah terasa lebih hidup dari biasanya. Umi bolak-balik dari dapur ke ruang tamu dengan langkah cekatan, menata piring dan gelas kristal yang hanya keluar di acara spesial, sementara Abi sibuk mengepel lantai teras hingga mengilap.

Kanza Arumi hanya bisa duduk santai di sofa sambil memilin ujung jilbabnya, matanya masih setengah terpejam, mencoba mengumpulkan nyawa yang tertinggal di alam mimpi.

Pintu pagar terdengar berderit dibuka. Tak lama, sebuah suara nyaring yang sangat akrab memecah keheningan pagi.

"Kanza! Kakak pulang nih!"

Kanza langsung mendengus dramatis.

"Ya Allah… gangguan kedamaian datang lagi," gumamnya pelan, namun tak mampu menyembunyikan binar di matanya.

Bella masuk dengan senyum lebar yang hampir mencapai telinga. Satu tangannya menenteng tas besar, sementara tangan lainnya memegang bungkusan oleh-oleh yang aromanya sangat menggoda.

Perutnya mulai membuncit pelan, tanda kehamilan muda yang sedang ia jalani dengan penuh antusiasme dan energi yang entah datang dari mana.

"Ya Allah, ini rumah atau markas kucing pasar? Berantakan banget!" seru Bella tanpa salam, langsung memberikan inspeksi mendadak.

"Baru juga injek lantai sudah sok jadi mandor. Gak usah pakai acara inspeksi ya, Kak!" sahut Kanza ketus.

"Astaghfirullah, baru juga nyapa sudah disemprot," keluh Bella sabar sembari menaruh tasnya, lalu tanpa permisi langsung memeluk Kanza dengan erat.

Mereka berpelukan tepat selama lima detik. Setelah itu, Kanza mendorong kakaknya pelan dengan wajah sok jijik.

"Sana duduk. Jangan banyak gerak. Kasihan ponakanku punya emak yang bawelnya minta ampun," katanya sambil beranjak ke dapur, pura-pura sibuk.

Umi muncul dari balik pintu dapur dengan senyum yang menyejukkan.

"Alhamdulillah, anak-anak Umi lengkap hari ini. Bella, duduk dulu, Nak. Ini Umi sudah buatkan teh hangat kesukaanmu."

"Umi sayang banget sih sama dia, Kanza yang setiap hari bantuin masak malah dianaktirikan," gumam Kanza dari kejauhan, sengaja mengeraskan suaranya.

"Dia itu sedang membawa calon cucu pertama Umi, Nak," balas Umi sambil tersenyum jahil, membuat Kanza hanya bisa mengerucutkan bibir.

Bella duduk dengan helaan napas lega, lalu matanya mulai berkilat penuh selidik ke arah Kanza yang masih bersungut-sungut di dekat dispenser.

"Eh, bener ya gosip yang beredar? Denger-denger, adikku yang hobi tidur ini sudah ada yang datang meminang?"

Kanza terdiam seketika. Wajahnya yang tadi ceria langsung mendung, seolah tertutup awan kumulonimbus.

"Kok Kakak tahu sih? Pasti Umi ya yang jadi agen intelijen?"

"Yaaa, Umi lah yang cerita. Masa kakakmu sendiri gak boleh tahu kabar se-dahsyat ini? Jadi gimana? Si calon Ustaz idaman itu sudah muncul lagi belum?" goda Bella sambil menaik-turunkan alisnya.

"Ustaz apaan… Hanan Arkan itu lebih cocok jadi ketua dewan pengawas masjid daripada jadi suami. Serius mulu mukanya, kayak lagi nungguin hilal tiap hari."

"Eh, kamu jangan asal bicara. Katanya dia itu sangat sopan, mapan, maskulin, dan yang paling penting… dia itu dosen, Kanza! Dosen!"

"Halah, sok intelektual banget sih dia. Dosen-dosenan. Nggak tahu kenapa, gue liat dia tuh kayak... tua sebelum waktunya. Hidupnya pasti penuh jadwal kajian dan diskusi berat yang bikin pusing," Kanza membuang pandangan ke arah jendela.

Abi yang baru saja selesai mengepel ikut duduk di samping Umi, bergabung dalam obrolan keluarga itu.

"Tapi Abi lihat anak itu sangat baik, Kanza. Bicaranya tertata, bahasanya santun sekali. Dan yang paling utama, agamanya kokoh. Kamu kan butuh sosok yang bisa membimbingmu supaya nggak melayang-layang terus pikirannya."

"Membimbing Kanza? Abi, dia saja kemarin kayaknya takut ngomong sama Kanza. Mungkin dia takut ketularan virus random dari aku," keluhnya sambil memasang wajah konyol yang membuat Yura tertawa.

"Ya memang kamu itu virus, Dek," seloroh Bella pelan namun menusuk.

Kanza langsung menoleh tajam.

"Kakak ya, sudah hamil malah makin nyebelin level maksimal!"

"Gapapa. Yang penting adikku ini dapet jodoh yang benar, biar ada yang menjinakkan tingkah ajaibmu itu."

"Yang benar itu hatiku, bukan cowok kaku itu!" ucap Kanza sambil memeluk bantal sofa erat-erat, seolah bantal itu adalah benteng pertahanan terakhirnya.

Umi hanya tersenyum sabar, mengusap bahu Bella.

"Doakan saja yang terbaik ya, Bel. Mudah-mudahan Allah melembutkan hati adikmu kalau memang dia jodoh yang dikirimkan-Nya."

Bella memandangi wajah adiknya. Meski mulutnya tetap nyolot dan absurd, Kanza tampak menunduk lesu dengan tatapan kosong.

Ia tahu, ada badai yang sedang berkecamuk di dalam hati Kanza Arumi.

Di balik segala kelucuan dan tingkah anehnya, adiknya sedang merasa sangat resah menghadapi masa depan yang tiba-tiba datang mengetuk pintu rumah mereka dengan membawa buku catatan dan wibawa yang luar biasa.

_

_

_

Jam berganti hari, hari berganti minggu, dan minggu kini telah berganti bulan. Waktu seolah berlari tanpa memedulikan debar jantung yang kian tak karuan.

Hari ini, tepat di hari pertunangan Kanza Arumi dan Hanan Arkan, sebuah acara sederhana digelar di kediaman Abi.

Karpet baru berwarna krem telah digelar rapi. Vas bunga di tengah meja dipenuhi mawar putih segar yang aromanya memenuhi ruangan, mencoba menetralisir ketegangan yang menggantung di udara.

Di sudut ruangan, nampan-nampan seserahan dibungkus plastik bening dengan pita perak, disusun berjajar menunjukkan keseriusan pihak lelaki.

Tidak ada dekorasi berlebihan, tak ada tenda megah yang menutupi jalan. Hanya keluarga inti. Sederhana, sesuai kesepakatan yang pernah dibicarakan.

Umi sibuk menyiapkan teh melati dan piring-piring kecil berisi kue tradisional. Abi duduk tenang di kursi kayu, mengenakan baju koko putih yang baru disetrika semalam hingga tak ada satu pun lipatan tersisa.

Sementara itu, di dalam kamar, Kanza duduk di depan cermin dengan tatapan kosong.

Jilbabnya sudah terpasang sangat rapi, kebaya ungu muda pilihan Umi melekat sempurna di tubuhnya, membuat kulitnya tampak lebih cerah.

Namun, ada sesuatu yang redup di matanya, seperti lilin yang hampir kehabisan sumbu.

Bella masuk perlahan, membawa sebuah kotak kecil berlapis beludru.

"Ini... cincinnya. Mereka sudah datang, Kanza," ucap Bella pelan, suaranya sarat akan empati.

Kanza tidak menjawab. Ia hanya menelan ludah berkali-kali, mencoba sekuat tenaga menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata agar tidak merusak riasan tipis di wajahnya.

"Kamu nggak pengen kabur saja gitu?" bisik Bella sambil duduk di sebelahnya, mencoba mencairkan suasana yang terasa mencekam.

Kanza menarik napas gemetar.

"Aduh, sumpah, Kak, gue pengen banget loncat lewat jendela sekarang juga. Tapi gue sayang rumah, takut diusir Umi dan jadi gelandangan," sahutnya dengan nada absurd yang dipaksakan.

Bella tertawa kecil, meski hatinya ikut pedih. Namun Kanza kembali terdiam. Ia berdiri perlahan, memandangi pantulan dirinya untuk terakhir kali sebagai gadis yang bebas dari ikatan.

"Yuk, keluar. Sebelum Kakak membatalkan acara ini dan mengubahnya jadi sinetron siang bolong yang penuh drama air mata," ucap Kanza sambil melangkah keluar.

Di ruang tamu, Hanan Arkan duduk dengan sikap sangat rapi. Peci hitamnya terpasang sempurna, dan batik lengan panjang bermotif elegan membuat wibawanya kian memancar.

Wajahnya tampak begitu tenang, dengan senyum yang terus mengembang.

Umah dan Abahnya duduk di sisi kanan dan kiri, wajah mereka memancarkan rasa syukur yang mendalam.

"Kanza, keluar, Nak," suara Umi terdengar lembut dari depan pintu.

Kanza melangkah. Pelan sekali. Seolah setiap inci lantai yang ia injak memiliki beban berton-ton. Ia duduk di samping Umi, tepat di depan Hanan.

Pandangan mereka sempat bertemu sepersekian detik sebelum Kanza langsung menunduk dalam.

Sial. Senyum Hanan itu terlalu tulus. Justru ketulusan itulah yang membuat dada Kanza makin sesak, merasa bersalah sekaligus terperangkap.

Hanan menatap calon tunangannya itu dalam-dalam. Matanya sedikit bergetar, selaras dengan napasnya yang tertahan karena rasa kagum. Baginya, ini adalah awal dari ibadah panjang.

"Bismillah..." ucap Hanan nyaris tak terdengar, sebuah bisikan suci yang dititipkan kepada semesta.

Ia menoleh pelan ke arah Umah, menyerahkan cincin yang sejak tadi digenggamnya erat.

Umah tersenyum mengerti, lalu meraih jari manis Kanza dan melingkarkan emas murni itu di sana.

Dingin logam cincin itu seolah menjalar ke seluruh tubuh Kanza, mengunci statusnya secara simbolis.

Hanan menunduk sesaat, memejamkan mata dengan penuh syukur. Sementara itu, semua orang di ruangan itu tersenyum lebar, menyambut ikatan baru yang telah terjalin.

Kecuali Kanza.

Hatinya menjerit pilu. Ia ingin menangis, ingin berteriak bahwa ia masih ingin menjadi remaja biasa yang hanya memikirkan nilai ujian dan drama china kesukaanya.

Namun yang keluar hanyalah senyum kaku yang dipaksakan, dan detik berikutnya ia kembali menunduk lebih dalam agar genangan air di matanya tidak tumpah di depan semua orang.

Hanan menatap wajah gadis di depannya, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik tundukan itu, Kanza sedang berjuang memunguti kepingan hatinya yang merasa patah karena dijodohkan.

"Terima kasih, Kanza…" ucap Hanan lirih, suaranya begitu hangat dan penuh pengharapan.

Kanza tak menjawab. Dalam batinnya, ia berteriak.

"Lu bahagia, ya? Senang ya dapet gue? Sementara gue... gue bahkan belum bisa melihat masa depan gue tanpa merasa seperti ditarik paksa ke arah yang nggak gue tahu." batinya.

Sore itu, di tengah tawa kecil keluarga Hanan yang berbasa-basi, Abi dan Umi hanya memperhatikan putri mereka dari jauh.

Mereka melihat ketenangan yang palsu, tanpa menyadari bahwa di balik kebaya ungu yang indah itu, hati Kanza Arumi sedang menangis hebat dalam diamnya yang terlihat tenang.

Salam Hangat Dari Penuliss...

1
partini
tau agama tapi hati penuh iblis no good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!