"Jangan tertipu dengan kelembutan kelopak bunga, karena di balik keindahannya ada duri yang bisa menembus jantungmu tanpa suara."
Putri Arabella Costa adalah perpaduan keanggunan bangsawan dan ketangguhan jiwa modern. Terlahir kembali sebagai putri bungsu Kerajaan Costa, Bella menolak diam di istana mewahnya dan memilih hidup bebas menyamar sebagai gadis biasa. Dia memiliki ruang dimensi berisi air kehidupan yang mampu menyembuhkan segala penyakit.
Lucian Alistair sosok pria yang dingin, dominan, memiliki insting bertarung serta indra penciuman yang tajam, menguasai garis depan militer, dan memiliki harga diri setinggi langit yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang.
Dua karakter kuat pemilik rahasia besar ini mendadak terikat dalam pernikahan tak terencana. Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Akankah kebuasan serigala bisa menaklukkan sang putri rahasia, atau justru sang Alpha yang akan bertekuk lutut di bawah kendali Arabella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKANDAL PANAS
Ibu kota Kerajaan Harper sedang diguncang oleh sebuah drama baru.
Di sebuah kediaman mewah milik seorang Countess, sedang diadakan pesta teh sore yang dihadiri oleh para wanita bangsawan kelas atas.
Di tengah-tengah obrolan mengenai hilangnya Duke Muda Lucian Alistair, Lady Michelle tampak duduk di salah satu kursi dengan wajah yang sengaja dibuat pucat beralaskan bedak tebal.
"Ugh..." Michelle tiba-tiba menutup mulutnya dengan telapak tangan, tubuhnya sedikit membungkuk seolah menahan rasa mual yang luar biasa.
"Ya ampun Lady Michelle! Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali," tanya seorang Baroness yang duduk di sebelahnya dengan raut cemas.
Michelle tidak menjawab, dia justru sengaja berdiri dengan terburu-buru, membuat cangkir teh di depannya sedikit berdenting.
Namun baru melangkah dua kali, dia sengaja menjatuhkan saputangan rajutan sutra ke lantai, tepat di tengah-tengah karpet agar semua orang bisa melihatnya.
"Ugh... huekk!
Michelle berlari kecil, berpura-pura ingin muntah di toilet.
Para pelayan dan beberapa Lady langsung mendekati meja Michelle.
Salah seorang dari mereka memungut saputangan yang tertinggal dan matanya langsung melebar sempurna saat melihat bordiran benang emas di sudut kain tersebut.
Lambang lambang resmi keluarga Alistair.
"Ini... bukankah ini saputangan pribadi milik Duke Muda Lucian?" bisik Lady itu dengan suara bergetar, langsung memicu kehebohan di antara para saksi di ruangan tersebut.
"Tadi dia mual-mual, dan dia memegang barang pribadi Duke Muda, jangan-jangan..." ucap yang lain, menyambungkan titik-titik kecurigaan dengan otak gosip mereka.
Dalam waktu singkat, rumor tersebut meledak di seluruh penjuru ibu kota.
Tidak ada lagi yang membicarakan hilangnya Lucian dengan rasa sedih, melainkan beralih pada skandal terbesar tahun ini.
Lady Michelle sedang mengandung darah daging dari sang Duke Muda yang hilang.
Di kediamannya, Michelle sedang duduk di depan cermin sambil menyesap teh manis dengan santai, sama sekali tidak terlihat mual seperti kemarin.
"Lady! Rumor yang Anda inginkan sudah menyebar luas! Sekarang seluruh ibu kota yakin kalau Anda sedang hamil anak Duke Muda!" seru Pelayan pribadinya masuk dengan wajah panik sekaligus bersemangat.
Michelle menurunkan cangkirnya, menatap pantulan dirinya di cermin dengan seringai kemenangan yang penuh kelicikan.
"Bagus sekali. Biarkan rumor ini bergulir sampai telinga keluarga Alistair sendiri, rasanya tidak sabar aku ingin segera menjadi Duchess," ucap Michelle, tersenyum miring.
"Tapi Lady, bagaimana kalau Duke Muda kembali dan mengetahui kalau ini semua bohong?" tanya pelayan itu dengan suara pelan, takut.
"Jika dia kembali dalam keadaan hidup, dia tidak akan bisa membersihkan namanya selain menikahi ku demi menjaga kehormatan keluarga nya, dan jika dia mati, setidaknya aku akan diakui sebagai janda suci yang membawa penerus sah dari keluarga Alistair. Menang atau kalah, posisi Duchess tetap akan jadi milikku," jawab Michelle, tersenyum penuh percaya diri.
BRAKK
"Rumor murahan macam apa ini, Ethan?!" bentak Lucas, menggebrak meja kerjanya kembali dengan mata berkilat tajam.
Rupanya rumor tentang kehamilan Michelle sudah sampai di telinga Lucas Alistair.
Aura dominannya menguar kuat, membuat suasana di dalam ruang kerja besar itu mendadak terasa mencekam.
Ethan, tangan kanan sekaligus orang kepercayaan Lucas, tetap berdiri tegak dengan kepala sedikit menunduk, dia sudah menduga reaksi ini yang akan keluar dari sang Alpha.
"Laporan ini baru saja menyebar luas di ibu kota Kerajaan Harper sejak pagi tadi, Tuan Besar," jawab Ethan dengan suara tenang namun tegas.
"Lady Michelle sengaja membuat skenario seolah dirinya sedang mengandung anak dari Tuan Muda Lucian," lanjut Ethan, ikut geram dengan rumor murahan itu.
"Wanita ular itu benar-benar sudah kehilangan urat malunya! Lucian bahkan tidak pernah sudi menyentuh ujung gaunnya, bagaimana bisa dia tiba-tiba mengandung anaknya?!" ucap Lucas, mengeram rendah.
"Seluruh ibu kota dan para bangsawan di Kerajaan Harper sangat mudah terhasut, Tuan," ucap Ethan, melangkah maju untuk memungut beberapa kertas yang jatuh.
"Terlebih lagi, Lady Michelle memanfaatkan momen hilangnya Tuan Muda di wilayah perbatasan luar untuk mencari simpati publik," lanjut Ethan.
Lucas memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang langsung menghadap ke arah luar istana kediaman Alistair.
Pikirannya berputar cepat, putranya, Lucian, diserang dengan racun mematikan dan menghilang di salah satu desa terpencil di wilayah perbatasan Kerajaan Costa.
"Lalu bagaimana dengan tanggapan Jasmine? Apa dia sudah mendengar berita sampah ini?" tanya Lucas, nada suaranya merendah.
Lucas tidak ingin kondisi kesehatan istrinya menurun hanya karena gosip tidak berdasar.
"Nyonya Jasmine sempat terkejut, namun beliau tahu betul bagaimana sifat Tuan Muda Lucian. Nyonya Jasmine tidak mempercayai satu kata pun dari rumor tersebut, Tuan Besar," jawab Ethan mengangguk pelan.
"Baguslah. Perketat penjagaan di sekitar kediaman kita, jangan biarkan Lady Michelle atau mata-mata dari keluarganya menginjakkan kaki di area Alistair untuk memanfaatkan situasi," ucap Lucas, sedikit menghela napas lega meski rahangnya masih mengeras tegang.
"Baik, Tuan Besar. Segera saya laksanakan," jawab Ethan, membungkuk hormat sebelum berbalik badan.
Sebelum Ethan sempat melangkah menuju pintu keluar, suara berat Lucas kembali menghentikannya.
"Ethan, fokus utama kita tetap mencari keberadaan Lucian di desa perbatasan itu. Cari tahu siapa pun yang berani menyembunyikan atau menolongnya, jangan sampai masalah di ibu kota ini mengacaukan pencarian," ucap Lucas, membuat tangan kanannya itu menoleh kembali
"Dimengerti, Tuan Besar. Pasukan tambahan sudah bergerak menuju perbatasan desa," ucap Ethan meyakinkan, sebelum akhirnya dia melangkah keluar ruangan dan menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan Lucas yang masih dilingkupi amarah besar di balik meja kerjanya.
Ceklekk
Pintu ruangan kerja Lucas kembali terbuka, sosok wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik, melangkah masuk.
"Bagaimana, Lucas? Apa kamu sudah memerintahkan Ethan untuk memperketat gerbang?" tanya Jasmine, meletakkan cangkir teh di atas meja kerja suaminya.
"Sudah, Sayang. Tidak ada satu pun bajingan dari keluarga Earl itu yang boleh mendekati wilayah kita," jawab Lucas, berdiri dari kursi kerja nya.
Lucas meraih tangan Jasmine, menggenggamnya erat, membawa nya duduk di sofa yang ada diruang kerjanya, menyalurkan seluruh kekuatannya agar sang istri tidak terlalu terbebani oleh rumor gila di luar sana.
"Wanita itu benar-benar nekat. Berani-beraninya dia mengasihani ku di depan umum dengan membawa nama putraku," ucap Jasmine, mendengus geram dengan mata yang berkilat tajam.
Meskipun wajahnya terlihat lelah karena kurang tidur memikirkan Lucian, aura seorang Luna tidak berkurang sedikit pun dari tubuh anggun Jasmine, dia memang manusia biasa, bukan manusia serigala seperti suami dan anak-anaknya, tapi Jasmine sudah diakui sebagai Luna klan serigala, yang sangat di hormati karena kecerdasannya.