Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Bayangan di Pojok Dapur
Tujuh hari telah berlalu sejak tanah merah TPU pinggiran Madiun memendam jasad Bayu. Namun di Warung Nasi Broto, tiada ruang untuk berduka.
Kematian anak sulung itu justru menjadi bahan bakar ghaib yang membakar roda bisnis hingga mencapai puncaknya.
Setiap hari, dari fajar hingga larut malam, ratusan orang datang bergelombang.
Suara gemerincing uang kertas di kasir, denting sendok yang beradu dengan mangkuk porselen, serta deru mesin kendaraan pengunjung seakan sengaja diputar keras-keras untuk menutupi jerit kesedihan Pertiwi dan adik-adiknya yang kehilangan sosok kakak tertua.
Bagi Galang, setiap detik yang berlalu terasa bagaikan hitungan mundur menuju malapetaka berikutnya. Sejak kematian Bayu, suasana dapur belakang warung berubah kian mencekam.
Malam itu, jarum jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Seluruh rumah telah terlelap dalam keletihan setelah melayani gelombang pembeli yang tak kunjung habis.
Pak Sapta dan Bu Retno berada di kamar utama—terdengar samar-samar suara gumaman mantra dan lenguhan halus yang merayap keluar dari celah pintu kayu yang tertutup rapat.
Galang terbangun dari tidurnya di bale-bale ruang tengah. Napasnya memburu, peluh dingin membasahi pelipisnya. Bukan karena mimpi buruk, melainkan karena bau amis darah yang mendadak menyeruak tebal menembus udara malam—aroma sangit bercampur bau minyak mayat yang jauh lebih pekat daripada malam-malam sebelumnya.
Dengan gerakan tanpa suara, Galang bangkit berdiri. Tangan kanannya meremas sisa kain linen tua di dalam saku celananya—potongan kain yang kini menyisakan nama Pertiwi, Mia, Rian, dan Gilang. Kain itu terasa dingin luar biasa, menyengat hingga ke buku-buku jarinya.
Galang melangkah pelan menyusuri lorong tengah yang gelap. Lantai semen tua terasa begitu dingin menyengat telapak kakinya yang bertelanjang alas. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah udara di lorong itu berubah menjadi kental dan menekan dadanya.
Makin dekat ia ke pintu dapur belakang, pendar merah temaram dari bara api tungku batu membiaskan bayangan-bayangan aneh di atas dinding semen yang berjamur. Pintu dapur kayu sedikit menganga, memuntahkan uap hangat yang membawa bau amis memabukkan.
Galang merapatkan tubuhnya di balik dinding luar, lalu mengintip dari celah pintu yang terbuka dua sentimeter.
Kuali besi raksasa di atas tungku batu masih berasap pelan. Di dalam kuali, kuah rawon yang hitam pekat bergejolak pelan—bukan karena dididihkan oleh api besar, melainkan seperti ada gejolak tak kasat mata dari dasar kuali.
Namun, bukan kuah rawon itu yang membuat jantung Galang serasa berhenti berdetak seribu detik.
Di pojok dapur yang paling gelap, tepat di samping tumpukan kayu jati tua yang kering, berdiri sebuah bentuk.
Sosok itu sangat tinggi—begitu tinggi hingga kepalanya yang berambut lebat dan kusam hampir menyentuh kasau-kasau atap bambu dapur.
Seluruh tubuhnya diselubungi kegelapan pekat yang seolah menyerap pendar merah bara tungku. Kulitnya yang hitam kelam tampak bersisik kusam seperti kulit bangkai ular yang mengering, dan aroma busuk tanah kuburan menguar hebat dari sedia kala sosok itu berdiri.
Galang menahan napasnya rapat-rapat. Tangan kirinya membekap mulutnya sendiri erat-erat, berjuang setengah mati agar erangan ketakutan tidak meloloskan diri dari tenggorokannya.
Sosok tinggi hitam itu membelakangi pintu. Dua tangannya yang panjang hingga melewati lutut memegang sesuatu. Dari celah jemarinya yang berujung kuku-kuku hitam tajam, terlihat potongan daging mentah yang masih mengeluarkan cairan kental berwarna kehitaman. Sosok itu perlahan membungkuk di atas kuali raksasa.
Krrrrk ... krrrrk ....
Suara gesekan tulang dan erangan serak bergema pelan di rongga dapur—suara yang membuat bulu kuduk Galang berdiri tegak dan darahnya terasa membeku di dalam pembuluh.
Sosok itu menjatuhkan potongan daging mentah tersebut ke dalam kuali pekat. Seketika itu juga, gelembung-gelembung busa hitam berletupan di permukaan kuah rawon, dan aroma amis yang memuakkan mendadak sirna dalam sekejap, bertransformasi menjadi harum rempah kluwek yang teramat gurih dan memikat.
'Makhluk' itu adalah pesugihan yang disembah oleh almarhum ayahnya—dan kini sepenuhnya dikendalikan oleh Pak Sapta melalui darah Bayu.
Tiba-tiba, sosok tinggi hitam itu menghentikan gerakannya. Kepalanya yang besar perlahan memutar seratus delapan puluh derajat ke belakang—tanpa menggerakkan bahunya sedikit pun!
Galang membelalakkan mata hingga irisnya menyempit hebat.
Di balik kegelapan wajah sosok itu, tidak ada hidung atau mulut yang utuh. Yang ada hanyalah sepasang mata merah menyala bagaikan bongkahan bara api yang membara liar di tengah malam. Pendar merah dari mata itu menghantam celah pintu tepat di tempat Galang berdiri mengintip!
Deg!
Rasa dingin yang mencekik seketika menjalar dari kaki hingga ke puncak kepala Galang. Tubuhnya mendadak kaku, lidahnya kelu tak bisa digerakkan. Tatapan mata merah itu seolah menembus celah kayu, menguliti seluruh pikiran dan niat di dalam dada Galang.
“Anak ... angkat ....”
Sebuah suara bisikan bergema langsung di dalam kepala Galang—suara yang berat, parau, dan berbau bangkai, menyerupai raungan serigala yang berpadu dengan erangan manusia yang disiksa.
“Darahmu ... tak laku. Tapi adik perempuanmu ... manis sekali ....”
Bayangan hitam itu mengangkat tangan kanannya yang berujung kuku tajam, menunjuk lurus ke arah lorong tengah—ke arah kamar tempat Pertiwi sedang tertidur lelap!
Galang menggigit bibir bawahnya kencang hingga rasa asin darah terasa di lidahnya. Rasa sakit itu memecah kelumpuhan ghaib yang mengikat tubuhnya. Dengan sisa kekuatan yang ada, Galang memaksa kakinya mundur satu langkah dari dinding dapur.
Klak!
Satu papan lantai berdecit pelan.
Di dalam dapur, sosok tinggi hitam itu mendadak menguap menjadi gumpalan asap hitam pekat yang membubung ke kasau atap, meninggalkan aroma hangus dan melati layu yang memenuhi udara.
Galang berbalik dan berlari secepat kilat menyusuri lorong tengah. Ia tidak menuju bale-bale, melainkan langsung menerobos masuk ke dalam kamar adik-adiknya.
Di dalam kamar yang remang, Pertiwi tertidur lelap di atas kasur busa bersama Mia. Wajah Pertiwi yang polos tampak pucat dalam kegelapan. Galang berlutut di samping tempat tidur itu, napasnya memburu dan dadanya kembang kempis.
Ketika Galang menyentuh dahi Pertiwi, ia tersentak.
Kulit dahi Pertiwi terasa teramat panas—demam tinggi yang membakar secara mendadak. Dan yang paling mengerikan, di bawah pendar remang sinar bulan yang menembus ventilasi kamar, Galang melihat bercak-bercak hitam tipis menyerupai ruam atau bekas cengkeraman kuku mulai membias samar di sekitar leher Pertiwi.
"Tiwi ...," bisik Galang dengan suara tercekat.
Ancaman makhluk di dapur itu bukan sekadar gertakan ghaib. Setelah Bayu meninggal di rel kereta api, giliran anak kedua keluarga Broto yang kini resmi dijadikan target persembahan berikutnya.
Proses penagihan janji darah itu telah dimulai, merayap perlahan melalui demam panas yang membakar tubuh Pertiwi dari dalam.
Galang memeluk tubuh Pertiwi yang mulai menggigil hebat di tengah panas tubuhnya. Di luar kamar, dari arah dapur belakang, terdengar derap langkah kaki Pak Sapta yang berdetuk pelan menyusuri lorong—langkah kaki sang algojo yang siap menyaksikan penderitaan korban berikutnya.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya